Showing posts with label Quote. Show all posts
Showing posts with label Quote. Show all posts

Wednesday, July 1, 2015

Shopping is My Cardio

Hi readers!!


Does anyone agree with that?

I do agree.
I like shopping. I love shopping. Somehow, I adore it. Haha, nope, the last one is just a joke!

Well, kesukaanku pada aktivitas shopping dimulai sejak SMA. Pada masa SMA aku terbiasa mengumpulkan sebagian uang saku yang kemudian aku gunakan untuk berbelanja baju, sepatu, tas, atau aksesoris di akhir bulan. Maklumlah, uang saku sewaktu SMA dulu tidak sebanding dengan uang saku anak SMA masa sekarang, jadi musti nunggu akhir bulan baru bisa terkumpul cukup untuk shopping. Dan kebiasaan shopping seolah sudah menjadi hobi atau malah kebutuhan yang memang tidak bisa ditinggalkan, meskipun sekarang musti bisa mengontrol diri lebih baik lagi dalam hal penggunaan uang.

Bagiku, shopping bukan hanya kegiatan menghabiskan uang atau suatu aktivitas hedonis yang memuja kemewahan dan sebagainya. Bagiku, shopping adalah seni dan olahraga. Kenapa aku bilang seni? Karena disini aku melatih diriku untuk dapat menggunakan uang jatah shopping yang sengaja aku sisihkan dari gaji bulananku sebaik-baiknya, misalnya untuk belanja barang-barang kesukaanku, seperti baju, sepatu/sandal, aksesoris, ataupun tas. Shopping juga melatih insting dan kegigihan untuk mencari barang terbaik tanpa harus menyia-nyiakan nominal uang yang ada. Selain itu, shopping barang-barang seperti baju juga melatih seni estetika, yakni bagaimana aku menggunakan pikiranku untuk mengimajinasikan barang tersebut akan aku gunakan seperti apa, bagaimana, kapan, dan dipasangkan dengan apa. Jadi shopping bagiku bukan sembarang aktivitas yang tidak bermanfaat.

Lebih-lebih, bagiku, shopping adalah olahraga, ya olahraga fisik dan olahraga otak. Olahraga fisik tentunya dapat dilihat dari kegiatan shopping yang dilakukan di mall, di pasar, maupun di tempat-tempat lain yang memungkinkan. Penelitian mengatakan bahwa aktivitas shopping dapat membantu manusia untuk membakar kalori dengan persentase yang cukup banyak, in one condition: you wont eat too many calories afterwards, unless you get nothing. Olahraga otak yakni bagaimana me-manage uang dan bagaimana menerapkan seni estetika seperti yang aku sebutkan di paragraf sebelumnya.

Shopping is my cardio. I totally agree with that quotation. Aku setuju jika aktivitas shopping bisa membuatku alive, survive, and sane. Tapi lagi-lagi, aku harus keep reminding my self, kalau shopping tidak boleh berlebihan apalagi menjadi addicted. Lama-lama nanti bisa seperti karakter utama di novel Sophie Kinsella "Shopaholic", Rebecca 'Becky' Bloomwood, yang kemudian terlilit banyak hutang karena ketagihan berbelanja produk-produk ber-merk tanpa mengecek ulang kondisi ekonominya sendiri.

Untuk itu, aku lebih suka menyisihkan gajiku, misalnya 30% untuk shopping, 30% untuk ditabung, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari (transportasi, jajan kuliner, kolekte, sumbangan, dll) dan kebutuhan tak terduga. Kantong aman, hati nyaman. Saat ini aku masih belajar me-manage uangku dengan sistem 30:30:40 tersebut. Semoga bisa segera menjadi suatu habit yang teratur dan bermanfaat bagi diriku dan orang lain. ^^


~xoxo~



Monday, June 8, 2015

Do What You Love, Love What You Do

Hi readers!!!

Sehubungan dengan banyaknya posting dari rekan-rekan di media sosial dan beberapa sharing dari rekan-rekan mengenai pekerjaan, gaji, dst (topik wajar bagi kami yang berada dalam usia produktif, selain masalah pernikahan *ehhh*). Aku pengen sedikit sharing opini tentang filosofi yang aku anut dalam memilih, melakukan, mencintai, dan mensyukuri pekerjaan yang aku miliki sekarang. FYI, gajiku mungkin tak setinggi teman-temanku yang lain, apalagi yang bekerja di sektor-sektor krusial atau yang bekerja di ibukota. Tapi aku sebisa mungkin melatih diriku untuk selalu bersyukur dan mencintai apa yang aku kerjakan saat ini. Who knows jika suatu saat pekerjaanku ini mengantarku membuka gerbang untuk melakukan passion-ku yang lain. Karena aku percaya, setiap pekerjaan pasti akan membukakan pintu kesempatan yang lain bagi kita, tergantung kita jeli atau tidak untuk melihatnya.
***

Salah satu kunci hidup yang bahagia adalah "do what you love and love what you do". Melakukan apa yang kita cintai/sukai dan mencintai apa yang kita lakukan bukan merupakan sesuatu yang mudah memang. Pertama, untuk memenuhi unsur tersebut, kita harus menemukan apa yang kita sukai. Bahasa kerennya sih "passion". Masing-masing individu memiliki passion yang berbeda-beda. Biasanya passion terwujud dalam apa yang disebut hobi. Selain itu, passion juga bisa ditemukan pada kecenderungan minat dan bakat seseorang.

Kedua, untuk memenuhi filosofi "love what you do", kita perlu menemukan titik keikhlasan dalam hati kita. Ikhlas dalam melakukan sesuatu akan mengantar kita pada rasa mencintai sesuatu. Bukankah mencintai itu perlu pengorbanan? Yah, apa yang kita korbankan untuk mencintai apa yang kita lakukan adalah rasa enggan. Rasa enggan dikorbankan menjadi rasa ikhlas, kemudian rasa ikhlas menuntun kita pada perasaan mencinta.

Do what you love and love what you do tidak hanya berlaku pada hobi, namun harus berlaku dalam banyak hal di hidup kita, contoh paling konkret-nya adalah dalam hal pekerjaan. Sebelum melakukan suatu pekerjaan, kita pasti melewati beberapa tahap terlebih dahulu. Yang pertama adalah tahap "memilih" pekerjaan. Kita memiliki kebebasan secara individual untuk memilih perkerjaan mana yang hendak kita lamar. Passion adalah hal yang paling penting untuk diterapkan disini. Kalau menurutku sih, jangan dulu berorientasi pada seberapa besar kita akan mendapat uang dari pekerjaan yang kita lakukan. Besarnya uang yang kita dapat dari melakukan pekerjaan bukanlah penjamin kita akan bahagia melakukan pekerjaan itu.

Mengandalkan passion dalam memilih pekerjaan adalah hal yang wajib. Okelah, mungkin ini sulit karena mencari pekerjaan yang tidak sesuai passion saja susah, apalagi mencari yang sesuai. Kalau misalnya terlalu sulit, maka pilah-lah pekerjaan yang paling tidak menyerempet atau mengandung unsur passion yang kita miliki, contohnya passion kita adalah menggambar namun sulit bagi kita untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Nah, kenapa tidak kita mulai mengasah diri kita dengan ilmu gambar digital atau gambar bangunan, maka kita bisa menjadi designer, animator, drafter, arsitek, dsb.

Yang kedua adalah tahap "melakukan" pekerjaan. Banyak orang bilang, melakukan bidang pekerjaan yang kita sukai akan menuntun kita pada hidup bahagia. Jadi, setelah puas memilih jenis pekerjaan yang akan kita ambil, yang harus kita lakukan adalah melakukan pekerjaan itu sendiri dengan sepenuh hati.

Yang ketiga adalah tahap "memperjuangkan" pekerjaan. Pekerjaan bukanlah hal yang statis. Memperjuangkan apa yang sudah kita dapat adalah hal yang pantas kita lakukan. Jangan terlena dengan zona nyaman dimana kita sudah mendapat pekerjaan sesuai passion dan kemampuan kita. Sebaliknya, kita harus memiliki willingness untuk belajar dan terus belajar guna memperjuangkan apa yang telah kita dapat. Memperjuangkan pekerjaan yang telah kita dapatkan akan membuat kita dan hasil kerja kita semakin berkualitas.

Yang keempat adalah tahap "mencintai" pekerjaan. Tibalah saat dimana kita harus memupuk rasa cinta pada apa yang kita kerjakan atau lakukan. Ada banyak hal yang membuat orang, bahkan yang mendapat pekerjaan sesuai passion, tidak dapat mencintai pekerjaannya. Banyak orang yang kemudian mengeluhkan apa yang dia lakukan selama ini. Banyak yang kemudian mencari excuse untuk tidak lagi mau memperjuangkan apa yang dia kerjakan, misalnya gaji rendah, beban kerja terlalu banyak, dsb. Kembali lagi ke filosofi "love what you do" yang mana mengandalkan diri kita untuk ikhlas dan memupuk rasa cinta pada pekerjaan.

Yang keenam adalah tahap "memetik hasil, terus mencintai, dan tetap mengembangkan diri". Tahapan terakhir dalam penjabaran filosofi "do what you love and love what you do" ala aku adalah memetik hasil, terus mencintai, dan tetap mengembangkan diri. Ketiga hal tersebut dapat dirangkum dengan satu kata, yaitu "bersyukur". Mensyukuri apa yang kita miliki dan apa yang kita lakukan adalah bagian terpenting dalam mengelola passion kita akan suatu pekerjaan. Bersyukur akan membuat kita menjadi pribadi yang positif. Ada yang bilang, "mensyukuri pekerjaan yang itu itu saja tidak akan menaikkan penghasilan", memang benar. Tapi, apa untungnya punya penghasilan yang besar tapi kita tidak bersyukur, tidak memanfaatkan nikmat yang diberikan Tuhan pada kita melalui penghasilan yang kita dapatkan. Tidak mau mensyukuri pekerjaan adalah pemicu "ketidakbercukupan" seseorang. 


Sebuah refleksi yang penuh ketidaksempurnaan

~xoxo~


Saturday, May 9, 2015

Me VS Orang yang Malas Berusaha

Hi readers!

"Malas" adalah salah satu sifat alamiah yang pasti dimiliki oleh setiap manusia, bahkan makluk hidup lainnya. Tidak dipungkiri bahwa bermalas-malasan adalah hal termudah untuk dilakukan, tidak perlu banyak usaha dan membuang energi. Tapi yang namanya "malas berusaha" itu beda perkara. Jika mau meraih sesuatu yang kita inginkan ya harus jauh-jauh deh dengan perihal "malas berusaha".

Aku punya sedikit pengalaman, sebenarnya banyak sih tapi cukup mengutip satu saja sebagai contohnya. Jadi begini, beberapa hari yang lalu seorang teman mengontak-ku. Seperti sebelum-sebelumnya, dia mengontak-ku untuk tanya-tanya mengenai job vacancy. Well, sebagai teman yang baik aku mengabari dia mengenai suatu career expo yang patut untuk dicoba, dulu memang aku sudah berjanji padanya untuk selalu mengabari dia jika ada jadwal job fair dll. Percakapan via media chatting pun berlanjut dengan pertanyaan yang sama yang pernah dia lontarkan beberapa bulan sebelumnya. Aku sudah menduga, dia sedang berada dalam situasi yang sama atau serupa dengan situasi beberapa bulan sebelumnya, yakni masalah tes pelamar kerja.

You know what, aku sedikit agak malas kalau lagi-lagi harus menjawab pertanyaan yang sama dengan yang sudah dia ajukan beberapa bulan sebelumnya. Maksudku begini, kalau dulu sudah dijelaskan panjang lebar, kenapa musti tanya lagi? Poin kedua mengapa aku jadi sewot adalah dia menceritakan jika dia ingin lolos tes, khususnya tes wawancara, tapi menurut pengamatanku dia sendiri secara pribadi malas untuk berusaha.

To make it clear, dia bilang kalau dia kurang fasih berbahasa Inggris dan takut menghadapi tes wawancara dalam bahasa Inggris. Okay, berbicara menggunakan bahasa asing memang cukup menegangkan dan stressful, aku juga pernah mengalaminya. Tapi, bahasa itu berbeda dengan ilmu eksak macam fisika, matematika, atau kimia. Bahasa itu bisa diimprovisasi. Lagipula, bahasa bisa dipelajari dengan banyak cara karena belajar bahasa lebih mengarah ke ingatan, pelafalan, dan rasa percaya diri. 

Dan satu hal lagi, bahasa Inggris bagi orang Indonesia adalah Foreign Language, bukan Second Language lho. Jadi, sudah pasti banyak orang yang maklum jika pelafalan bahasa Inggris kita "medhok" atau tidak se-perfect para native atau mereka yang menjadikan bahasa Inggris sebagai Second Language. Nah kalau sudah begitu, kenapa tidak berusaha untuk memperbaiki kemampuan bahasa Inggris kita secara mandiri? Toh banyak sumber di Internet yang bisa kita optimalkan. Bahasa Inggris juga nggak sesulit bahasa Mandarin atau Thailand yang dengan tulisan "aduhai"nya dan "tone" per kata-nya yang susah untuk dipelajari.

Aku bukannya tidak mau membantunya untuk belajar. Tapi, belajar bahasa itu perlu melewati beberapa tahapan. Nah, jika dia merasa bahasa Inggris-nya belum oke dan jadwal tes wawancaranya tinggal 1x24jam dari waktu dia mengontak-ku, so, what should I do then? Kenapa nggak sejak beberapa bulan sebelumnya dia belajar? Kenapa harus serba mendadak? It sucks you know! Aku nggak mau lah dituduh pelit ilmu, yang salah itu timing-nya. Kenapa serba mendadak dan kenapa malas berusaha jika mau meraih sesuatu. Bro, hidup itu penuh pengorbanan. Jika kamu pengen mendapatkan sesuatu, berkorbanlah. Korbankan waktumu barang satu atau dua jam sehari untuk belajar bahasa Inggris via internet. Kalau dalam waktu satu bulan, sudah 60 jam kan? 60 jam sudah bisa membantumu untuk improve bahasa Inggrismu.

Sebagai contoh saja, aku pernah mendengar cerita dari orang Jepang. You know, most of Japanese people learn English only at Junior or Senior High School. SD mah jarang yang ada pelajaran bahasa Inggris. Lagipula, mereka sejak kecil tahunya huruf kanji dan sebangsanya, bukan huruf alfabet seperti yang kita pelajari sejak TK. Jadi bisa dibayangkan bukan, mereka tidak hanya belajar pelafalan kata, grammar, dan vocabulary, tapi mereka juga harus belajar alfabet hanya untuk bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Selebihnya, banyak orang Jepang yang fasih berbahasa Inggris karena mereka belajar secara mandiri (itu kata Sensei-nya). 

Nah, balik lagi ke temanku tadi, apa masih mau mengajukan excuse lagi? You'll never learn something if you don't want to wake up and do something. Nggak usahlah malas-malasan dan beralasan kalau nggak ada waktu untuk belajar sendiri atau belajar itu harus ditemenin sama yang udah ahli (kalau ilmu eksak sih emang harus gitu, Bro). Come on! Yang mau dapat kerjaan itu kan kamu, bukan aku, jadi kenapa tidak berusaha? Aku mau sih bantu kamu, tapi timing kamu nggak pas, mana ada belajar dengan waktu mepet akan menghasilkan hasil yang maksimal. Just wish you the best of luck! You're my friend and I will always support you, but I won't let you get spoiled. I want you to be tough, initiative, and independent!!!



Just a sharing

~xoxo~


Saturday, October 26, 2013

Weekend's Favorite: The Night Circus

Hi Blogger.
How was your weekend? Hehehe
Weekendku kali ini sedikit berbeda dari weekend-weekend yang sebelumnya. Kenapa? Karena aku punya beberapa novel baru untuk dibaca selama weekend. Hmm, sebenarnya, weekend pun aku juga kerja sih, soalnya kerjaan jadi content writer itu 6 hari kerja, bahkan kalau pas beruntung bisa 7 hari kerja dalam seminggu. Hahaha. Well, oke, nggak usah bahas kerjaan ya. Nah, jadi ceritanya, kemarin hari Kamis (24 Oktober 2013), aku ikut beberapa temenku nengokin Job Fair di salah satu kampus swasta di Jogja. Berhubung tidak ada satupun posisi kerja yang dipengen (ceilleeeehhh gaya banget jadi orang :p) jadi kami para ladies memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sembari menunggui para gentlemen yang sedang sibuk di beberapa stand Job Fair. 

Tujuannya tentu saja Galeria Mall (yang paling deket dengan lokasi Job Fair). Awalnya sih nggak ada niatan buat beli apa-apa disana, cuma pengen ngadem sama cuci mata doang. Tapi, begitu lewat depan etalase "Togamas d Gale" rasanya jadi pengen masuk. Hmm, you know lah, toko buku selalu punya mantra ajaib yang bikin kita pengen masuk kesana lagi dan lagi. Apalagi toko buku diskon sepanjang waktu seperti Togamas. Setelah memilih-milih, akhirnya aku memutuskan untuk membeli 2 novel terjemahan. Aku adalah pecinta novel terjemahan, apalagi novel fantasi yang background ceritanya jaman-jaman kuno. Hihihi. Dari kedua novel yang aku beli (emang udah masuk wishlist sebelumnya sih) aku baca satu dan langsung jatuh cinta dengan isi ceritanya. 

Ini dia penampakan novelnya!!

Novel The Night Circus ini ditulis oleh Erin Morgenstern. Nama pengarangnya cukup asing buatku, tapi aku sangat suka dengan novel karyanya yang satu ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku baru baca sampai halaman 183 dari 605 halaman. Hehe. Sejauh yang aku sudah baca, menurutku isi ceritanya sangat imajinatif dan menarik juga penuh intrik. Aku suka settingnya, di Eropa dan Amerika sekitar tahun 1800an -1900an. Gaya berceritanya juga sangat unik, meskipun alurnya sedikit maju-mundur (tapi tenang saja, di setiap judul sudah dicantumkan tanggal atau bulan dan tahun. Jadi bisa dengan mudah mengenali bagaimana alurnya).

O ya, kalau yang mau beli atau tertarik untuk baca juga, ini aku kasih sinopsisnya yang diambil dari back covernya.

"Bersiaplah memasuki Le Cirque des Reves. Jangan terlalu terkejut karena sirkus ini bukanlah sirkus biasa. Di sini kau bisa menemukan Labirin Awan, khayalan-khayalan yang menjadi kenyataan, sari apel terlezat di dunia, Pohon Permohonan, dan wanita cantik dengan gaun penuh untaian surat cinta.

Dalam Le Cirque des Reves pula, Prospero sang Pesulap menjadikan Celia, putrinya sendiri, sebagai ajang taruhan. Prospero mengharuskan Celia untuk bertarung dengan Marco Alisdair, yang merupakan murid dari musuh bebuyutan sang Pesulap. Selama bertahun-tahun, Celia dan Marco berusaha saling menjatuhkan lewat berbagai wahana dan atraksi mendebarkan: panggung ilusi, raven, selubung sihir, api unggun seputih salju, dan binatang-binatang dari kertas.

Namun, kompetisi itu terhambat saat mereka perlahan-lahan saling jatuh cinta. Dan keduanya semakin kewalahan saat sesuatu yang jahat mulai mencelakai, bahkan membunuh orang-orang di sirkus, satu demi satu ..."

Wow! Menarik bukan isi ceritanya? Selain tokoh-tokoh yang disebutkan pada sinopsis, ada beberapa tokoh lain seperti, Isobel Martin, Chandresh, Mr. A.H., Bailey, Caroline, dan masih banyak lainnya. Di dalam novel ini kamu akan menemukan berbagai macam jenis sulap, trik-trik di wahana sirkus, dan masih banyak lagi. Intinya, semakin jauh kamu membaca, kamu akan menemukan sesuatu yang ajaib yang membuatmu akan terus membaca sampai akhir :)


"The Night Circus adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan akhir pekan. Ceritanya sangat ajaib dan mampu memantik imajinasi yang luar biasa." ~Tiyas Fransiska~


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Monday, May 6, 2013

Blaming Does Not Solve Any Problem


Pernahkan kalian mencoba menyelesaikan masalah dengan menyalahkan orang lain? Well, aku sih pernah. Misalnya aku kehilangan headset handphone, kemudian aku menyalahkan ibukku atau adikku karena aku pikir mereka bertanggung jawab akan hilangnya si headset. Aku pikir mereka yang memindahkan headsetku dari meja belajar sehingga hilanglah si headset. Emm, it happens many time. Kebiasaan blaming (menyalahkan) memang susah untuk dihindari. Hampir semua orang pasti pernah melakukan itu. Tapi suatu hari ada seseorang yang menyadarkanku bahwa blaming is not good. Blaming does not even solve any problem you face. Blaming only gives more burden on you and your problem. Blaming does not get you anywhere, though. Seseorang itu adalah dosenku.

Sewaktu semester 8 aku mengambil makul wajib yang disebut "Service Program Design". Kuliah ini bukan soal desain, no no no. Ini mata kuliah adalah mata kuliah paling ajaib sedunia. Mata kuliah ini mengajarkan bisnis, marketing, kerja tim, kepribadian, seni, budaya, motivasi, kedisiplinan, dan macem-macemnya. Aslinya sih kuliah tentang bagaimana mempergunakan ilmu "Pendidikan Bahasa Inggris" untuk dunia bisnis tepatnya bisnis di bidang jasa. FYI, kuliah ini hanya diadakan di hari Senin lho *persis upacara Bendera*. Setiap mahasiswa wajib masuk ke kelas (bukan kelas sih, tapi sebuah ruangan di gedung pusat lantai 4) sebelum jam 6 pagi karena dosen akan datang pukul 6.15. Dan karena jarak tempuh antara kampus dan rumah kira-kira 45menit (normal-ngebut) sampai 1 jam (jalan rame) aku harus maksimal berangkat jam 5.10 pagi dari rumah *pernah saking nggak fokusnya lihat dedemit nyebrang jalan juga #abaikan*. Kalau sampai telat ya sampai ketemu di kelas semester selanjutnya *Ogah banget kan*.

Tapi meskipun kami sampai kampus sebelum jam 6 pagi *Puji Tuhan pintu pagar udah dibuka*, kami nggak bisa terus santai-santai hore lenggang kangkung masuk kelas, no no no, karena tiap datang ke kelas musti naik tangga sampai lantai 4, padahal ada lift tapi nggak boleh dipakai kecuali lagi sakit, lengkap dengan seragam dinas kantoran (blazer + rok + high heels buat cewek dan setelan jas + dasi + fantofel buat cowok). Kebayang nggak tuh perjuangannya kayak apa, LOL. By the way, nggak cuma sampai disitu lho penderitaan kami, kelas ini setiap minggunya ada tugas yang disebut artwork. Kami para mahasiswa (yang khusus di makul itu disebut Mr/Mrs. MANAGER) diwajibkan untuk membuat karya seni 4 dimensi untuk kemudian dipromosikan pada Mr/Mrs. Manager yang lain. Tiap minggunya ada tema yang berbeda-beda. Kalau sampai masuk jajaran "the worst" suruh ngulang bikin artwork dengan tema yang sama di pertemuan selanjutnya *duh!* Pembuatan artwork itu sampai 4 kali dalam 1 semester lho.

Selain membuat artwork, kami juga diminta membuat kelompok yang nantinya akan menjadi base dari service business kami (kami nantinya harus mencari dan mengajar bahasa Inggris pada klien kemudian melaporkan gaji dan proses belajar-mengajar). Masih ada lho tugas yang paling kejam yaitu SUMMARY. Ini bukan sekedar meringkas buku tapi juga belajar bertanggung jawab dan tidak menyalahkan orang lain. Kalau summary gagal otomatis kami juga harus mengulang kuliah di semester selanjutnya. Summary wajib ditulis tangan dan ditulis pada kertas folio bergaris dengan ballpoint biru. Gilanya lagi, tidak boleh ada tipe-x atau coretan, warna tinta ballpoint yang digunakan juga harus sama di setiap lembarnya. Belum lagi aturan margin dan sebagainya. OMG! Summary dibuat selama 2 minggu (padahal bukunya tebel dan tulisannya kecil-kecil, bdk: How to Start a Service Business). Pokoknya kalau ada salah dikit aja atau tidak mengikuti aturan (padahal aturannya juga simpang siur) nyawa kami di kelas tersebut terancam. Ngeri deh.

Nah, setelah moment-moment epic pembuatan summary, artwork, dan beberapa tugas lainnya. Dosen kami tercinta menuturkan kalau dari tugas-tugas dan aturan gila tersebut kami dilatih untuk disiplin dan tentunya STOP BLAMING (blaming cannot be tolerated as an excuse even a solution). Ya, kami dilarang untuk menyalahkan siapapun akan hal buruk apapun yang terjadi selama mengikuti kuliah ini dan di kehidupan kami selanjutnya. Kalau kami gagal dalam membuat tugas dan dikeluarkan dari kelas, the one and only person responsible for that is ourselves. Aku inget banget waktu bu Dosen yang kami kenal dengan panggilan Cik Lan mengatakan, "Apapun yang terjadi padamu, jangan salahkan orang lain, salahkanlah dirimu yang pertama kali. Kamu yang bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan dan atas apa yang terjadi pada dirimu sendiri bukan mereka." Kalau dipikir-pikir sadis juga ya. Tapi jangan ditelan mentah-mentah lah ya, bisa nggak nemu nalar ntar, LOL. Intinya sih kami harus bisa bertanggung jawab pada kehidupan kami masing-masing. 

Stop blaming yang diajarkan di mata kuliah ini memang sadis kok. Misalnya saja kalau kami telat karena terlambat bangun, kami tidak boleh menjadikan "terlambat bangun karena tidak ada yang membangunkan atau karena alarm mati atau karena tidak mendengar alarm" sebagai excuse untuk dimaafkan dan diperbolehkan mengikuti kuliah. Justru kami harus menemukan sebab, kenapa kami tidak aware dengan waktu dan memilih untuk menggantungkan kepercayaan agar bisa bangun pagi pada alarm atau orang rumah. *susah masuk di akal nih* Bahkan yang paling lucu adalah ketika beliau menceritakan pengalaman salah satu (kalau nggak salah sih) anak dari rekan beliau yang mengalami kecelakaan. Sewaktu itu beliau tidak menanyakan "siapa yang nabrak kamu? kok bisa kecelakaan itu gimana?, dll" tapi beliau justru menanyakan, "kenapa kamu ada disitu pas ada pengendara motor yang ugal-ugalan lewat?" Si anak tadi nggak mungkin kan jawab, "yang nabrak tuh nggak punya mata tante" atau mungkin "dia yang salah tante, soalnya naik motornya seenaknya sendiri." Pasti dia bakal jawab, "aku mau ke rumah temen tante" atau "aku lagi pulang kuliah tante." Central dari kejadian adalah "aku" bukan "dia" jadi otomatis si "aku" tidak blame pada "dia". Agak aneh memang saat pertama dengar cerita itu. Tapi dari situ kami belajar bahwa suatu kejadian dan suatu masalah yang menimpa kami adalah tanggung jawab kami.

Kebiasaan menyalahkan orang lain pada suatu masalah seperti "gara-gara dia nih handphone ku hilang" atau "gara-gara dia nggak bayar hutang aku jadi nggak punya uang" tidak akan menyelesaikan masalah itu sendiri. Kenapa kita tidak coba untuk berpikir demikian, "aku tadi meminjamkan handphone pada dia kemudian handphone itu hilang, mungkin aku memang sedang ceroboh" atau "kenapa aku tidak coba tanyakan pada dia kapan dia akan membayar hutangnya padaku ya? Mungkin saja dia lupa." Meskipun mungkin masalah kita tidak selesai semudah itu, tapi dengan merubah mindset seperti itu kita tidak menambah masalah lagi (misalnya saja teman kita jadi tidak mau berteman lagi dengan kita karena dia selalu disalah-salahkan perihal hilangnya si handphone) dan juga akan lebih mudah untuk memaafkan orang lain.

Mulai sekarang, yuk coba untuk STOP BLAMING and BE RESPONSIBLE! Ini memang tidak mudah, aku juga nggak akan bilang ini mudah. Tapi paling tidak kita mencoba untuk mengurangi kebiasaan menyalahkan orang lain. Menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dengan mengubah mindset akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik, lebih ikhlas, dan lebih disukai banyak orang. Blaming will get you NOWHERE, trust me!




~Hug & Kiss~
xoxoxo



Friday, March 1, 2013

Fake Identity

Kalau dilihat dari judul postingan ini pasti ada diantara temen-temen yang teringat sebuah film Hollywood dengan judul serupa. Hehehe, sayangnya kali ini aku cuman minjam istilahnya saja. Yang mau aku ceritain adalah tentang identitas palsu atau bahasa kerennya Fake Identity. Yap! Yang namanya identitas palsu itu banyak sekali dan bisa ada dimana-mana. Kalau menurut pengamatanku *ceileehh* fake identity itu banyak ditemukan di jejaring sosial. Mengapa bisa begitu? Ya, karena di jejaring sosial yang berlatar dunia maya tidak mengharuskan seseorang untuk registrasi dengan KTP, Akta lahir, dan identitas lain. Cukup tulis nama/username (nggak perlu nama asli lagi) sama masukin email dan isi password. Tadaaa!! Dunia baru dan identitas baru terciptalah sudah. Beda dong ya sama buat identitas asli, musti ke RT, RW, Lurah, Camat, dan masih banyak lagi (birokrasinya).

Tuesday, December 11, 2012

Inspirational Thoughts

Inspirational Thought.
Make sure you read to the end!!!!!!

Written By Regina Brett, 90 years old, of The Plain Dealer, Cleveland, Ohio.

"To celebrate growing older, I once wrote the 45 lessons life taught me. It is the most-requested column I've ever written.

My odometer rolled over to 90 in August, so here is the column once more:

1. Life isn't fair, but it's still good.


2. When in doubt, just take the next small step.

3. Life is too short to waste time hating anyone.

4. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends and parents will. Stay in touch.

5. Pay off your credit cards every month.

Saturday, December 8, 2012

The Unspoken Rhyme of A Little Red Riding Hood

image was taken from here

I was a little red riding hood
When I was kid
I had ever seen an evil wolf with my own eyes
I never knew what he actually wanted from me
But he always went after me
One day my Mom asked me to go to the forest
I had to take some apples for lunch
I was not glad at all
I was afraid of the evil wolf
I thought that he always wanted to chase after me
I took my red riding hood as usual, then
I walked quickly to the forest
I did not want the evil wolf smelled my body scent
Suddenly I met a person in the middle of forest
She dressed like me
However, she had very pale hands
I did not speak to her at all
I only caught a weird glance she gave to me
I was afraid that she was the real evil wolf
But I was not sure
I kept walking
I walked faster since I heard someone stepped behind me
I did not want to look backward
I kept walking and even running
I heard the steps behind me was running also
I was afraid
But my throat was too sick to scream
I kept running but I was not aware of anything in front of me
Unfortunately I felt that my feet stepped on the air
I realized that I was falling down
I fell into a deep down ravine
I could not remember what happened
I just remember that a little red riding hood had gone dead
Not because being chased by the evil wolf
But because she fell down in a deep down ravine
Without being noticed by anybody

Wednesday, December 5, 2012

Say No to COPAS!

Copas atau Copy Paste sudah menjadi trend dan mendarah daging di kalangan masyarakat. Entah dengan alasan apa banyak penulis (biasanya yang amatir) maupun sekedar orang yang suka menulis melakukan copas. Jujur aku nggak suka yang namanya copas (bagaimanapun caranya). Makanya dengan sengaja konten blog milikku ini aku protect. Meskipun isinya nggak penting, tapi aku beneran nggak suka dengan yang namanya copas. Aslinya mengkopi ide atau isi blog atau situs seseorang itu boleh asal prosedurnya benar. Namanya citing ya, bukan copy paste. Kalau citing itu artinya mengutip. Kalau copas mah cuma block-klik kanan-copy-buka halaman baru-paste-udah. Itu namanya nggak kreatif dan cenderung bodoh. Pelaku copas banyak lho di internet dan biasanya tanpa menyertakan sumbernya. Kalau menyertakan sumber sih masih bisa diterima ya. Kemungkinan orang yang copas dengan sumbernya itu punya alasan kuat, misalnya dia nggak ngerti topiknya tapi pengen/diminta untuk menampilkan topik tersebut di dalam sebuah site. Nah, kalau yang cuman bisa copas artikel terus seenaknya sendiri mengganti nama penulis atau mengganti beberapa unsur di dalamnya itu namanya KRIMINAL!!

Sunday, November 25, 2012

Whenever you think you wanna give up,, whenever you think you do not want to continue,, whenever you face many obstacles,, please remember this:

image was taken from here

You'll be fine!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net