Showing posts with label Wind. Show all posts
Showing posts with label Wind. Show all posts

Saturday, December 8, 2012

The Unspoken Rhyme of A Little Red Riding Hood

image was taken from here

I was a little red riding hood
When I was kid
I had ever seen an evil wolf with my own eyes
I never knew what he actually wanted from me
But he always went after me
One day my Mom asked me to go to the forest
I had to take some apples for lunch
I was not glad at all
I was afraid of the evil wolf
I thought that he always wanted to chase after me
I took my red riding hood as usual, then
I walked quickly to the forest
I did not want the evil wolf smelled my body scent
Suddenly I met a person in the middle of forest
She dressed like me
However, she had very pale hands
I did not speak to her at all
I only caught a weird glance she gave to me
I was afraid that she was the real evil wolf
But I was not sure
I kept walking
I walked faster since I heard someone stepped behind me
I did not want to look backward
I kept walking and even running
I heard the steps behind me was running also
I was afraid
But my throat was too sick to scream
I kept running but I was not aware of anything in front of me
Unfortunately I felt that my feet stepped on the air
I realized that I was falling down
I fell into a deep down ravine
I could not remember what happened
I just remember that a little red riding hood had gone dead
Not because being chased by the evil wolf
But because she fell down in a deep down ravine
Without being noticed by anybody

Sunday, November 18, 2012

One Night Before The Christmas Eve

Desiran angin kencang ini terus menerpaku, memainkan ujung long coatku. Namun aku sengaja untuk tidak segera masuk ke dalam rumahku yang mungil. Aku sedang menunggu. Aku sedang menunggu seseorang yang sebenarnya tidak aku kenal. Ya, aku menunggu seseorang yang hampir setiap malam minggu mengirimiku sekotak hadiah. Ini sudah terjadi sekitar 2 bulan. Pertama kali aku mendapati ada sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado bergambar bunga dengan sematan pita yang cantik. Saat kubuka, aku menemukan sebuah gantungan kunci berbentuk rusa. Lalu pada malam minggu berikutnya, aku mendapatkan kado yang berisi sebuah bros berbentuk rusa. Begitu pula pada malam-malam minggu selanjutnya, hingga malam minggu kedelapan aku mendapatkan hadiah yang kurang lebih serupa. Meski bendanya berbeda namun selalu ada gambar atau bentuk rusa pada benda tersebut. 

Dan ini malam ke sembilan. Aku mencoba menunggui lagi. Semoga dia kembali ke rumahku dan meletakkan hadiah lagi di depan pintu rumahku. Konyol memang kedengarannya jika aku menunggu seseorang itu meletakkan lagi sebuah kado di depan pintu rumahku. Tapi aku jadi ketagihan, dan selalu tak sabar untuk menanti hari Sabtu. 'Jangan-jangan aku menakutinya ya?' gumamku. Udara di luar rumah semakin dingin. Salju memang belum turun hari ini, namun tetap saja dingin. Ku lirik arlojiku, sudah hampir pukul 11 malam. Aku sudah berdiri mematung di depan pintu rumah sekitar 2 jam. Tak ada tanda-tanda seseorang akan datang. Ku putuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dan tidur.

Pagi ini ketika aku sedang mengaduk kopi, seorang tetanggaku berseru di balik jendela.
"Hey Harold! Ada sebuah bungkusan hadiah di depan pintumu. Sepertinya sedikit membeku karena salju!!"
Aku bergegas keluar rumah dan 'bugg!!' aku tersungkur. Kakiku menendang bungkusan hadiah yang cukup besar di depan pintu. Aku bangkit kemudian membawa bungkusan tersebut masuk ke dalam rumah. Kali ini bungkusan ini agak besar, dibungkus dengan kertas emas berwarna hijau tua. Aku segera membukanya. Oh, sebuah sweater wool yang sangat halus dan hangat. Di depannya ada bergambar rusa. Tapi rusa ini berbeda dengan rusa-rusa yang pernah aku dapat. Ini rusa ke sembilan yang aku dapat, bentuknya sedikit lebih kecil dengan hidung berwarna merah seperti badut. Ketika asik membolak-balik sweater berwarna marun tersebut ada sebuah amplop terjatuh di pangkuanku.

Ada sebuah surat di dalam amplop tersebut. Tulisannya sangat rapi, dan aku menduga bahwa tulisan ini pasti milik seorang perempuan. Aku senyam-senyum sendiri. Hey world! I have a secret admirer!!

Hey,
Ini hadiah terakhirku ya, kamu tak perlu menungguku lagi di depan pintu.
Jika kamu ingin bertemu denganku,
Pecahkan teka-teki ini.
"Namaku juga dimiliki oleh rusa-rusa natal. Aku telah memberimu 9 gambar rusa natal. Namaku ada disana."
FYI: aku seorang perempuan, jika kamu ingin mengetahui siapa aku jumpai aku di taman De la Rose malam ini jam 8 paling lambat. Gunakan nama-nama rusa tersebut untuk menemukanku.
Aku ada kejutan untukmu. xoxo

Aku masih terbengong-bengong membaca secarik kertas tersebut. 'Nama rusa natal??' aku berpikir keras. 'Aku saja tak tahu satu nama pun.' Sejenak aku masih berpikir keras. 'Ah kenapa tidak aku cari lewat internet saja. Pasti lebih mudah dan menghemat waktu.'
Aku pun sibuk mencari nama-nama dari 9 rusa natal. Tapi yang kutemukan hanya 8. Oke mulai dari yang 8 saja dulu. Ada nama Dasher, Dancer, Prancer, Vixen, Comet, Cupid, Donder dan Blitzen. Mana yang nama perempuan ya? Namanya saja aneh-aneh begitu. Apa namanya Dancer? atau Cupid? Bagaimana dengan Dasher? Aku semakin bingung mencari. Akhirnya kuputuskan untuk mencatat semua nama aneh tersebut. Tinggal 1 rusa lagi. Oh aku ingat, itu pasti rusa terakhir yang berhidung merah seperti badut. Aku kembali mencari referensi nama rusa tersebut di internet. Gotcha!! Namanya Rudolph. Namanya seperti manusia, pasti ini adalah bagian dari nama perempuan itu.

Jam 6.30 malam aku bergegas menuju taman De la Rose. Aku sengaja berjalan kaki. Siapa tahu aku akan menemukan petunjuk lagi. Sebenarnya memang konyol. Konyol sekali malah. Kenapa aku mau mengikuti teka-teki konyol ini. Tapi aku sungguh tertarik dengan tantangan perempuan itu. Lagipula aku juga sedang tak ada kerjaan. Karena besok malam natal. Jadi aku masih punya banyak waktu untuk liburan.

Sesampainya di taman, mataku menyapu seluruh bagian taman. Barangkali aku akan menemukan seseorang yang mencurigakan. Tapi tidak, semua orang disana bertingkah wajar. Ku putuskan untuk duduk di sebuah bangku taman yang terlindung oleh sebuah pohon. Aku terus mengamati keadaan. Tak sengaja aku melihat seseorang yang aku kenal sedang duduk dan membaca sebuah buku di sebuah bangku taman tak jauh dari tempatku. Vix! Hey, aku memecahkan teka teki itu! Perempuan yang duduk disana adalah Laura Vixen. Ya, Laura Vixen Rudolph. Persis nama 2 rusa natal milik Santa Klaus itu.

Aku pun berlari menghampirinya.
"Hi Vix!"
Dia mendongakkan kepalanya yang sedari tadi sibuk menekuni sebuah buku. Sembari membenahi letak kacamatanya dia tersenyum. Tangannya kemudian terulur, "Hi Harold. Long time no see, ya!"
Aku mengangguk.
"Akhirnya kamu menemukanku, aku pikir kamu masih sama seperti dulu. Agak bodoh. Hahhaaha!" Dia tertawa terbahak-bahak.
Aku hanya tersenyum kemudian aku memeluknya. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Aku sangat rindu padanya. Kau tahu dia siapa? Dia adalah pacarku. Sekali lagi aku katakan, dia adalah pacarku. Aku sudah lama tak bertemu dengannya, karena dia sedang kuliah di Perancis. Dan kini, satu hari menjelang malam natal, aku mendapat kado yang sangat indah dan istimewa, Laura Vixen Rudolph.


image was taken from here

Terkadang, kita tidak cukup peka untuk menyadari
apa dan siapa yang berada dekat dengan kita
Seringkali kita melupakan, 
bahkan sesuatu yang sebenarnya ada bersama kita
Membuka mata akan sesuatu, sekecil apapun itu
akan membuat kita tahu, siapa diri kita
dan siapa mereka
serta untuk apa diri kita dan mereka menjadi saling dekat

Saturday, November 17, 2012

A Weird and Broken Dream Catcher

Aku akui aku bukanlah seorang gadis yang mudah percaya dengan takhayul. Aku bukan superstitious. Aku malah merasa orang-orang yang superstitious itu adalah orang yang aneh. Aku percaya takdir, aku percaya pada Tuhanku, dan aku percaya pada jalan hidupku. Tapi entahlah, aku masih saja meragukan diriku, mengapa aku yang mengagung-agungkan keadaan bahwa diriku bukan seseorang yang superstitious justru memilih untuk menyematkan tinta warna kedalam kulitku membentuk sebuah simbol keberuntungan bernama dream catcher. Jika kau tanya bagaimana mulanya aku memilih untuk mentato pergelangan tanganku dengan sebuah gambar dream catcher akupun tak tahu. Yang jelas awal mulanya karena dia. Ya, cowok itu.

Sudah lama sekali sejak aku berkenalan dengan cowok itu, begitu pula aku juga sudah lama tak bertemu dengannya. Mungkin tak akan pernah bertemu lagi. Aku tak yakin sih. O ya, aku kenal dia pertama kali saat di bus, saat aku dalam perjalanan pulang dari rumah pamanku di sebuah desa di dekat teluk. Dia tidak istimewa. Bahkan wajahnya terkesan biasa saja. Rambutnya yang gondrong sedikit kumal, berwarna cokelat kemerahan dan bau matahari. Pakaiannya saja ala kadarnya. Kaus oblong berwarna krem dengan motif tribal yang aneh. Celana kargonya yang seperti tidak pernah tersentuh air dan detergen membuatku mengira dia itu semacam gelandangan. Tapi tebakanku salah, dia seorang pengelana. Saat dalam perjalanan kembali ke kota, dia banyak bercerita padaku. Akupun tidak merasa canggung untuk mendengarkan ceritanya meski aku hanya tahu namanya itu Rory. 

Sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 4 jam itu, Rory banyak bercerita. Dari ceritanya aku tahu bahwa dia adalah seorang backpacker yang memiliki hobi di bidang fotografi. Dia sudah memiliki tunangan, dan tentu saja, dia bukanlah tipeku. Aku sadar betul, meski banyak yang mengatakan bahwa aku ini gadis liar yang suka pulang pagi, suka merokok, dan suka menenggak alkohol. Aku memang tak menampik semua perkataan orang itu, karena aku memang seperti itu. Aku berjiwa liberal karena aku cinta kebebasan.

Saat dalam perjalanan, Rory menunjukkanku sebuah foto yang sudah dicetak. Dalam selembar foto tersebut ada terpampang seorang gadis berusia sekitar 17 tahun. Dia menghadap ke pantai dengan menggenggam sebuah benda yang asing bagiku. Saat aku melontarkan pertanyaan kepada Rory mengenai nama benda itu, dia hanya terbahak. Namun kemudian dia menjawab bahwa benda itu bernama dream catcher. Orang Indian kuno di Amerika menggunakannya untuk menangkal bad luck atau kesialan. Mendengar jawaban Rory, aku terkikik. Ada-ada saja. 

Perjalanan menuju rumahku sudah dekat. Aku lihat Rory sedang menulis sesuatu di sebuah buku kecil. Akupun berbisik kepadanya bahwa aku bus yang kami tumpangi sudah hampir sampai ke tujuanku. Dia mengangguk dan tersenyum. Dia kemudian merobek buku kecil yang sedari tadi dia tekuni dan menyodorkan kertas sobekannya padaku. Aku menerimanya. 

Bus pun berhenti tepat di halte tak jauh dari rumahku. Aku melambai pada Rory yang juga melambaikan tangannya melalui jendela bus. Bus pun melaju bersama Rory meninggalkanku. Aku teringat pada secarik kertas yang diberikan Rory padaku. Akupun membaca isi tulisannya.

Maafkan aku,
Tapi bolehkah aku minta tolong padamu, Seanna?
Jika boleh, datanglah ke rumah tattoo bernama "The Hallway"
Carilah seorang pria tattoo artist yang bernama Bernard
Katakan padanya, "buatkan aku sebuah tattoo dream catcher"
Jika dia bertanya alasannya kenapa,
jawablah demikian, "aku ingin mengenang Rory, dan aku ingin memberitahumu 
bahwa dia meninggal dunia 
karena bus yang membawanya pulang mengalami kecelakaan"

-Rory-

Aku bergidik ngeri membaca beberapa baris tulisan Rory. Tulisannya begitu rapi. Ahh, aku pikir, itu hanya sebuah candaan konyol saja. Toh, aku juga tidak begitu mengenal Rory.
***
Ternyata aku salah besar, salah besar. Bus yang aku tumpangi bersama Rory tadi malam benar-benar mengalami kecelakaan maut. Seluruh penumpang yang tersisa tewas ditempat. Siang ini seusai mandi, kuputuskan untuk mencari alamat rumah tattoo bernama "The Hallway" di internet. Setelah mendapatkan alamatnya yang ternyata tak jauh dari blok tempat tinggalku, aku segera bergegas kesana. Dan benar apa kata Rory dalam tulisannya, aku dengan mudah menemukan tattoo artist bernama Bernard. Akupun mengatakan apa yang disuruh Rory melalui secarik kertas itu. Saat mendengar alasanku, Bernard hanya tersenyum simpul. Masih jelas kuingat dia bergumam, "ahh Rory, kau melakukannya lagi". Sampai kini aku tak tahu, apa maksud dari perkataan Bernard. Namun yang jelas, kini di pergelangan tangan kiriku aku memiliki tattoo sebuah gambar dream catcher dengan tiga helai bulu yang terjuntai, seperti dream catcher yang dipegang oleh gadis dalam foto milik Rory itu.

image was taken from here

Monday, October 29, 2012

Disana Aku ...

Entah mengapa aku selalu bermimpi untuk dapat menikah ditempat itu. Sejak pertama kali kesana, aku sudah berkeinginan untuk menikah disana. Sesekali aku ungkapkan keinginan hati yang sudah lama aku pendam ini pada sahabat-sahabatku.
"Kamu masih waras kan?"
"Kamu abis kejedot pintu ya?"
"Ahh kamu ini aneh-aneh aja"
Seperti itulah kiranya tanggapan sahabat-sahabatku. Ahh, aku tak peduli apa kata mereka, toh yang menjalani hidup ini aku kok.
***
Ku putuskan untuk mengambil kunci mobilku lalu melaju ke tempat itu, sendirian. Yah, sebenarnya itu tempat umum, tempat ibadah yang tidak membatasi siapapun untuk datang kesana. Perjalanan kesana kutempuh dalam waktu sekitar 45 menit, jauh memang dari rumahku. Tapi aku memang sering dan suka kesana. Aku lebih suka ke sana dikala senja, karena pasti tidak banyak umat atau peziarah yang kesana. Sesampainya disana, kuparkir mobil di area parkir yang berjarak 20 meter dari lokasi. Aku berjalan sendirian seperti biasa menuju ke depan bangunan yang sangat megah. Aku berdiri mematung di depan bangunan itu. Mengamati setiap lekuk arsitektur dan pahatan di setiap pilar-pilar kayu jati yang menyangga bangunan itu. Sesekali angin lembut membelai rambut panjangku yang selalu aku gerai. Damai rasanya. Aku pun memejamkan mata sejenak dan menikmati udara dan sapa lembut angin sore itu. Tiba-tiba aku merasakan ada rasa hangat menjalar di kedua tanganku. Ada yang memegang kedua tanganku. Aku sengaja tidak segera membuka mataku, aku ingin menikmati hangatnya sentuhan di jari-jemariku. Si empunya jari-jemari itu berbisik lembut di telingaku "Aku menunggu untuk menemukanmu disini." Suaranya begitu lembut bagaikan suara malaikat dari surga. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mata yang masih terpejam. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku, menggantikan suara lembut yang menyapa telingaku tadi. "Mbak, kok senyum-senyum sendiri?" Aku membuka mata, disampingku berdiri ada anak kecil seumuran 12 tahunan. Aku menduga anak laki-laki itu sudah sedari tadi memandangiku. "Nggak apa-apa kok dek," jawabku sedikit malu. Aku memandang sekeliling, mencari sosok orang yang tadi menggenggam tanganku, membisikkan sebuah kalimat syahdu itu. "Dek!" Aku memanggil anak kecil itu. Aku bermaksud bertanya mengenai siapa yang tadi menghampiriku disini. "Tadi ada yang dateng nemenin mbak berdiri disini nggak ya?" Anak kecil itu menggeleng, "Enggak mbak, mbak dari tadi berdiri sendiri, aku dari tadi duduk disitu, terus aku kesini karena penasaran, kok mbak berdiri terus disitu." Aku tersenyum perlahan mendengar jawabannya. Kemudian aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu untuk menuju tempat doa.

Aku mengambil posisi duduk yang paling nyaman di sekitar tempat doa. Memandang wajah sosok Yesus yang duduk di dalam bangunan yang menyerupai candi, Bapaku, Bapa yang selalu mendengar apa yang menjadi keluh kesahku. Aku mulai berdoa meski tidak sekushyuk yang aku harapkan. Aku tidak bisa konsentrasi, semacam mungkin pikiranku memang sedang terganggu. Ya, sampai-sampai aku mendengar suara yang tidak berwujud, merasakan genggaman tangan dari sesuatu yang tidak ada. Ya Tuhan, jangan-jangan aku tidak waras. Ahh, sudahlah, aku mau berdoa dulu. Selesai berdoa, kulirik jam tangan warna hitamku, sudah jam 6.53 sore. Sudah hampir malam, tapi sama saja, aku dirumah juga tidak punya kegiatan yang berarti. Ku putuskan untuk duduk-duduk sebentar di pendopo di dekat bangunan Gereja. Iseng-iseng aku buka BBku. Yah, tidak ada yang berubah. Tidak ada BBM masuk pula. Akhirnya aku utak-utik BB untuk buka Facebook. Tak ada yang menarik. Kututup laman Facebook. Suasana disekitarku sudah mulai gelap. Lampu di pendopo ini juga tidak terlalu terang. Setengah jam kemudian, aku pun merasa bosan dan sudah kena gigit pasukan nyamuk. Ku putuskan untuk pulang.

Saat beranjak mendekati gerbang, ada seseorang yang memanggilku. "Mbak tunggu sebentar!" 
Aku menoleh, mendapati sesosok laki-laki sepertinya lebih tua dari aku. "Ya, ada apa ya mas?" ucapku sopan. "Rosarionya tadi ketinggalan di tempat doa. Saya pikir ini punya mbak, tadi pas saya baru dateng, ada rosario ini, saya tadi papasan sama mbak, jadi saya pikir ini punya mbak." Dia menyodorkan rosario bermanik warna merah marun. Itu memang punyaku, ahh ceroboh sekali aku ini. O ya, aku memang memiliki kebiasaan untuk berdoa rosario meskipun aku sedang menghadap Tuhan Yesus. Aku menerima rosario itu. "Makasih ya mas." Dia mengangguk kemudian mengambil langkah untuk pergi meninggalkan tempatku berdiri. "Mas!" Aku memanggil dia. Aduhh, aku ini kenapa, pakai panggil-panggil segala. Dia berhenti dan menoleh, "Ada apa mbak?" Aku menyodorkan tanganku, "Rara". "Ega" Dia menyambut tanganku. 

Singkat kata, aku dan dia mengobrol sebentar. Dari obrolan tersebut aku mengetahui bahwa dia adalah muda-mudi dari Gereja itu. Dia sudah lulus kuliah dan sekarang bekerja sebagai dokter muda di sebuah rumah sakit di Jogja. Dari obrolan itu aku mengenal dia sedikit demi sedikit. Entahlah, aku begitu tertarik dengan apa yang dia bicarakan. Dengan caranya bicara, caranya memandang, dan caranya tersenyum. Semuanya indah. Dia bilang, dia memang sering ke tempat ini. Bahkan dia mengaku pernah bertemu denganku beberapa kali disini, tapi aku saja yang tidak pernah menyadari. Dia juga tahu kebiasaanku yang selalu berdiri beberapa menit di depan bangunan Gereja setiap aku datang kemari. Dan yang paling mengejutkanku adalah bahwa dia sudah lama ingin berkenalan denganku, bahkan sebelum dia menjadi dokter alias masih Koas. Dia penasaran denganku, dengan kebiasaanku setiap aku datang kemari. 
***
Aku kembali berdiri di depan bangunan Gereja itu, namun kali ini aku tak sendiri. Aku bersama dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaraku. Aku mengenakan kebaya berwarna merah marun, seperti warna manik rosarioku yang dulu tertinggal di tempat doa. Aku berdiri di depan Gereja itu berdampingan dengan dia yang dulu menemukan rosarioku dan mengembalikannya padaku. Namun, ternyata tak hanya rosarioku yang dia bawa waktu itu, namun juga hatinya yang tulus. Aku siap untuk menjadi bagian dari hidupmu, bagian dari hatimu, dan menjadi tulang rusukmu yang hilang. Aku kembali merasakan memori, dimana aku berdiri terdiam ditempat yang sama dan mendengar seseorang berkata "Aku menunggu untuk menemukanmu disini, TULANG RUSUKKU."

image was taken from here


Fiksi ini didedikasikan untuk
Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus-Ganjuran

Saturday, August 27, 2011

Wishing upon the wind



When I was wishing upon the wind
I blew my words so far away
I whispered through the invisible ear
Calling your name upon the moving air

The ones I brought through the flying wind 
Were my wishes for having you as my future groom


image from here
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net