Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Wednesday, May 27, 2015

A Moment of Silence: 9 Tahun Gempa Jogja

Hi readers!!

Aku masih ingat betul, saat itu, matahari belum sepenuhnya menampakan diri. Pukul 5.59, baru beberapa menit yang lalu aku bangun dari tidurku yang pulas tanpa mimpi. Jogja yang pada biasanya, sepagi itu, sedang menikmati khyusuk dan damainya suasana pagi dan hangat lembutnya cahaya mentari. Jogja yang sepagi itu terasa begitu damai dan tenang, tiba-tiba saja menjadi riuh. Teriakan demi teriakan memilukan bergema di bawah atmosfer langit Jogja. Jogja, pagi itu, baru saja diterjang gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Ritcher.

Gempa bumi yang berpusat di daratan memang berbeda dengan gempa bumi yang berpusat di samudera. 5,9 skala Ritcher pagi itu telah meluluh lantakkan sebagian besar Jogja, bahkan hingga Jawa Tengah. Bantul menjadi salah satu titik terparah. Saat itu, korban jiwa belum sepenuhnya terhitung. Aku yang kala itu hanya memiliki sebuah handphone butut, dimana belum ada Whatsapp, Line, dan media chatting online yang up to date, jelas tidak bisa sesegera mungkin meng-update informasi. Bahkan, aku tidak tahu jika terjangan gempa tersebut berasal dari Bantul. Hanya radio yang berfungsi saat itu, saluran listrik padam, bahkan sinyal GSM pun hilang timbul tak karuan.

Waktu itu, aku yang adalah anak remaja kelas 1 SMA, tidak terlalu terdistraksi dengan kejadian pagi itu. Kenapa? Karena telingaku belum tersentuh informasi apapun, baik dari radio maupun surat kabar, apalagi Facebook, paling baru bang Mark and the gank yang punya akunnya bro! Aku dan teman-temanku, anak-anak SMA kelas 1 yang lugu, sibuk membincangkan kejadian tadi pagi. Kami tertawa-tawa mendengar berbagai cerita lucu yang terjadi saat gempa tadi pagi. Ada temanku yang baru mandi sewaktu gempa, yang kemudian lari tunggang langgang keluar rumah, ada pula yang sedang asik jongkok di toilet, dan sebagainya. 

Namun, segalanya berubah ketika baru beberapa menit berada di Sekolah, bahkan jam pelajaran pertama saja belum usai. Suasana kembali tegang. Tsunami! Tsunami! Teriak beberapa orang yang melewati jalan raya di depan sekolahku. Saat itu, aku dan mungkin banyak orang di sekitarku, belum terbiasa dengan kata beraroma Jepang itu. Baru beberapa menit setelahnya, aku sadar, Tsunami adalah gelombang pasang yang mematikan. Aku teringat peristiwa maha-dahsyat di Aceh setahun sebelumnya.

Teriakan demi teriakan berlafalkan kata yang sama, tsunami, membuatku lemas. Aku, yang saat itu masih diantar jemput oleh orang tuaku, mendadak linglung. Aku tidak tahu harus pergi meninggalkan gedung sekolah dengan apa. Motor jelas di rumah, sepeda juga. Akhirnya kuputuskan untuk nebeng salah satu teman. Sekenanya. Syukurlah, di depan gerbang sekolah aku menemukan ibukku dan adikku yang sedang menunggu untuk menjemputku pulang.

Geger!! Jalan raya Godean ramai dipadati kendaraan bermotor dan sepeda. Ada apa? Ada isu tsunami! Dengan susah payah motor yang dikemudikan ibuku melaju ke arah barat, ke arah rumah. Gerombolan masa pun memacu kendaraan mereka ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh, lokasi yang dianggap aman dari gelombang tsunami.

Nyatanya, tsunami itu tidak menerjang. Rumor tersebut dihembuskan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab demi keuntungan diri pribadi. Nyatanya, gempa 5,9 skala Ritcher tersebut telah meluluhlantakan Jogjakarta. Bantul, daerah terparah, mencatat adanya korban jiwa sebanyak ratusan ribu. Kami berduka!

Gempa Jogja, 9 tahun silam, membawa banyak cerita dan pengalaman. Bahwa kita hanyalah butiran debu di hadapan "mother nature". Kita hanyalah butiran debu di hadapan Sang Kuasa.

Kini, Jogja sudah bangkit. Jogja sudah kembali penuh semangat.


Sebuah refleksi dan permenungan
memperingati 9 tahun peristiwa tak terlupakan.

Jogja, 27 Mei 2015
Fransiska Wahyuningtyas


Monday, May 11, 2015

A Story about Japan: Mahasiswa Pulang dengan Selamat, Kantor pun Kebanjiran Oleh-Oleh

Hi readers!!!

Still remember my old story about my students who went to Japan for seminar? If you don't, please refer to this post!
Jadi ceritanya, minggu lalu mahasiswa yang pergi ke Jepang kembali pulang ke Indonesia. Salah satu mahasiswa yang aku khawatirkan karena sempat kehilangan paspor di Haneda, Tokyo, akhirnya sampai Indonesia dengan selamat. Tentunya bersama teman-teman mahasiswa yang lain juga kembali ke Indonesia dengan selamat. Lega rasanya mendapati bahwa mereka semua bisa kembali ke Indonesia tanpa kurang satu hal pun.

Banyak cerita seru yang mereka bawa ketika mengunjungi kantor tempatku bekerja. Mulai dari cerita mengenai perjalanan yang melelahkan sekaligus menantang karena semua dari mereka baru pertama kali menginjakkan kaki ke Jepang, meskipun beberapa dari mereka sudah ada yang pernah sampai ke negeri China bahkan Eropa. Jepang memberikan tantangan baru bagi mereka terlebih ketika mereka bertemu dengan penduduk lokal yang hampir tidak bisa berbahasa Inggris maupun mengeja alfabet (dan itu terjadi ketika mereka mencoba menanyakan arah dll, alhasil jurus pemecahan sandi pun digunakan, LOL). 

Cerita berlanjut ke acara dan kegiatan seminar disana. Dari cerita mereka sih acaranya sangat menyenangkan - ahh, jadi pengen - terlebih saat mereka berkunjung ke pabrik dan atau industri di sekitar lokasi seminar. Dan hal yang bikin sangat amat iri adalah mereka berhasil menjumpai 2 hal yang sangat unforgettable yet exciting, yaitu sakura dan salju. Yap, saat ini sudah mulai musim semi, yang artinya sakura sudah blooming. Tapi kok ada salju? Nah, ceritanya mereka seminar di daerah pegunungan yang mana masih berhawa dingin, dan sisa-sisa salju di tanah masih lumayan banyak, apalagi jika berada di daerah yang sedikit mendaki (dan mereka memang sengaja menuju ke lokasi bersalju tersebut demi mendokumentasikan serunya bermain bola salju).

Overall, aku sudah cukup bahagia dan terhibur sekaligus termotivasi mendengar cerita mereka. Apalagi ujung-ujungnya dibagi oleh-oleh *haha*. Yah, meskipun belum berkesempatan untuk beli tiket ke Jepang, icip snack dari Jepang dulu deh.

All about matcha: Petit24 coco chips matcha biscuits & KitKat matcha

All about chocolate

My favorite!! Enak dan imut ^^

Sebenarnya masih ada beberapa oleh-oleh makanan yang lain yang ditinggal di kantor untuk dimakan bareng, macam pocky matcha, japanese rice cracker with nori seaweed snacks (yang ini aku nyerah untuk makannya, rasanya nggak cocok di lidahku), dll.

Domo arigatou gozaimasu!

~xoxo~


Wednesday, April 22, 2015

Bekerja = Mengembangkan Diri

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari "Bekerja". Bekerja bukan hanya melulu menggeluti pekerjaan tapi Bekerja juga bisa dijadikan sarana untuk belajar dan mengembangkan diri. Melakukan pekerjaan sehari-hari, bahkan yang monoton, bukannya tidak mungkin untuk membuka kemungkinan bagi kita untuk kembali belajar. Belajar memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan, dan masih banyak lagi.

Berbicara mengenai "Bekerja", saat ini aku bekerja di sebuah institusi pendidikan tinggi negeri di kota Gudeg. Kantor tempatku bekerja adalah Kantor Urusan Internasional. Bekerja di Kantor Urusan Internasional adalah hal yang benar-benar baru bagiku. Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman bekerja di bidang yang sama sebelumnya. Namun, bagiku, keluar dari zona nyaman dan menerima tantangan untuk bekerja di bidang yang baru adalah sebuah kesempatan emas untuk mengembangkan diri.

Bekerja di Kantor Urusan Internasional melatihku untuk kembali mengasah kemampuan korespondensi dan diplomasi dalam bahasa Inggris. Selain itu, aku juga harus menguasai hospitality untuk tamu asing. Meskipun dulu sewaktu kuliah aku pernah mengambil mata kuliah yang terkait dengan Cross Cultural Understanding dan Service Program Design, tapi nyatanya teori perkuliahan hanya terpakai sekian persen untuk mendukung pekerjaanku yang berhubungan dengan tamu asing. Mau tak mau aku harus memasang strategi learning by doing dan trial and error. Memang terkesan riskan sih, tapi ya mau bagaimana lagi, kalau tidak mau belajar pasti aku tidak akan berkembang.

Dari pekerjaanku inilah aku memetik berbagai pelajaran hidup *ceileehh*. Aku belajar manajerial; bagaimana me-manage pekerjaan-pekerjaan yang datang silih berganti bahkan kadang menumpuk satu sama lain, bagaimana memilah pekerjaan berdasarkan skala prioritas dan urgensi. Aku juga belajar self-management; bagaimana me-manage diri sendiri, me-manage emosi (harus punya stok kesabaran ekstra *hihihi*), me-manage waktu, dan sebagainya. Selain itu, dari pekerjaanku aku belajar bagaimana menjalin kerjasama yang baik dan how to deal with many things and many people. Tak hanya itu, aku juga belajar bagaimana untuk membuat tindakan preventif dan respon positif terhadap sesuatu hal yang sebenarnya tidak diharapkan untuk terjadi namun ada kemungkinan untuk terjadi.

I love my current job. Aku mencintai pekerjaan yang sedang aku lakukan. Bekerja di Kantor Urusan Internasional adalah salah satu cita-cita kecilku. Cita-cita yang lain adalah Bekerja di Kantor Imigrasi maupun Kantor Kedutaan. Kenapa demikian? It's because I love working with foreigners. I love working with many people from overseas.


At my desk
Refleksi sehabis menjalani hari dan jam-jam yang super hectic selama 2 bulan terakhir ini.

~xoxo~

Tuesday, April 21, 2015

Perayaan Hari Kartini di Kantor



Hello readers!
Hari ini, Selasa, tepat tanggal 21 April 2015 yang mana adalah Hari Kartini. Siapa itu Kartini? Kenapa ada Hari Kartini? Seluruh rakyat Indonesia pasti tahu siapa itu Kartini. Kartini atau Raden Ajeng Kartini adalah salah satu pahlawan perempuan di Indonesia kelahiran Jepara 21 April 1879. Beliau pelopor gerakan "emansipasi wanita" di Indonesia. Berkat kegigihan beliau dan semangat beliau yang menyala-nyala untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan gender equality, banyak wanita Indonesia yang terinspirasi. Oleh karena itu, dicetuskanlah Hari Kartini untuk memperingati hari lahir beliau.

Ngomong-ngomong tentang hari Kartini, sudah menjadi kebiasaan bagi mayoritas masyarakat di Indonesia untuk memperingatinya dengan parade pakaian adat. Meskipun Kartini berasal dari Jawa (Jawa Tengah) tidak berarti pakaian adat yang dipakai untuk parade harus dari Jawa. Justru moment ini juga dijadikan untuk mempromosikan Bhineka Tunggal Ika (alias keragaman Indonesia dari segi suku, budaya, adat, dll yang disatukan dalam satu tanah air Indonesia).

Gegap gempita Hari Kartini juga terasa di kantor tempatku bekerja. Kebetulan aku bekerja di Institusi Pendidikan Negeri, jadi angin gempita perayaan Hari Kartini mampir juga di kantor. Alhasil, kami para staff perempuan, khusus untuk hari ini, memakai Kebaya. Bukannya kenapa-kenapa sih, tapi lucu-lucuan saja. Sebelum mulai bekerja seperti biasa, kami menyempatkan diri untuk foto-foto. Semoga Hari Kartini selalu menginspirasi setiap wanita di Indonesia.

Aku, Lina, Shinta, Nina, & mb Monik



~xoxo~

Monday, April 20, 2015

Short Trip: It's Enjoyable, eh?



Short Trip. What do you think about that phrase? Relieving? Unsatisfying? or what? Well, short trip is kind of an escape for me. Yeah, I've been doing some short trips lately and I like it. Here I will share my ideas about short trip and why I like doing it.

Doing busy job currently makes me want an escape to refresh my mind and recharge my energy. This 2015, I have taken some short trips to some places. First, I went to Bogor. Honestly, it's not a kind of vacation but it is an "away duty" in which my co-worker and I should do such presentation for promoting our institution. However, I enjoyed this short trip very much since I could at least visit Bogor and spent a day in that city.

Second, I went to Bandung. It was such a nice escape since I spent my weekend by visiting some places, such as Tangkuban Parahu, Pemandian Air Panas Sari Ater, and more. Unfortunately, my trip partners and I failed to visit Ciwalk mall and Cibaduyut shopping center due to heavy traffic jam for we have to reach the train station by 5pm. But, that's not really matter for me since I could spend my weekend in Bandung and enjoy some view there.

For me, short trip is satisfying and relieving (even though it may last only 2 days) since I can escape from my daily routines. I can enjoy new things and new atmosphere from the places I visit during my short trip. And what I enjoy the most from doing short trip is the journey. I mean, I like spending my time on the road. I like using various kinds of transportation, such as car, bus, plane, train, ship, and even motorcycle. I can see many things even various kinds of people during the trip. As the bonus, I may find awesome yet gorgeous scenery in which I rarely find in my hometown.

Next trip, I plan to go abroad. I wanna visit some countries and I will begin with Asia. I have bought two round trip tickets. One for this year and the other one for next year. I am so excited with my upcoming short trips.

So, what do you think about short trip? Are you motivated to pick one?


~xoxo~


Friday, April 17, 2015

"Zonk" Moments This Week

Hi readers!!

Today is Friday. It means that this is the last day of the week I'm going to work and do my duty, then I will enjoy weekend. What happens in my office on Friday is that most of the workers are wearing Batik. You know, Batik is one of world's heritages which originally come from Indonesia. I love wearing Batik too because I feel wearing Batik does not only show our culture but it also makes us exotic :)

Poor prologue. Back to the topic! Do I refer to a topic yet? Blah! I haven't even stated what my topic for this post is. Pardon me. Well, what I'm gonna say on this post is what has been going on in my life lately. I must confess that I just made a passport. It's kinda late but it is better than never having it, right? I made my passport manually, I mean, I didn't use online method to apply for it. I just want to experience the process of making passport manually. So, here we go!

First of all, I went to the Immigration Office (Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta). Honestly, I planned to apply for e-passport but the Immigration Office in Yogyakarta doesn't provide this option yet. So, I applied for regular passport (which they call it "ordinary passport"). O ya, for your information, I arrived at Immigration Office at almost 7am, and there were a lot of people queuing for the same reason, applying for passport. I got number 40, by the way.

When it came my turn, I had to prepare all the documents including the form I had filled before. There, the officer checked all the documents, including the original ones, then asked my several questions. The questions were very basic and I thought it was very easy to answer them. The officer was very friendly.

Afterwards, I had to wait outside until the officer called out my name. It took more than an hour to wait outside before I took picture and finger-print scan for my passport. Then, here come the "zonk" moment! I came inside and got my picture taken. I checked the whole data of my-self to make sure that everything is correct. After that, the officer said to me that he could not issue the, what should I call it, "proof of application"? (yah, whatever!), to pay the expense at a bank. I had to wait for another day.

The next day, I came to the same office for getting the proof of application so that I could pay the expense at the bank. I got it, finally. But, another "zonk" moment came once again. The line for entering the payment code at the bank was offline. It means that I had to go to the bank the other day. What a waste!!!

Finally, yesterday I paid all the expenses required to proceed my passport. Then, what I should do next is visiting the Immigration Office next week to get my passport. I wish that there will be no more "zonk" moment I should go through. ^^




*Sorry for this unnecessary post. It's just my attempt to kill the time before attending a meeting. So, enjoy your day guys!!*


~xoxo~

Thursday, November 14, 2013

Book Review: Witch Song

Judul: Witch Song
Judul Bahasa Indonesia: Nyanyian Sang Penyihir Terakhir
Penulis: Amber Argyle
Penerbit: Atria
Cetakan: I/Juli 2012
Harga: Rp64.900 (disc 20% jadi Rp51.920)
Beli di: Togamas, Jogja
Cover:
source: website penerbit Atria

Brusenna adalah anak dari seorang penyihir wanita bernama Sacra. Mereka berdua tinggal terasing di tepi hutan di sebuah desa di wilayah Gonstower di negara Nefalie. Penduduk desa tidak menyukai mereka karena para penduduk tahu bahwa Brusenna dan ibunya adalah kaum penyihir. Pada suatu hari, ketika Brusenna tengah dianiaya oleh seorang pedagang di pasar, datang seorang wanita yang menyelamatkannya dan meminta Brusenna untuk membawanya pada Sacra, ibunya. Dengan was-was Brusenna akhirnya membawa wanita yang diketahui bernama Coyel itu pulang menemui ibunya. Coyel datang membawa kabar yang kurang mengenakkan tentang serangan Penyihir Kegelapan, Espen, kepada para Penjaga (Penyihir penjaga keseimbangan alam). Sejak kedatangan Coyel, sang ibu menjadi berbeda. Dia menjadi lebih waspada dan terkesan menutupi sesuatu. Akhirnya, pada suatu malam, Brusenna sengaja membuntuti ibunya yang tengah berdiri di dalam lingkaran penyihir di tengah ladang. Sacra sang ibu bernyanyi memanggil angin dan mengucapkan beberapa kalimat yang Brusenna sendiri kurang paham maksudnya. Di pagi harinya, sang ibu memanggil Brusenna. Sacra kemudian menunjukkan beberapa simpanan koin emas dan buku sihir kuno, serta memberikan Brusenna sepucuk surat. Hari berikutnya, Sacra pergi meninggalkan Brusenna seorang diri di rumah untuk ke Suaka menyusul Coyel yang terlebih dahulu pergi kesana.

Brusenna yang ditemani anjing setianya, Bruke, memulai petualangan baru tanpa ibunya lagi. Padahal, Brusenna yang kemudian mengganti namanya menjadi Senna terbilang sangat amatir dalam bidang sihir. Dia hanya hafal beberapa lantunan lagu penyihir saja karena Sacra memang jarang mengajarinya sihir untuk melindungi diri Senna sendiri. Sesuai surat dari ibunya, Senna kemudian menyusul sang ibu menuju Suaka, tempat yang sama sekali asing di benaknya. Selama berpetualang mencari Suaka, Senna terus-terusan mendapat masalah dari Wardof dan Garg yang terus mengejarnya. Ya, Wardof dan Garg adalah pelayan Espen yang ditugaskan untuk menangkap bahkan membunuh Senna. Dibantu oleh "Pengawal" amatiran, Joshen, Senna dan Bruke pun memulai perjalanan panjang mencari Suaka yang ternyata terletak di sebuah pulau di tengah samudera. Medan yang dilalui semakin sulit karena kekuatan sihir Espen yang telah merusak keseimbangan alam. Di sisi lain negara Nefalie terjadi kekeringan dahsyat, sedangkan di perairan kabut tebal serta hujan tak pernah sirna. 

Berbekal tekad dan kemampuannya, Senna, Bruke dan Joshen akhirnya sampai juga di Suaka, disambut oleh seekor makhuk setengah katak setengah manusia yang bernama Pogg. Dari Pogg, Senna mengetahui bahwa dialah sang Penyihir Terakhir, dimana semua Penjaga telah dikalahkan oleh Espen, bahkan Sacra ibunya. Konflik semakin banyak terjadi antara Senna dan Joshen yang membuat Senna mengirim Joshen keluar dari Suaka dengan nyanyiannya. Namun pada akhirnya, Senna kembali menemui Joshen yang datang menjemputnya bersama Kapten Parknel, kapten kapal Penyihir Laut. Bersama dengan Joshen dan menumpang kapal Penyihir Laut, Senna pergi menuju sarang Espen di negara Tarten. Ternyata, segalanya tak semudah yang dibayangkan oleh Senna. Hampir semua penduduk Tarten membenci penyihir. Bahkan, petinggi Tarten mengerahkan ribuan prajurit bermantel merah untuk selalu waspada akan keberadaan penyihir. Mengetahui hal itu Senna harus semakin waspada untuk mencari jalan menuju sarang Espen. Untungnya, ada beberapa penduduk Tarten yang merupakan kawan penyihir. Mereka dengan senang hati membantu Senna dan Joshen menuju sarang Espen.

Akhirnya, Senna benar-benar bertemu dengan Espen, sang Penyihir Kegelapan. Pertarungan sengit antara keduanya pun dimulai. Senna yang merupakan penyihir muda amatiran (yang bahkan belum dinobatkan sebagai penyihir) harus melawan penyihir tingkat tinggi yang memiliki kekuatan nyanyian ratusan penyihir yang semula telah dikalahkannya. Namun, tekad dan kemampuan Senna serta nyanyiannya ternyata lebih dari apa yang dia ketahui sebelumnya. Senna berhasil memanggil Sang Pencipta yang terdiri dari 4 Saudari, yakni Sinar Matahari, Tanah, Air, dan Tumbuhan. Dengan bantuan 4 Saudari, Senna akhirnya mengalahkan Espen (dengan mengubahnya menjadi pohon dan mengambil nyanyiannya) dan menyelamatkan ratusan penyihir yang telah diubah menjadi pohon kemudian mengembalikan nyanyian mereka masing-masing. Klimaks dari novel ini tidak berhenti sampai disini. Senna dan sekitar 250 penyihir lainnya, tua dan muda, harus menghadapi ancaman baru di Tarten. Para prajurit yang jumlahnya ribuan bahkan puluhan ribu siap membunuh mereka. Pada akhirnya, mereka harus menggunakan strategi lain. Dan tentu saja, mantra yang sangat mengerikan harus dirapalkan.

Witch Song adalah novel debut Amber Argyle. Ceritanya sangat unik, menyentuh, dan nyata. Isi cerita di dalam novel ini tak kalah dengan berbagai cerita mengenai penyihir dan kekuatan magis lainnya. Apalagi, ditunjang dengan konflik-konflik baik internal maupun eksternal dalam diri sang tokoh utama, Brusenna. Novel ini juga menyingkap berbagai romansa antara Brusenna dengan Joshen, yang merupakan satu-satunya harapan Senna untuk terus hidup dan berjuang mengalahkan sang Penyihir Kegelapan. Disini, Amber Argyle juga menggambarkan penyihir dalam rupa yang lain. Biasanya penyihir digambarkan sebagai wanita dengan tubuh bongkok, dagu panjang, dan hidung bengkok seperti paruh, dalam novel ini penyihir digambarkan layaknya manusia biasa. Bahkan, penyihir disini tidak menggunakan tongkat sihir atau sapu terbang. Kekuatan mereka ada pada nyanyian mereka dan beberapa biji tanaman yang merupakan senjata mereka. Novel Witch Song ini memiliki 2 sekuel. Buku pertamanya adalah Witch Song, kemudian disusul dengan Witch Born, dan diakhiri dengan Witch Fall. Tapi sayangnya di Indonesia, buku keduanya belum juga terbit. Padahal aku sudah nggak sabar pengen baca sekuelnya.

Sekuel Witch Song:



~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, November 9, 2013

Book Review: Warped

Judul: Warped
Judul Bahasa Indonesia: Sang Penenun Kehidupan
Penulis: Maurissa Guibord
Penerbit: Atria (Indonesia)
Cetakan: I/Agustus 2012
Harga: Rp 50.000 (disc 15% jadi Rp42.500)
Beli di: Togamas, Jogja
Cover:

Cover versi Bahasa Indonesia
source: website penerbit Atria

Warped adalah karya pertama dari Maurissa Guibord. Novel ini secara keseluruhan mengambil dua setting waktu yang berbeda; masa kini dan masa lalu. Cerita dalam novel ini dimulai ketika seorang gadis kota pinggiran, Tessa Brody, bersama ayahnya, Jackson Brody, mengikuti sebuah lelang barang-barang antik. Ayah Tessa begitu menginginkan sepaket buku kuno namun tidak menyangka jika mereka juga akan mendapat bonus sebuah buku bersampul kulit bertajuk "Texo Vita" (Menenun Kehidupan) dan sebuah permadani kuno dengan sulaman Unicorn di tengah-tengahnya. Setelah membawa pulang hasil lelang, yang mana Ayah Tessa sempat menggerutu karena harganya yang terlalu mahal, Tessa mendapat bagian untuk menyimpan permadani kuno bergambar Unicorn tersebut. Sejak dia menyimpan permadani itu di dalam kamarnya, dia sering dihantui mimpi aneh tentang penyihir dan pangeran dan juga Unicorn dimana dirinya sendiri berperan sebagai gadis (perawan) desa. Selain mimpi aneh, Tessa juga mendapat bermacam pesan aneh dimana dia harus mengembalikan "benang" yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa maksudnya.

Tanpa sengaja, suatu malam Tessa menarik salah satu benang berwarna putih keperakan yang terlihat mencuat dari permadani tersebut. Ajaibnya, gambar Unicorn di tengah permadani hilang dengan sendirinya. Sebagai gantinya muncul sesosok pemuda tampan dengan pakaian kumal, aneh, compang-camping dan seperti berasal dari jaman kerajaan. Benar saja, sosok William de Chaucy, atau Will yang tiba-tiba muncul di hadapan Tessa adalah si Unicorn. Dia adalah anak bungsu dari Earl Umbric yang berkuasa di Hartescross, Cornwall, Inggris. Uniknya, Will tersebut datang dari masa lalu, sekitar tahun 1500an. Di sela-sela kebingungannya, Tessa kembali mendapat berbagai masalah. Mulai dari munculnya Lila Gerome yang mengaku sebagai pemilik permadani kuno dan buku "Texo Vita" yang menginginkan dua benda itu kembali padanya. Kemudian disusul dengan munculnya Norn bersaudari; Spyn, Weavyr, dan Scytha yang mengaku kehilangan beberapa benang kehidupan dan menuduh Tessa telah mencurinya.

Dibantu oleh sahabatnya Opal, Tessa kemudian mencari tahu banyak hal tentang Will, buku Texo Vita, dan juga permadani tersebut. Menurut informasi yang diperoleh dari Will, diketahui Lila Gerome adalah perwujudan dari Gray Lily, seorang penyihir dan juga seorang pemintal benang yang berasal dari Hartescross, yang mana telah berhasil menarik benang kehidupan Will dengan cincin batu amber miliknya dan menyimpannya di dalam permadani dalam bentuk seekor Unicorn berbulu putih dan bermata cokelat demi memperoleh kecantikan dan kehidupan abadi. Sejak saat itulah, Tessa berjuang mati-matian untuk melindungi Will dan benang kehidupannya. Namun, sayangnya, dia diantara dua pilihan sulit, antara melindungi nyawa Will atau mengembalikan ketujuh benang kehidupan yang dicuri dari Norn bersaudari demi mengembalikan susunan takdir (dalam untaian benang yang disebut Wyrd) yang terkoyak.

Klimaks dari cerita dalam novel ini adalah ketika Tessa masuk ke dalam permadani menyusul Will. Di dalam permadani yang adalah Hartescross buatan Gray Lily, Tessa harus berjuang melawan segala makluk buatan Gray Lily. Terutama, dia juga harus melawan Gray Lily demi menepati janjinya mengembalikan ke tujuh benang kehidupan yang dicuri kepada Norn bersaudari. Tapi sebagai konsekuensinya, Tessa juga harus rela mengembalikan benang kehidupan Will, pemuda yang kini dicintainya setengah mati, kepada Norn bersaudari karena Will ditakdirkan hidup 500 tahun sebelum masa Tessa.

Dalam novel ini, Tessa digambarkan sebagai gadis remaja yang pendiam dan cukup lemah. Dia bukan tipe gadis yang mudah mengambil keputusan, bahkan di saat-saat yang genting. Namun, justru karakter inilah yang membuat novel ini mengalir dengan sangat menggemaskan. Karakter Tessa yang terkesan "clumsy" juga memicu banyaknya adegan klimaks dan anti klimaks kecil sebelum adegan klimaks yang terakhir. Ending dari novel ini sedikit bisa ditebak, hanya saja tidak terlalu gamblang tertebak di tengah cerita.

Aku begitu menyukai novel ini dan cerita di dalamnya dimana menitikberatkan antara kepercayaan seorang individu terhadap takdir dan bagaimana dia mencoba merubah nasibnya sendiri meskipun takdir sudah tergariskan. Selain itu, cara penggambaran tokoh dan latar belakang terutama kota Hartescross sungguh mendetail. Namun sayangnya, novel ini terlalu banyak adegan klimaks dan anti klimaks kecil-kecil yang agak kurang menarik di sepanjang cerita, lagi pula menjelang klimaks terakhir adegannya agak garing. Pada intinya, novel ini sangat pas buat kamu yang suka imajinasi dan fantasi. Terutama yang menyukai dongeng tentang penyihir dan legenda Unicorn.


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, October 26, 2013

Weekend's Favorite: The Night Circus

Hi Blogger.
How was your weekend? Hehehe
Weekendku kali ini sedikit berbeda dari weekend-weekend yang sebelumnya. Kenapa? Karena aku punya beberapa novel baru untuk dibaca selama weekend. Hmm, sebenarnya, weekend pun aku juga kerja sih, soalnya kerjaan jadi content writer itu 6 hari kerja, bahkan kalau pas beruntung bisa 7 hari kerja dalam seminggu. Hahaha. Well, oke, nggak usah bahas kerjaan ya. Nah, jadi ceritanya, kemarin hari Kamis (24 Oktober 2013), aku ikut beberapa temenku nengokin Job Fair di salah satu kampus swasta di Jogja. Berhubung tidak ada satupun posisi kerja yang dipengen (ceilleeeehhh gaya banget jadi orang :p) jadi kami para ladies memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sembari menunggui para gentlemen yang sedang sibuk di beberapa stand Job Fair. 

Tujuannya tentu saja Galeria Mall (yang paling deket dengan lokasi Job Fair). Awalnya sih nggak ada niatan buat beli apa-apa disana, cuma pengen ngadem sama cuci mata doang. Tapi, begitu lewat depan etalase "Togamas d Gale" rasanya jadi pengen masuk. Hmm, you know lah, toko buku selalu punya mantra ajaib yang bikin kita pengen masuk kesana lagi dan lagi. Apalagi toko buku diskon sepanjang waktu seperti Togamas. Setelah memilih-milih, akhirnya aku memutuskan untuk membeli 2 novel terjemahan. Aku adalah pecinta novel terjemahan, apalagi novel fantasi yang background ceritanya jaman-jaman kuno. Hihihi. Dari kedua novel yang aku beli (emang udah masuk wishlist sebelumnya sih) aku baca satu dan langsung jatuh cinta dengan isi ceritanya. 

Ini dia penampakan novelnya!!

Novel The Night Circus ini ditulis oleh Erin Morgenstern. Nama pengarangnya cukup asing buatku, tapi aku sangat suka dengan novel karyanya yang satu ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku baru baca sampai halaman 183 dari 605 halaman. Hehe. Sejauh yang aku sudah baca, menurutku isi ceritanya sangat imajinatif dan menarik juga penuh intrik. Aku suka settingnya, di Eropa dan Amerika sekitar tahun 1800an -1900an. Gaya berceritanya juga sangat unik, meskipun alurnya sedikit maju-mundur (tapi tenang saja, di setiap judul sudah dicantumkan tanggal atau bulan dan tahun. Jadi bisa dengan mudah mengenali bagaimana alurnya).

O ya, kalau yang mau beli atau tertarik untuk baca juga, ini aku kasih sinopsisnya yang diambil dari back covernya.

"Bersiaplah memasuki Le Cirque des Reves. Jangan terlalu terkejut karena sirkus ini bukanlah sirkus biasa. Di sini kau bisa menemukan Labirin Awan, khayalan-khayalan yang menjadi kenyataan, sari apel terlezat di dunia, Pohon Permohonan, dan wanita cantik dengan gaun penuh untaian surat cinta.

Dalam Le Cirque des Reves pula, Prospero sang Pesulap menjadikan Celia, putrinya sendiri, sebagai ajang taruhan. Prospero mengharuskan Celia untuk bertarung dengan Marco Alisdair, yang merupakan murid dari musuh bebuyutan sang Pesulap. Selama bertahun-tahun, Celia dan Marco berusaha saling menjatuhkan lewat berbagai wahana dan atraksi mendebarkan: panggung ilusi, raven, selubung sihir, api unggun seputih salju, dan binatang-binatang dari kertas.

Namun, kompetisi itu terhambat saat mereka perlahan-lahan saling jatuh cinta. Dan keduanya semakin kewalahan saat sesuatu yang jahat mulai mencelakai, bahkan membunuh orang-orang di sirkus, satu demi satu ..."

Wow! Menarik bukan isi ceritanya? Selain tokoh-tokoh yang disebutkan pada sinopsis, ada beberapa tokoh lain seperti, Isobel Martin, Chandresh, Mr. A.H., Bailey, Caroline, dan masih banyak lainnya. Di dalam novel ini kamu akan menemukan berbagai macam jenis sulap, trik-trik di wahana sirkus, dan masih banyak lagi. Intinya, semakin jauh kamu membaca, kamu akan menemukan sesuatu yang ajaib yang membuatmu akan terus membaca sampai akhir :)


"The Night Circus adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan akhir pekan. Ceritanya sangat ajaib dan mampu memantik imajinasi yang luar biasa." ~Tiyas Fransiska~


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, August 31, 2013

Book Store Haul

Setelah sekian lama nggak beli buku bacaan (baca: novel) baru, akhirnya kemarin malam kesampaian juga. Semalam aku dan mbak Indah jalan-jalan sebentar ke toko buku TogaMas Kotabaru. Awalnya sih tujuanku nggak jelas kesana, karena aku memang nggak ada planning sama sekali untuk mengunjungi toko buku di tanggal tua seperti semalam (baca: tanggal 30 Agustus 2013). Tapi, berhubung ajakannya ke toko buku TogaMas yang sering banget ngadain diskon, jadi aku mau-mau saja. 

Sesampainya disana, seperti biasanya acap kali aku ke toko buku, yang aku sasar pertama adalah rak novel-novel terjemahan. Aku memang cukup menggilai novel-novel terjemahan karena bahasanya unik menurutku. Selain itu, setting dan penokohannya juga lebih memancing imajinasi. Kali ini aku beli 3 novel terjemahan. Awalnya sih pengen beli 4 tapi berhubung cuma bawa uang Rp200ribuan jadi aku beli 3 dulu. Hahaha. Hemat ceritanya, kan tanggal tua.

Ini dia novel-novel yang aku beli:
Itu semuanya diskon 15% lho. Hehehe

Yang pertama ada novel "Confessions of an Ugly Stepsister". Menurut sinopsis di back cover-nya, novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang kakak tiri yang terasing dibalik ketenaran adik tirinya yang cantik dan menawan. Overall menurut sinopsinya, isi ceritanya hampir sama dengan cerita Cinderella, tapi tokohnya dibalik. Bukan Cinderella yang jadi tokoh utama tapi kakak tirinya. Setting tempatnya cukup menarik imajinasi yaitu Belanda pada abad ke-17. Novel ini belum aku buka sih, jadi belum tau isi cerita secara keseluruhan bagaimana. Tapi aku sempet search di Google dan nemu kalau novel ini dibuat sudah cukup lama bahkan sudah ada filmnya juga (bisa cek di Youtube). Tapi lebih penasaran baca bukunya sih, soalnya kadang kan cerita di novel dan di film dibuat sedikit beda.

Novel yang kedua adalah "Accidentally Fabulous". Ini novel bercerita tentang fashion designer gitu lah. Aku suka novel tentang fashion (seperti Confessions of a Shopaholic series, The Devil Wears Prada, dll). Settingnya dimana lagi kalau bukan di New York, pusat fashion dunia. Novel ini juga belum aku buka. Tunggu giliran deh ya.

Novel terakhir yang aku beli adalah "Chicken Soup for the Soul: Pelajaran dari Kucingku". Kalau kamu baca blogku dari awal pasti tau dan familiar sama kesukaanku sama binatang terutama anjing dan kucing. Saat ini aku punya 2 kucing, satu di rumah nenek, satu di rumahku. Yang dirumahku namanya Cheeten. Aku beli novel Chicken Soup ini selain karena aku suka dengan kisah-kisah inspiratif yang selalu disuguhkan oleh Chicken Soup, juga karena aku suka kucing. Aku mau belajar banyak dari kucing. Hahaha. Novel ini sudah aku buka dan aku baca beberapa cerita di dalamnya. Sangat asik dan inspiratif menurutku.


Weekend ini akan aku habiskan dengan membaca Chicken Soup for the Soul: Pelajaran dari Kucingku. Hmm, pasti akan jadi weekend yang menyenangkan sekaligus penuh semangat. Yeayyy!!


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Tuesday, August 6, 2013

Kinda Short Movie Review: The Conjuring

Hei!
Lama tidak nulis post, hihihi. Lagi sibuk, iya sibuk nyari hiburan sana sini. LOL. Well, salah satu bentuk hiburan yang aku pilih adalah nonton film. Tapi berhubung kata beberapa orang film DM2 enakan ditonton di laptop, jadi mau nggak mau milih nonton The Conjuring. You know, TC adalah film horror vintage. Aku sejujurnya nggak suka nonton film horror di bioskop. Beneran. Mendingan aku nonton di rumah atau di laptop. Kenapa? Karena jujur, aku nggak suka sama penonton yang dikit-dikit teriak, dikit-dikit teriak. Please deh. Cuma lihat kain putih (bukan setannya padahal) udah teriak, denger pintu membuka sendiri, teriak. Bahkan lihat burung terbang aja teriak. So what!! Oke, lupakan tentang itu semua (anggap saja aku yang terlalu skeptis).



Nah, ngomong-ngomong soal si TC ini, aku sempet janjian sama beberapa temen buat nonton bareng di bioskop. Kita nonton di Studio21 Amplaz. Dan, aku telat 13 menit gegara jalanan macet. Dan, kami bertiga ketinggalan separuh prolognya (meskipun nggak penting sih, soalnya kan alurnya flashback). Beberapa saat kemudian cerita inti dimulai (FYI, penonton di bangku samping nggak santai orangnya, 3 cewek, berisik banget. Damn!). Ceritanya sih klasik gitu lah, sebuah keluarga menempati rumah baru tanpa tahu asal-usul rumah itu sebelumnya. Settingnya perfect lah, rumah gedhe, kuno, alone, dan di depannya semacam danau atau rawa gitu. Gak pakai lama ya ceritanya, kasian yang belum nonton :p Nah, ternyata di dalem rumah itu ada ruang bawah tanah (semacam gudang) yang tanpa sengaja ditemukan oleh salah satu anak dari keluarga itu (Kalau nggak salah sih namanya Cindy. FYI, anak di keluarga itu ada 5 cewek semua, aku nggak begitu apal sih nama-namanya, LOL). Selain itu, si anak bungsu, namanya April juga nemu semacam kotak musik jadul entah darimana pas hari pertama pindahan.

Singkat cerita, mulai deh itu kejadian-kejadian aneh. Setannya mulai suka ngrecokin. Dimulai sewaktu anak-anak main "Hide and Claps" pas malem-malem di dalam rumah, secara mengejutkan si setan pun ikut-ikutan main. Hahaha. Seru sekaligus menegangkan deh. Pada intinya mereka kemudian diganggu-gangguin terus menerus sama si setan (atau si arwah penasaran) terutama pada malam hari pas waktu tidur (ini nih yang bikin kepikiran kalau pas mau tidur malem, hihihi). Btw, kalau bingung gimana gangguinnya, itu lho kalau pernah nonton Paranormal Activity, nah hampir sama kayak gitu. Jadi ada suara pintu dibuka, pintu tiba-tiba buka-tutup sendiri, ada suara orang ketawa, ada interaksi fisik misalnya ditarik-tarik, dibisiki, dll. Tapi, kalian musti siap-siap deh ya, siap-siap buat kaget soalnya si setan kadang nongol tiba-tiba. LOL. 

scene yang paling ngagetin menurutku

Di tengah cerita (klimaksnya disini), si ibu pemilik rumah itu ya ibunya si 5 anak itu, minta tolong ke pasangan Warren yang udah lama ngurusin soal-soal sesetanan dan kutuk-kutukan. Pasangan Warren mau nolongin beserta bala tentaranya (enggak ding, cuma seorang asisten sama polisi yang agak konyol, LOL). Disinilah letak klimaksnya. Siap-siap tahan nafas yang panjang ya, tapi jangan lupa tetep bernafas. LOL. Klimaksnya bakalan panjang karena naik turun gitu lah. Tapi ya itu tadi, siap-siap tahan nafas, siapin juga syal atau apapun buat nutupin mata biar nggak kaget, LOL. O ya, entah sih, pas klimaks panjang ini berasa ACnya Studio21 makin dingin aja. :(

let me introduce you to miss Annabelle (the doll)

Setelah klimaks yang lama dan naik turun itu, sampailah pada ending *bernafas dulu lah, makan-makan dulu juga boleh, LOL* Endingnya sih agak nggantung, ya tipikal film horror kan emang gitu. Udah, nggak ada yang nakut-nakutin lagi kok. LOL. Silakan keluar dari studio dengan tenang dan damai :D

Oke, sekarang giliran komentarku yak (bacanya dibawa santai aja ya, soalnya kan aku bukan komentator film tersertifikasi, LOL). Hmmm, film ini menurutku bagus. Settingnya perfect, apalagi kan yang namanya film horror yang vintage gitu lebih serem daripada horror modern. Ya, contohnya kalau di Indo ya  film Suzanna. Itu horror mampus deh dibanding film horror Indo sekarang yang ehmmm, agak melenceng dari tema. Back to the topic! Nah, selain settingnya bagus, penjiwaan pemainnya juga dapet. Meskipun pas scene EXORCISE agak kurang dapet. Masih kerenan scene exorcise-nya The Exorcism of Emily Rose. Horrornya juga nggak serem-serem banget sih menurutku soalnya aku nggak sampai ikut teriak-teriak. Aku teriak cuma sekali pas scene paling ngagetin itu (see the second pict). Sekali lagi, itu kalau menurutku lho ya (padahal kalau nonton sendiri di depan layar segede layar studio di bioskop juga nggak berani sih, LOL). Cuman, backsound-nya bener-bener deh. Backsound-nya bikin hati jadi nggak enak dan nggak tenang (cuma backsound musiknya lho ya, bukan yang 'jeng jenggggg' ngagetin gitu). Overall, film ini recommended lah buat yang suka horror. Film ini oke juga buat yang suka nonton pas malam hari atau midnite, hihihi (yang nggak oke tetep 3 cewek di bangku samping!!!)


PS: Ati-ati kalau mau tidur, ditengok dulu kolong tempat tidur sama atas almari, hihihihi *evil grin*



~Hug & Kiss~
xoxoxo


Sunday, June 9, 2013

Semacam Reuni Singkat

Tadi pagi aku berangkat ke rumah salah satu temen SMPku. Aku kesana dengan maksud mau nitip kado buat seorang temen yang ngadain resepsi pernikahan hari ini. Aku sebenernya pengen dateng ke resepsinya, secara, dulu aku pernah jadi salah satu orang terdekatnya. Tapi, aku memilih untuk tidak ikut karena suatu hal yang tidak bisa aku ungkapkan disini. Secret ceritanya, hahaha. Nah, tadi sembari nunggu temen-temen yang lain dan temenku yang bawa mobil dateng buat jemput, kami (aku dan 2 orang temenku) cerita-cerita. Intinya, ya membahas perkembangan dan kabar teman-teman yang lain sejauh yang masing-masing dari kami tahu. Lama tak berkabar ternyata sudah ada beberapa teman sekelas sewaktu SMP yang udah nikah bahkan anaknya udah 2. Well, tapi kenapa mereka nggak ngundang-ngundang ya pas nikah. Huff!!

Ada satu hal unik dari percakapan kami tadi, yaitu sekarang kalau nikah ada pialanya. LOL. Beberapa temenku mencetuskan ide "Piala Bergilir". Jadi bagi siapa saja yang menikah, dia berhak menyimpan piala tersebut sampai ada temen lain yang menikah. Aneh-aneh memang idenya. Tapi buat lucu-lucuan, okelah. Nggak ada salahnya kan menjalin silaturahmi dengan cara seperti ini. 

Ngomong-ngomong soal reuni kecil-kecilan, tadi aku bertemu beberapa teman yang sejauh ini sudah jarang banget ketemu, nggak pernah malah. Padahal sebenarnya tiap tahun kelas kami rutin mengadakan acara buka bersama di bulan puasa, tapi sepertinya yang dateng cuma itu-itu saja. Haha, bosen. Lumayan lah, tadi udah melepas kangen sama beberapa teman yang jarang ketemu. Meskipun singkat, tapi aku masih merasakan kehangatan persaudaraan dengan mereka. Semoga di lain kesempatan kami masih bisa bertemu lagi. :)


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Tuesday, May 28, 2013

Hujan di Tepi Sungai Code

'Tik tik tik tik' suara tetesan air hujan menggema diatas rumah beratapkan lembaran-lembaran seng tersebut. Sesosok wanita paruh baya, mungkin usianya sudah menginjak kepala enam, sedang sibuk memilah-milah jemuran yang baru saja ia angkat dari sebilah tali jemuran yang dipasang di samping rumahnya.
"Nduk, Simbok dibantuin dulu!" Mbok Yem, wanita paruh baya itu memanggil cucu kesayangannya.
"Sebentar Mbok! Nanti tempenya gosong!" Yeni, cucu kesayangan Mbok Yem menyaut dari dalam rumah.
Hari belum juga menginjak sore, tapi mendung gelap sudah menaungi sebuah kampung kecil di pinggir sungai Code. Tak lama, hujan rintik turun tanpa ampun membasahi rumah-rumah sederhana yang berderet rapi di sepanjang aliran sungai.

Setelah selesai menggoreng 4 buah tempe untuk lauk makan malam, Yeni segera mematikan kompor minyak yang sudah bertahun-tahun digunakan olehnya dan neneknya untuk memasak segala macam makanan. Dengan sigap Yeni segera membantu Mbok Yem melipat jemuran yang sudah kering dan menyingkirkan jemuran yang masih basah untuk digantung di tali kenur yang dipasang di teras rumah.
"Kok hujan lagi ya Mbok? Kemarin sepertinya sudah mulai musim kemarau." Yeni mencoba mengajak bicara neneknya yang sedari tadi terlihat diam dan sedikit murung.
"Lha iya Nduk, musim sekarang sudah ndak tentu lagi. Kadang panas, kadang hujan, wis pokoke ndak pasti."
"Jadinya kan jemurannya ndak kering Mbok."
Mbok Yem mengangguk sembari tersenyum masam.
"Ya mau gimana lagi Nduk, kita kan ndak kuasa mengatur alam. Apa yang alam mau, ya kita ikuti saja. Itu sudah kehendak Yang Kuasa Nduk. Kita cukup sabar dan narimo apa yang sudah diberi oleh Yang Kuasa." 
"Tapi Mbok, kalau basah gini nanti Simbok ndak dapat bayaran dari Bu Dirjo."
"Ya, nanti biar Simbok yang bilang sama Bu Dirjo sambil nganter jemuran yang sudah kering kesana. Kamu nanti bantuin nyetrika ya." Mbok Yem meyakinkan cucu kesayangannya itu sembari mengusap kepalanya dengan lembut. Yeni tersenyum simpul, di dalam hatinya ia begitu bangga kepada neneknya. Yeni sejak kecil memang sudah hidup yatim piatu. Ibunya meninggal sesaat setelah ia dilahirkan, sedangkan ayahnya meninggal karena kecelakaan saat Yeni berumur kira-kira 1,5 tahun. Sejak saat itu Yeni diasuh dan tinggal bersama neneknya di tepian sungai Code. Sebuah sungai yang membelah kota Yogyakarta yang berhulu di lereng gunung Merapi yang mana kala itu pernah mendapat kiriman banjir lahar dingin yang cukup dahsyat dan meninggalkan sejumput trauma di benak penduduk di sekitarnya.
***
"Nduk, sudah selesai nyetrikanya?" tanya Mbok Yem dari dapur.
"Sudah Mbok, sudah Yeni masukkan ke keranjang," jawab Yeni dari ruangan yang sama. Ruang dapur memang merangkap ruang untuk menyetrika pakaian karena rumah Mbok Yem hanyalah rumah petak berdinding batako berukuran 4x5 meter dengan atap lembaran seng yang sudah tidak layak lagi karena banyak yang bocor. Untuk mandi saja harus menumpang di rumah tetangga atau kamar mandi umum yang memang sengaja dibangun oleh warga di kampung tersebut.
"Sini Nduk, bawa kesini. Biar Simbok antar ke rumah Bu Dirjo."
Yeni membawa keranjang plastik berisi beberapa helai pakaian keluarga Bu Dirjo yang dititipkan pada Mbok Yem untuk dicuci dan disetrika. Mbok Yem memang buruh cuci, para tetangga yang bekerja di luar rumah dan jauh dari kampung terbiasa menitipkan pakaian-pakaian kotor mereka untuk dicuci dan disetrika oleh Mbok Yem. Ya, bisa dibilang Mbok Yem menawarkan jasa laundry tradisional dan kecil-kecilan. Tanpa mesin cuci atau alat untuk dry cleaning.
***
"Bu! Bu Dirjo!" Mbok Yem berseru memanggil si empunya rumah sambil mengetok pintu rumah dengan pelan. Di luar hujan belum berhenti turun. Meskipun hanya gerimis yang tersisa, namun tetap saja hal ini merepotkan Mbok Yem ketika mengantar pakaian bersih dan kering ke rumah Bu Dirjo.
"Nggih, bentar Yu!" Terdengar suara Bu Dirjo diiringi langkah kaki terburu-buru.
Tak seberapa lama pintu depan rumah Bu Dirjo terbuka. Sesosok wanita berusia sekitar 48 tahunan muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Sudah kering Mbakyu pakaiannya?" tanya Bu Dirjo sembari memperhatikan isi keranjang yang dibawa Mbok Yem. "Sini masuk dulu!"
"Ngapunten Bu, belum semuanya kering. Hujan turunnya kecepetan Bu. Belum juga jam 1 siang, eh kok udah hujan lagi." Mbok Yem menyerahkan keranjang berisi pakaian bersih yang sudah rapi disetrika oleh Yeni tadi.
Bu Dirjo terkekeh mendengar jawaban Mbok Yem. "Ya makhlum Yu, cuacanya lagi aneh. Aneh seperti para pejabat diatas itu. Sukanya mainin dan bikin bingung rakyat kecil."
"Mainin pripun Bu?" Mbok Yem tampak bingung.
"Lha iya, sukanya mainin rakyat. Katanya mau bangun fasilitas ini itu, mau ngasih sekolah gratis, mau ngasih jaminan kesehatan, tapi semuanya palsu Yu. Ya kayak cuaca sekarang ini, kelihatannya sudah musim kemarau, eh tapi hujan turun lagi. Palsu juga to?"
Mbok Yem mengangguk-angguk. Sekarang ia paham apa yang dimaksud oleh Bu Dirjo.
"Andai ya Bu, kita rakyat kecil ndak dimainin dengan janji-janji palsu begitu, pasti hidup kita jadi lebih baik."
"Iya Yu. Kalau ndak ada janji palsu para pejabat dan ndak ada pejabat yang korupsi, pasti hidup kita akan lebih sejahtera Yu. Daripada dikorupsi kan lebih baik uangnya diperbantukan ke rakyat kecil seperti kita ini. Paling tidak ya, ada sokongan untuk usaha kecil seperti yang Mbakyu lakukan sekarang."
"Inggih Bu, andai saja uangnya ndak habis dikorupsi, mungkin orang seperti saya bisa dibantu beli mesin cuci atau buka kios ya Bu. Biar kalau cuacanya sedang ndak tentu begini, saya tetep bisa kerja, jemuran saya juga bisa kering dengan cepat dan pelanggan saya bisa tambah banyak."
"Bener Yu. Semoga saja yang di atas sana segera sadar."
"Saestu Bu," Mbok Yem segera membereskan keranjang yang sudah kosong.
"Bu, saya pamit nggih. Kasian Yeni sudah menunggu di rumah."
"Monggo Yu, o ya, ini bayarannya sampai lupa saya." Bu Dirjo menyerahkan lembaran uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribuan kepada Mbok Yem.
"Matur nuwun Bu. Monggo"
Mbok Yem bergegas meninggalkan rumah Bu Dirjo. Rintik hujan masih turun membasahi tubuhnya yang sudah tua. Dalam hati Mbok Yem menyelipkan doa sederhana, jika memang para pejabat yang berkuasa belum bisa membuka mata untuk rakyat kecil, ia hanya berharap Tuhan Yang Maha Kuasa masih memberi kesehatan dan kekuatan agar tetap bisa bekerja mencari rupiah demi hidupnya dan masa depan Yeni, cucunya yang saat ini masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

***


~Tyas~
Terinspirasi dari cuaca tak menentu akhir-akhir ini.
Hujan hujan dan hujan lagi.


Thursday, May 23, 2013

Thursday, 12.15am

Malam ini aku sudah siap-siap akan tidur. Aku sudah mengenakan piyama berlengan panjang bergambar kelinci favoritku. Malam ini memang agak dingin. Mungkin karena sesorean hujan turun cukup deras. Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit. Sudah cukup larut memang. Mataku juga sudah mulai mengantuk. Aku ingin sesegera mungkin merebahkan badanku di kasur kamarku yang empuk. Apalagi sejak sore tadi sakit migrenku kumat lagi. Aku pasti kecapekan dan telat makan. Ya, seharian aku bekerja sampai malam sampai-sampai aku lupa untuk makan sore. Aku biasa menyebut makan sore bukan makan malam karena memang jadwalku makan tidak lebih dari jam 7 malam.

Baru sekitar 5 menit aku memejamkan mataku, mencoba untuk tidur di tengah udara yang begitu dingin, aku dikagetkan oleh suara air hujan yang tumpah dari langit. Entah hanya perasaanku saja atau memang hujan susulan malam ini luar biasa derasnya. Aku merapatkan selimut sampai ke dagu. Suasana kamarku yang gelap karena lampunya kumatikan menambah ngeri suasana malam ini. Hujan turun disertai dengan angin yang cukup kencang. Aku takut, takut sekali. Agak konyol memang, tapi pikiranku sungguh-sungguh melayang ke peristiwa badai Oklahoma yang terjadi beberapa hari yang lalu. Bayangan video klip Carrie Underwood "Blown Away" dan film lawas "Twister" beberapa kali melintas di pikiranku. Bodoh memang! Padahal di Indonesia sangat jarang bahkan tidak mungkin terjadi badai tornado dan semacamnya di daratan. Tapi aku tetap takut. Aku masih berdiam di kamarku. Rasanya ingin keluar kamar dan mencari anggota keluargaku yang lain yang mungkin sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Tapi niat itu aku urungkan. 

Kepalaku semakin berdenyut sakit. Migrenku semakin parah kurasakan. Rasa takut ini mungkin yang memicu kepalaku semakin sakit. Aku mencoba meraih handphoneku yang aku letakkan di meja di samping tempat tidur. Aku nyalakan lagi. Dengan bantuan cahaya dari layar handphone yang redup, aku beranjak dari tempat tidur. Tanganku meraih saklar lampu. Ctak! Bohlam lampu berwarna putih susu pun menyala. Kamarku mejadi terang tapi cahaya lampu itu sedikit menyilaukan mataku. Aku memutuskan untuk menghidupkan laptop. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan laptop ini. Jadi setelah kunyalakan hanya shortcut Winamp yang kemudian aku pilih. Beberapa lagu kesukaanku aku pasang di sana dengan harapan bisa membantuku meringankan migrenku yang semakin menjadi-jadi ini.

Ah, jaringan Wi-Fi di rumah masih hidup. Padahal biasanya kalau hujan turun dengan derasnya si Wi-Fi suka ngambek. Akupun melanjutkan membuka tab Mozilla Firefox. Rasa-rasanya aku ingin membuka laman Facebook dan Twitter. Siapa tahu disana aku menemukan teman yang bisa diajak ngobrol sembari menunggu mata ini mengantuk lagi. Di luar hujan masih turun dengan derasnya. Laman Facebook sudah terbuka. Jemari telunjukku mulai memainkan touchpad laptop. Scroll kebawah mencari-cari siapa tahu ada informasi yang penting atau sekedar melihat apa toko online favoritku sudah mengupload koleksi terbarunya. Dan! Foto itu! Aku sedikit tercegang mendapati sebuah foto terpampang lebar di timeline Facebook.

Bukan foto setan atau semacamnya, bukan. Itu foto dia. Ya, yang kusebut dia adalah mantan pacarku. Kami sudah lama tidak saling berhubungan baik via telepon, SMS, instant messaging, bahkan lewat jejaring sosial. Tapi status di jejaring sosial kami sih masih berteman masih saling follow malah. Tapi dingin, tidak pernah ada interaksi sama sekali. Terakhir kami berbalas SMS hanya saat hari besar keagamaan saja. Yang membuat aku tercengang adalah setelah sekian lama akun dia membisu tanpa ada pergerakan dia tiba-tiba mengupload sebuah foto. Aneh saja bagiku. Apalagi di suasana hujan begini, suasana yang sangat kami favoritkan dulu ketika masih bersama.

Ingin rasanya aku menyapa dia. Aku tahu dia masih online. Tapi apa pantas? Aku dulu yang meminta putus dari dia. Aku dulu yang menganggapnya pengatur, diktator, dan tukang ikut campur. Aku dulu yang hampir membencinya. Tapi sekarang, aku merindukannya? Aku kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada diriku sendiri. Apa aku merindukannya? Atau aku hanya terbawa suasana? Aku sedang takut, sakit, dan sendirian. Kemudian aku menemukan dia di jejaring sosial dan aku tiba-tiba ingin mengobrol dengannya. Ah! Sudahlah! Aku memencet tombol minimize pada laman Mozilla Firefoxku. Aku tidak ingin memandang fotonya lama-lama. Toh aku juga tidak tahu kabar terakhir tentang dia bagaimana. Aku takut kalau-kalau dia sudah punya pacar atau malah calon istri. Aku takut kalau nanti dia menyangka aku ingin kembali masuk dalam kehidupannya. Tidak!

Aku beranjak dari meja tempat laptopku berada. Meraih handphoneku dan membaringkan badanku di kasur yang sedikit terasa dingin. Hujan masih belum berhenti turun dari langit. Sepi sekali, hanya suara Rihanna dengan lagu Diamond-nya yang masih mengalun lirih dari speaker laptopku. Entah bagaimana ceritanya, tanganku otomatis membuka halaman pesan di handphone dan mulai mengetik.

Hai Mas Kendra. Apa kabar? Lama nggak ngobrol.

Hentikan! Hetikan! Hentikan! Otakku memberontak, menyuruh jari jemariku untuk berhenti mengetik. Hatiku terasa dingin dan gamang ketika kedua bola mataku menatap layar handphoneku. Aku ini kenapa??? Apa aku sudah tidak waras? Sudah sekian lama aku tidak merindukan dia tapi kenapa sekarang hatiku membabibuta untuk menghubungi dia? Gejolak dalam diriku semakin panas. Perasaan dan pikiranku, dua elemen yang tak berwujud itu, saling bergolak. Perasaanku ingin diriku menghubungi dia. Pikiranku yang penuh logika melarangku untuk melakukan hal bodoh itu. Tapi siapa yang menang? Perasaanku menang! Kembali ku tulis sebuah kalimat.

Malam Mas Kendra. Apa kabar?

Message has been sent. Message delivered. Aku menunggu balasan. Detak jam dinding berwarna ungu di kamarku semakin terdengar keras. Hujan diluar sudah mulai reda. 10 menit sudah, tidak ada balasan. 20 menit kemudian, layar handphoneku masih kosong. 30 menit berlalu, masih sama. Kulirik jam dinding berjarum hitam di dinding kamarku. Pukul 12.43. Akupun perlahan tertidur. Layar handphoneku masih kosong. Aku lupa mematikan laptop. Saat aku terbangun, aku membuka kembali laptopku yang otomatis terset "sleep mode" dan mendapati sebuah notifikasi pesan di laman Facebookku. Tanganku sedikit gemetar ketika aku membuka isi pesan itu.

------------------------------Thursday-----------------------------

Kendra Yudha Saputra                                                   12.15am

Malam Ayuk. 
Maaf pulsaku habis jadi SMSmu nggak aku balas.
Kabarku baik Yuk. Kamu gimana? 
Lama nggak ngobrol ya?
Kok belum tidur? Kenapa? :)

---------------------------------------------------------------------



Saturday, May 11, 2013

Aku Mimpi Random Lagi

"Mas Yudha jadi nikahin Mbak Tyas"

Oke, semacam random ya short prolog-nya. LOL. Post ini bukan berisi khayalan tingkat tinggi atau apalah saudara-saudara, tapi soal mimpi. Ya, semalem aku mendapat mimpi paling random sedunia. LOL. Kenapa? Oke, aku ceritakan aja ya lebih jelasnya.

Seperti yang aku ceritakan di post sebelumnya, kalau aku pulang dari Salatiga jam 6 sore kemudian tidur jam 7 sampai jam 12 lewat. Setelah nulis-nulis, bikin post, FBan, Twitteran, aku akhirnya tidur lagi. Jam 4 pagi saudara-saudara. LOL. Aku pasang alarm jam 7.15 pagi karena aku ada kegiatan pagi. Selama proses tidur 3 jam tersebut aku mengalami mimpi paling random sedunia. Ya wajarlah ya namanya juga mimpi, pasti tetep random dari segi alur, tokoh, dan setting. Nah, ceritanya, dalam mimpi itu aku sedang pergi ke rumah nenekku. Disana aku main lah sama temen-temen masa kecilku dulu. Anehnya, di dalam mimpiku, jumlah mereka masih lengkap seperti waktu kecil dulu, hanya saja perwujudan mereka juga udah dewasa seperti aku saat ini.

Tapi ada satu yang janggal dari mereka, yaitu ada seorang cowok (mungkin seumuran, mungkin sedikit lebih tua dariku) yang aku belum pernah kenal sebelumnya. Di dalam mimpiku dia memakai kaus atau baju berwarna putih. Karena penasaran aku tanya sama salah satu temenku, kata temenku sih dia orang baru. Entah punya saudara disitu atau gimana, nggak jelas juga asal usulnya. Singkat cerita, kami (aku dan teman-teman masa kecilku) selesai kumpul-kumpul buat reunian. Aku pulang ke rumah nenekku yang bersebelahan dengan rumah sepupuku. Hal random pun terjadi. Aku lihat ada kuda berwarna putih sedang merumput di belakang rumah nenekku yang berupa kebun. Aslinya aku takut, parno, dan (bisa dibilang) phobia dengan kuda. Tapi yang aku lakukan adalah mendekatinya. Si kuda berwarna putih tadi sih baik-baik aja, alias nggak nakal. Tiba-tiba si kuda itu lari pergi dan muncullah tetangga nenekku yang juga seorang nenek. Dia bilang sama aku kalau salah satu cucunya diganggu makhluk halus. *random kan, apa kubilang* Dia minta tolong sama aku buat bantuin ngusir makhluk halus itu. Nah, nah, nah, aku kan nggak ngerti begituan, ngapain juga??

Scene dimana aku bertemu dengan tetangga nenekku kemudian gelap begitu saja. Pindah ke scene yang lain. Di scene berikutnya, aku bertemu lagi dengan beberapa teman masa kecilku itu. Kami memutuskan untuk berkumpul di rumah salah satu temanku. Kami ngobrol kesana kemari, dan anehnya, cowok asing itu ada disitu juga. Kalau tidak salah ingat dia memakai kaos warna putih dengan aksen warna biru tua. Dia disitu, dan hanya diam. Sesekali tampak melihat ke arahku. Aneh memang, sampai aku pikir dia itu semacam setan atau apalah. LOL. Tak lama, dia berjalan mendekatiku dan dia menyodorkan tangannya. "Yudha" kata itu yang dia bilang. Aku menyambut dengan mengulurkan tanganku, "Tyas". Selanjutnya kami mengobrol tapi nggak jelas apa yang kami bicarakan. Gelap.

Scene selanjutnya masih sama setting tempatnya. Kegiatannya pun masih sama, duduk, ngobrol, main, dan bercanda bersama teman-temanku itu. Si "Yudha" itu juga nongol lagi. Nggak tau sih kejadiannya apa tapi aku jadi marahan sama dia. Marah dan kecewa rasanya. Aneh sih memang, tapi beneran aku merasa marah dan kecewa sama dia. Akhirnya aku putuskan untuk pulang. Yang aku lihat dia tetap diam saja berdiri sambil menatapku berjalan pulang. Gelap.

Kemudian, ini scene terakhir, di lain hari aku mendapat SMS dari salah satu temanku, dia mengatakan kalau akan ada acara makan-makan di sebuah rumah makan. Akupun setuju untuk ikut. Dan lagi-lagi si "Yudha" ini muncul. Sewaktu aku datang, dia belum datang sih. Tapi pas aku udah duduk dan udah ambil makanan (prasmanan ceritanya) dia datang dan duduk di meja yang sama denganku. Disitu ada anak kecil perempuan, tapi aku nggak tau siapa, jadi di meja itu ada kami bertiga. Aku cuek dong, gengsi mau ngobrol, kan lagi marahan ceritanya. Nah pas ditengah-tengah makan, si anak kecil, umurnya sekitar mungkin 2 atau 3 tahunan, nyeletuk, "Mas Yudha jadi nikahin Mbak Tyas." Meh! Aku langsung melihat ke arah cowok benama "Yudha" dan anak itu. Aku bilang, "Dek ini cuma salah paham aja kok." Dan cowok yang bernama "Yudha" itu cuma diam dan tersenyum ke arah anak kecil itu. Gelap. Aku terbangun. Jam 7.05.



~Hug & Kiss~
xoxoxo


Wednesday, April 24, 2013

Sebuah Film dan Kenangan Masa Kecil

Suatu film atau sebuah buku dengan sangat ajaibnya bisa membangkitkan kembali kenangan akan masa lalu. Ya, ada banyak film yang aku sendiri merasa bisa memancing memori masa laluku terutama saat aku masih kecil. Salah satu film yang sangat mengena buatku adalah HEIDI. Bukan film yang jadul atau film versi animasinya. Tapi film HEIDI tahun 2005 yang dibintangi oleh Emma Bolger.


Aku sangat menyukai detail isi di dalam film itu. Terutama setting lokasinya. Aku suka suasana pegunungan, pedesaan, dan padang rumput. Persis seperti ketika aku masih kecil. Dulu, sewaktu masih kecil aku banyak menghabiskan waktu di rumah nenekku. Setiap pulang sekolah aku selalu pulang ke rumah nenek, baru pada malam harinya aku pulang ke rumahku. Sejak kecil, nenek selalu menjemputku sepulang sekolah naik sepeda sampai aku kelas 4SD. Intinya, sampai aku SMP aku selalu pulang ke rumah nenek sebelum pulang ke rumahku. Rumah nenekku memang bukan di pegunungan, tapi sebuah desa yang jauh dari perkotaan. Di pinggir desa tempat tinggal nenekku ada area persawahan yang luas. Kalau musim kemarau, ada beberapa petak sawah yang dibiarkan menjadi padang rumput. Aku dan teman-teman masa kecilku suka sekali bermain di sawah dan sungai. Kami suka bermain layang-layang, mencari ikan, dan mencari sarang burung di rumpun padi.


Keterkaitan film Heidi dengan kenangan masa kecilku adalah ketika Heidi suka ikut Peter menggembala kambing. Dulu sewaktu kecil, aku dan sepupuku juga suka menggembala kambing. Kambing-kambing itu milik kakekku. Rasanya senang campur geli, soalnya kadang si kambing nggak mau diajak pulang. Musti ditarik-tarik dulu tali kekangnya. LOL. Selain itu, Heidi juga menyayangi kucing. Aku juga. Meskipun nggak begitu suka meluk-meluk kucing, tapi menurutku kucing itu lucu banget. 


Film Heidi benar-benar menggali kenangan dan membangkitkan senyawa dari kenangan masa kecilku. Masa kecil yang penuh petualangan dan kebahagiaan. Terkadang aku merasa sangat ingin mengunjungi tempat-tempat favorit di masa kecil dulu. Tapi sayangnya, sebagian besar tempat itu sudah berubah. Sawah-sawah sudah berganti dengan bangunan rumah. Pohon-pohon rindang di tepi persawahan sudah ditebang. Tanaman perdu yang biasanya menjadi persinggahan capung, kupu-kupu, dan kumbang sudah musnah. Kebun tebu yang penuh misteri dan yang dulu sering kami jadikan sebagai markas rahasia sudah tidak ada. Ahhh, Heidi kamu mengingatkanku pada kenangan masa kecilku yang sudah tak mungkin lagi untuk aku alami.


Hug & Kiss
xoxoxo


Saturday, April 20, 2013

The Princess and A Greedy Kingdom


.Sang Putri dan Sebuah Negeri yang Tamak.



Alkisah di sebuah negeri antah berantah, sebut saja negeri itu Ginkanora. Negeri Ginkanora dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu. Selain dikuasai oleh raja dan ratu, adik dari sang raja dan beberapa kerabat kerajaan juga mendominasi kekuasaan di negeri itu. Selain itu, sebenarnya anggota kerajaan Ginkanora masih ada banyak. Ada seorang putri yang kini tinggal terpisah dari kerajaan karena sudah menikah dengan seorang pria dari daerah yang jauh. Ada pula seorang putri yang sedikit nyinyir tapi sebenarnya dia baik hati dan bijaksana. Ada juga seorang putri yang sangat giat bekerja. Yang terakhir diantara banyak putri kerabat kerajaan, ada seorang putri yang teraniaya. 

Kisah ini selebihnya akan mengisahkan kehidupan sang putri yang teraniaya. Sebut saja putri itu putri Theana. Putri Theana adalah putri yang baik hati dan pekerja keras. Dia juga seorang putri yang jarang mengeluh pada segala tugas yang dibebankan kepadanya. Bak kisah dongeng putri salju yang melegenda, kehidupan putri Theana tak jauh berbeda dengan nasib sang putri salju. Sang ratu begitu tidak menyukainya. Bukan karena dia anak raja yang cantik melainkan karena dia memiliki kehidupan yang lebih beruntung dibandingkan dengan kehidupan sang ratu sebelum dia resmi menjadi ratu di Ginkanora. Sebenarnya, ratu Ginkanora yaitu ratu Inora adalah kawan lama putri Theana. Namun mereka sempat berpisah beberapa waktu karena ratu Inora yang dulunya bernama putri Inora pergi ke negeri yang jauh untuk belajar menenun bulu domba. Sedangkan putri Theana tetap tinggal di kawasan negeri Ginkanora sambil berdagang bunga dan belajar memanah.

Di suatu masa, putri Inora kembali ke negeri Ginkanora setelah selesai belajar menenun bulu domba di negeri seberang. Akhirnya putri Theana dipertemukan kembali dengan putri Inora. Merekapun kembali menjalani kehidupan bersama-sama. Hingga pada suatu saat, ada laki-laki yang datang mendekati putri Theana dan juga putri Inora. Kedatangan lelaki itu memunculkan adanya perselisihan antara putri Inora dan putri Theana. Putri Inora menuduh putri Theana bermain curang dengan dirinya. Dia menuduh sang putri merebut lelaki itu dari tangan putri Inora. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa putri Theana dan lelaki itu hanya berteman karena mereka sama-sama suka berburu dan memanah. 

Sejak saat itu, putri Inora menjadi tidak suka dengan putri Theana. Putri Inora bahkan tidak menyukai apapun yang dilakukan dan dipakai oleh putri Theana. Pada saat itu, terjadi prahara di negeri Ginkanora yang dipimpin oleh raja Damaro. Hubungan raja Damaro dengan tunangannya saat itu sedang goyah. Pada saat itu pula putri Inora melihat kesempatan yang sangat bagus untuk menjatuhkan putri Theana dan mengusirnya dari kerajaan tersebut. Perlahan-lahan putri Inora mulai mendekati kerabat dekat raja. Pertama, putri Inora mendekati putri Lorensi yang juga merupakan adik kandung dari raja Damaro. Setiap saat mereka selalu terlihat bersama padahal sebelumnya putri Lorensi lebih sering pergi dan bermain bersama putri Theana. Bujuk rayu dan tipu muslihat putri Inora sepertinya mengenai sasaran. Putri Lorensi semakin hari semakin menjauh dari putri Theana, bahkan sekarang ia membencinya.

Pada suatu ketika, hubungan raja Damaro dengan tunangannya kandas. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh putri Inora untuk mengambil hati sang raja. Benar saja, dengan kecantikan dan tipu daya yang keluar dari bibir putri Inora, sang raja pun bertekuk lutut di hadapannya. Singkat cerita, merekapun menikah dengan pesta yang sangat besar dan mewah. Namun di dalam pesta itu ada tiga orang putri yang tidak turut diundang. Dia adalah putri Theana, putri Wincita, dan putri Nivdia. Memang ratu Inora tahu kalau ketiga putri tersebut bersahabat. Oleh karena itu mereka bertiga sengaja tidak diundang.

Putri Theana merasa sangat sedih karena tidak mendapat undangan pesta pernikahan raja. Padahal banyak orang-orang yang tidak dikenal raja namun diundangnya serta. Ketika putri hendak meminta kejelasan pada kerabat kerajaan terdekat raja, yang didapat olehnya adalah cibiran dan makian. Seorang panglima kerajaan bernama Porseo beserta istrinya memaki-maki putri Theana, padahal sebelumnya mereka tidak pernah begitu padanya. Ternyata bisa racun yang disebarkan oleh ratu Inora telah merasuki hampir semua kerabat dekat raja. Kerajaan dan istana Ginkanora menjadi sangat asing bagi putri Theana.

Setelah hari besar raja usai, putri Theana berniat untuk pergi dari istana. Dia mendatangi kedua sahabatnya, putri Wincita dan putri Nivdia untuk meminta pendapat. Putri Wincita dan putri Nivdia sangat setuju dengan ide putri Theana. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan segera berkemas dan pergi meninggalkan istana dan kerajaan pada malam harinya. Dengan penuh keberanian dan juga harapan untuk terbebas dari racun yang disebarkan oleh ratu Inora pada seluruh kerabat kerajaan, putri Theana mengemasi barang-barangnya dan segera pergi berjingkat keluar dari kamarnya yang masih berada di kompleks istana. Tapi di perjalanan menuju rumah kedua sahabatnya, putri Theana dikejutkan oleh kemunculan seorang panglima. Sebut saja nama panglima itu panglima Barbeo.

Panglima tersebut sangat baik hati. Dia dengan sabar hati mendengarkan cerita dan alasan mengapa putri Theana ingin pergi meninggalkan istana dan negeri Ginkanora. Setelah mendengarkan sang putri bercerita, panglima tersebut menawarkan diri untuk mendampingi sang putri dan kedua sahabatnya untuk keluar dari negeri Ginkanora. Memang, jika ingin keluar dari negeri itu tanpa ketahuan, siapapun harus melewati hutan larangan yang konon kabarnya dihuni oleh beberapa makhluk mengerikan dan monster-monster rawa. Sang putri pun setuju. Kemudian mereka berdua bergegas menuju rumah putri Wincita dan putri Nivdia.

Singkat cerita, keempat orang tersebut dengan berbekal lentera dan obor berjalan cepat-cepat meninggalkan negeri Ginkanora. Mereka sengaja tidak melewati jalan utama keluar dari negeri tersebut, melainkan melewati jalan setapak yang berlumpur. Kemudian menyeberangi anak sungai yang airnya sedingin es. Lalu melewati jembatan gantung yang sudah sedikit reot. Dan sampailah mereka pada hutan larangan. Namun, kenyataannya, hutan tersebut tidak seperti apa yang diceritakan kebanyakan orang. Hutan tersebut hutan biasa yang dihuni oleh beberapa binatang hutan yang ramah seperti rusa, berang-berang, ayam hutan, bajing, dan tentu saja kunang-kunang. 

Ketika fajar menjelang dan matahari mulai memancarkan sinar emas kemerahannya yang hangat, sang putri, kedua sahabatnya, dan sang panglima telah sampai di ujung luar dari hutan larangan. Mereka terlihat kelelahan namun wajah mereka memancarkan gurat kebahagiaan. Ya, mereka patut berbahagia karena telah berhasil keluar dari negeri yang tamak dan penuh kesombongan itu. Sejenak mereka beristirahat di bawah naungan pohon cemara yang rindang. Putri Theana membuka bekalnya berupa roti gandum berlapis selai kacang buatannya. Dia membagi setengah dari bekalnya untuk sang panglima yang telah sangat berbaik hati menolongnya dan kedua sahabatnya.

Setelah dirasa sudah cukup untuk beristirahat, sang putri mengajak serta ketiga rekan seperjalanannya untuk melanjutkan perjalanan menuju negeri terdekat. Namun sayangnya sang panglima tidak bisa turut serta. Ia harus kembali ke kerajaan karena raja pasti akan mencarinya. Selain itu sang panglima memiliki anak dan istri yang tidak bisa ditinggalkan. Dengan berat hati namun penuh kebanggaan, sang putri melepas kepergian panglima Barbeo kembali ke kerajaan. Tak lupa putri Theana menitipkan salam hangat untuk istri dan anak sang panglima dan salam sejahtera untuk sang raja, sang ratu, dan seluruh kerabat dekat mereka yang tinggal di istana.

Putri Theana dan kedua sahabatnya, pada akhirnya, tinggal di negeri bernama negeri Caramora. Negeri Caramora adalah sebuah negeri yang cantik dan subur. Negeri itu memiliki raja dan ratu yang sangat baik hati dan bijaksana. Semua rakyat yang tinggal di negeri itu hidup dengan sangat rukun, damai, dan berkecukupan. Tidak pernah terlihat ada pengemis maupun gelandangan di sana. Seluruh rakyat hidup makmur dan sejahtera. Banyak dari rakyat Caramora yang bercocok tanam di ladang, ada pula yang memintal benang dari bulu domba dan buah kapas. Selain itu negeri ini juga memiliki danau yang sangat luas dan cantik. Di sana putri Theana dan kedua sahabatnya memelihara ladang dengan bercocok tanam buah stroberi dan bunga-bunga yang cantik. Mereka bertiga memiliki sebuah toko bunga dan buah yang sangat laris.

Lama tak terdengar kabarnya, suatu hari putri Theana mendapat kabar bahwa negeri Ginkanora berada di ambang kehancuran. Kabar tersebut ia dapatkan dari panglima Barbeo melalui sebuah surat. Panglima Barbeo mengatakan bahwa sang ratu sangat gila kekuasaan dan gila harta. Hampir setiap minggu beliau memungut pajak dari rakyat yang semestinya dipungut tiga bulan sekali. Saat ini rakyat Ginkanora begitu menderita. Banyak di antara rakyat yang mati kelaparan. Namun sayangnya, sang raja dan ratu sepertinya menutup mata pada keadaan rakyat Ginkanora.

Mengetahui kabar tersebut, putri Theana segera menghadap raja dan ratu Caramora. Ia meminta ijin pada raja dan ratu untuk memberikan tempat pengungsian sementara bagi rakyat Ginkanora yang menderita dan sengsara. Melihat kebaikan hati dan ketulusan putri Theana, raja dan ratu Caramora setuju untuk menampung rakyat Ginkanora yang hendak mengungsi dari negerinya. Singkat kata, atas bantuan panglima Barbeo, pada akhirnya sebagian besar rakyat Ginkanora yang sudah tidak lagi bersikap loyal pada raja Damaro dan ratu Inora berhasil mengungsi ke negeri Caramora. Di sana mereka mendapat perlakuan baik serta mendapat makanan yang sangat cukup. Mereka begitu berterimakasih pada putri Theana, putri Wincita, dan putri Nivdia serta panglima Barbeo dan anak istrinya.

Setelah beberapa tahun berlalu, kabar terakhir yang terdengar dari negeri Ginkanora adalah bahwa negeri itu telah musnah. Sebuah bencana besar melanda negeri yang penuh ketamakan dan kesombongan tersebut. Putri Theana, putri Wincita, putri Nivdia, panglima Barbeo beserta istri dan anaknya serta seluruh bekas rakyat Ginkanora yang tinggal di negeri Caramora kini hidup dengan damai dan penuh kasih sayang. Mereka begitu mencintai putri Theana serta raja dan ratu Caramora. Akhirnya, putri Theana menikah dengan pangeran Errico yang adalah putra mahkota kerajaan Caramora. Mereka pun hidup bahagia selamanya.

.The End.



PS: Cerita ini diambil dari sebuah kisah nyata, hanya saja nama tokoh, setting, dan endingnya diubah agar tidak menyinggung pihak-pihak tertentu.



~Hug & Kiss~
xoxoxo



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net