Showing posts with label Unforgettable. Show all posts
Showing posts with label Unforgettable. Show all posts

Friday, September 4, 2015

Short Trip to Malaysia-Singapore in Less than 3 Days

Hi readers!!!


Long time no see ya. Huft! Padatnya aktivitas membuatku jadi jarang banget membuka blog dan membuat tulisan disini.

Untuk kembali menyemarakkan blog yang mungkin sudah berkarat ini, *halah, lebay*, aku mau sedikit sharing. Lagi-lagi masih seputaran aktivitasku sehari-hari.

Cerita punya cerita, pada akhir Agustus lalu, tepatnya tanggal 21-23 Agustus, aku dan dua orang kawan masa kuliahku berlibur ke Malaysia-Singapura. Sebenarnya, kami sudah lama menginginkan trip ini, bahkan kami membeli tiket sejak bulan Februari lalu. Ceritanya sih, mumpung ada promo tiket murah ke Johor Bahru, Malaysia.

Tuesday, August 11, 2015

Business Trip : New Experiences of Working with Japanese Colleagues

Hi readers!!

It's been quite long time I haven't posted anything on my blog. Basically, I was passing through the similar activities day by day. It was monotonous. Until one day, I experienced new thing.


Tanggal 3 - 8 Agustus kemarin aku ditunjuk sebagai salah satu perwakilan institusi tempatku bekerja untuk mengikuti rapat internasional dengan partner institusi dari Jepang di Malaysia. Rapat ini dimaksudkan sebagai persiapan untuk mengadakan sebuah event berskala internasional yang mana institusi tempatku bekerja menjadi tuan rumahnya. Event ini melibatkan panitia dari 2 negara, yakni Indonesia dan Jepang (baik dosen, staff, maupun mahasiswa). Meskipun event ini baru akan dilaksanakan tahun 2016, tapi kami sudah harus melakukan persiapan sejak bulan Mei kemarin.

Tuesday, July 28, 2015

What a Tough Week: Farewell Grandpa!

Hi readers!!

Minggu lalu menjadi minggu yang paling berat dalam hidupku. Ada banyak kejadian yang sempat membuatku lelah dan sedih. Awal minggu lalu adalah awal yang menyenangkan. Saudara banyak yang berkunjung ke rumah, sebaliknya, aku dan keluarga juga banyak mengunjungi saudara lainnya dalam rangka Lebaran. Kemudian hari berjalan seperti biasa. Tapi, tanpa disangka-sangka, pada hari Jumat, 24 Juli 2015 pukul 16.00WIB, Simbah Kakungku dipanggil Tuhan. Simbah tidak mengalami sakit yang berarti, sehingga hal ini benar-benar mendadak dan membuat kami yang ditinggalkan seolah tak percaya.

Terkait meninggalnya Simbah Kakung, aku sebenarnya sudah ada firasat, tapi lagi-lagi, aku selalu mengabaikan firasat yang datang. Sekitar beberapa hari sebelum Lebaran, mata bagian kiriku sering berkedut lama. Agak mengganggu memang, bahkan aku sudah berniat untuk periksa ke dokter, takut ada masalah di saraf/otot di sekitar kelopak mata kiriku. Bahkan kedutan yang amat mengganggu tersebut terjadi hingga hari Kamis, sehari sebelum Simbah Kakung meninggal.

Ajaibnya, pada hari Jumat itu, kedutan di kelopak mata kiriku yang hampir setiap beberapa jam sekali muncul, seolah hilang. Sampai hari ini pun sudah tidak muncul sama sekali. Percaya nggak percaya, mungkin itu memang sebuah firasat.

Dari cerita yang kudengar dari orang rumah dan saudara, Simbah Kakung meninggal dalam keadaan yang sangat baik. Simbah bahkan seolah sudah tahu kalau akan segera pulang kepada Sang Pencipta. Beberapa jam sebelumnya, beliau bercerita banyak dan memberikan banyak nasehat serta wejangan bagi anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicitnya. Sayangnya, aku tidak sempat melihat Simbah pada menit-menit terakhirnya karena masih dalam perjalanan dari kantor. Tapi, aku sudah ikhlas Simbah berpulang, meskipun awalnya aku masih belum bisa menerima kenyataan. Ya mau bagaimana, Simbah Kakung (dan almarhumah Simbah Putri) adalah kedua eyangku yang aku temui setiap hari karena rumahnya tepat di samping depan rumahku.

Minggu kemarin memang benar-benar menjadi minggu yang berat sekaligus minggu yang banyak memberikan pengalaman berharga bagiku. I will keep moving on.


Farewell my super Grandpa. You are one of the most generous and sincere persons I know. May you rest in peace.
~ xoxo~
Your "little grand daughter"

Monday, July 6, 2015

THR Effects

Hi readers!!

Jadi ceritanya, kemarin Minggu (5 Juli 2015), aku mengantar adik kesayanganku untuk berbelanja baju. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, uang Tunjangan Kesejahteraan dari kantorku sudah cair dan aku juga sudah janji pada adikku untuk mengantar sekaligus mentraktirnya berbelanja baju. Kamipun menuju salah satu kawasan belanja yang paling terkenal sekaligus tertua di Jogja, yakni kawasan Malioboro. Kami sengaja berangkat lebih awal karena takut jalanan macet dan tidak kebagian tempat parkir. Tapi ternyata, kami masih kalah pagi. Jalan Malioboro padat merayap, dan sebagian besar tempat parkir sudah penuh sesak. Untungnya, kami masih kebagian satu slot tempat parkir sehingga masih bisa parkir dengan nyaman.

Setelah berkutat dengan kegiatan parkir, kami segera menuju Malioboro Mall. Mall yang relatif berukuran kecil (bila dibandingkan dengan mall-mall lain di Jogja) sudah penuh sesak bagaikan lautan manusia. Melihat kondisi yang demikian, kamipun memutuskan untuk sesegera mungkin menuju spot dimana kami hendak berbelanja baju tersebut. Sesampainya disana, kami malah bengong. Jangankan bisa memilih baju dengan nyaman, konter pakaian yang sempit tersebut malah dipenuhi dengan bermacam display. Tentu hal ini semakin menyulitkan para calon pembeli, belum lagi di area tersebut juga terdapat banyak calon pembeli lain yang saling berdesakan.

Setelah lewat dari setengah jam memilih dan memilah, kamipun menyerah. Menyerah tanpa hasil apapun. Bahkan label diskon 50% keatas sama sekali tidak menarik minat kami lagi untuk membeli. Too crowded! Apakah ini efek dari THR atau Tunjangan Hari Raya? Sepertinya memang benar demikian. THR yang cair di awal bulan memang menjadi "hadiah" luar biasa bagi banyak orang, khusus-nya kaum pekerja sehingga banyak diantaranya yang tidak mau menyia-nyiakan momen untuk membelanjakan uang THR tersebut. *termasuk aku*

Besok-besok nggak lagi-lagi deh kalau macam begini jadinya. Sudah kaki gempor, lelah, pusing pula. Belanja sih belanja, tapi memang timing harus diperhatikan deh!


~xoxo~



Wednesday, May 27, 2015

A Moment of Silence: 9 Tahun Gempa Jogja

Hi readers!!

Aku masih ingat betul, saat itu, matahari belum sepenuhnya menampakan diri. Pukul 5.59, baru beberapa menit yang lalu aku bangun dari tidurku yang pulas tanpa mimpi. Jogja yang pada biasanya, sepagi itu, sedang menikmati khyusuk dan damainya suasana pagi dan hangat lembutnya cahaya mentari. Jogja yang sepagi itu terasa begitu damai dan tenang, tiba-tiba saja menjadi riuh. Teriakan demi teriakan memilukan bergema di bawah atmosfer langit Jogja. Jogja, pagi itu, baru saja diterjang gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Ritcher.

Gempa bumi yang berpusat di daratan memang berbeda dengan gempa bumi yang berpusat di samudera. 5,9 skala Ritcher pagi itu telah meluluh lantakkan sebagian besar Jogja, bahkan hingga Jawa Tengah. Bantul menjadi salah satu titik terparah. Saat itu, korban jiwa belum sepenuhnya terhitung. Aku yang kala itu hanya memiliki sebuah handphone butut, dimana belum ada Whatsapp, Line, dan media chatting online yang up to date, jelas tidak bisa sesegera mungkin meng-update informasi. Bahkan, aku tidak tahu jika terjangan gempa tersebut berasal dari Bantul. Hanya radio yang berfungsi saat itu, saluran listrik padam, bahkan sinyal GSM pun hilang timbul tak karuan.

Waktu itu, aku yang adalah anak remaja kelas 1 SMA, tidak terlalu terdistraksi dengan kejadian pagi itu. Kenapa? Karena telingaku belum tersentuh informasi apapun, baik dari radio maupun surat kabar, apalagi Facebook, paling baru bang Mark and the gank yang punya akunnya bro! Aku dan teman-temanku, anak-anak SMA kelas 1 yang lugu, sibuk membincangkan kejadian tadi pagi. Kami tertawa-tawa mendengar berbagai cerita lucu yang terjadi saat gempa tadi pagi. Ada temanku yang baru mandi sewaktu gempa, yang kemudian lari tunggang langgang keluar rumah, ada pula yang sedang asik jongkok di toilet, dan sebagainya. 

Namun, segalanya berubah ketika baru beberapa menit berada di Sekolah, bahkan jam pelajaran pertama saja belum usai. Suasana kembali tegang. Tsunami! Tsunami! Teriak beberapa orang yang melewati jalan raya di depan sekolahku. Saat itu, aku dan mungkin banyak orang di sekitarku, belum terbiasa dengan kata beraroma Jepang itu. Baru beberapa menit setelahnya, aku sadar, Tsunami adalah gelombang pasang yang mematikan. Aku teringat peristiwa maha-dahsyat di Aceh setahun sebelumnya.

Teriakan demi teriakan berlafalkan kata yang sama, tsunami, membuatku lemas. Aku, yang saat itu masih diantar jemput oleh orang tuaku, mendadak linglung. Aku tidak tahu harus pergi meninggalkan gedung sekolah dengan apa. Motor jelas di rumah, sepeda juga. Akhirnya kuputuskan untuk nebeng salah satu teman. Sekenanya. Syukurlah, di depan gerbang sekolah aku menemukan ibukku dan adikku yang sedang menunggu untuk menjemputku pulang.

Geger!! Jalan raya Godean ramai dipadati kendaraan bermotor dan sepeda. Ada apa? Ada isu tsunami! Dengan susah payah motor yang dikemudikan ibuku melaju ke arah barat, ke arah rumah. Gerombolan masa pun memacu kendaraan mereka ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh, lokasi yang dianggap aman dari gelombang tsunami.

Nyatanya, tsunami itu tidak menerjang. Rumor tersebut dihembuskan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab demi keuntungan diri pribadi. Nyatanya, gempa 5,9 skala Ritcher tersebut telah meluluhlantakan Jogjakarta. Bantul, daerah terparah, mencatat adanya korban jiwa sebanyak ratusan ribu. Kami berduka!

Gempa Jogja, 9 tahun silam, membawa banyak cerita dan pengalaman. Bahwa kita hanyalah butiran debu di hadapan "mother nature". Kita hanyalah butiran debu di hadapan Sang Kuasa.

Kini, Jogja sudah bangkit. Jogja sudah kembali penuh semangat.


Sebuah refleksi dan permenungan
memperingati 9 tahun peristiwa tak terlupakan.

Jogja, 27 Mei 2015
Fransiska Wahyuningtyas


Tuesday, April 21, 2015

Perayaan Hari Kartini di Kantor



Hello readers!
Hari ini, Selasa, tepat tanggal 21 April 2015 yang mana adalah Hari Kartini. Siapa itu Kartini? Kenapa ada Hari Kartini? Seluruh rakyat Indonesia pasti tahu siapa itu Kartini. Kartini atau Raden Ajeng Kartini adalah salah satu pahlawan perempuan di Indonesia kelahiran Jepara 21 April 1879. Beliau pelopor gerakan "emansipasi wanita" di Indonesia. Berkat kegigihan beliau dan semangat beliau yang menyala-nyala untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan gender equality, banyak wanita Indonesia yang terinspirasi. Oleh karena itu, dicetuskanlah Hari Kartini untuk memperingati hari lahir beliau.

Ngomong-ngomong tentang hari Kartini, sudah menjadi kebiasaan bagi mayoritas masyarakat di Indonesia untuk memperingatinya dengan parade pakaian adat. Meskipun Kartini berasal dari Jawa (Jawa Tengah) tidak berarti pakaian adat yang dipakai untuk parade harus dari Jawa. Justru moment ini juga dijadikan untuk mempromosikan Bhineka Tunggal Ika (alias keragaman Indonesia dari segi suku, budaya, adat, dll yang disatukan dalam satu tanah air Indonesia).

Gegap gempita Hari Kartini juga terasa di kantor tempatku bekerja. Kebetulan aku bekerja di Institusi Pendidikan Negeri, jadi angin gempita perayaan Hari Kartini mampir juga di kantor. Alhasil, kami para staff perempuan, khusus untuk hari ini, memakai Kebaya. Bukannya kenapa-kenapa sih, tapi lucu-lucuan saja. Sebelum mulai bekerja seperti biasa, kami menyempatkan diri untuk foto-foto. Semoga Hari Kartini selalu menginspirasi setiap wanita di Indonesia.

Aku, Lina, Shinta, Nina, & mb Monik



~xoxo~

Friday, April 17, 2015

"Zonk" Moments This Week

Hi readers!!

Today is Friday. It means that this is the last day of the week I'm going to work and do my duty, then I will enjoy weekend. What happens in my office on Friday is that most of the workers are wearing Batik. You know, Batik is one of world's heritages which originally come from Indonesia. I love wearing Batik too because I feel wearing Batik does not only show our culture but it also makes us exotic :)

Poor prologue. Back to the topic! Do I refer to a topic yet? Blah! I haven't even stated what my topic for this post is. Pardon me. Well, what I'm gonna say on this post is what has been going on in my life lately. I must confess that I just made a passport. It's kinda late but it is better than never having it, right? I made my passport manually, I mean, I didn't use online method to apply for it. I just want to experience the process of making passport manually. So, here we go!

First of all, I went to the Immigration Office (Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta). Honestly, I planned to apply for e-passport but the Immigration Office in Yogyakarta doesn't provide this option yet. So, I applied for regular passport (which they call it "ordinary passport"). O ya, for your information, I arrived at Immigration Office at almost 7am, and there were a lot of people queuing for the same reason, applying for passport. I got number 40, by the way.

When it came my turn, I had to prepare all the documents including the form I had filled before. There, the officer checked all the documents, including the original ones, then asked my several questions. The questions were very basic and I thought it was very easy to answer them. The officer was very friendly.

Afterwards, I had to wait outside until the officer called out my name. It took more than an hour to wait outside before I took picture and finger-print scan for my passport. Then, here come the "zonk" moment! I came inside and got my picture taken. I checked the whole data of my-self to make sure that everything is correct. After that, the officer said to me that he could not issue the, what should I call it, "proof of application"? (yah, whatever!), to pay the expense at a bank. I had to wait for another day.

The next day, I came to the same office for getting the proof of application so that I could pay the expense at the bank. I got it, finally. But, another "zonk" moment came once again. The line for entering the payment code at the bank was offline. It means that I had to go to the bank the other day. What a waste!!!

Finally, yesterday I paid all the expenses required to proceed my passport. Then, what I should do next is visiting the Immigration Office next week to get my passport. I wish that there will be no more "zonk" moment I should go through. ^^




*Sorry for this unnecessary post. It's just my attempt to kill the time before attending a meeting. So, enjoy your day guys!!*


~xoxo~

Friday, September 20, 2013

Si Kucing pun Bisa Marah

Menurut beberapa buku yang aku baca, kucing, seperti halnya anjing dan manusia, juga bisa ngambek atau marah. Awalnya sih aku nggak percaya sama apa yang tertulis di buku tersebut. Tapi, setelah kejadian kemarin Rabu (18 September 2013) baru aku percaya kalau kucing memang memiliki perasaan yang terbilang unik. Ya, kucing memiliki emosi. Kalau dia bisa senang, tentu saja dia bisa sedih dan marah. Jadi ceritanya kemarin Rabu, Cheeten marah padaku. Gara-garanya pagi-pagi jam 8 lebih dia meloncat masuk ke kamarku melalui jendela yang menghadap keluar. Seperti biasa kalau sudah begitu, dia pasti minta jatah sarapan. Akupun bergegas membimbingnya ke dapur. Oopsss! Ternyata di dapur hampir tidak ada makanan yang bisa Cheeten makan (kebetulan makanan kucing kesukaan Cheeten habis sejak hari Selasa) Yang ada di dapur cuma sayur tumis kangkung-tahu dan nasi putih dalam magic jar. Hmmm, Cheeten bukan tipe kucing yang suka dengan sayur ataupun nasi. Jadi dengan terpaksa aku mencari alternatif makanan lain. Karena nggak mungkin kalau aku keluar untuk beli ayam goreng atau ikan goreng kesukaannya, maka aku berinisiatif untuk membuatkan telur dadar kesukaannya. Cheeten memang terbilang suka makan telur dadar dan telur mata sapi. Kebetulan juga di kulkas masih ada beberapa buah sosis ayam. Cheeten itu pintar, kalau sudah lihat aku berdiri dan sibuk dengan kompor serta alat masak, dia akan berhenti mengeong dan memilih untuk tiduran di lantai. 

Setelah selesai dengan telur dadar dan sebuah sosis goreng, aku menuju ke piring makan Cheeten. Aku potong kecil-kecil telur dadar dan sosisnya (Cheeten suka telur dadar yang dipotong dadu dan sosis yang dipotong kemudian dipenyet sehingga dagingnya keluar). Apa yang terjadi?? Cheeten cuma mengendus sekali ke arah makanannya kemudian melengos pergi. Eh? Kok gitu? pikirku. Aku coba buat membujuk dia untuk makan, tapi dia tetap berlalu pergi dengan tatapan seolah-olah bilang, "Nggak ada makanan lain apa??" Aku membuntuti kemana dia pergi, ternyata dia pergi ke kamarku dan naik ke kasur. Okelah, untuk kali ini aku ijinkan dia naik ke kasur (biasanya nggak boleh karena dia sudah punya kasur sendiri). Setelah memastikan Cheeten baik-baik saja, aku pun melanjutkan kerjaanku menulis artikel. Sampai jam 11 siang, Cheeten terlihat diam di kamar. Sewaktu aku tengok, ternyata dia tidak tidur, hanya tiduran. Melihat aku datang, dia langsung berbalik membelakangiku. Eh? Aku sempet bingung. Aku kira dia sakit atau apa. Biasanya kalau lihat aku dia langsung mengeong, kali ini hampir seharian dia diam saja. Aku sempat khawatir. 

Pada akhirnya semua terjawab ketika adekku pulang sekolah. Aku yang jemput dia di sekolah. Saat perjalanan pulang aku cerita kalau Cheeten diam saja, sepertinya dia marah. Setelah sampai di rumah, terlihat Cheeten sedang asik tiduran di ruang TV. Ketika melihat adekku, dia langsung bereaksi seperti biasa. Mengeong manja dan menggesek-gesekkan kepalanya di kaki adekku. Tapi, sewaktu giliranku mendekat, dia cuma menatapku tanpa bersuara. Hmmm, sepertinya Cheeten benar-benar marah padaku sampai dia nggak mau dekat-dekat denganku. Akhirnya, aku menyuruh adekku dan ibukku untuk memberi makan Cheeten dengan ayam suwir. Untung saja, pagi harinya (Kamis, 19 September 2013) Cheeten sudah bersikap seperti biasa padaku. Dia sudah mau mengeong dan duduk berdekatan denganku. 

Pelajaran yang bisa dipetik dari Cheeten kali ini adalah bahwa kucing memang benar-benar memiliki perasaan dan emosi layaknya manusia. Kalau ada orang yang tega berbuat jahat pada mereka (atau menyiksa mereka), pasti mereka akan sedih dan sakit hati. Saling menghormati merupakan hal terbaik yang harus kita bangun untuk menjembatani persahabatan kita dengan hewan peliharaan kita, apapun itu.


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Tuesday, September 10, 2013

Finally, I'm Done with Anything Related to Thesis

Yeayyyy!!! Setelah berkutat dengan thesis alias skripsi dengan intens selama beberapa bulan terakhir ini, akhirnya aku nyatakan bahwa diriku benar-benar sudah putus dengan skripsi. Hmmm, seneng sih rasanya apalagi pas nilainya udah keluar, nggak disangka banget hasilnya sangat memuaskan!! Thanks God! Tapi, sedih juga karena terkadang otak mendadak flashback ke memori-memori perjuangan mengerjakan skripsi, bimbingan dengan dosen pembimbing (Mr. Barli, I'm missing you already), pendadaran yang sempat diganti jadwalnya sehari sebelum maju, revisi (yang bisa dibilang sedikit *congkak*), ngejar-ngejar dosen penguji, kaprodi, dan dosen pembimbing buat minta tanda-tangan, nungguin pak dekan, buat PDF (yang sempet salah dan musti buat baru pakai bantuan online PDF converter), nge-burn PDF ke CD (untungnya pakai DVD-RW jadi bisa remove-add), sampai kesana kemari buat nyari tanda tangan beres administrasi sana-sini. Terakhir adalah daftar wisuda dan pembuatan kartu alumni. Perjuangan yang benar-benar menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Fiuhhh! But, finally it's done. I'm free as student. Tapiiiiii, di depan sana sudah menunggu dunia baruku, masa depanku, tantanganku, dan berkat untukku. Siap-siap dulu mulai sekarang. Merancang apa yang mau dilakukan setelah lulus ini. Hmmmm.


~Hug & Kiss~
xoxoxo

Thursday, September 5, 2013

Ketika Keberuntungan Belum Berpihak Padamu, Buatlah Rencana Baru!

Ceritanya, hampir semingguan ini aku lagi nguber-uber dosen buat tandatangan di skripsi final sebelum dijilid hardcover terus dikumpul ke dekanat buat ditandatangani dekan. Tapi apa daya, sejak Senin sampai hari ini (Kamis) nguber 1 dosen aja nggak ketemu-ketemu. Dosen penguji yang lain, kaprodi, dan dosen pembimbing sudah tandatangan semua, hanya kurang 1 dosen penguji saja. Nah, mengapa aku beri judul "Ketika Keberuntungan Belum Berpihak Padamu, Buatlah Rencana Baru!", itu karena aku udah beberapa kali mendapat zonk buat ketemu si Ibu dosen ini. Awalnya aku  berencana untuk menemui beliau pada hari Senin (2 September 2013) dengan asumsi setelah mendapat tandatangan beliau, aku bisa langsung jilid hardcover. Setelah jilid, bisa langsung ke dekanat kemudian mengubah file skripsi menjadi PDF untuk dikumpul sebagai syarat pengambilan SKL untuk pendaftaran wisuda dan pembuatan ijazah. Tapi ternyata, rencanaku tidak berjalan baik, sejak hari Senin ibu dosen pengujiku PLPG sampai Rabu. Ya, aku maklumi lah, namanya juga lagi sibuk kan ya. Sebagai back up plan, jadilah hari ini aku nekat ke kampus pagi-pagi. Di jadwal sih beliau ngajar dari jam 7-10 (3sks). Makanya aku nekat berangkat jam 6 dari rumah untuk menemui beliau sebelum beliau ngajar. 

Sampai di kampus (setelah perjalanan panjang hampir 1 jam yang penuh perjuangan menghadapi kemacetan dan pengendara-pengendara yang naik kendaraan seenak udelnya sendiri), aku langsung menuju ke Common Room (istilah untuk ruang transit dosen). Ternyata, disana sudah sepi banget. Cuma ada 1 dosen yang sepertinya sedang membuat materi kuliah. Aku memberanikan diri buat bertanya, jujur, aku takut bersikap sama dosen itu karena pernah mengalami kejadian nggak mengenakkan dengan beliau. Untungnya beliau mau jawab (dengan lembut). Beliau bilang kalau ibu dosen yang aku cari tidak masuk karena sedang sakit. OMG! Ini udah hari Kamis, dan pendaftaran wisuda tutup Kamis minggu depan! Akkkkkk!! Akhirnya aku putuskan untuk SMS temenku buat minta nomor hp ibu dosen pengujiku itu. Syukurlah beliau membalas dengan mengatakan bahwa besok (baca: Jumat pagi) beliau bersedia ditemui untuk memberi tandatangan untuk skripsiku. Puji Tuhan. Semoga besok menjadi awal yang baik dan menjadi keberuntungan bagiku. Amien.

Intinya, aku cuma mau bilang kalau tidak selamanya manusia itu ada dalam kondisi atau posisi yang penuh keberuntungan. Sama sepertiku, ketika awal-awal pengerjaan revisi pasca-pendadaran, aku termasuk sangat beruntung dibandingkan teman-temanku yang  lain karena revisiku selesai hanya dalam waktu 1 minggu. Tapi justru ketika aku harus meminta pengesahan dengan tandatangan penguji, kaprodi, dan dosen pembimbing, aku mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa tidak selamanya apa yang aku lakukan berjalan sangat lancar sesuai rencana atau bahkan lebih baik dari apa yang aku rencanakan. Aku paham jika ada kalanya apa yang sudah dirancang dan direncanakan dengan baik oleh manusia, belum tentu berjalan sesuai rencana. Tapi, tidak sepantasnya kalau kita menyerah ditengah jalan. Tetap semangat apapun yang ada dihadapan kita. Percaya bahwa Tuhan masih menyimpan berjuta rencana bagi kita dibalik semua kejadian. Everything happens for a reason, kata banyak orang.


Behind a great plan should lie a million back up plans!


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Thursday, August 15, 2013

Praise The Lord!!! Now I Am A Bachelor of Education


Praise the Lord! Praise the Lord! Praise the Lord for everything. I was so speechless since I received a piece paper announcing the result of my thesis defense, this afternoon. Now I am a Bachelor of Education!! I am so excited, by the way :)

Honestly, I did not expect too much about the result of my thesis defense because my examiners gave many recommendations and suggestions for my thesis. Somehow, I turned into a pessimist, but I did not stop praying to Jesus, my Lord, while waiting for the announcement which was held one day after my defense. Praise the Lord! The result was too amazing to explain.

Well, I think it is enough for the celebrations. What I should do now is starting to revise my thesis. There are a lot of things to revise. Okay! Let's finish it!

*By the way, the date above the signature of the Chairperson is written as August 30, 2013 because according to the regulation, the Yudisium should be held at the end of each month where the thesis defense is taken. But, I don't care! hahaha*

~Hug & Kiss~
xoxoxo


Tuesday, August 6, 2013

Kinda Short Movie Review: The Conjuring

Hei!
Lama tidak nulis post, hihihi. Lagi sibuk, iya sibuk nyari hiburan sana sini. LOL. Well, salah satu bentuk hiburan yang aku pilih adalah nonton film. Tapi berhubung kata beberapa orang film DM2 enakan ditonton di laptop, jadi mau nggak mau milih nonton The Conjuring. You know, TC adalah film horror vintage. Aku sejujurnya nggak suka nonton film horror di bioskop. Beneran. Mendingan aku nonton di rumah atau di laptop. Kenapa? Karena jujur, aku nggak suka sama penonton yang dikit-dikit teriak, dikit-dikit teriak. Please deh. Cuma lihat kain putih (bukan setannya padahal) udah teriak, denger pintu membuka sendiri, teriak. Bahkan lihat burung terbang aja teriak. So what!! Oke, lupakan tentang itu semua (anggap saja aku yang terlalu skeptis).



Nah, ngomong-ngomong soal si TC ini, aku sempet janjian sama beberapa temen buat nonton bareng di bioskop. Kita nonton di Studio21 Amplaz. Dan, aku telat 13 menit gegara jalanan macet. Dan, kami bertiga ketinggalan separuh prolognya (meskipun nggak penting sih, soalnya kan alurnya flashback). Beberapa saat kemudian cerita inti dimulai (FYI, penonton di bangku samping nggak santai orangnya, 3 cewek, berisik banget. Damn!). Ceritanya sih klasik gitu lah, sebuah keluarga menempati rumah baru tanpa tahu asal-usul rumah itu sebelumnya. Settingnya perfect lah, rumah gedhe, kuno, alone, dan di depannya semacam danau atau rawa gitu. Gak pakai lama ya ceritanya, kasian yang belum nonton :p Nah, ternyata di dalem rumah itu ada ruang bawah tanah (semacam gudang) yang tanpa sengaja ditemukan oleh salah satu anak dari keluarga itu (Kalau nggak salah sih namanya Cindy. FYI, anak di keluarga itu ada 5 cewek semua, aku nggak begitu apal sih nama-namanya, LOL). Selain itu, si anak bungsu, namanya April juga nemu semacam kotak musik jadul entah darimana pas hari pertama pindahan.

Singkat cerita, mulai deh itu kejadian-kejadian aneh. Setannya mulai suka ngrecokin. Dimulai sewaktu anak-anak main "Hide and Claps" pas malem-malem di dalam rumah, secara mengejutkan si setan pun ikut-ikutan main. Hahaha. Seru sekaligus menegangkan deh. Pada intinya mereka kemudian diganggu-gangguin terus menerus sama si setan (atau si arwah penasaran) terutama pada malam hari pas waktu tidur (ini nih yang bikin kepikiran kalau pas mau tidur malem, hihihi). Btw, kalau bingung gimana gangguinnya, itu lho kalau pernah nonton Paranormal Activity, nah hampir sama kayak gitu. Jadi ada suara pintu dibuka, pintu tiba-tiba buka-tutup sendiri, ada suara orang ketawa, ada interaksi fisik misalnya ditarik-tarik, dibisiki, dll. Tapi, kalian musti siap-siap deh ya, siap-siap buat kaget soalnya si setan kadang nongol tiba-tiba. LOL. 

scene yang paling ngagetin menurutku

Di tengah cerita (klimaksnya disini), si ibu pemilik rumah itu ya ibunya si 5 anak itu, minta tolong ke pasangan Warren yang udah lama ngurusin soal-soal sesetanan dan kutuk-kutukan. Pasangan Warren mau nolongin beserta bala tentaranya (enggak ding, cuma seorang asisten sama polisi yang agak konyol, LOL). Disinilah letak klimaksnya. Siap-siap tahan nafas yang panjang ya, tapi jangan lupa tetep bernafas. LOL. Klimaksnya bakalan panjang karena naik turun gitu lah. Tapi ya itu tadi, siap-siap tahan nafas, siapin juga syal atau apapun buat nutupin mata biar nggak kaget, LOL. O ya, entah sih, pas klimaks panjang ini berasa ACnya Studio21 makin dingin aja. :(

let me introduce you to miss Annabelle (the doll)

Setelah klimaks yang lama dan naik turun itu, sampailah pada ending *bernafas dulu lah, makan-makan dulu juga boleh, LOL* Endingnya sih agak nggantung, ya tipikal film horror kan emang gitu. Udah, nggak ada yang nakut-nakutin lagi kok. LOL. Silakan keluar dari studio dengan tenang dan damai :D

Oke, sekarang giliran komentarku yak (bacanya dibawa santai aja ya, soalnya kan aku bukan komentator film tersertifikasi, LOL). Hmmm, film ini menurutku bagus. Settingnya perfect, apalagi kan yang namanya film horror yang vintage gitu lebih serem daripada horror modern. Ya, contohnya kalau di Indo ya  film Suzanna. Itu horror mampus deh dibanding film horror Indo sekarang yang ehmmm, agak melenceng dari tema. Back to the topic! Nah, selain settingnya bagus, penjiwaan pemainnya juga dapet. Meskipun pas scene EXORCISE agak kurang dapet. Masih kerenan scene exorcise-nya The Exorcism of Emily Rose. Horrornya juga nggak serem-serem banget sih menurutku soalnya aku nggak sampai ikut teriak-teriak. Aku teriak cuma sekali pas scene paling ngagetin itu (see the second pict). Sekali lagi, itu kalau menurutku lho ya (padahal kalau nonton sendiri di depan layar segede layar studio di bioskop juga nggak berani sih, LOL). Cuman, backsound-nya bener-bener deh. Backsound-nya bikin hati jadi nggak enak dan nggak tenang (cuma backsound musiknya lho ya, bukan yang 'jeng jenggggg' ngagetin gitu). Overall, film ini recommended lah buat yang suka horror. Film ini oke juga buat yang suka nonton pas malam hari atau midnite, hihihi (yang nggak oke tetep 3 cewek di bangku samping!!!)


PS: Ati-ati kalau mau tidur, ditengok dulu kolong tempat tidur sama atas almari, hihihihi *evil grin*



~Hug & Kiss~
xoxoxo


Wednesday, June 19, 2013

Aku Rindu Cahaya Keemasan Mentari di Sore Hari

Entahlah, Jogja selama berbulan-bulan terakhir ini, bahkan sejak Agustus atau September tahun lalu berada di kurun musim hujan. Padahal semestinya sejak bulan April sudah memasuki kurun musim kemarau. Memang, ada kalanya hari-hari dihiasi panas terik matahari, namun ketika sore menjelang, gerombolan mendung selalu hadir menyapu langit biru dan membawa hujan. Bahkan sampai hari ini juga masih begitu. Aku rindu cahaya keemasan mentari di sore hari yang mengintip lembut dibalik dedaunan, begitu kataku dalam hati tadi sore setelah hujan deras berakhir. Kapan aku bisa mengabadikan semburat warna jingga dan emas yang menyorot dari arah barat yang kemudian tenggelam di balik pegunungan Menoreh di ufuk barat kota Jogja?

Ahh, aku jadi teringat, ketika dulu, sewaktu aku belum dewasa, aku sangat suka mandi cahaya matahari sore. Sinarnya yang berkilau anggun namun tidak membawa panas membuat aku sangat menikmatinya. Ditambah lagi dengan semilir lembut angin sore yang membawa bisikan-bisikan dari dedaunan. Aku rindu saat-saat menerbangkan layang-layang di sore hari sembari menikmati tarian indah capung-capung dan kupu-kupu. Kalau begini terus cuacanya, kapan aku bisa bermain dengan tanah, pasir, dan rerumputan kering yang hangat?


~Catatan kerinduan akan sebuah senja bermatahari



Aku dan Kekuatan Super

Kata banyak orang, kekuatan super dari makluk yang namanya manusia adalah "Nyali". Ya, tanpa nyali dan iman kepada Tuhan manusia bukan apa-apa meskipun dia memiliki kekuatan. Karena kekuatan juga nggak akan mau keluar kalau nggak ada nyali dan nggak seatas ijin Tuhan YME. Ngomongin soal kekuatan super alias nyali, tadi siang aku barusan uji nyali. Bukan, uji nyali kayak di tipi tipi itu, bukan. Aku uji nyali menembus hujan angin yang sangat mengerikan.

Begini ceritanya, *nyesep secangkir kopi bentar*. Siang tadi, aku ke kampus berencana untuk menemui DPS alias sang Dosen Pembimbing Skripsi atau nama kerennya Advisor. Tapi kali ini nggak ketemu lagi sama beliau. Udah 3 kali lho padahal aku ke kampus dalam Minggu ini terhitung sejak Senin kemarin. Mungkin memang belum berjodoh kali yak. Setelah itu aku bertemu temenku yang memang udah janjian sejak beberapa hari yang lalu. Dia minta diajarin ngedit recording/rekaman suara. Tapi lagi-lagi nggak berjodoh karena file rekamannya nggak bisa kebaca di applikasi Audacity (yang buat ngedit). Mungkin dia ngrekamnya pakai handphone dan settingannya belum diubah ke Mp3 atau Mp4. Filenya cuma bisa kebuka di applikasi "3,2,1" (apa sih itu namanya, lupak). Kemudian kami lanjut ngobrol-ngobrol dan makan di kantin. FYI, kalau kamu ke kantin kampus 1 & 2 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, kamu musti cobain bakso B2 "Dab Supri". Enak enak enak!! 

Setelah sekian lama ngobrol dan perut sudah kenyang, kami putuskan untuk pulang. Aku pulang ke rumah naik motor dan temenku pulang ke kostnya. Di kota sih cuaca masih cerah-cerah aja. Cuman emang agak berawan. Tapi di kabupaten (daerah tempat tinggalku) mendung tebel, agak horor gitu. Duh, perasaanku udah nggak enak deh selama di jalan. Apalagi inget adekku lagi dalam posisi camping Pramuka (tapi di Prambanan sih, LOL). Aku ngebut aja tuh, berharap sampai di rumah sebelum hujan (apalagi aku nggak bawa sendal). Kemarin-kemarin bawa sendal tapi nggak pernah kena hujan di jalan. Arrghhh!! Well, ternyata sebelum sampai rumah udah hujan. Terpaksa lagi-lagi mengorbankan sepatu kesayangan *aku emang pada dasarnya lebih memilih sepatu basah dibanding nginjek aspal basah tanpa alas kaki*.

Tapi di luar perkiraanku, ternyata hujan kali ini disertai angin kencang dan intensitas hujannya sangat tinggi. Nggak tahu sih, dalam pikiranku aku harus cepet sampai rumah, nggak usah neduh-neduh toh udah pakai mantel juga. Tapi tapi tapi,, semakin jauh berjalan jarak pandang makin berkurang (sekitar hanya 2 meteran aja). Jalanan jadi putih pekat di depan mata, semacam hujannya deres banget tanpa celah. Akhirnya aku pelanin laju motor. Nyali sih masih super, karena aku pikir kalau aku mampir neduh, aku takut kena angin puyuh, LOL. Pikiran galau ya begini. Akhirnya aku nekat nerobos hujan angin itu. Kecepatan motorku cuma sekitar 40-50km/jam. Itu udah berat banget dan agak miring-miring jalannya karena angin dari arah utara kenceng banget.

Puji Tuhan, aku sampai rumah dengan selamat. Di jalan tadi udah komat-kamit baca doa karena takut. Iya, aku takut sama angin kencang. Takutnya banget-banget deh. Hiyyy!! Aku bersyukur karena walaupun sepatu dan celana panjangku basah kuyup (semoga si sepatu tetep awet), aku masih selamat sampai rumah, meskipun tangan bergetar dan mata udah mau nangis saking takutnya. Kekuatan super bernama nyali dan perlindungan Tuhanlah yang membawaku pulang dengan selamat. Aku yakin, Tuhan yang ngasih kekuatan super tadi agar aku sampai rumah dengan selamat. Thanks God! I love you more than ever.


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Monday, May 27, 2013

Days With Cheeten

You see, I had a new kitten :) Recently, I figured that Cheeten is female (previously I guessed that the kitten was male). She is very lovely. I had a lot of fun with her. It has been 4 days she live with me in my house. She likes me a lot. It seems like she knows me as her mother. LOL. I love her indeed.

Cheeten now grows up very well. She likes milk and anything salty. She tried some chocolate as well. LOL. She likes chasing small chicks and playing in the ground. Every time I leave her alone to work, she is able to find out the "nest" (a bamboo basket covered with fluffy clothes where she should sleep in). She sleeps there until I come to visit her and give her milk and foods.

Today, we enjoyed the day together. Now, she is sleeping already. Actually, today and yesterday we did something almost similar. We played in the grass. We had a fun walk together around my house. We played with a doll. Yes, I gave her a doll, my little doll. She was happy and now she is sleeping with the doll.

Tomorrow I plan to invite her to discover the surrounding further. I hope tomorrow we will have so much fun to do.






~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, May 25, 2013

7 Tahun Gempa Jogja: Mengingat Kembali Kejadian 27 Mei 2006

Pagi itu, jam dinding belum juga menunjukkan pukul 6 pagi. Aku baru bangun sekitar jam 5.50, sekitar 5 menit sebelum kejadian alam maha dahsyat itu terjadi di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pagi itu memang aku wajib bangun pagi karena hari itu di SMAku ada pelajaran jam ke-0. Aku masih duduk di kelas 1 SMA semester 2 kala itu. Tidak biasanya pagi itu, setelah aku bangun tidur, aku melangkahkan kaki keluar rumah. Aku keluar melalui pintu belakang-samping yang mengarah ke kebun di samping rumah. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan waktu itu. Bapak sudah berangkat kerja karena beliau biasa berangkat sebelum jam 6 pagi. Ibukku sedang memasak di dapur dan adikku sedang menonton televisi. 

Sewaktu aku sedang berdiri di samping rumah, tiba-tiba aku mendengar suara keras yang hampir menyerupai suara dentuman ditambah suara seperti gas truk yang dipacu. Sepersekian detik aku sempat berpikir kalau ada kecelakaan di jalan dekat rumahku, namun ketika aku hendak berbalik, tanah yang kupijak bergoyang dengan kerasnya. Tanpa berpikir panjang, aku lari dari samping belakang rumah menuju ke depan rumah (ya, aku lari seperti orang bodoh, mengelilingi setengah dari bagian rumahku). Aku tidak tahu ibuk dan adikku dimana. Aku cuma bisa berteriak memanggil nama mereka. Aku panik dan kalut. Aku takut kalau gunung Merapi meletus dahsyat pagi itu. Ya, waktu itu sebenarnya Jogja sedang dalam kondisi siaga karena selama beberapa hari gunung Merapi berada dalam status AWAS. 

Selang beberapa detik setelah gempa berhenti, ibukku berlari menghampiriku di depan rumah sambil menggendong adikku. Adikku masih TK atau kelas 1 SD waktu itu. Dia terlihat sangat ketakutan. Aku juga ketakutan karena tembok rumah lamaku runtuh ke arah barat dimana rumahku yang baru berada. Untung saja waktu itu, ibuk tidak berlari melalui pintu samping yang berbatasan dengan rumah lamaku, kalau iya, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi pada beliau. Sebelumnya, terimakasih Tuhan Yesus. 

O ya, waktu gempa pagi-pagi itu, tetangga dekat rumahku sedang masak besar karena siangnya mereka akan bertolak ke daerah Kulon Progo untuk boyongan manten. Sontak semua ibu-ibu yang sedang memasak itu berlari berhamburan keluar. Ada yang membawa bakul nasi, ada yang menenteng besek, ada yang memegang pisau, macam-macamlah. Mereka juga terlihat kaget dan ketakutan. 

Selama beberapa menit setelahnya, aku memberanikan diri masuk rumah untuk mandi. Waktu itu aku belum punya handphone, jadi nggak bisa menghubungi teman-teman sekolah yang lain. Akhirnya, aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah dengan diantar oleh ibuk. Adikku memilih untuk tidak berangkat ke sekolah. Ajaibnya, sampai di sekolahku, semuanya terlihat biasa, maksudnya guru-guru dan teman-teman semua berangkat. Amazing sekali. Bahkan salah satu guruku malah bilang kalau itu cuma gempa dari gunung Merapi saja. Setelah jam 7 lewat, barulah kami semua tahu kalau gempa tadi pagi bukan berasal dari erupsi gunung Merapi, melainkan berpusat di kabupaten Bantul. Ada patahan di sektor Opak (kalau nggak salah ingat).

Tak seberapa lama, tiba-tiba beberapa kakak kelasku yang sedang berolah raga berteriak panik. "Tsunami!! Tsunami!! Tsunami!! Kontan saja, seluruh orang yang ada di lingkungan sekolah panik. Tanpa dikomando kami para siswa bergegas mengemasi barang-barang kami masing-masing. Saking paniknya, aku malah berlari ke parkiran. Aku lupa kalau hari itu aku diantar ibuk ke sekolah. Setelah sadar, aku kemudian minta nebeng sama temanku. Saat itu yang aku pikirkan adalah menjauh dari sisi selatan (semua pantai ada di selatan dan barat daya Jogja). Di depan sekolah ternyata ibuk dan adikku sudah menjemput. Langsung saja aku turun dari motor temanku dan pulang bersama ibuk dan adikku. 

Di sepanjang jalan aku melihat beberapa orang yang sedang panik dan sebagian lainnya menangis. Bus-bus dan beberapa angkutan seperti colt dan mobil penuh sesak penumpang. Kendaraan itu melaju ke arah barat menuju pegunungan di wilayah kabupaten Kulon Progo. Intinya pada pagi menjelang siang itu, suasana sangat kacau. Ada isu tsunami dari arah selatan dan ada isu banjir lahar dingin dari sisi utara. Aku cuma pasrah saja. Di pikiranku terus terbayang peristiwa tsunami Aceh sebelumnya. Aku sudah siap mati waktu itu. 

Bukannya membawaku dan adikku pulang, ibukku malah membawa kami ke rumah kakek dan nenek (orangtua ibuk). Disana tidak terlihat kepanikan yang begitu besar. Bahkan kerusakan akibat gempa jam 5.55 pagi itu juga tidak terlihat. Katanya sih wilayah desa nenekku yang ada di sebelah barat dekat dengan sungai progo tidak termasuk jalur rambatan gempa. Ya, ternyata gempa itu ada jalurnya lho. Tergantung pada letak retakannya. Kalau wilayah desaku lumayan parah sih, bahkan genting-genting di rumahku runtuh kedalam rumah.

Akhirnya, pada pukul 11 lewat, semua keadaan mulai sedikit lebih tenang. Siaran radio mulai memberitakan keadaan Jogja pada waktu itu. Tak disangka, ternyata keadaan di kabupaten Bantul sangat parah. Lebih dari 6000 jiwa melayang. Jogja diliputi kabut duka yang begitu mendalam. Pada pukul 12 lewat, bapak menyusul ke rumah nenek. Ternyata sewaktu beliau hendak pulang sesaat setelah sampai di tempatnya bekerja, beliau terbawa arus massa yang menuju ke arah utara. Jalur ke selatan memang ditutup oleh polisi karena adanya isu tsunami.

Malam harinya kami sekeluarga tidak berani mengambil resiko untuk tidur di dalam rumah. Jadi kami membuat tenda seadanya di halaman depan. Sekitar jam 9 lewat, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kami terpaksa tidur basah-basahan karena atap seng yang melindungi tenda darurat kami terlalu sempit jadi air hujan tetap membasahi tempat tidur kami yang kami bawa keluar. Aku sempat menangis karena membayangkan bagaimana warga Bantul lainnya yang juga kehujanan padahal rumah mereka sudah rata dengan tanah. Tapi aku tetap bersyukur, setidaknya aku dan seluruh anggota keluargaku selamat. Tuhan tetap melindungi kami dari bencana dan marabahaya.

Well, nggak kerasa tahun ini, bulan Mei ini, peristiwa maha dahsyat tersebut telah 7 tahun terlewati. Banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran, pengalaman, dan bahan intropeksi. 7 tahun adalah waktu yang cukup lama, meskipun belum seluruh rasa trauma dan rasa takut terangkat dari diri sebagian besar warga Jogja. Tapi kami sudah bangkit, kami bangkit!!


Salam semangat dari Jogja Istimewa :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net