Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Thursday, July 2, 2015

Curahan Hati Seorang Kawan

Hi readers!!!

Baru saja aku di-curhat-in salah satu kawan. Lagi-lagi aku menjadi tempat curhat masalah per-pacaran dan relationship lainnya. Jadilah kami bercakap-cakap via media online chatting mengenai berbagai hal yang kawanku alami. Pada intinya, kawanku itu memiliki pacar. Nah, masalahnya adalah si pacar itu enggan go public alias mempublikasikan hubungannya dengan kawanku itu pada orang lain, ya istilahnya menegaskan kalau mereka berdua memang sedang menjalin hubungan yang special, lebih dari sekedar teman.

Aku sendiri tidak menelisik alasan si pacar kenapa tidak mau go public padahal banyak rekan mereka masing-masing yang saling kenal satu sama lain. It means, sebenarnya tidak ada hal yang memang benar-benar perlu ditutup-tutupi dari mereka berdua. Nah, karena kejadian ini, kawanku menjadi sedikit kecewa karena keduanya jika dilihat memang sudah sama-sama serius untuk jenjang berikutnya.

Dari kisah tersebut, ada beberapa poin yang ingin aku garis bawahi, ya mungkin ini bisa membantu readers lainnya, yang mungkin juga mengalami masalah yang serupa.

Tuesday, May 26, 2015

Sogen Parfums Love: My Love

Hi readers!!

Ceritanya, sore tadi aku ke Ind*maret sama adekku dengan maksud untuk beli body spray untuk adekku dan beli sekedar cemilan dan vitamin rambut. Eh, pas lewat di rak body mist dan wewangian wanita, aku nemu sesuatu yang eye-catching. Biasalah, aku emang mudah terdistraksi dengan sesuatu yang berwarna candy-candy atau pastel. Apa itu? Ini dia!!!


Tuh kan, cute banget packaging-nya. Siapa coba yang tidak terdistraksi saat melihat kemasan parfum yang semacam ini.

Well, perkenalkan produknya. Ini adalah Sogen Parfums Love. Apa itu Sogen Parfums Love? Sogen adalah merk parfum yang berasal dari London, England. Denger-denger dari beberapa blogger, Sogen sudah menjual produk parfumnya di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia yang diproduksi dan didistribusikan dibawah naungan Sogen Asia. Nah, parfum Sogen yang sudah diluncurkan di Indonesia ada 2, yaitu: So...? dan Parfums Love. Untuk produk So...? ada 2 macam wewangian: So...? Sensual dan So...? Desirable. Sedangkan untuk produk Parfums Love ada 3 macam eau de toilette (EDT): My Love, You & Me, dan Lost in Love.


Pilihanku untuk first trial wewangian ini adalah Parfums Love varian My Love tipe eau de toilette. Menurut website resmi-nya, My Love memiliki deskripsi wangian sebagai berikut:
My Love adalah wewangian bagi para gadis yang mendambakan dan percaya pada cinta serta kebahagiaan sejati...Wewangian yang yummy dan anggun ini sangat manis dan feminin. Aroma buah Blackcurrant dan Lemon yang dicampur dengan Jasmine, Passion Fruit dan Musk akan membuat kamu menginginkan lebih!

Memang sih, deskripsinya tepat dengan aroma wangian yang dipersembahkan oleh My Love. Wanginya sangat girly dan manis. Cocok untuk mereka pendamba "dreamy world" dan lolipop, hihihi. Bagiku wanginya cukup menyenangkan dan fair sih, tidak terlalu manis ketika sudah menyatu dengan panas tubuh dan aroma alami kulitku *anggap saja kulit ada aromanya, haha*. Selain itu, produk EDT yang satu ini juga awet wanginya. Jadi tidak perlu sering-sering semprot sana semprot sini.

Kemasan dari eau de toilette ini adalah botol kaca dengan tutup plastik warna merah muda. Volume-nya adalah 15ml dengan harga yang sangat terjangkau, yakni hanya IDR20,000. Kemasannya yang mini menjadikan EDT ini praktis untuk dibawa kemana-mana, bahkan traveling ke luar negeri. Sayangnya, botolnya yang terbuat dari kaca dan tutup plastik membuatnya terkesan rapuh. Lebih baik sih membawanya beserta kemasan box-nya karena box tersebut akan menjaga agar botol tetap aman dari kerusakan.

Selain menawarkan produk EDT, Parfums Love juga menawarkan varian Body Mist dengan aroma sama namun dikemas dalam botol plastik yang ringan. Niatku sih pengen beli yang varian So...? Desirable karena wangi-nya mirip dengan lulur copacabana yang aku pakai. Tapi, aku masih menanti produk dari Sogen yang lain karena berdasarkan beberapa sumber di internet, Sogen memproduksi berbagai macam varian wewangian serta produk-produk lain seperti dry shampoo, deodorant, dll.


~xoxo~


Friday, May 24, 2013

Cheeten: The Kitten I Rescued Today







Accidentally I rescued a kitten. Yes, a kitten alive. At 2.40pm I heard a kitten meowing when I was writing such article for my client. I was so curious so I decided to look for it. I followed the meowing sound so carefully. Then, I found a kitten, lonely kitten, crawling on the grass. Actually, I found that kitten in my neighbor's yard. Nobody was there and no mother kitty there, so I picked the kitten. Firstly, I was afraid of hurting the little kitten. I saw that the kitten was afraid of me too. Then, I decided to give it a small piece of fried chicken. But sadly, the kitten did not want it. It refused to eat the small piece of fried chicken I gave. 

I waited very long time, I guess it was about 1 hour before the kitten followed me. I sat on the grass just to make it comfortable with my existence. After two hours passed, the kitten was not afraid of me anymore. He (I guessed the kitten is male), wanted to get closer to me. He loved my feet. He always tried to touch my foot and play with it. I was happy because he wanted to play with me. Unfortunately, I did not have instant milk for him. So, I decided to make a milk from dairy cream I got a set with a bottle of instant coffee. He was happy with the "artificial" milk made of dairy cream.







I preferred to keep him as my new pet. He is so lovely. His eyes are so dame cute and adorable. He got blue semi greyish eyes. My previous cat has neon yellow eyes, so ordinary I guess. And now I got a blue greyish eyed cat. Plus, this kitten has bunny tail. Wow, I am so excited. My brother is very happy to. He loves the kitten. Finally, we give him a name "Cheeten Carmello". I got the name Cheeten and Carmello from my Facebook friends. They are so lovely indeed. They said that Cheeten fits to my kitten because the hair on his head is like cheetah's hair, while his face reminds us to sweet creamy caramel.

Cheeten wanted to play hide and seek with me :)

Cheeten was so excited to a fly


I promise my self to keep Cheeten until I don't know when exactly. I just love this kitten. :)

Hey, did you experience something amazing today?


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Thursday, May 23, 2013

Thursday, 12.15am

Malam ini aku sudah siap-siap akan tidur. Aku sudah mengenakan piyama berlengan panjang bergambar kelinci favoritku. Malam ini memang agak dingin. Mungkin karena sesorean hujan turun cukup deras. Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit. Sudah cukup larut memang. Mataku juga sudah mulai mengantuk. Aku ingin sesegera mungkin merebahkan badanku di kasur kamarku yang empuk. Apalagi sejak sore tadi sakit migrenku kumat lagi. Aku pasti kecapekan dan telat makan. Ya, seharian aku bekerja sampai malam sampai-sampai aku lupa untuk makan sore. Aku biasa menyebut makan sore bukan makan malam karena memang jadwalku makan tidak lebih dari jam 7 malam.

Baru sekitar 5 menit aku memejamkan mataku, mencoba untuk tidur di tengah udara yang begitu dingin, aku dikagetkan oleh suara air hujan yang tumpah dari langit. Entah hanya perasaanku saja atau memang hujan susulan malam ini luar biasa derasnya. Aku merapatkan selimut sampai ke dagu. Suasana kamarku yang gelap karena lampunya kumatikan menambah ngeri suasana malam ini. Hujan turun disertai dengan angin yang cukup kencang. Aku takut, takut sekali. Agak konyol memang, tapi pikiranku sungguh-sungguh melayang ke peristiwa badai Oklahoma yang terjadi beberapa hari yang lalu. Bayangan video klip Carrie Underwood "Blown Away" dan film lawas "Twister" beberapa kali melintas di pikiranku. Bodoh memang! Padahal di Indonesia sangat jarang bahkan tidak mungkin terjadi badai tornado dan semacamnya di daratan. Tapi aku tetap takut. Aku masih berdiam di kamarku. Rasanya ingin keluar kamar dan mencari anggota keluargaku yang lain yang mungkin sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Tapi niat itu aku urungkan. 

Kepalaku semakin berdenyut sakit. Migrenku semakin parah kurasakan. Rasa takut ini mungkin yang memicu kepalaku semakin sakit. Aku mencoba meraih handphoneku yang aku letakkan di meja di samping tempat tidur. Aku nyalakan lagi. Dengan bantuan cahaya dari layar handphone yang redup, aku beranjak dari tempat tidur. Tanganku meraih saklar lampu. Ctak! Bohlam lampu berwarna putih susu pun menyala. Kamarku mejadi terang tapi cahaya lampu itu sedikit menyilaukan mataku. Aku memutuskan untuk menghidupkan laptop. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan laptop ini. Jadi setelah kunyalakan hanya shortcut Winamp yang kemudian aku pilih. Beberapa lagu kesukaanku aku pasang di sana dengan harapan bisa membantuku meringankan migrenku yang semakin menjadi-jadi ini.

Ah, jaringan Wi-Fi di rumah masih hidup. Padahal biasanya kalau hujan turun dengan derasnya si Wi-Fi suka ngambek. Akupun melanjutkan membuka tab Mozilla Firefox. Rasa-rasanya aku ingin membuka laman Facebook dan Twitter. Siapa tahu disana aku menemukan teman yang bisa diajak ngobrol sembari menunggu mata ini mengantuk lagi. Di luar hujan masih turun dengan derasnya. Laman Facebook sudah terbuka. Jemari telunjukku mulai memainkan touchpad laptop. Scroll kebawah mencari-cari siapa tahu ada informasi yang penting atau sekedar melihat apa toko online favoritku sudah mengupload koleksi terbarunya. Dan! Foto itu! Aku sedikit tercegang mendapati sebuah foto terpampang lebar di timeline Facebook.

Bukan foto setan atau semacamnya, bukan. Itu foto dia. Ya, yang kusebut dia adalah mantan pacarku. Kami sudah lama tidak saling berhubungan baik via telepon, SMS, instant messaging, bahkan lewat jejaring sosial. Tapi status di jejaring sosial kami sih masih berteman masih saling follow malah. Tapi dingin, tidak pernah ada interaksi sama sekali. Terakhir kami berbalas SMS hanya saat hari besar keagamaan saja. Yang membuat aku tercengang adalah setelah sekian lama akun dia membisu tanpa ada pergerakan dia tiba-tiba mengupload sebuah foto. Aneh saja bagiku. Apalagi di suasana hujan begini, suasana yang sangat kami favoritkan dulu ketika masih bersama.

Ingin rasanya aku menyapa dia. Aku tahu dia masih online. Tapi apa pantas? Aku dulu yang meminta putus dari dia. Aku dulu yang menganggapnya pengatur, diktator, dan tukang ikut campur. Aku dulu yang hampir membencinya. Tapi sekarang, aku merindukannya? Aku kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada diriku sendiri. Apa aku merindukannya? Atau aku hanya terbawa suasana? Aku sedang takut, sakit, dan sendirian. Kemudian aku menemukan dia di jejaring sosial dan aku tiba-tiba ingin mengobrol dengannya. Ah! Sudahlah! Aku memencet tombol minimize pada laman Mozilla Firefoxku. Aku tidak ingin memandang fotonya lama-lama. Toh aku juga tidak tahu kabar terakhir tentang dia bagaimana. Aku takut kalau-kalau dia sudah punya pacar atau malah calon istri. Aku takut kalau nanti dia menyangka aku ingin kembali masuk dalam kehidupannya. Tidak!

Aku beranjak dari meja tempat laptopku berada. Meraih handphoneku dan membaringkan badanku di kasur yang sedikit terasa dingin. Hujan masih belum berhenti turun dari langit. Sepi sekali, hanya suara Rihanna dengan lagu Diamond-nya yang masih mengalun lirih dari speaker laptopku. Entah bagaimana ceritanya, tanganku otomatis membuka halaman pesan di handphone dan mulai mengetik.

Hai Mas Kendra. Apa kabar? Lama nggak ngobrol.

Hentikan! Hetikan! Hentikan! Otakku memberontak, menyuruh jari jemariku untuk berhenti mengetik. Hatiku terasa dingin dan gamang ketika kedua bola mataku menatap layar handphoneku. Aku ini kenapa??? Apa aku sudah tidak waras? Sudah sekian lama aku tidak merindukan dia tapi kenapa sekarang hatiku membabibuta untuk menghubungi dia? Gejolak dalam diriku semakin panas. Perasaan dan pikiranku, dua elemen yang tak berwujud itu, saling bergolak. Perasaanku ingin diriku menghubungi dia. Pikiranku yang penuh logika melarangku untuk melakukan hal bodoh itu. Tapi siapa yang menang? Perasaanku menang! Kembali ku tulis sebuah kalimat.

Malam Mas Kendra. Apa kabar?

Message has been sent. Message delivered. Aku menunggu balasan. Detak jam dinding berwarna ungu di kamarku semakin terdengar keras. Hujan diluar sudah mulai reda. 10 menit sudah, tidak ada balasan. 20 menit kemudian, layar handphoneku masih kosong. 30 menit berlalu, masih sama. Kulirik jam dinding berjarum hitam di dinding kamarku. Pukul 12.43. Akupun perlahan tertidur. Layar handphoneku masih kosong. Aku lupa mematikan laptop. Saat aku terbangun, aku membuka kembali laptopku yang otomatis terset "sleep mode" dan mendapati sebuah notifikasi pesan di laman Facebookku. Tanganku sedikit gemetar ketika aku membuka isi pesan itu.

------------------------------Thursday-----------------------------

Kendra Yudha Saputra                                                   12.15am

Malam Ayuk. 
Maaf pulsaku habis jadi SMSmu nggak aku balas.
Kabarku baik Yuk. Kamu gimana? 
Lama nggak ngobrol ya?
Kok belum tidur? Kenapa? :)

---------------------------------------------------------------------



Tuesday, May 7, 2013

Kebelet Nikah, Haruskah Balikan Sama Mantan?

Usiaku memang baru 22 tahun tapi entah mengapa teman-teman sebayaku sudah banyak yang menikah, bahkan sudah ada yang punya anak 2. Tidak bermaksud untuk iri hati dengan mereka yang sudah menikah, bahkan dengan mantan pacar yang sudah menikah, tapi rasa-rasanya aku memang sudah selayaknya menjalin hubungan serius dengan pria. But, wait? Pria yang mana? Aku saat ini memang sedang jomblo, iya aku seorang tante imut dengan 7 keponakan yang masih jomblo *sigh*. Aku happy dan sedang menikmati hidup. Aku juga bukan orang yang berprinsip harus menikah di usia sekian, no no no, tapi aku memang memiliki target, the sooner the better. Tapi aku tidak mau memaksakan diri juga sih. Setelah aku pikir-pikir, apa iya aku harus balikan sama mantan biar bisa cepet nikah???

My answer would be NO! Aku emang sempat kepikiran untuk balik ke mantan, tapi mantan yang mana? Mantan yang satu udah nikah, mantan yang selanjutnya ada di luar kota, mantan selanjutnya dia akan nikah tahun ini, mantan yang lainnya dan lainnya dan lainnya nggak tahu dimana. So? Salahkan saja mantan-mantanku kenapa mereka nggak serius!!! *ngamuk* Ngomong-ngomong soal balik ke mantan, aku memang bukan tipe orang yang melow sana sini dan nggak bisa hidup tanpa pacar, NO! Aku happy-happy aja kok tanpa mantan-mantanku itu, malah justru akhir-akhir ini aku sering nge-Friendzone-in cowok #dikeplak. Ya, mau gimana lagi, kadang ngerasa lebih nyaman begitu. Tapi ujung-ujungnya kalau si doi punya gandengan, aku ngamuk-ngamuk, LOL. 

Semalem aku sempat diminta klien buat nulis artikel review web tentang breakups. Ya, sedikit banyak aku belajar dari artikel-artikel tersebut kalau musti move on alias nggak usah ngungkit-ungkit masa lalu. Tapi nggak menutup kemungkinan juga untuk balikan dengan mantan tapi dengan status hubungan baru yang nggak pantes buat dihubung-hubungin dengan masa lalu. A new relationship must be about something new even still with the same person

Balik lagi ke "kebelet nikah", istilahnya memang ekstrim tapi tidak sepenuhnya aku kebelet pengen nikah kok, NO! Aku masih menikmati indahnya hidup dengan bebas lepas tanpa ada suatu ikatan. Meskipun keponakanku sudah 7 biji *derita cucu dari anak bungsu kakek-nenek (bapak) dan anak bungsu dari kakek-nenek (ibuk) memang begini*, tapi aku tetap masih jadi tante yang single imut nan seksi, LOL. Doakan saja biar aku cepet nyusul para mantanku itu. Biar giliran mereka yang aku kasih undangan, bukan sebaliknya. Hahaha.


P.S: Aku galau karena si doi mau nikah tahun ini dan aku nggak dikabarin sama sekali kapan dan dimana dia mau nikah.


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Sunday, January 27, 2013

Inspirasi Peluang Usaha Menjelang Valentine

Hi!!
Feeling good?? Haha
***
Valentine tinggal bentar lagi nih,, udah nyiapin apa aja buat dihadiahin ke pasangan, gebetan, atau orang-orang tersayang kamu?? Atau kamu malah kepikiran pengen nambah uang saku menjelang Valentine tahun ini?? Buat yang belum ada ide mau usaha apa yang sekiranya bisa sukses menjelang hari Valentine nanti, jangan khawatir. Masih ada beberapa hari buat meraup untung dari usaha yang akan kamu kembangkan. Kalau masih bingung mau usaha atau bisnis apa menjelang Valentine, atau mau tahu peluang usaha apa yang menguntungkan, bisa deh nyobain beberapa ide berikut ini.

Friday, December 14, 2012

I Love Acoustic

Acoustic. Many people love listening to acoustic songs or acoustic music. No wonder why, I think acoustic songs or acoustic music is so awesome. It is like a music from nature. The harmony and the rhythm are so calm. Listening to acoustic played songs like listening to someone's heart.

Actually, I have several acoustic musicians and singers that I like the most.
They are Boyce Avenue, Madilyn Bailey, Alex Goot, Jake Coco, and Sabrina. They are so fabulous. I love their voice and the way the music on their songs played. :)

I love acoustic!

Thursday, December 13, 2012

It's Not Christmas Without You

Years almost over
Sure looks like December
The snow and ice on the ground
I hadn't sent a single Christmas card
The 31st is coming around
It makes me remember our last December
How the city looks so beautiful in white
As we walked the street that day you kept me warm
We couldn't wait to get inside

Now its Christmas and you're so far away
On this Christmas I just wish you had stayed
And I wonder if you're thinking of me today
I don't know what I'll do its not Christmas without you

I hear carols in the distance
Don't want to listen because every sound says your not here
Just in case you change your mind I'll leave a light over the door
And hope you suddenly appear

Cuz its Christmas and you're so far away
On this Christmas I just wish you had stayed
And I wonder if you're thinking of me today
I don't know what I'll do its not Christmas without you

I'm to old too old to believe in Santa Claus
What are these gifts under the tree
But I did this once
Or many it's a dream, has he really brought you back to me
its Christmas all I wanted is here
On this Christmas was for you to be near
And I wonder if you're thinking of me cuz you're here
My one wish has come true, it's not Christmas without you

-Katharine McPhee-



Thursday, December 6, 2012

Bangkok Traffic Love Story

Pernah nonton film komedi romantis yang sama sekali tidak ada adegan ciumannya??
Emang ada??? Ada dong!! Ada film Thailand yang bergenre komedi romantis yang sama sekali tidak ada adegan romantis vulgar seperti ciuman dan kata-kata gombal penuh rayuan. But you know, the story is really adorable and I think that's what I call as the real romantic love story ever. Intinya, yang romantis itu tidak melulu harus dengan ciuman dan kata-kata gombal. Hehehehe.

Judul filmnya Bangkok Traffic Love Story. Film lama sih. Keluaran tahun 2009. Isi ceritanya sangat ringan dan nggak bikin bosen meski durasinya 2 jam (kebanyakan film Thailand emang berdurasi lama). Selain itu, isi cerita dan alurnya persis seperti kehidupan sehari-hari yang normal. Nggak berlebihan dan nggak terkesan dibuat-buat atau didramatisir. Tokoh utama wanita dan prianya sangat pas dalam memerankan peran mereka masing-masing. Selain itu, chemistry mereka sebagai pasangan di dalam film juga pas. Mana yang cowok ganteng pula. Aiiihhh senyumnya maaannnnnn!! Kagak nahannnnnnnn!!

Cerita yang diusung oleh sang sutradara dan penulis naskah memang bersetting pada kejadian sehari-hari yang biasa dialami oleh masyarakat secara umum. O ya, yang aku suka dari film Thailand itu adalah make up dan ekspresi dari pemainnya yang natural. Maksudnya, kalau mereka sedang berperan sedih, ya ekspresi mukanya bakal sedih dan jelek tanpa adanya make up yang mengganggu atau terkesan digunakan untuk tetap menjaga wajah pemainnya agar tetap cute di kamera. Bisa dibilang, itu yang namanya totalitas. Hahaha

Tuesday, November 20, 2012

Ceritaku Tentang "Hello Stranger"


Hap hap!! Akhirnya aku kelar juga nonton Thai movie "Hello Stranger". Anyway, filmnya 2 jam boo!!
Well, as I promised before, I will tell you the story inside the movie in a brief (even though there are many reviews telling about it) and my comment -also feeling- about this movie. Let's start! (ganti bahasa dulu; Bahasa Indonesia MODE: ON)

Film komedi romantis ini diawali dengan adegan 2 orang (pemain laki-laki dan pemain perempuan) dalam 2 scene yang berbeda. Kemudian dilanjut dengan pertemuan mereka yang tak sengaja -ini scene yang lucu plus konyol- Lalu, mereka akhirnya menjadi partner in crime, LOL. Maksudnya traveling partner. Mereka menjelajahi setiap sudut Korea, mulai dari Nami Island -tempat syuting Winter Sonata- sampai tempat-tempat lainnya. Dalam setiap perjalanan mereka di Korea, selalu aja ada hal yang konyol dan lucu. Sampai suatu saat mereka saling sharing mengenai kehidupan pribadi mereka (they are two heartbroken persons). One day, mereka menang main judi Roulette dan menang taruhan. Karena uang yang didapat banyak, mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakannya untuk bersenang-senang. Scene paling sweet itu saat mereka menuju wilayah Korea yang bersalju (semacam wahana ski es).

Monday, November 19, 2012

Hello Stranger

Hayoo siapa yang belum pernah nonton film ini??? /tunjuk diri sendiri/
Ya udah deh, nonton aja yuk!!
Nanti kalau udah nonton, aku ceritain deh ya...
Film lama sih, buatan tahun 2010, film Thailand.
Genrenya sih Comedy-Romantic
Settingnya di Korea :)



Saturday, November 17, 2012

Mengejar Pelangi

Pagi ini hujan semalam masih menyisakan gerimis disertai bau tanah basah. Sebenarnya bukan lagi bau tanah basah seperti biasa melainkan ditambah dengan bau sedikit anyir khas tanah berpasir di sekitar pantai. Aku sengaja meninggalkan penginapan, hanya untuk mencari sedikit udara segar diluar. Aku merasa bosan untuk tetap berada di sebuah cottage yang terletak di sebuah bongkahan karang raksasa di ujung utara sebuah pantai berpasir putih yang aku samasekali tak tahu namanya. Aku meninggalkan penginapan tanpa alas kaki, hanya mengenakan jaket rajut yang sama sekali tidak mampu melindungiku dari udara dingin yang sangat menusuk. 

Aku meneruskan langkah kecilku menyusuri bibir pantai. Tak ada matahari yang menyapaku, hanya ada suara burung laut yang beterbangan dan deburan ombak yang terdengar sangat keras. Gerimis perlahan membasahi rambutku dan juga badanku. Tapi aku tak peduli. Sesampainya di dekat sebuah laguna aku menghempaskan badanku ke pasir yang basah. Mataku nanar menatap kedepan, mencari kalau-kalau ada pelangi yang aku lihat. Kosong. Aku tak menemukan guratan warna merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Ya, sinar matahari saja tak tampak, pelangi pun juga tak mungkin bisa tampak.

Angin dingin menerpaku, menggoyangkan rambutku yang sengaja kuurai. Aku merapatkan jaket rajutku. Mendekapkan tanganku ke badanku sendiri. Aku rindu kebebasan. Aku rindu tempat dimana aku berada dulu. Aku rindu kehidupanku. Disini, aku sekarat. Aku sekarat menunggu kematianku. Oke, aku akui, disini aku tidak menderita suatu penyakit yang mematikan, tidak juga sedang ingin bunuh diri. Aku disini juga tidak sedang disekap, diculik, atau apapun itu. Aku disini, hanya diasingkan. Aku tegaskan sekali lagi, aku sedang diasingkan.
***
"La, kamu harus mau ikut denganku!" Dia menggenggam tanganku dan aku melihat matanya yang terlihat semakin sayu.
"Aku tak tau harus bagaimana Greg. Aku takut kau akan..." Tenggorokanku tercekat, aku tak mampu melanjutkan ucapanku.
"La, apakah kamu mencintaiku?" Lelaki bernama Greg itu terus bertanya kepadaku.
Aku mengangguk, "Aku sangat mencintaimu Greg."
"Lalu, apalagi yang membuatmu tak ingin pergi denganku?" Dia terus menggenggam tanganku, "Aku akan menikahimu La."
Jantungku bergemuruh, seolah aku bisa mendengarkan seluruh desiran aliran darahku tepat ditelingaku.
"Aku tahu Greg. Tapi, ayahku..."
Greg menyeka airmataku, tangannya yang lembut mendekapku.
"Greg, aku harus pergi. Aku tak mau kalau ayahku sampai tahu aku menemuimu lagi."
"Tapi La..." Aku menepis tangannya. Mataku memandang kearah jendela dari kafe tempat kami bertemu. Diluar hujan gerimis masih saja turun.
"Greg, aku tak mau kamu berurusan lagi dengan ayahku. Dia bisa saja membunuhmu Greg!"
"Aku tak peduli La! Yang aku pedulikan hanya kamu!"
"Maaf..." Aku berlari keluar kafe. Meninggalkan sepasang mata sayu yang hanya bisa menatapku lewat jendela kaca.
***
"Viola!!"
Suara parau khas ayahku membangunkanku pagi ini. Dingin, dan semakin dingin rasanya disini.
"Ada apa ayah?" aku menjawab sembari mengucek mataku. Memfokuskan pandanganku yang masih sedikit kabur.
"Apa kau bertemu dengannya lagi?"
"Siapa?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
"Lelaki itu. Lelaki gila penulis cerita konyol itu. Lelaki pendongeng yang tak punya masa depan itu."
Aku terdiam. Aku merasakan jantungku berdegup semakin kencang, tenggorokanku serasa menebal, dan mataku panas. Aku tak terima ayahku mendeskripsikan pria yang paling kucintai dengan kata-kata seperti itu. Greg tidak seperti itu. Greg punya masa depan.
"Tidak," aku berucap lirih. Aku berbohong, untuk keseribu kalinya, mungkin.
"Bagus. Jauhi saja dia. Dia tak pantas untukmu. Kamu patut mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik dari generasi yang terbaik."
***
Aku membayangkan mata itu lagi. Bukan mata sayu yang dulu selalu aku lihat semasa aku masih kuliah. Mata ini mata yang bengis, mata yang selalu memandangku bagaikan aku adalah seekor itik liar yang siap menjadi mangsanya. 
"Viola, cepatlah. Temui segera calon suamimu itu!" Suara parau ayahku terdengar dari balik pintu kamar. Tapi bukan kamarku, kamar yang biasa menjadi tempat tidurku yang paling nyaman. Aku bahkan membenci kamar ini. Kamar yang terletak diujung, dengan jendela yang menghadap langsung ke samudera. Sering aku berpikir untuk bunuh diri saja dengan melompat dari ujung jendela di cottage ini. Tapi selalu kuurungkan. Aku tahu, bunuh diri adalah hal yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Dan aku, manusia beriman. Cukup beriman.

Aku beranjak dari meja rias. Dan malam ini, adalah malam pertunanganku dengan lelaki bermata bengis itu. Lelaki yang memiliki senyum yang menyakitkan. Lelaki yang kata ayahku adalah keturunan terbaik dari generasi terbaik. Ya, perlu diketahui, ayahku adalah ketua sebuah organisasi mafia. Ayah dari lelaki itupun sama. Jadi kesimpulannya, jika aku mau menikah dengan Lee maka organisasi ayahku dan ayahnya akan bergabung. Mereka akan menjadi penguasa daerah ini. Membayangkannya membuatku merasa seperti barang dagangan. Ayahku melakukan barter dengan ayah Lee. Lee mendapatkan aku, dan ayahku mendapatkan kekuasaan. Cihh!

Ahh, andai ibu masih ada, pasti ayah tak akan berbuat seperti ini. Yang aku ketahui ayahku sangat mencintai mediang ibukku. Apapun yang ibukku katakan, ayahku selalu mengikutinya. Namun, sejak ibukku tak ada. Ayahku berubah. Dulu aku tak pernah dikawal oleh anak buah ayah. Tapi sekarang, kemanapun aku pergi, mereka selalu ada. Sekarangpun, aku harus tinggal disini. Ditempat yang sangat asing bagiku. Tak ada orang lain disini kecuali keluargaku dan orang-orang yang bekerja untuk ayahku. Akupun tak tahu bagaimana aku bisa menemukan jalan keluar. Yang aku tahu, tidak ada kendaraan yang bisa digunakan untuk keluar pulau kecuali kapal atau helikopter.
***
"Nona Viola. Nona. Nona!!" Kudengar seseorang memanggilku. Aku merasa ada sebuah tangan hangat yang menggoyang-goyangkan bahuku. 
"Uhukkk! Uhukk!" Aku tersedak. Perlahan aku membuka mataku. Kulihat seorang pelayan di rumahku memandangku dengan tatapan cemas.
"Nona tidak apa-apa? Nona kenapa tidur di pantai?"
Aku tidak menjawab. Akupun tak sadar kalau aku malah tertidur di pantai. Yang kuingat hanyalah, tadi pagi buta aku berjalan-jalan di sepanjang pantai.
"Nona, Tuan Besar mencari Nona. Untung Nona segera saya temukan." Wanita separuh baya itu memandangku dengan sedikit gelisah.
"Apakah Nona tidak ingat?"
"Ingat apa?" Aku menegakkan badanku. Beberapa butiran pasir masih menempel di pipi kiri ku.
"Hari ini adalah hari pernikahan Nona dengan tuan Lee. Nona harus segera mempersiapkan diri."
Aku ingat, sangat ingat malah, aku hanya berpura-pura saja. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Tinggal 3 jam lagi aku akan menikah dengan Lee. Lelaki yang tak pernah kucintai.

Akupun beranjak dari sisi pantai. Wanita separuh baya itu mengikuti langkahku.
"Ahh Greg, lelaki bermata sayu, penulis gila, pendongeng yang tak punya masa depan, aku merindukanmu!" Aku bergumam sembari melangkahkan kakiku menuju cottage di atas karang. Jauh di ujung cakrawala aku melihat semburat warna merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Aku berhenti sejenak untuk memandangnya, membayangkan diujung sana Greg sedang menulis sebuah cerita dimana aku yang selalu menjadi tokoh utamanya. Selalu.


image was taken from here



Tyas
-Sebuah inspirasi yang muncul sehabis hujan-

Saturday, November 10, 2012

Cinta Sejati yang Tak Pernah Lelah

image was taken from here

Blogger, pernah nonton filmnya Adam Sandler sama Drew Barrymore yang berjudul 50 First Dates?? Emm, emang cukup lama sih filmnya, release di tahun 2004. Tapi aku baru sempet nonton sekarang lho. Hahhaa. Anyway, menurutku ceritanya bagus banget ya. Kisah cintanya itu lho,, bener-bener bikin nyesek. Ibarat sebuah cinta sejati yang tak pernah lelah dan tak kenal menyerah. Ya, menurutku sih inti dari film itu adalah cinta sejati yang tak pernah lelah tadi. Tokoh utama pria yang diperankan Adam Sandler (Henry Roth) mencintai Lucy yang memiliki kekurangan yang mungkin orang lain tidak bisa mentoleransi dengan sepenuh hati. Cerita dalam film ini diawali dengan Henry Roth yang seorang solitaire sailor mengalami kerusakan kapal sehingga dia harus menetap di sebuah pulau di Hawaii. Dia membantu sebuah taman wisata bahari disana. Suatu hari di sebuah kafe lokal dia bertemu dengan Lucy. (Awalnya aku merasa aneh karena hampir setiap hari Lucy memakai setelan baju yang sama). Henry berhasil bergabung dengan Lucy untuk sarapan bersama. Mereka berjanji akan bertemu keesokan harinya. Namun, dihari yang dijanjikan, Lucy justru tidak mengenali Henry. Ternyata Lucy menderita gangguan pada otaknya yang menyebabkan dia kehilangan memori jangka pendek (setelah bangun tidur dia akan lupa segala yang baru dialaminya). Ini disebabkan karena sebuah kecelakaan tunggal. Setiap harinya Lucy selalu bangun dan berpikir bahwa hari itu adalah hari dimana ayahnya berulang tahun. Jadi setiap hari Lucy selalu melakukan hal yang sama dan monoton.

Saturday, November 3, 2012

Aku, Piano, dan Secarik Kertas Merah Jambu

Aku meremas-remas secarik kertas berwarna pink itu. Ya, kertas itu memang bukan kertas sembarangan. Aku menerimanya beberapa jam yang lalu. Awal mulanya, kertas itu terlipat rapi dan terbungkus sebuah amplop berwarna marun. Aku bukannya tak sengaja ingin menghancurkan lembaran kertas itu. Aku sengaja, memang sengaja!! Asal kau tahu, hatiku hancur! Benar-benar hancur!
***
"Lopas!!" Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Sialan!
"Apa sih?? Ganggu orang aja!" Aku membentaknya. Dia, namanya Dena, cewekku. 
"Lopas, temenin gue makan yuk, laper nih." Dia menarik-narik tanganku. 
"Sorry Na, gue lagi kerja, lo nggak liat apa?" aku membentaknya lagi, kali ini aku memang sedikit kesal.
"Gue liat lo cuman bengong, mana ada lagi kerja!" Dena menatapku sewot. Akhirnya aku mengalah. Aku menggeser kursi dimana aku duduk tadi, di depan sebuah piano tua milik ayahku.
"Mau makan dimana Na? Nggak usah jauh-jauh ya, gue masih harus nyelesein garapan lagu baru gue."
Dena mengangguk. "Di rumah makan Padang aja ya Pas, gue lagi pengen makan nasi sama terong balado."
Aku mengiyakan sembari menarik ritsleting jaketku. 

Aku dan Dena menyantap makanan di piring kami masing-masing. Dena sedari tadi tidak bisa diam. Dia mengoceh kesana kemari. Sejak pertama kenal dia memang hobi ngoceh. Jauh berbeda denganku, aku lebih pendiam dan jarang bicara. Aku merasa kalau banyak bicara itu nggak penting. Tapi beda dengan Dena, dia memang tidak bisa berhenti bicara. Aku juga nggak tahu kenapa dulu aku memilih untuk jatuh cinta dengannya. Yang aku tahu hanya karena Dena itu mirip dengan mantan pacarku sewaktu kuliah dulu. Ya, aku dulu pacaran dengan seorang cewek yang punya kemiripan dengan Dena, pacarku sekarang. Cewekku dulu bernama Liana. Liana memang mirip dengan Dena. Ukuran tubuhnya yang tinggi dan berperawakan ramping, rambutnya yang dipotong bob dengan poni. Liana banyak berbicara, sama seperti Dena. Hanya saja, aku pikir, Liana lebih cerdas dibanding dengan Dena. Tapi dia hanya masa lalu. Masa dimana aku melakukan kesalahan yang amat bodoh. Ahh Liana!

"Lopas, lo napa sih? Bengong mulu? Kayak gue disini nggak dianggep aja." Dena mulai sewot lagi.
"Sorry Na, gue kepikiran kerjaan nih. Musti cepet kelar soalnya. Lo tau kan, instrumen itu harus jadi dua minggu lagi." Aku sedikit berkilah. Dan Dena percaya.
"Oke deh, kalau soal kerjaan, gue ngalah Pas." Dena beranjak, dia sudah selesai makan, sedangkan nasi Padangku baru aku makan dua sendok. Ah, aku tak lagi bernafsu untuk makan.
***
Akhirnya aku menyelesaikan instrumen lagu ini. Lagu ini adalah lagu buatanku sendiri. Hanya saja, pihak penyelenggara hanya membutuhkan instrumennya saja. Aku memang punya pekerjaan sebagai pembuat instrumen dan penulis lagu. Aku bekerja lepas dan kadang bekerja sama dengan beberapa panitia pertunjukan. Kali ini, aku membuat instrumen untuk soundtrack dari sebuah pertunjukan drama musikal. Drama musikal kali ini memang tidak sembarangan, drama musikal ini dibuat oleh mahasiwa-mahasiswa di almamaterku. Dan saat hari H nanti, akulah yang bertugas untuk memainkan instrumen yang aku buat. Aku membayangkan hal ini akan jadi momen yang luar biasa, karena beberapa alumnus akan datang. Termasuk Liana, aku harap begitu.
***
Besok adalah gladi resik pentas drama musikal di universitasku. Tinggal dua hari lagi, pentas besar menyambut Dies Natalis Universitas akan diadakan. Aku jadi tak sabar. Aku bukannya tak sabar untuk memainkan piano di hadapan semua penonton, bukannya tak sabar untuk mendengar gemuruh applause yang bergema sesaat setelah penampilanku. Bukan! Aku tak sabar untuk melihat Liana. Melihat seperti apa dirinya, setelah hampir dua tahun tak lagi bertemu denganku. Ah Liana!
***
Hari yang aku tunggu pun tiba. Aku berdandan seperti layaknya pianis profesional, meski bermain piano dan membuat lagu hanyalah hobiku saja. Dulu mediang ayahku yang mengajarkannya padaku. Ayahku adalah seorang pianis dan pencipta lagu. Bahkan beliau  memberikan nama Lopas pada anak satu-satunya karena nama ini sama dengan nama guru musiknya dulu waktu bersekolah di Jerman. 
"Pas, main yang bagus ya! Gue bakal dokumentasiin." Dena menemuiku di belakang panggung. Wajahnya terlihat sangat antusias. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dalam hati aku terus mengucapkan kata maaf pada Dena, karena aku kali ini ingin bermain piano untuk Liana. Bukan untuk Dena seperti biasanya.
***
"Plokk plokk plokk plokk!!" Gemuruh tepuk tangan dari penonton menggema di auditorium kampus. Pertunjukkan sudah selesai dengan sangat sempurna. Aku pun sukses menutup pentas malam itu dengan permainan pianoku yang apik. Aku berdiri berjajar bersama dengan seluruh aktris, aktor, dan kru pertunjukan malam itu. Mataku sibuk mengamati bangku penonton satu persatu. 'Mana Liana?' batinku. Yang kulihat hanya Dena yang melambai-lambai ke arahku. Aku tak peduli. Pandangan mataku kembali menyusuri tiap baris di bangku penonton, tapi nihil. Liana tak ada. Padahal jelas-jelas aku lihat namanya tertulis dalam buku tamu.

Seusai acara, aku lalu menuju belakang gedung auditorium. Aku memantik korek api ke arah batang rokok yang aku jepit diantara kedua bibirku. Aku duduk sejenak di dekat auditorium, merokok. Angin malam berhembus, memainkan rambutku yang sudah agak panjang. Dinginnya malam membuatku ingin segera beranjak dari lokasi itu. Aku berdiri sejenak, memperhatikan seseorang yang berjalan ke arahku. Dena? Oh bukan, itu bukan Dena, rambut Dena tak sepanjang itu. Itu...
"Liana!" Aku berseru ke arah wanita yang sedang berjalan ke arahku. Wajahku berseri-seri melihat bahwa Liana menghampiriku.
"Hai Pas." Dia tampak tak begitu antusias menyambutku. Garing rasanya.
"Apa kabar Na?" Aku memperhatikan Liana dengan seksama. Dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Baik Pas," dia masih menunduk, "Penampilan kamu bagus."
"Ahh, makasih Na." 

Kami akhirnya memilih untuk duduk di bangku taman yang agak jauh dari auditorium. Aku sengaja memilih tempat yang sepi, agar Dena tidak mudah menemukanku. Aku berharap Dena masih sibuk dengan apapun itu. Handphone pun aku matikan, aku tak mau Dena mengganggu momenku bersama Liana.
"Pas, emmm ..." Liana tampak gelisah. Dia meremas-remas tangannya sendiri. 
"Kenapa Na? Kok kayaknya gelisah gitu?"
"Pas, aku pikir, kita benar-benar sudah berakhir. Kamu juga mikir begitu kan?"
Aku terdiam. Aku tak bisa menjawab. Pada dasarnya aku masih mencintai Liana. Demi apa aku masih sangat mencintainya.
"Aku pikir nggak gitu Na. Aku ... aku ... aku masih ..."
"Nggak Pas, kita emang udah selesai!" Suara Liana bergetar, aku tahu dia sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Na." Aku mengulurkan tanganku, tapi ditampiknya.
"Pas, aku akan segera menikah!" Liana menatapku penuh airmata. "Aku akan menikah minggu depan Pas!"
Deg!!! Jantungku serasa berhenti, nafasku tercekat. Aku tak bisa berkata-kata.
"Pas, sebulan lalu aku tahu kalau kamu sudah punya kekasih lagi, makanya aku pikir waktu itu saat yang tepat untuk menerima lamaran Jody. Aku nggak bisa Pas kalau harus menunggumu yang tak punya kepastian! Menunggumu yang lari dari tanggung jawab!"
Aku masih terdiam, aku tidak tahu harus berkata apalagi di hadapan Liana. Aku memang salah dan aku memang pria terbodoh yang pernah ada.
"Pas, aku harus pulang sekarang, Jody sudah menungguku di parkiran. Aku harap kamu bisa datang ya, aku harap kamu bisa datang dan bertemu dengan Niko." Liana berjalan meninggalkanku bersama sebuah amplop berwarna marun.
***
Dua tahun yang lalu...
"Liana, aku mau menikahi kamu. Tapi tidak sekarang Na! Aku belum siap apa-apa!" Aku menggenggam tangan Liana yang terasa dingin dan pucat.
"Pas, lalu aku harus bagaimana? Perutku akan bertambah besar dan semua orang akan tahu kalau aku hamil!!" Liana menangis dihadapanku. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Aku tak bisa melihat kenyataan bahwa pacarku sedang mengandung anakku.
"Na, kalau kamu gugurkan saja bagaimana? Kandungan kamu masih muda, masih dua bulan. Pasti masih bisa digugurkan."
"Enggak Pas! Enggak akan! Aku nggak akan membunuh anakku sendiri!" Liana menangis semakin keras. Aku sudah gelap mata. Aku pun berlari meninggalkannya. Meninggalkannya sendiri menangis di ujung taman tempat paling favorit kami berdua.
***
Selama satu setengah tahun aku menetap di Jerman. Aku tinggal di rumah warisan ayahku disana yang ditempati oleh adik ayahku semenjak ayahku meninggal. Di Jerman juga aku bertemu dengan Dena, yang aku anggap sangat mirip dengan Liana. Aku mencoba menebus rasa bersalahku pada Liana melalui Dena. Aku pun memacarinya, dan selalu memainkan lagu-lagu buatanku dengan piano usang milik ayahku ini. Aku melakukan apa yang dulu disukai oleh Liana. Ketika pulang ke Indonesia bersama Dena, aku mencoba mencari Liana, tapi tak ketemu karena dia sudah pindah rumah bersama keluarganya entah kemana. Aku jadi semakin merasa berdosa padanya. Jangan-jangan dia pindah karena aku, karena perbuatanku. Liana pasti sangat malu dan tertekan menjadi ibu dari anak yang ayahnya tidak mau bertanggung jawab.
***
Beberapa bulan aku berada di Indonesia, aku mendapati Liana mengirimkan beberapa foto seorang anak laki-laki berambut ikal. Aku melihat matanya, mirip dengan mataku. Di balik salah satu foto itu, aku menemukan tulisan, Nikolas Armando Lopas -7 Juli 2011-. Aku menangis tanpa suara. Aku mendekap foto-foto Niko, anakku. Aku ingin menemuinya tapi aku tak tahu dimana aku bisa menemuinya. Aku membolak-balik amplop itu. Tak ada alamat, sialnya amplop itu dikirimkan melalui jasa kurir tembak atau kurir tidak resmi. Hanya ada sebaris tulisan di balik amplop itu. 'Kita harus bertemu setelah acara Dies Natalis Universitas, Liana'.

Malam ini aku benar-benar bertemu dengan Liana. Wanita yang paling aku cintai seumur hidupku. Harusnya aku bahagia karena dia masih sudi menemuiku, melihat wajahku, dan mendengar suaraku. Tapi kenyataanya, hatiku hancur oleh sebuah amplop berwarna marun yang dia berikan padaku. Dia akan menikah dengan Jody. Jody yang juga teman sekampusku dulu, Jody yang juga adalah temanku sejak kecil, yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Keparat!! Tapi apa boleh buat, ini salahku sendiri. Kebodohanku sendiri. Aku janji Liana, aku akan datang ke pernikahanmu. Aku akan datang, menemui Niko, darah dagingku. Aku berjanji Liana! Aku tak akan mengingkarinya lagi! Aku tak akan melarikan diri lagi! Aku tak akan mengecewakanmu lagi! Aku janji Liana! Aku janji Niko!


image was taken from here




Tyas
-Inspired from Piano Instrumental on Winamp playlist-

Mencium Hujan

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karna aku dapat mengenangmu
untukku sendiri

Mulutku terus menggumamkan reffren dari lagu Hujan milik Utopia. Sebenarnya aku nggak begitu mengidolakan Utopia, cuma lagunya yang satu ini sangat menyentuhku. Lagu ini sudah lama ada di playlist handphone ku. Setiap aku sedang sendiri, pasti aku sempatin buat memutar lagu ini. Tiap mendengar lagu ini, aku jadi teringat dengan cowok itu. Namanya Dimas, entah nama panjangnya siapa, aku tidak begitu mengingatnya. Aku memang tak pandai untuk mengingat bahkan nama panjang orang yang sangat dekat denganku sekalipun. Aku pertama kali bertemu dengan Dimas satu setengah tahun yang lalu. Aku bertemu pertama kali saat ospek. Dia teman satu kelompok denganku.

"Dimas," cowok berkacamata itu mengulurkan tangannya didepanku.
"Winda," aku membalas dengan jabatan tangan dan senyum manis. Dia lalu duduk di sebelahku. Saat ini adalah saat istirahat sebelum menuju acara ospek selanjutnya.
"Anak apa?" aku membuka pembicaraan lagi.
"Teknik informatika, kamu?" dia memandangku antusias.
"Aku anak psikologi."
Dimas mengangguk pelan sambil terus memandangku, aku agak risih sebenarnya dengan cara dia memandangku.
***
Tiga bulan berlalu setelah masa ospek. Entah mengapa aku semakin dekat saja dengan Dimas. Kalau dilihat-lihat, Dimas itu kayak Surya Saputra, hahahaha. Ah aku mulai mengacau saja. Dimas dan aku memang berada di satu area kampus, jadi intensitas kami bertemu semakin sering. Beberapa temanku bahkan menganggap kalau aku dan Dimas itu pacaran. Kadang saat temanku menanyakan statusku dengan Dimas, rasanya ingin menjawabnya dengan 'Ya, aku pacaran sama Dimas'. Tapi, hubunganku dengan Dimas itu tidak jelas. Hubungan kami memang masih tanpa status. Dimas tidak pernah tegas dengan perasaannya, meski aku sudah bisa menebak kalau dia ada rasa denganku. Bagaimana tidak, kadang dia mau menemani aku lembur tugas di perpustakaan kampus sampai jam 9 malam. Sampai suatu kali kami hampir terkunci di dalam perpustakaan karena jam kunjung sudah habis. Dia sering menungguiku sampai aku selesai kuliah meskipun dia sebenarnya sudah selesai kuliah sejak berjam-jam sebelumnya. Dia mau menjemputku dan mengantarku. Dia satu-satunya orang yang tidak pernah absen menemaniku ke toko buku atau ke mall.

Sekarang sudah hampir satu setengah semester aku dan Dimas berhubungan akrab. Meski kami tetap tidak memiliki status yang jelas. Tapi aku cukup bahagia dengan keadaan ini. Aku dan dia saling setia, meski kami tidak tahu hubungan ini seperti apa. Aku juga nggak pernah membuka hati untuk jatuh cinta dengan orang lain. Dimas juga begitu. Bahkan orangtuaku sudah sangat setuju jika aku berpacaran dengan Dimas. Ibukku bahkan pernah mengatakan, entah serius atau tidak, bahwa beliau sangat setuju bila setelah lulus kuliah aku dan Dimas menikah. Aku cuma bisa senyam-senyum, aku sih mau-mau saja. Tapi Dimas??
***
"Dim, kamu nanti sore ada acara nggak?"
Dimas yang sedang menyantap bakso kuah kesukaannya menoleh ke arahku. Matanya berbinar menatapku tanpa lensa kacamata yang selalu menghalanginya. Aku sebenarnya suka melihatnya kalau tidak pakai kacamata. Aku pernah mendesaknya untuk melepas kacamatanya barang sehari saja. Tapi kata dia, minusnya banyak jadi kalau nggak pakai kacamata nggak bisa lihat.
"Emangnya mau kemana Wind?"
"Emm, mau minta temenin ke toko buku."
"Boleh, jam berapa? Aku jemput deh ya, kayak biasanya."
"Jam 7 ya, makasih Dim!" Aku memeluk lengannya manja.

Malam ini aku jadi pergi dengan Dimas ke toko buku kesukaanku. Sengaja aku memilih cabang toko buku itu yang ada di mall. Biar sekalian bisa main dan nongkrong lebih lama. Setelah selesai membeli beberapa buku, lebih tepatnya novel fiksi, aku dan Dimas melanjutkan berkeliling mall. Memasuki toko satu ke toko yang lain. Setelah lelah berkeliling, kami putuskan untuk makan malam di mall. Setengah jam kemudian kami putuskan untuk pulang karena sudah beberapa kali kami mendengar suara petir tanda akan hujan. Malam ini Dimas menjemputku memakai motor prianya, padahal biasanya dia memakai mobil. 

Baru beberapa ratus meter meninggalkan mall, hujan turun dengan derasnya. Sialnya, Dimas nggak membawa mantel. 
"Dim, menepi dulu gih. Nanti novelku basah semua."
Dimas segera menepikan motornya di depan sebuah halte yang sudah kosong. Angin bertiup kencang dan hujan semakin deras. Dalam keadaan basah, aku dan Dimas duduk di kursi halte. Jam sudah menunjukkan pukul 10.53. 'Sudah malam rupanya, ahh Ibu pasti nyariin aku. Terlebih karena hujan deras banget malam ini,' pikirku.
"Kamu kedinginan Wind?" Dimas menatapku dengan matanya yang tajam.
"Enggak kok, santai aja." Aku merapatkan jaketku yang sudah basah. Dia membuka jaket parasutnya yang anti air dan mengenakannya ke punggungku. Dia mendekapku, hangat.
"Wind," Dimas mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku menatapnya gugup. Dimas mau apa?
------ Dimas mencium bibirku, lama. Awalnya aku memang tak menyangka, tapi sekarang aku menikmatinya, menikmati setiap hangat desah nafasnya, menikmati hangat bibirnya yang menyentuh bibirku dengan lembut.
"Wind," Dimas berbisik pelan, kemudian mengusap lembut pipiku. "Maaf ya, aku udah kurang ajar sama kamu."
Aku menggeleng pelan. Ku tatap sekali lagi raut wajahnya dan rambutnya yang basah karena air hujan. Aku memandang matanya yang tajam, kali ini tanpa ada sepasang lensa kacamata yang menghalanginya.
'Aku sayang kamu Dim,' ucapku dalam hati. Aku mendekapnya lagi, sampai hujan benar-benar reda, dan hanya menyisakan rintik samar dan bau tanah basah.
***
Malam ini, hujan turun lagi dengan derasnya. Sudah setahun lamanya sejak peristiwa itu. Peristiwa dimana aku dan Dimas menikmati hujan yang turun. Menikmatinya berdua bersama kenangan yang manis. Kenangan yang tak pernah akan kulupakan, meski aku dan dia tak pernah ada kata jadian. TAK AKAN PERNAH!!!
"Dim, kamu apa kabar?" Aku berbisik sembari mengusap foto Dimas di layar handphoneku. "Aku kangen kamu Dim." Mataku mulai berkaca-kaca. Aku benar-benar kangen dengan Dimas, segala tentang dia.

"Yak, kali ini Lisa Theodora akan membacakan request via SMS dari Winda. Emm, SMS ini buat Dimas, Winda kangen nih, kamu apa kabar? Besok pagi, Winda mau ke tempat kamu, mau dibawain bunga apa? O ya Dim, lewat siaran radio ini, aku berharap kamu bisa mendengar isi hatiku. Dan aku selalu berdoa semoga kamu bahagia di sana ya Dim." Suara penyiar wanita dari sebuah radio streaming bergema di kamarku. Aku terdiam sejenak. Itu pesan singkat yang aku kirim beberapa menit yang lalu.
"Emm, agak merinding ya bacanya, hahaha." Si penyiar mulai bercuap-cuap lagi setelah sekian detik terdiam. "Oke listener, kita bantu Winda ya, berdoa semoga Dimas bahagia disana ya, and buat Winda, yang tabah ya. Emm, oke deh listener semua, kali ini aku bakal puterin lagu spesial buat Winda dan Dimas di luar sana, ini dia Hujan dari Utopia!!"

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah


Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri


Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air


Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku 




image was taken from here




Tyas
-Inspirasi dari hujan malam ini-

Tuesday, October 30, 2012

Winter Sonata is Back!!!

Hey ho blogger!! 
Blogger, di tulisan kali ini aku mau ngomongin soal serial drama Korea jadulllll banget yang judulnya Winter Sonata. Sekarang kan Winter Sonata tayang lagi tuh di ANTV (sebut merk gapapa ya). Dulu aku pertama kali nonton serial drama ini pas kelas 6 SD (kalau nggak salah inget). Pas jaman itu, aku sih nggak begitu ngerti itu ceritanya gimana. Maklum ya, anak SD jaman 90an kan masih polos-polos, nggak kayak anak SD jaman sekarang #eh. Dulu taunya cuman kalau Winter Sonata itu mengisahkan cinta segitiga. Intinya, cowoknya agak nggak jelas gitu cinta atau enggak sama ceweknya, jadi banyak misunderstanding gitu.  O ya, dulu tuh ada juga serial drama Korea yang judulnya Endless Love, tapi kayaknya sih duluan Winter Sonata nongolnya. Dulu kalau nggak salah ditayangin di RCTI ya? *correct me if I am wrong*.

Anyway, kalau sekarang nonton Winter Sonata tuh, rasanya menyenangkan. Walaupun settingnya jadul banget (nggak seperti serial drama Korea sekarang yang modis gilak), tapi ceritanya tuh bagus banget. Emang Korea udah dari sononya jago bikin cerita yang melankolis dan romantis. Ngomong-ngomong, blogger tau kan soundtracknya Winter Sonata yang alunan biola atau yang alunan piano? Aduh lupa judulnya apa, tapi yang jelas, sampai sekarang masih sering diputer di radio atau dijadikan soundtrack program di radio. Soundtracknya sangat legendaris ya. Bener-bener ageless. 

Monday, October 29, 2012

Disana Aku ...

Entah mengapa aku selalu bermimpi untuk dapat menikah ditempat itu. Sejak pertama kali kesana, aku sudah berkeinginan untuk menikah disana. Sesekali aku ungkapkan keinginan hati yang sudah lama aku pendam ini pada sahabat-sahabatku.
"Kamu masih waras kan?"
"Kamu abis kejedot pintu ya?"
"Ahh kamu ini aneh-aneh aja"
Seperti itulah kiranya tanggapan sahabat-sahabatku. Ahh, aku tak peduli apa kata mereka, toh yang menjalani hidup ini aku kok.
***
Ku putuskan untuk mengambil kunci mobilku lalu melaju ke tempat itu, sendirian. Yah, sebenarnya itu tempat umum, tempat ibadah yang tidak membatasi siapapun untuk datang kesana. Perjalanan kesana kutempuh dalam waktu sekitar 45 menit, jauh memang dari rumahku. Tapi aku memang sering dan suka kesana. Aku lebih suka ke sana dikala senja, karena pasti tidak banyak umat atau peziarah yang kesana. Sesampainya disana, kuparkir mobil di area parkir yang berjarak 20 meter dari lokasi. Aku berjalan sendirian seperti biasa menuju ke depan bangunan yang sangat megah. Aku berdiri mematung di depan bangunan itu. Mengamati setiap lekuk arsitektur dan pahatan di setiap pilar-pilar kayu jati yang menyangga bangunan itu. Sesekali angin lembut membelai rambut panjangku yang selalu aku gerai. Damai rasanya. Aku pun memejamkan mata sejenak dan menikmati udara dan sapa lembut angin sore itu. Tiba-tiba aku merasakan ada rasa hangat menjalar di kedua tanganku. Ada yang memegang kedua tanganku. Aku sengaja tidak segera membuka mataku, aku ingin menikmati hangatnya sentuhan di jari-jemariku. Si empunya jari-jemari itu berbisik lembut di telingaku "Aku menunggu untuk menemukanmu disini." Suaranya begitu lembut bagaikan suara malaikat dari surga. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mata yang masih terpejam. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku, menggantikan suara lembut yang menyapa telingaku tadi. "Mbak, kok senyum-senyum sendiri?" Aku membuka mata, disampingku berdiri ada anak kecil seumuran 12 tahunan. Aku menduga anak laki-laki itu sudah sedari tadi memandangiku. "Nggak apa-apa kok dek," jawabku sedikit malu. Aku memandang sekeliling, mencari sosok orang yang tadi menggenggam tanganku, membisikkan sebuah kalimat syahdu itu. "Dek!" Aku memanggil anak kecil itu. Aku bermaksud bertanya mengenai siapa yang tadi menghampiriku disini. "Tadi ada yang dateng nemenin mbak berdiri disini nggak ya?" Anak kecil itu menggeleng, "Enggak mbak, mbak dari tadi berdiri sendiri, aku dari tadi duduk disitu, terus aku kesini karena penasaran, kok mbak berdiri terus disitu." Aku tersenyum perlahan mendengar jawabannya. Kemudian aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu untuk menuju tempat doa.

Aku mengambil posisi duduk yang paling nyaman di sekitar tempat doa. Memandang wajah sosok Yesus yang duduk di dalam bangunan yang menyerupai candi, Bapaku, Bapa yang selalu mendengar apa yang menjadi keluh kesahku. Aku mulai berdoa meski tidak sekushyuk yang aku harapkan. Aku tidak bisa konsentrasi, semacam mungkin pikiranku memang sedang terganggu. Ya, sampai-sampai aku mendengar suara yang tidak berwujud, merasakan genggaman tangan dari sesuatu yang tidak ada. Ya Tuhan, jangan-jangan aku tidak waras. Ahh, sudahlah, aku mau berdoa dulu. Selesai berdoa, kulirik jam tangan warna hitamku, sudah jam 6.53 sore. Sudah hampir malam, tapi sama saja, aku dirumah juga tidak punya kegiatan yang berarti. Ku putuskan untuk duduk-duduk sebentar di pendopo di dekat bangunan Gereja. Iseng-iseng aku buka BBku. Yah, tidak ada yang berubah. Tidak ada BBM masuk pula. Akhirnya aku utak-utik BB untuk buka Facebook. Tak ada yang menarik. Kututup laman Facebook. Suasana disekitarku sudah mulai gelap. Lampu di pendopo ini juga tidak terlalu terang. Setengah jam kemudian, aku pun merasa bosan dan sudah kena gigit pasukan nyamuk. Ku putuskan untuk pulang.

Saat beranjak mendekati gerbang, ada seseorang yang memanggilku. "Mbak tunggu sebentar!" 
Aku menoleh, mendapati sesosok laki-laki sepertinya lebih tua dari aku. "Ya, ada apa ya mas?" ucapku sopan. "Rosarionya tadi ketinggalan di tempat doa. Saya pikir ini punya mbak, tadi pas saya baru dateng, ada rosario ini, saya tadi papasan sama mbak, jadi saya pikir ini punya mbak." Dia menyodorkan rosario bermanik warna merah marun. Itu memang punyaku, ahh ceroboh sekali aku ini. O ya, aku memang memiliki kebiasaan untuk berdoa rosario meskipun aku sedang menghadap Tuhan Yesus. Aku menerima rosario itu. "Makasih ya mas." Dia mengangguk kemudian mengambil langkah untuk pergi meninggalkan tempatku berdiri. "Mas!" Aku memanggil dia. Aduhh, aku ini kenapa, pakai panggil-panggil segala. Dia berhenti dan menoleh, "Ada apa mbak?" Aku menyodorkan tanganku, "Rara". "Ega" Dia menyambut tanganku. 

Singkat kata, aku dan dia mengobrol sebentar. Dari obrolan tersebut aku mengetahui bahwa dia adalah muda-mudi dari Gereja itu. Dia sudah lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai dokter muda di sebuah rumah sakit di Jogja. Dari obrolan itu aku mengenal dia sedikit demi sedikit. Entahlah, aku begitu tertarik dengan apa yang dia bicarakan. Dengan caranya bicara, caranya memandang, dan caranya tersenyum. Semuanya indah. Dia bilang, dia memang sering ke tempat ini. Bahkan dia mengaku pernah bertemu denganku beberapa kali disini, tapi aku saja yang tidak pernah menyadari. Dia juga tahu kebiasaanku yang selalu berdiri beberapa menit di depan bangunan Gereja setiap aku datang kemari. Dan yang paling mengejutkanku adalah bahwa dia sudah lama ingin berkenalan denganku, bahkan sebelum dia menjadi dokter alias masih Koas. Dia penasaran denganku, dengan kebiasaanku setiap aku datang kemari. 
***
Aku kembali berdiri di depan bangunan Gereja itu, namun kali ini aku tak sendiri. Aku bersama dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaraku. Aku mengenakan kebaya berwarna merah marun, seperti warna manik rosarioku yang dulu tertinggal di tempat doa. Aku berdiri di depan Gereja itu berdampingan dengan dia yang dulu menemukan rosarioku dan mengembalikannya padaku. Namun, ternyata tak hanya rosarioku yang dia bawa waktu itu, namun juga hatinya yang tulus. Aku siap untuk menjadi bagian dari hidupmu, bagian dari hatimu, dan menjadi tulang rusukmu yang hilang. Aku kembali merasakan memori, dimana aku berdiri terdiam ditempat yang sama dan mendengar seseorang berkata "Aku menunggu untuk menemukanmu disini, TULANG RUSUKKU."

image was taken from here


Fiksi ini didedikasikan untuk
Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus-Ganjuran

Saturday, October 20, 2012

I Love FAIRY!!

Fairy atau peri,, aku suka dengan karakter yang satu ini. Sejak kecil aku emang udah kenal sama tokoh fiksi Fairy. Awalnya aku kira peri itu sama dengan malaikat. Tapi ternyata beda. malaikat itu adanya di Surga, kalau peri itu adalah tokoh legenda atau mitos dari suatu daerah (aku lupa daerah mana). Peri itu semacam Elf di Lord of The Ring Trilogy. Peri juga ada di film kartun Disney yaitu Tinker Bell. Peri juga ada di animasi Barbie yaitu Barbie Fairytopia. Kata beberapa buku yang aku baca, peri itu tinggalnya di hutan dan di loteng rumah. Peri juga punya sayap seperti capung, jadi bisa terbang. Dan yang paling keren, peri itu punya serbuk ajaib dan tongkat ajaib. :)

I wanna meet Fairy!!

image was taken from here

Monday, September 10, 2012

Stress Release

Hufff!! Rasanya kalau sehabis pulang dari kerja apalagi dari kerja di luar rumah pengen banget nemu sesuatu yang bisa menghilangkan stress yang menumpuk. Terutama juga untuk menenangkan pikiran dan mengembalikan mood. Nah, kalau aku biasanya sih terus mandi pakai air hangat. Selain mandi pakai air hangat, aku juga suka dengan wewangian seperti sabun dan parfum. Jadi kalau mandi terutama di sore hari sehabis pulang kerja, aku biasanya memilih untuk memakai sabun dengan wewangian khas yang menenangkan. Biasanya aku pakai yang wangi lavender atau rose. Aku emang suka koleksi sabun sih, terutama sabun cair. Selain awet, sabun cair juga lebih wangi dan lebih mudah digunakan. Kebetulan, kemarin aku baru aja belanja, eh nemu produk sabun baru. Sebenernya sih nggak baru, soalnya udah mulai beredar sejak akhir tahun 2011 kemarin, cuman bagiku masih baru, soalnya aku jarang nemu sabun kayak gini di minimarket. Namanya Ella Noir Body Douche. Dari namanya mungkin dikira sabun import, padahal kalau dilihat nama produsen yang tercantum di kemasannya sih nama Indonesia. Yang jelas aku suka dengan produk sabun yang satu ini. Tiap beli sabun ini, kamu akan dapat 2 sabun sekaligus dengan kemasan ala Anna Sui gitu (Victorian style). 1 sabun untuk pagi hari, dan 1 sabun untuk sore atau malam hari.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net