Showing posts with label Epic. Show all posts
Showing posts with label Epic. Show all posts

Monday, July 6, 2015

THR Effects

Hi readers!!

Jadi ceritanya, kemarin Minggu (5 Juli 2015), aku mengantar adik kesayanganku untuk berbelanja baju. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, uang Tunjangan Kesejahteraan dari kantorku sudah cair dan aku juga sudah janji pada adikku untuk mengantar sekaligus mentraktirnya berbelanja baju. Kamipun menuju salah satu kawasan belanja yang paling terkenal sekaligus tertua di Jogja, yakni kawasan Malioboro. Kami sengaja berangkat lebih awal karena takut jalanan macet dan tidak kebagian tempat parkir. Tapi ternyata, kami masih kalah pagi. Jalan Malioboro padat merayap, dan sebagian besar tempat parkir sudah penuh sesak. Untungnya, kami masih kebagian satu slot tempat parkir sehingga masih bisa parkir dengan nyaman.

Setelah berkutat dengan kegiatan parkir, kami segera menuju Malioboro Mall. Mall yang relatif berukuran kecil (bila dibandingkan dengan mall-mall lain di Jogja) sudah penuh sesak bagaikan lautan manusia. Melihat kondisi yang demikian, kamipun memutuskan untuk sesegera mungkin menuju spot dimana kami hendak berbelanja baju tersebut. Sesampainya disana, kami malah bengong. Jangankan bisa memilih baju dengan nyaman, konter pakaian yang sempit tersebut malah dipenuhi dengan bermacam display. Tentu hal ini semakin menyulitkan para calon pembeli, belum lagi di area tersebut juga terdapat banyak calon pembeli lain yang saling berdesakan.

Setelah lewat dari setengah jam memilih dan memilah, kamipun menyerah. Menyerah tanpa hasil apapun. Bahkan label diskon 50% keatas sama sekali tidak menarik minat kami lagi untuk membeli. Too crowded! Apakah ini efek dari THR atau Tunjangan Hari Raya? Sepertinya memang benar demikian. THR yang cair di awal bulan memang menjadi "hadiah" luar biasa bagi banyak orang, khusus-nya kaum pekerja sehingga banyak diantaranya yang tidak mau menyia-nyiakan momen untuk membelanjakan uang THR tersebut. *termasuk aku*

Besok-besok nggak lagi-lagi deh kalau macam begini jadinya. Sudah kaki gempor, lelah, pusing pula. Belanja sih belanja, tapi memang timing harus diperhatikan deh!


~xoxo~



Wednesday, June 10, 2015

Neymar Jr.: 100% Jesus

Hi readers!!

Ada yang menggelitik benakku ketika menonton final Liga Champion hari Minggu dini hari yang lalu. Bukan karena gol Neymar dianulir oleh wasit karena handball tetapi lebih ke reaksi si tengil Neymar Jr. ketika pertandingan usai dan selebrasi atas kemenangkan Football Club Barcelona (FCB) 3:1 atas klub Italia kawakan, Juventus. Apa yang membuat benakku tergelitik? Ini dia:


Bukan tattoo-nya lho, bukan pula ketek-nya, tapi headband yang dia kenakan di dahinya sesaat setelah wasit meniup peluit tanda akhir pertandingan selesai. 100% Jesus. Itulah tulisan yang tertulis disana. Wow, religious sekali anak satu ini, batinku. Tapi jangan salah, Neymar saat itu bukannya sedang mencari sensasi atau apa. 100% Jesus adalah ekspresi dirinya atas rasa syukur yang begitu besar.

Neymar Jr. tidak hanya sekali itu saja mengenakan headband dengan tulisan yang sama. Setelah googling, aku menemukan beberapa foto-nya ketika dia mengenakan headband bertuliskan 100% Jesus.

Ternyata sudah sejak kecil Neymar Jr. mengenakan headband yang sangat filosofis tersebut di beberapa kesempatan. Yang kemudian hadir di benakku adalah bahwa:
1. Neymar menyadari dirinya bukanlah siapa-siapa tanpa pertolongan Tuhan-nya
Kita semua tahu (terutama pecinta dunia sepak bola) bahwa Neymar adalah salah satu pemain berbakat dari tanah Brazil yang sudah mengukir kesuksesan sejak masih belia. Neymar itu muda, terkenal, kaya, dsb. Namun, dibalik semua itu, dia adalah pribadi yang takut akan Tuhan. Dia tak pernah lupa siapa dirinya. Mengandalkan pertolongan Tuhan di setiap waktu bisa dibilang filosofi-nya.

2. Neymar mempersembahkan kesuksesannya pada Tuhan-nya
Menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa tanpa kuasa Tuhan atasnya, Neymar mempersembahkan kesuksesan yang dia raih, terutama pada laga final Liga Champion yang lalu, pada Tuhannya. 100% Jesus adalah bukti nyata yang lebih nyaring daripada "berteriak-teriak" pada khalayak bahwa Neymar yang sangat berbahagia pada waktu itu, mendedikasikan kesuksesannya pada Yesus Sang Juru Selamatnya.

3. Neymar adalah salah satu dari sekian banyak orang Kristiani yang tidak gentar pada dunia
Hal ketiga yang ku analisis, maaf jika kurang tepat, adalah bahwa Neymar membuktikan dirinya adalah salah satu dari sekian banyak orang Kristiani yang tak gentar pada dunia. Hal ini tentunya sangat inspiratif dan membanggakan. Aku sebagai umat kristiani merasakan hati ku menghangat ketika dia dengan gimmiknya menunjukkan kecintaannya pada Yesus dengan mengenakan headband 100% Jesus. Jujur, aku merasakan imanku menguat ketika melihat itu.

"Neymar, be still 100% Jesus now and forever, okay?!"


Sebuah analisa dan refleksi
Tidak ada dimaksudkan untuk menggiring opini tertentu apalagi upaya Kristenisasi.

~xoxo~


Wednesday, May 27, 2015

A Moment of Silence: 9 Tahun Gempa Jogja

Hi readers!!

Aku masih ingat betul, saat itu, matahari belum sepenuhnya menampakan diri. Pukul 5.59, baru beberapa menit yang lalu aku bangun dari tidurku yang pulas tanpa mimpi. Jogja yang pada biasanya, sepagi itu, sedang menikmati khyusuk dan damainya suasana pagi dan hangat lembutnya cahaya mentari. Jogja yang sepagi itu terasa begitu damai dan tenang, tiba-tiba saja menjadi riuh. Teriakan demi teriakan memilukan bergema di bawah atmosfer langit Jogja. Jogja, pagi itu, baru saja diterjang gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Ritcher.

Gempa bumi yang berpusat di daratan memang berbeda dengan gempa bumi yang berpusat di samudera. 5,9 skala Ritcher pagi itu telah meluluh lantakkan sebagian besar Jogja, bahkan hingga Jawa Tengah. Bantul menjadi salah satu titik terparah. Saat itu, korban jiwa belum sepenuhnya terhitung. Aku yang kala itu hanya memiliki sebuah handphone butut, dimana belum ada Whatsapp, Line, dan media chatting online yang up to date, jelas tidak bisa sesegera mungkin meng-update informasi. Bahkan, aku tidak tahu jika terjangan gempa tersebut berasal dari Bantul. Hanya radio yang berfungsi saat itu, saluran listrik padam, bahkan sinyal GSM pun hilang timbul tak karuan.

Waktu itu, aku yang adalah anak remaja kelas 1 SMA, tidak terlalu terdistraksi dengan kejadian pagi itu. Kenapa? Karena telingaku belum tersentuh informasi apapun, baik dari radio maupun surat kabar, apalagi Facebook, paling baru bang Mark and the gank yang punya akunnya bro! Aku dan teman-temanku, anak-anak SMA kelas 1 yang lugu, sibuk membincangkan kejadian tadi pagi. Kami tertawa-tawa mendengar berbagai cerita lucu yang terjadi saat gempa tadi pagi. Ada temanku yang baru mandi sewaktu gempa, yang kemudian lari tunggang langgang keluar rumah, ada pula yang sedang asik jongkok di toilet, dan sebagainya. 

Namun, segalanya berubah ketika baru beberapa menit berada di Sekolah, bahkan jam pelajaran pertama saja belum usai. Suasana kembali tegang. Tsunami! Tsunami! Teriak beberapa orang yang melewati jalan raya di depan sekolahku. Saat itu, aku dan mungkin banyak orang di sekitarku, belum terbiasa dengan kata beraroma Jepang itu. Baru beberapa menit setelahnya, aku sadar, Tsunami adalah gelombang pasang yang mematikan. Aku teringat peristiwa maha-dahsyat di Aceh setahun sebelumnya.

Teriakan demi teriakan berlafalkan kata yang sama, tsunami, membuatku lemas. Aku, yang saat itu masih diantar jemput oleh orang tuaku, mendadak linglung. Aku tidak tahu harus pergi meninggalkan gedung sekolah dengan apa. Motor jelas di rumah, sepeda juga. Akhirnya kuputuskan untuk nebeng salah satu teman. Sekenanya. Syukurlah, di depan gerbang sekolah aku menemukan ibukku dan adikku yang sedang menunggu untuk menjemputku pulang.

Geger!! Jalan raya Godean ramai dipadati kendaraan bermotor dan sepeda. Ada apa? Ada isu tsunami! Dengan susah payah motor yang dikemudikan ibuku melaju ke arah barat, ke arah rumah. Gerombolan masa pun memacu kendaraan mereka ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh, lokasi yang dianggap aman dari gelombang tsunami.

Nyatanya, tsunami itu tidak menerjang. Rumor tersebut dihembuskan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab demi keuntungan diri pribadi. Nyatanya, gempa 5,9 skala Ritcher tersebut telah meluluhlantakan Jogjakarta. Bantul, daerah terparah, mencatat adanya korban jiwa sebanyak ratusan ribu. Kami berduka!

Gempa Jogja, 9 tahun silam, membawa banyak cerita dan pengalaman. Bahwa kita hanyalah butiran debu di hadapan "mother nature". Kita hanyalah butiran debu di hadapan Sang Kuasa.

Kini, Jogja sudah bangkit. Jogja sudah kembali penuh semangat.


Sebuah refleksi dan permenungan
memperingati 9 tahun peristiwa tak terlupakan.

Jogja, 27 Mei 2015
Fransiska Wahyuningtyas


Saturday, November 9, 2013

Book Review: Warped

Judul: Warped
Judul Bahasa Indonesia: Sang Penenun Kehidupan
Penulis: Maurissa Guibord
Penerbit: Atria (Indonesia)
Cetakan: I/Agustus 2012
Harga: Rp 50.000 (disc 15% jadi Rp42.500)
Beli di: Togamas, Jogja
Cover:

Cover versi Bahasa Indonesia
source: website penerbit Atria

Warped adalah karya pertama dari Maurissa Guibord. Novel ini secara keseluruhan mengambil dua setting waktu yang berbeda; masa kini dan masa lalu. Cerita dalam novel ini dimulai ketika seorang gadis kota pinggiran, Tessa Brody, bersama ayahnya, Jackson Brody, mengikuti sebuah lelang barang-barang antik. Ayah Tessa begitu menginginkan sepaket buku kuno namun tidak menyangka jika mereka juga akan mendapat bonus sebuah buku bersampul kulit bertajuk "Texo Vita" (Menenun Kehidupan) dan sebuah permadani kuno dengan sulaman Unicorn di tengah-tengahnya. Setelah membawa pulang hasil lelang, yang mana Ayah Tessa sempat menggerutu karena harganya yang terlalu mahal, Tessa mendapat bagian untuk menyimpan permadani kuno bergambar Unicorn tersebut. Sejak dia menyimpan permadani itu di dalam kamarnya, dia sering dihantui mimpi aneh tentang penyihir dan pangeran dan juga Unicorn dimana dirinya sendiri berperan sebagai gadis (perawan) desa. Selain mimpi aneh, Tessa juga mendapat bermacam pesan aneh dimana dia harus mengembalikan "benang" yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa maksudnya.

Tanpa sengaja, suatu malam Tessa menarik salah satu benang berwarna putih keperakan yang terlihat mencuat dari permadani tersebut. Ajaibnya, gambar Unicorn di tengah permadani hilang dengan sendirinya. Sebagai gantinya muncul sesosok pemuda tampan dengan pakaian kumal, aneh, compang-camping dan seperti berasal dari jaman kerajaan. Benar saja, sosok William de Chaucy, atau Will yang tiba-tiba muncul di hadapan Tessa adalah si Unicorn. Dia adalah anak bungsu dari Earl Umbric yang berkuasa di Hartescross, Cornwall, Inggris. Uniknya, Will tersebut datang dari masa lalu, sekitar tahun 1500an. Di sela-sela kebingungannya, Tessa kembali mendapat berbagai masalah. Mulai dari munculnya Lila Gerome yang mengaku sebagai pemilik permadani kuno dan buku "Texo Vita" yang menginginkan dua benda itu kembali padanya. Kemudian disusul dengan munculnya Norn bersaudari; Spyn, Weavyr, dan Scytha yang mengaku kehilangan beberapa benang kehidupan dan menuduh Tessa telah mencurinya.

Dibantu oleh sahabatnya Opal, Tessa kemudian mencari tahu banyak hal tentang Will, buku Texo Vita, dan juga permadani tersebut. Menurut informasi yang diperoleh dari Will, diketahui Lila Gerome adalah perwujudan dari Gray Lily, seorang penyihir dan juga seorang pemintal benang yang berasal dari Hartescross, yang mana telah berhasil menarik benang kehidupan Will dengan cincin batu amber miliknya dan menyimpannya di dalam permadani dalam bentuk seekor Unicorn berbulu putih dan bermata cokelat demi memperoleh kecantikan dan kehidupan abadi. Sejak saat itulah, Tessa berjuang mati-matian untuk melindungi Will dan benang kehidupannya. Namun, sayangnya, dia diantara dua pilihan sulit, antara melindungi nyawa Will atau mengembalikan ketujuh benang kehidupan yang dicuri dari Norn bersaudari demi mengembalikan susunan takdir (dalam untaian benang yang disebut Wyrd) yang terkoyak.

Klimaks dari cerita dalam novel ini adalah ketika Tessa masuk ke dalam permadani menyusul Will. Di dalam permadani yang adalah Hartescross buatan Gray Lily, Tessa harus berjuang melawan segala makluk buatan Gray Lily. Terutama, dia juga harus melawan Gray Lily demi menepati janjinya mengembalikan ke tujuh benang kehidupan yang dicuri kepada Norn bersaudari. Tapi sebagai konsekuensinya, Tessa juga harus rela mengembalikan benang kehidupan Will, pemuda yang kini dicintainya setengah mati, kepada Norn bersaudari karena Will ditakdirkan hidup 500 tahun sebelum masa Tessa.

Dalam novel ini, Tessa digambarkan sebagai gadis remaja yang pendiam dan cukup lemah. Dia bukan tipe gadis yang mudah mengambil keputusan, bahkan di saat-saat yang genting. Namun, justru karakter inilah yang membuat novel ini mengalir dengan sangat menggemaskan. Karakter Tessa yang terkesan "clumsy" juga memicu banyaknya adegan klimaks dan anti klimaks kecil sebelum adegan klimaks yang terakhir. Ending dari novel ini sedikit bisa ditebak, hanya saja tidak terlalu gamblang tertebak di tengah cerita.

Aku begitu menyukai novel ini dan cerita di dalamnya dimana menitikberatkan antara kepercayaan seorang individu terhadap takdir dan bagaimana dia mencoba merubah nasibnya sendiri meskipun takdir sudah tergariskan. Selain itu, cara penggambaran tokoh dan latar belakang terutama kota Hartescross sungguh mendetail. Namun sayangnya, novel ini terlalu banyak adegan klimaks dan anti klimaks kecil-kecil yang agak kurang menarik di sepanjang cerita, lagi pula menjelang klimaks terakhir adegannya agak garing. Pada intinya, novel ini sangat pas buat kamu yang suka imajinasi dan fantasi. Terutama yang menyukai dongeng tentang penyihir dan legenda Unicorn.


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net