Showing posts with label Man. Show all posts
Showing posts with label Man. Show all posts

Wednesday, June 10, 2015

Neymar Jr.: 100% Jesus

Hi readers!!

Ada yang menggelitik benakku ketika menonton final Liga Champion hari Minggu dini hari yang lalu. Bukan karena gol Neymar dianulir oleh wasit karena handball tetapi lebih ke reaksi si tengil Neymar Jr. ketika pertandingan usai dan selebrasi atas kemenangkan Football Club Barcelona (FCB) 3:1 atas klub Italia kawakan, Juventus. Apa yang membuat benakku tergelitik? Ini dia:


Bukan tattoo-nya lho, bukan pula ketek-nya, tapi headband yang dia kenakan di dahinya sesaat setelah wasit meniup peluit tanda akhir pertandingan selesai. 100% Jesus. Itulah tulisan yang tertulis disana. Wow, religious sekali anak satu ini, batinku. Tapi jangan salah, Neymar saat itu bukannya sedang mencari sensasi atau apa. 100% Jesus adalah ekspresi dirinya atas rasa syukur yang begitu besar.

Neymar Jr. tidak hanya sekali itu saja mengenakan headband dengan tulisan yang sama. Setelah googling, aku menemukan beberapa foto-nya ketika dia mengenakan headband bertuliskan 100% Jesus.

Ternyata sudah sejak kecil Neymar Jr. mengenakan headband yang sangat filosofis tersebut di beberapa kesempatan. Yang kemudian hadir di benakku adalah bahwa:
1. Neymar menyadari dirinya bukanlah siapa-siapa tanpa pertolongan Tuhan-nya
Kita semua tahu (terutama pecinta dunia sepak bola) bahwa Neymar adalah salah satu pemain berbakat dari tanah Brazil yang sudah mengukir kesuksesan sejak masih belia. Neymar itu muda, terkenal, kaya, dsb. Namun, dibalik semua itu, dia adalah pribadi yang takut akan Tuhan. Dia tak pernah lupa siapa dirinya. Mengandalkan pertolongan Tuhan di setiap waktu bisa dibilang filosofi-nya.

2. Neymar mempersembahkan kesuksesannya pada Tuhan-nya
Menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa tanpa kuasa Tuhan atasnya, Neymar mempersembahkan kesuksesan yang dia raih, terutama pada laga final Liga Champion yang lalu, pada Tuhannya. 100% Jesus adalah bukti nyata yang lebih nyaring daripada "berteriak-teriak" pada khalayak bahwa Neymar yang sangat berbahagia pada waktu itu, mendedikasikan kesuksesannya pada Yesus Sang Juru Selamatnya.

3. Neymar adalah salah satu dari sekian banyak orang Kristiani yang tidak gentar pada dunia
Hal ketiga yang ku analisis, maaf jika kurang tepat, adalah bahwa Neymar membuktikan dirinya adalah salah satu dari sekian banyak orang Kristiani yang tak gentar pada dunia. Hal ini tentunya sangat inspiratif dan membanggakan. Aku sebagai umat kristiani merasakan hati ku menghangat ketika dia dengan gimmiknya menunjukkan kecintaannya pada Yesus dengan mengenakan headband 100% Jesus. Jujur, aku merasakan imanku menguat ketika melihat itu.

"Neymar, be still 100% Jesus now and forever, okay?!"


Sebuah analisa dan refleksi
Tidak ada dimaksudkan untuk menggiring opini tertentu apalagi upaya Kristenisasi.

~xoxo~


Tuesday, May 14, 2013

Native Force Eau de Toilette

Akhir-akhir ini aku lagi keranjingan banget sama yang namanya hutan, pepohonan, dan embun. Nggak ngerti kenapa, tapi kalau ngelihat sesuatu yang hijau dan segar itu rasanya langsung semangat. Kadang sampai sengaja bangun pagi-pagi buta cuma pengen lihat dan menyentuhkan kaki pada rumput yang basah karena embun. Wangi rumput basah dan daun-daunan serta kayu itu ngangenin banget. Aku jadi berkesimpulan, mungkin aku dulunya adalah peri hutan, hahaha *sudah Yas sudah, imajinasimu ketinggian*

Karena saking kangennya dengan wangi-wangian segar ala rerumputan dan pepohonan, aku sampai bela-belain beli parfum baru (lagi). Bukan buat aku sih sebenernya, tapi buat adekku. Kan adekku cowok jadi sekalian aja aku beli parfum baru buat dia. Namanya Native Force EdT. Native Force itu parfum yang maskulin banget. Parfum ini menggambarkan ketangguhan dan keberanian seorang laki-laki. Wanginya sih menurutku lebih ke arah wangi pria-pria petualang dibandingkan dengan pria-pria flamboyan, LOL. Dari sisi kemasan, Native Force EdT ini simple but elengan. Kelihatannya emang biasa, bahkan botolnya polosan gitu aja. Tapi lihat tutupnya, tutup botolnya dari kayu lho saudara-saudara! Unique dan exotic banget deh.


Menurut penjelasan dari Oriflame, Native Force EdT ini mampu membawa jiwa para lelaki ke tempat yang baru, menggugah keingintahuan mereka, dan mendorong mereka untuk menyelami kedalaman yang tersembunyi. Hmm, kinda mysterious ya. Gambar ikonnya aja seorang lelaki berjiwa petualang dengan background suasana hutan tropis yang hijau dan memukau. Wow!! O ya, penyusun utama parfum ini ada 3 yaitu Cardamom, Kaffir Lime, dan Palo Santo.

Cardamom

Kaffir Lime alias si Jeruk Purut

Palo Santo

Well, dilihat dari bahan-bahan penyusunnya pasti udah kebayang dong gimana wangi si Native Force EdT ini. Ya, wanginya mengandung unsur hutan tropis yang sejuk. Apalagi dengan adanya si Palo Santo yang merupakan jenis kayu native America (pantesan parfumnya dikasih nama Native Force EdT). Katanya sih Palo Santo ini kalau dibakar akan tercium wangi yang sakral, mungkin sejenis wangi cendana, CMIIW. Selain faktor Palo Santo, Native Force EdT ini pada top note-nya lebih didominasi wangi rempah dan semacam sereh. Kalau menurutku sih itu wangi dari biji cardamom (salah satu biji tumbuhan tropis menyerupai Lily). Sedangkan pada heart note-nya lebih di dominasi wangi segar jeruk purut atau Kaffir Lime dan si Palo Santo. Kalau base note-nya lebih ke dominasi wangi kayu dan dedaunan basah.

Over all, aku suka banget sama wangi Native Force EdT ini. Wanginya bikin nyaman dan selalu mengingatkanku pada kesejukan hutan tropis yang tak pernah kekurangan air. Meskipun parfum ini aku resmi berikan ke adekku, tapi kadang aku pakai juga, soalnya wanginya ngangenin banget. Pengen cium-cium terus. Ahhhh!

Sedikit opini dariku *kedip-kedip genit*, Native Force EdT ini sangat cocok buat cowok-cowok atau lelaki yang suka petualangan alam. Wanginya sangat gentle dan natural alias nggak bikin kalian tercium lebay dan flamboyan. Wanginya sangat LAKIK! FYI, Isinya juga banyak boookkk 75ml, bisa dipakai 2 bulan lebih deh.


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Wednesday, May 8, 2013

Laki-Laki Keren Versiku Dari Masa ke Masa

Zachary Levi

Sebagai cewek atau perempuan mengagumi sosok cowok atau lelaki adalah hal yang wajar dan memang harus begitu (kalau mau dibilang cewek berorientasi seksual normal). Tipe cowok atau lelaki yang dikagumi oleh cewek-cewek itu beragam. Ada yang mengagumi cowok macho, ada yang mengagumi cowok ganteng, ada yang mengagumi cowok berwibawa, ada yang mengagumi cowok cool, bahkan ada juga yang mengagumi cowok cantik, eh? Balik lagi ke teori semula yang namanya kata sifat itu relatif. Tergantung mata siapa yang melihat.

Sejak aku SD aku sudah suka lho mengagumi lawan jenis. Iya, waktu SD kriteria cowok keren itu adalah cowok yang punya sifat pemberani. Sasarannya sih biasanya temen cowok yang jadi ketua kelas, jadi komandan upacara, atau yang jago olahraga. Meskipun nggak pacaran statusnya, tapi biasanya kalau suka terus deket-deketan mulu. Kemudian ketika sudah agak besar (kelas 5 atau 6 SD) sudah mulai kenal dengan tipe cowok-cowok keren yang ada di majalah dan di TV (internet masih jadi barang langka lho, jadi ya hanya sebatas itu aja jenis cowoknya, LOL). Di majalah atau TV mulai ada tuh yang namanya artis-artis luar negeri semisal para personil Westlife, aktor telenovela (Pedro di Amigos), aktor Taiwan (F4 booookkkk!! Adudududuhhh). Sampai buku tulis aja maunya beli yang ada gambar wajah mereka, LOL. Lanjut ke koleksi poster (dulu harga 1 poster itu Rp1000-1500) terus ditempel-tempel di kamar.

Sewaktu awal-awal masuk SMP selera udah berubah lagi. Dari kisaran cowok pemberani sampai cowok-cowok dari luar Indonesia sebangsa Eropa, Amerika, dan Asia Timur, selera cowok keren yang aku kagumi sudah beda lagi. Jadi cowok lokal. Iya, cowok pribumi asli Indonesia. Meskipun temen-temenku yang cewek banyak yang menganggap cowok luar lebih keren dari cowok Indonesia, tapi aku mikir cowok Indonesia lebih keren. Apalagi waktu itu booming film Ada Apa Dengan Cinta dan Eifel I'm In Love. Jadi pas lihat Nicolas Saputra dan Samuel Rizal, hati ini langsung meleleh. Ya iya lah, karakter mereka berdua mirip, sama-sama cowok yang super duper cool. Jadinya pas SMP kelas 1-2 gitu cowok keren lebih ke cowok Indonesia yang cool. Sewaktu SMP kelas 3, mulai tertarik dengan anime jepang. Jadinya malah lebih suka ke tokoh anime daripada ke cowok sungguhan. Ya lah, cowok yang jadi tokoh di anime seperti Full Metal Panic, Slam Dunk, dll itu perfect dari segi fisik.

Sewaktu naik ke jenjang SMA, cowok keren versiku sudah ganti lagi. Labilnya setengah mati deh kalau urusan cowok. Aku menganggap cowok keren itu cowok yang berprofesi di militer atau kepolisian. Beneran deh. Entahlah, apa karena jaman itu Densus 88 lagi terkenal-terkenalnya atau gimana. Tapi sepertinya cowok, oke kita sebut laki-laki aja ya, yang berkutat di bidang tersebut kadar kekerenannya naik 70%. Tapi tetep sih cuma yang ganteng aja yang aku anggap keren, LOL. Selain karena pengaruh oknum-oknum aparat yang keren dan bodynya ulalala yang sering aku lihat pas upacara di kabupaten, LOL, beberapa film dan orang-orang terdekatku juga berpengaruh. Film Pearl Harbor adalah film pertama yang membuat aku berpikir kalau cowok yang jadi anggota army, navy, dll itu keren banget. Artis idolaku juga jadi berubah ke artis-artis yang berperut six-pack, berdada bidang, berpunggung kokoh, dan lengannya terbentuk sempurna (tapi jangan bayangkan wujudnya seperti Agung Hercules lho, NO NO NO, kalau yg berotot gitu malah ngeri). Berawal dari Pearl Harbor itu aku jadi keranjingan nonton war movies dan aku jadi ngefans banget sama Josh Hartnett.

Josh Hartnett

Nah, saat SMA tuh ya (mulai kelas 2 kalau nggak salah), aku mulai deh ngefans-ngefans sama mas-mas anggota polisi baru yang kantornya di deket SMA dulu. Ada 1 sih yang unyuuuuu banget sampai sekarang dia masih bertugas di kantor yang sama. Orangnya itu ganteng, badannya tinggi, putih, dan senyumnya itu lho MAUUUTTTTT!!! *brb, mau pingsan dulu*. Waktu aku masih SMA sih dianya masih polisi baru gitu deh. Kan kalau polisi baru biasanya suruh tugas di perempatan jalan buat bantu ngatur lalulintas. Jadinya tiap hari ketemu dia, kyaaaa!!! *mimisan*. FYI, aku masih sering ketemu mas polisi itu lho, bahkan sampai tahun 2013 ini. Kalau sekarang sih dia udah nyebutnya bapak ya, soalnya di jari manisnya udah ada cincin emasnya alias udah nikah. *brb, mau nangis dulu di bawah shower*. Jadi sewaktu SMA yang namanya lelaki keren di mataku adalah cowok bersenjata *gahar kan!! LOL*

Saat kuliah awal. Well, tipe lelaki keren menurutku sih masih sekitar lelaki bersenjata. Hanya saja waktu tahun 2008 kan sudah booming tuh yang namanya FB, Youtube, Internet, dll. Dan akupun terpengaruh dengan yang namanya penyanyi di Youtube. Well, penyanyi lakik yang nyanyi pakai gitar atau piano itu menurutku keren banget. Sumpah, menurutku mereka itu tipe lelaki yang multitalented dan yang jelas mereka itu smart. Aku memang suka sama cowok yang cerdas. Kalau cowok ganteng tapi nggak cerdas ya sama aja dong. LOL. Semakin kesini semakin mulai mencari-cari tipe laki-laki keren yang lebih jauh. Memanfaatkan hobi tentu saja, yaitu nonton bola. Kalau dulu nonton bola itu yang dilihat jalannya pertandingan dan teknik permainan, kalau sekarang yang dilihat pemainnya. Sampai dicatetin lho siapa-siapa aja yang ganteng terus dikepoin deh, LOL. Gegara itu terus jadi mikir, pengen punya suami orang bule, tapi harus yang berdarah Latin *ditampol sendal, sadar Yas!! Sadar!!* Iya, orang latin terutama lelakinya itu punya kekhasan tersendiri lho. Kalau bingung, lihat aja para lelaki dari Argentina, Mexico, Puerto Rico, Spanyol, Italia, dll. Ditambah lagi, lelaki keren itu punya brewok tipis dan berbulu. Ini aku jujur lho, lelaki yang punya bulu banyak di tangan, kaki, dan juga brewok itu menurutku seksi, LOL. Tapi jangan kira yang kayak Rhoma Irama lho. Enggak! Bukan yang begitu. Yang aku maksud tuh lelaki macam Bradley Cooper, Channing Tatum, Cesc Fabregas, Iker Casillas, Michalis Sifakis, dll *googling aja ya kalau bingung*. Jadi pada saat kuliah laki-laki keren menurutku adalah kombinasi antara ganteng, bermata tajam, berbulu *jangan ketawa* berbadan tegap, bersuara sedikit berat, rapi, bersih, multitalenta, dan cerdas. Udah gitu aja. Sampai sekarang sih masih begitu. Entah ya, aku pikir lelaki yang berbadan tinggi, tegap, dan rambutnya rapi itu semacam keren banget dan pasti bisa melindungi. Ya kali Yas, pacaran aja sono sama bodyguard, LOL.

Unfortunately, susah juga sih kalau pengen punya pasangan tapi masih ngejar yang namanya perfection. Nobody's perfect. Lebih baik jalani aja apa yang ada siapapun lelaki yang sama kita sekarang, he is the only one who is completely perfect for us. Punya kriteria dan selera itu sah-sah aja, asalkan jangan malah jadi penghalang untuk menjalin hubungan. *ngomong sama kaca*. Sekian.



~Hug & Kiss~
xoxoxo



Monday, April 22, 2013

Sekilas Tentang Trevor Holmes

Ceritanya tadi sih mau posting soal "fenomena aneh" tapi aku pending dulu, aku masukin ke draft dulu aja. Kenapa? Soalnya ada yang lebih HOT *sorry sengaja kepencet caps lock* yang perlu dishare di sini. Ini tentang new talented idol, namanya Trevor Holmes. Nggak usah tanya apa doi cucunya Sherlock Holmes atau keponakannya Katie Holmes. Yang jelas sih bukan. Doi itu singer. Aku "nemuin" doi pas lagi nyari-nyari video Tiffany Alvord. Jadi doi duet nyanyi sama Tiffany. Mereka cover lagunya P!nk ft Nate Ruess-Just Give Me a Reason. Pertama lihat sih langsung penasaran sama Trevor. Kenapa? Karena charming as hell. LOL. Suaranya juga termasuk oke punya, sesuai dengan seleraku *kayak ind*me aja*. Aku emang suka sih sama suara cowok yang cenderung serak saat nyanyi. Soalnya HOT & SEXY gitu. Ngomong-ngomong soal Trevor Holmes, mendingan lihat videonya aja yuk.


Mulai dari video duetnya dengan Tiffany Alvord, aku jadi kepo sama video-video Trevor Holmes. Ternyata doi punya beberapa lagu original lho. Nah, ini dia beberapa videonya yang keren menurutku.

 



Untuk video yang lain, buka Youtube aja yah,, hehehe (anyway, doi punya lagu original yang judulnya The Instagram Love Song lho, judulnya unik, hahaha). Support doi yuk biar jadi singer dan songwriter yang lebih yahud dan tentunya terkenal :) Subscribe atau share video/link doi boleh banget.


NB: Postingan ini bukan bentuk promosi berbayar, murni ikhlas luar dalam deh buat Trevor Holmes, hahahha :)




~Hug & Kiss~
xoxoxo



Wednesday, April 17, 2013

Sedikit Cerita Soal Mimpi (Part 2)

Menyambung post yang sebelumnya, disini aku mau menceritakan ulang tentang mimpiku. Masih dengan kemunculan orang yang sama. Tapi sayangnya di mimpi yang kedua ini, sedikit kurang jelas alur mimpinya (banyak scene yang aku lupa saat bangun) dan lebih singkat isinya. O ya, mimpi ini aku alami tadi, Rabu tanggal 17 Maret 2013. Jadi, tadi sore aku tidur jam 7 malam, tepatnya ketiduran. Selama aku tidur tadi aku mimpi dan lagi-lagi muncul si mas yang berkumis tipis yang juga muncul di mimpiku tertanggal 16 Maret 2013. Ada kecenderungan rasa ingin bertemu lagi (mungkin spekulasinya begitu) jadi si mas itu muncul lagi.

Ceritanya begini. Dalam mimpi ini, aku tidak begitu ingat settingnya dimana. Yang jelas aku ingat adalah bahwa aku sedang menuju suatu tempat dengan teman-temanku. Disitu campuran sih, maksudnya ada teman kuliahku ada teman SMA ada pula teman SDku dulu. Kami beramai-ramai pergi ke suatu tempat. Samar-samar yang aku ingat sih semacam pasar malam atau apa ya. Pokoknya tempatnya ramai dan ada banyak lampu-lampunya. Di sana kami ngobrol, makan, dan bercandaan. Nah, temanku yang bareng sama aku di mimpi pertama juga ikut lho. Kita asik-asik ngobrol tuh. Si teman ku yang cewek itu sibuk godain aku. Katanya si mas itu naksir aku lah, apa lah. Aku sih seneng-seneng aja. Hahahaha. Anyway, aku nggak tahu itu si mas namanya siapa karena emang nggak sempet kenalan di mimpi pertama. 

Setelah puas ngobrol sana sini dan makan ini itu, kami beramai-ramai melanjutkan jalan-jalan kami malam itu. Aku dan teman-temanku mampir kesini dan kesitu. Ada beberapa stand yang kami kunjungi. Nah, saat-saat paling dramatis ada disini. Ketika aku dan teman-temanku berada di keramaian di sebuah stand, nggak sengaja aku melihat ke samping. Nah di kejauhan aku melihat seseorang yang sepertinya aku pernah lihat sebelumnya. Dia memakai kaus biru muda dan terlihat begitu rapi tapi easy (maksudnya bukan rapi jali kayak mau ke kantor gitu lah). Dia juga sedang melihat ke arahku. FYI, kalau mau membayangkan, adegan ini hampir kayak iklan pasta gigi Cl*se-Up yang settingnya di pasar terus si cowoknya niup gelembung sabun itu. Dalam hitungan sepersekian detik, dia tersenyum dan berusaha menghampiriku. 

Sesaat kemudian dia sudah berdiri di sampingku berdiri. Iya aku emang sengaja nungguin dia dengan tetap berdiri di situ. Dia kemudian mengajakku ngobrol sambil berjalan. Tapi bodohnya, aku nggak minta kenalan seolah-olah aku memang sudah kenal dengannya. Entah apa yang menjadi topik obrolanku dengan dia. Yang jelas, kami asik berdua mengobrol. Cuma sebentar sih tapi aku sempat tanya kenapa dia ada di tempat itu. Dia cuma jawab gini, "Selama ini aku ngikutin kamu kok. Aku tahu kalau kamu mau kesini, makanya aku juga kesini." Agak merinding sih pas tahu dia jawab gitu :| Setelah itu aku terbangun, melihat jam sudah sekitar jam 9 lewat.

Itu cerita di mimpi yang kedua dengan kemunculan orang yang sama yang lagi-lagi hanya ada di akhir cerita. Sudah beberapa kali sih aku mimpi bertemu dengan orang asing dan dia biasanya muncul lebih dari sekali di mimpi yang berbeda-beda. Kebanyakan sih cowok. Nggak tahu juga sih, mungkin, karena aku rindu belaian lelaki, karena aku kebanyakan nonton film atau kebanyakan mandangin mas-mas ganteng. Aku juga nggak tahu :) Mungkin ada pembaca yang bisa membantu menjelaskan??? I will appreciate that, really.



~Hug & Kiss~
xoxoxo


 

Sedikit Cerita Soal Mimpi (Part 1)

"Mas, kamu kok muncul berturut-turut di mimpiku sih?"
"Mas, kamu sebenernya siapa? Jujur, aku nggak kenal siapa kamu."

Di sini aku mau sedikit berbagi cerita soal mimpi. Ya, hampir tiap malam aku mimpi. Udah beberapa bulan ini, mimpiku jelas banget sampai bangunpun aku masih ingat dengan isinya meskipun tidak secara detail. Agak aneh sih, tapi dalam dua mimpi yang berbeda, muncul orang yang sama. Sejujurnya aku belum pernah mempelajari mimpi dari ilmu psikologi. Tapi aku pernah baca (lupa, entah buku atau di internet) kalau mimpi itu hanya berkisar pada kemunculan orang-orang yang kita pernah lihat atau kita kenal. Sedangkan untuk backgroundnya, biasanya merupakan akumulasi tempat yang pernah kita lihat, pernah kita tempati, atau pernah muncul dalam imajinasi kita.

Oke, back to the topic. Aku akan menceritakan isi mimpi yang pertama. Mimpi ini aku alami pada malam menjelang pagi. Tepatnya saat aku tidur di hari Senin tanggal 15 April 2013. Eh, enggak ding, kan aku tidur mulai jam 2 pagi, berarti terhitung hari Selasa tanggal 16 April ya. Pada mimpi itu (bagian paling jelasnya aja ya) aku pergi naik motor berboncengan sama seseorang. Yang aku bonceng itu 'sepertinya' temanku, seorang perempuan. Aku sendiri merasakan kedekatan emosi dengannya tapi jujur, aku nggak kenal siapa perempuan itu. Nah, saat naik motor aku berada di depan (yang pegang kemudi). Saat melewati sebuah jalan (aku sih kenal jalan itu), ternyata jalannya sedang ada perbaikan. Otomatis harus pindah jalur kalau mau tetap lewat jalan itu. Aku ikut pindah jalur dengan mengikuti beberapa motor di depanku. Beberapa ratus meter kemudian, satu persatu motor yang ada di depanku mengikuti jalan yang berbeda, tapi aku tidak. Aku tetap mengikuti jalan utama yang semakin jauh semakin nggak karuan bentuknya. Jalannya berubah menjadi jalan tanah yang berbatu dan sempit. Akhirnya aku ketemu sama dua orang polisi yang sudah agak tua berdiri di sisi jalan. Mereka bilang kalau jalan di depan jalan buntu. Mereka suruh aku putar balik. Aku juga bingung ngapain ada polisi disitu?? Itu kan jalan kampung.

Akhirnya aku dan temanku tadi putar balik. Ternyata kami sudah melewati jalan yang cukup jauh. Akhirnya, kami malah nyasar di perkampungan warga. Entahlah, tapi tempat itu begitu menyenangkan. Hawanya dingin dan tempatnya rindang karena banyak pepohonan. Lalu kami putuskan untuk mampir di rumah salah satu penduduk karena hari sudah agak sore dan kami kehausan. Mampirlah kami di salah satu rumah yang cukup besar. Rumah tersebut bercat putih sementara pintu dan jendelanya bercat cokelat tua. Sesaat setelah kami mengetuk pintu, keluarlah si empunya rumah. Seorang bapak-bapak bertubuh sedang dan berperawakan agak gemuk. Si bapak waktu itu hanya mengenakan kain sarung dan kaos singlet warna putih. Tak seberapa lama muncul si ibu yang mengenakan daster batik dengan warna dasar coklat kehijauan. Mereka kemudian mempersilakan kami masuk. Di rumah yang besar itu suasananya cukup sepi. Aku sempat bertanya-tanya apakah mereka tidak punya anak, soalnya sepi banget. Di dalam rumah itu kami dipersilakan beristirahat dan diberi minum segelas air putih. Setelah itu, aku pamit untuk ke kamar mandi. 

Setelah aku keluar dari kamar mandi, ternyata di luar sudah mulai gelap. Anehnya, kok ini rumah jadi agak ramai ya. Aku pun mencari temanku tadi di ruang depan. Ternyata di dalam rumah itu sedang ada tamu. Temanku tadi malah berdiri di dekat pintu (dari dalam rumah menuju ruang tamu). Bertanyalah aku pada temanku, "Ada apa sih?" Si temanku tadi hanya menjawab, "Ada tamu. 2 orang." Ya sudah aku pikir, soalnya bukan urusanku juga. Tapi terpaksa aku harus nunggu tamu-tamu itu pergi, masa iya mau pamit pulang pas tuan rumah lagi kedatangan tamu, nggak sopan kan. Akhirnya aku dan temanku menunggu sambil duduk-duduk di belakang rumah. Di belakang rumah itu ada semacam sungai besar tapi sudah mengering. Jadinya malah terlihat seperti track off road gitu. Tak lama kami duduk di sana, si ibu mendatangi kami dan memanggil kami untuk makan bersama. Tapi waktu itu aku menolak, aku bilang kalau harus pulang. Si ibu mengijinkan. Tapi dia bilang kalau jalan yang harus kami lewati agak rusak dan medannya berat (padahal tadi pas jalan masuk ke kampung ini, jalannya fine-fine aja lho). Mungkin karena melihat raut mukaku yang sedikit kaget, si ibu tadi menawarkan seseorang yang bisa mengantar kami sampai ke jalan raya di luar kampung. Akupun setuju.

Aku dan temanku segera mengambil tas dan jaket kami. Kemudian kami keluar. Saat keluar kami melewati ruang tamu dan aku berpapasan dengan orang yang tadi bertamu di rumah si bapak dan ibu. Tamunya memang 2 orang. Laki-laki semua. Mereka berseragam cokelat dengan lengan yang digulung rapi (nggak usah sebutin ya profesi mereka, pasti udah pada tahu kok, hihihi). Secara nggak sengaja, aku berpapasan pandang dengan salah satu dari kedua orang itu. Yang aku lihat, dia itu charming banget. Badannya tinggi, tegap, berisi, dan dia punya segurat kumis tipis. Alisnya tebal dan kulitnya sawo matang. Dia tersenyum dan aku jadi salting. Si ibu yang berjalan di belakang kami kemudian mengatakan bahwa dua orang itu yang akan mengantar kami sampai ke jalan raya. Si ibu itu juga menjelaskan kalau dua laki-laki itu adalah teman anaknya. Tapi aku nggak tanya sih anaknya si ibu dimana, nggak penting. Hahaha. Akhirnya sambil malu-malu aku mau dianter sama mereka, terutama sama si mas berkumis tipis itu (dia tuh ya, ngliatin aku terus lho, sambil senyum-senyum gitu, ahhh). Sayangnya adegan mimpi ini berakhir pas aku mau naik motor pulang meninggalkan rumah itu. Hikss!!

Itu adalah kemunculan si mas di mimpi yang pertama. Tapi aku nggak tau juga ya dia itu siapa. Yang aku nyesel, kenapa dia munculnya belakangan. Mana adegannya cuma sedikit pula, keburu bangun kan. :(

-mimpi kedua aku sambung di post selanjutnya-




~Hug & Kiss~
xoxoxo




Wednesday, March 6, 2013

Oriflame Architect Antiperspirant Deodorant Spray

Hallo blogger!!
Kali ini aku mau ngasih review produk Oriflame yang berbentuk antiperspirant deodorant spray. Ada banyak produk antiperspirant deodorant spray dari Oriflame salah satunya adalah Architect Antiperspirant Deodorant Spray. Produk ini merupakan padanan dari Architect Eau de Toilette yang juga diproduksi dan dijual di Oriflame. Bentuknya seperti ini nih!


Sebenarnya produk ini aku beli buat adekku, ya iyalah, kan ini produk buat cowok. Hehehe. Awalnya sih aku yang beliin soalnya body spray punya dia udah habis. Dia biasanya pake Axe. Karena bulan Februari kemarin ada promo murah meriah khusus member, jadi aku beli produk ini. Menurut referensi dari Oriflame, wangi yang terdapat dalam produk ini 11:12 lah sama wangi parfum padanannya yaitu Architect Eau de Toilette. Wanginya adalah perpaduan dari blue hemlock, sequoia wood, dan tobacco. Isinya 150ml dan diklaim tidak meninggalkan bekas putih di baju (non-whitening).

Tuesday, February 19, 2013

I Knew You Were Trouble (My Story)

"No apologies
He'll never see you cry
Pretend he doesn't know
That he's the reason why
You're drowning, you're drowning, you're drowning"

Sepenggal lirik dari lagu Taylor Swift ~I Knew You Were Trouble~ benar-benar smashes me on my face. Semacam membuka luka lama yang benar-benar suck!! Ya, lagu itu sangat pantas sepertinya untuk ditujukan pada seseorang diluar sana yang sudah mempermalukan sekaligus menyakiti hatiku. Ya!! I remember that person as hell. Nggak perlu sebut nama lah ya. Intinya, dia -cowok itu- sudah dengan heartless nya mempermainkan aku. Mungkin memang awalnya aku yang salah dan aku yang bodoh. Tapi selama beberapa bulan memang hubunganku dan dia baik dan semakin baik. Dari dekat menjadi semakin dekat. Sampai suatu hari dia tiba-tiba menghilang setelah beberapa hari sebelumnya sempat bertemu dan makan bersama. Alasan dia menghilang adalah bahwa ada cewek yang cemburu akan hubunganku dengan dia. Saat aku tanya, dia tidak mengakui kalau cewek itu adalah ceweknya. Tapi saat aku tanya teman kos nya, cewek itu adalah ceweknya. Aku semakin bingung dan semakin hilang arah. Suatu saat aku mendesak dia supaya mempertemukan aku dengan cewek itu dan berharap semua kesalahpahaman itu terselesaikan. Tapi apa, dia malah lagi-lagi menghilang. Dasar sialan!!! I'm really sorry but I once ever prayed for your bad. I only want you to feel what I so damn felt that time someday. Akhirnya, penyelesaian dari semua ini hanya pertemuan singkat tanpa ada pembahasan yang serius. Sebenarnya aku malu, aku malu karena aku disangka cewek nggak tahu malu yang mendekati pacar orang. Gee!! Aku bahkan tidak tahu sama sekali kalau dia sedang menjalin hubungan dengan seorang cewek ketika dia juga mendekatiku dan mengucapkan sejuta kata sayang padaku di setiap teleponnya. Bagaimana tidak menjengkelkan, setiap malam selama beberapa bulan dia selalu telepon. Bodohnya aku selalu excited dengan apa yang dia katakan. Entah sihir apa yang dia gunakan. Untung saja aku cepat sadar. Satu yang pasti, aku tidak mau dan tidak akan pernah mau mengenal dia lagi.

Saturday, November 3, 2012

Aku, Piano, dan Secarik Kertas Merah Jambu

Aku meremas-remas secarik kertas berwarna pink itu. Ya, kertas itu memang bukan kertas sembarangan. Aku menerimanya beberapa jam yang lalu. Awal mulanya, kertas itu terlipat rapi dan terbungkus sebuah amplop berwarna marun. Aku bukannya tak sengaja ingin menghancurkan lembaran kertas itu. Aku sengaja, memang sengaja!! Asal kau tahu, hatiku hancur! Benar-benar hancur!
***
"Lopas!!" Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Sialan!
"Apa sih?? Ganggu orang aja!" Aku membentaknya. Dia, namanya Dena, cewekku. 
"Lopas, temenin gue makan yuk, laper nih." Dia menarik-narik tanganku. 
"Sorry Na, gue lagi kerja, lo nggak liat apa?" aku membentaknya lagi, kali ini aku memang sedikit kesal.
"Gue liat lo cuman bengong, mana ada lagi kerja!" Dena menatapku sewot. Akhirnya aku mengalah. Aku menggeser kursi dimana aku duduk tadi, di depan sebuah piano tua milik ayahku.
"Mau makan dimana Na? Nggak usah jauh-jauh ya, gue masih harus nyelesein garapan lagu baru gue."
Dena mengangguk. "Di rumah makan Padang aja ya Pas, gue lagi pengen makan nasi sama terong balado."
Aku mengiyakan sembari menarik ritsleting jaketku. 

Aku dan Dena menyantap makanan di piring kami masing-masing. Dena sedari tadi tidak bisa diam. Dia mengoceh kesana kemari. Sejak pertama kenal dia memang hobi ngoceh. Jauh berbeda denganku, aku lebih pendiam dan jarang bicara. Aku merasa kalau banyak bicara itu nggak penting. Tapi beda dengan Dena, dia memang tidak bisa berhenti bicara. Aku juga nggak tahu kenapa dulu aku memilih untuk jatuh cinta dengannya. Yang aku tahu hanya karena Dena itu mirip dengan mantan pacarku sewaktu kuliah dulu. Ya, aku dulu pacaran dengan seorang cewek yang punya kemiripan dengan Dena, pacarku sekarang. Cewekku dulu bernama Liana. Liana memang mirip dengan Dena. Ukuran tubuhnya yang tinggi dan berperawakan ramping, rambutnya yang dipotong bob dengan poni. Liana banyak berbicara, sama seperti Dena. Hanya saja, aku pikir, Liana lebih cerdas dibanding dengan Dena. Tapi dia hanya masa lalu. Masa dimana aku melakukan kesalahan yang amat bodoh. Ahh Liana!

"Lopas, lo napa sih? Bengong mulu? Kayak gue disini nggak dianggep aja." Dena mulai sewot lagi.
"Sorry Na, gue kepikiran kerjaan nih. Musti cepet kelar soalnya. Lo tau kan, instrumen itu harus jadi dua minggu lagi." Aku sedikit berkilah. Dan Dena percaya.
"Oke deh, kalau soal kerjaan, gue ngalah Pas." Dena beranjak, dia sudah selesai makan, sedangkan nasi Padangku baru aku makan dua sendok. Ah, aku tak lagi bernafsu untuk makan.
***
Akhirnya aku menyelesaikan instrumen lagu ini. Lagu ini adalah lagu buatanku sendiri. Hanya saja, pihak penyelenggara hanya membutuhkan instrumennya saja. Aku memang punya pekerjaan sebagai pembuat instrumen dan penulis lagu. Aku bekerja lepas dan kadang bekerja sama dengan beberapa panitia pertunjukan. Kali ini, aku membuat instrumen untuk soundtrack dari sebuah pertunjukan drama musikal. Drama musikal kali ini memang tidak sembarangan, drama musikal ini dibuat oleh mahasiwa-mahasiswa di almamaterku. Dan saat hari H nanti, akulah yang bertugas untuk memainkan instrumen yang aku buat. Aku membayangkan hal ini akan jadi momen yang luar biasa, karena beberapa alumnus akan datang. Termasuk Liana, aku harap begitu.
***
Besok adalah gladi resik pentas drama musikal di universitasku. Tinggal dua hari lagi, pentas besar menyambut Dies Natalis Universitas akan diadakan. Aku jadi tak sabar. Aku bukannya tak sabar untuk memainkan piano di hadapan semua penonton, bukannya tak sabar untuk mendengar gemuruh applause yang bergema sesaat setelah penampilanku. Bukan! Aku tak sabar untuk melihat Liana. Melihat seperti apa dirinya, setelah hampir dua tahun tak lagi bertemu denganku. Ah Liana!
***
Hari yang aku tunggu pun tiba. Aku berdandan seperti layaknya pianis profesional, meski bermain piano dan membuat lagu hanyalah hobiku saja. Dulu mediang ayahku yang mengajarkannya padaku. Ayahku adalah seorang pianis dan pencipta lagu. Bahkan beliau  memberikan nama Lopas pada anak satu-satunya karena nama ini sama dengan nama guru musiknya dulu waktu bersekolah di Jerman. 
"Pas, main yang bagus ya! Gue bakal dokumentasiin." Dena menemuiku di belakang panggung. Wajahnya terlihat sangat antusias. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dalam hati aku terus mengucapkan kata maaf pada Dena, karena aku kali ini ingin bermain piano untuk Liana. Bukan untuk Dena seperti biasanya.
***
"Plokk plokk plokk plokk!!" Gemuruh tepuk tangan dari penonton menggema di auditorium kampus. Pertunjukkan sudah selesai dengan sangat sempurna. Aku pun sukses menutup pentas malam itu dengan permainan pianoku yang apik. Aku berdiri berjajar bersama dengan seluruh aktris, aktor, dan kru pertunjukan malam itu. Mataku sibuk mengamati bangku penonton satu persatu. 'Mana Liana?' batinku. Yang kulihat hanya Dena yang melambai-lambai ke arahku. Aku tak peduli. Pandangan mataku kembali menyusuri tiap baris di bangku penonton, tapi nihil. Liana tak ada. Padahal jelas-jelas aku lihat namanya tertulis dalam buku tamu.

Seusai acara, aku lalu menuju belakang gedung auditorium. Aku memantik korek api ke arah batang rokok yang aku jepit diantara kedua bibirku. Aku duduk sejenak di dekat auditorium, merokok. Angin malam berhembus, memainkan rambutku yang sudah agak panjang. Dinginnya malam membuatku ingin segera beranjak dari lokasi itu. Aku berdiri sejenak, memperhatikan seseorang yang berjalan ke arahku. Dena? Oh bukan, itu bukan Dena, rambut Dena tak sepanjang itu. Itu...
"Liana!" Aku berseru ke arah wanita yang sedang berjalan ke arahku. Wajahku berseri-seri melihat bahwa Liana menghampiriku.
"Hai Pas." Dia tampak tak begitu antusias menyambutku. Garing rasanya.
"Apa kabar Na?" Aku memperhatikan Liana dengan seksama. Dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Baik Pas," dia masih menunduk, "Penampilan kamu bagus."
"Ahh, makasih Na." 

Kami akhirnya memilih untuk duduk di bangku taman yang agak jauh dari auditorium. Aku sengaja memilih tempat yang sepi, agar Dena tidak mudah menemukanku. Aku berharap Dena masih sibuk dengan apapun itu. Handphone pun aku matikan, aku tak mau Dena mengganggu momenku bersama Liana.
"Pas, emmm ..." Liana tampak gelisah. Dia meremas-remas tangannya sendiri. 
"Kenapa Na? Kok kayaknya gelisah gitu?"
"Pas, aku pikir, kita benar-benar sudah berakhir. Kamu juga mikir begitu kan?"
Aku terdiam. Aku tak bisa menjawab. Pada dasarnya aku masih mencintai Liana. Demi apa aku masih sangat mencintainya.
"Aku pikir nggak gitu Na. Aku ... aku ... aku masih ..."
"Nggak Pas, kita emang udah selesai!" Suara Liana bergetar, aku tahu dia sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Na." Aku mengulurkan tanganku, tapi ditampiknya.
"Pas, aku akan segera menikah!" Liana menatapku penuh airmata. "Aku akan menikah minggu depan Pas!"
Deg!!! Jantungku serasa berhenti, nafasku tercekat. Aku tak bisa berkata-kata.
"Pas, sebulan lalu aku tahu kalau kamu sudah punya kekasih lagi, makanya aku pikir waktu itu saat yang tepat untuk menerima lamaran Jody. Aku nggak bisa Pas kalau harus menunggumu yang tak punya kepastian! Menunggumu yang lari dari tanggung jawab!"
Aku masih terdiam, aku tidak tahu harus berkata apalagi di hadapan Liana. Aku memang salah dan aku memang pria terbodoh yang pernah ada.
"Pas, aku harus pulang sekarang, Jody sudah menungguku di parkiran. Aku harap kamu bisa datang ya, aku harap kamu bisa datang dan bertemu dengan Niko." Liana berjalan meninggalkanku bersama sebuah amplop berwarna marun.
***
Dua tahun yang lalu...
"Liana, aku mau menikahi kamu. Tapi tidak sekarang Na! Aku belum siap apa-apa!" Aku menggenggam tangan Liana yang terasa dingin dan pucat.
"Pas, lalu aku harus bagaimana? Perutku akan bertambah besar dan semua orang akan tahu kalau aku hamil!!" Liana menangis dihadapanku. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Aku tak bisa melihat kenyataan bahwa pacarku sedang mengandung anakku.
"Na, kalau kamu gugurkan saja bagaimana? Kandungan kamu masih muda, masih dua bulan. Pasti masih bisa digugurkan."
"Enggak Pas! Enggak akan! Aku nggak akan membunuh anakku sendiri!" Liana menangis semakin keras. Aku sudah gelap mata. Aku pun berlari meninggalkannya. Meninggalkannya sendiri menangis di ujung taman tempat paling favorit kami berdua.
***
Selama satu setengah tahun aku menetap di Jerman. Aku tinggal di rumah warisan ayahku disana yang ditempati oleh adik ayahku semenjak ayahku meninggal. Di Jerman juga aku bertemu dengan Dena, yang aku anggap sangat mirip dengan Liana. Aku mencoba menebus rasa bersalahku pada Liana melalui Dena. Aku pun memacarinya, dan selalu memainkan lagu-lagu buatanku dengan piano usang milik ayahku ini. Aku melakukan apa yang dulu disukai oleh Liana. Ketika pulang ke Indonesia bersama Dena, aku mencoba mencari Liana, tapi tak ketemu karena dia sudah pindah rumah bersama keluarganya entah kemana. Aku jadi semakin merasa berdosa padanya. Jangan-jangan dia pindah karena aku, karena perbuatanku. Liana pasti sangat malu dan tertekan menjadi ibu dari anak yang ayahnya tidak mau bertanggung jawab.
***
Beberapa bulan aku berada di Indonesia, aku mendapati Liana mengirimkan beberapa foto seorang anak laki-laki berambut ikal. Aku melihat matanya, mirip dengan mataku. Di balik salah satu foto itu, aku menemukan tulisan, Nikolas Armando Lopas -7 Juli 2011-. Aku menangis tanpa suara. Aku mendekap foto-foto Niko, anakku. Aku ingin menemuinya tapi aku tak tahu dimana aku bisa menemuinya. Aku membolak-balik amplop itu. Tak ada alamat, sialnya amplop itu dikirimkan melalui jasa kurir tembak atau kurir tidak resmi. Hanya ada sebaris tulisan di balik amplop itu. 'Kita harus bertemu setelah acara Dies Natalis Universitas, Liana'.

Malam ini aku benar-benar bertemu dengan Liana. Wanita yang paling aku cintai seumur hidupku. Harusnya aku bahagia karena dia masih sudi menemuiku, melihat wajahku, dan mendengar suaraku. Tapi kenyataanya, hatiku hancur oleh sebuah amplop berwarna marun yang dia berikan padaku. Dia akan menikah dengan Jody. Jody yang juga teman sekampusku dulu, Jody yang juga adalah temanku sejak kecil, yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Keparat!! Tapi apa boleh buat, ini salahku sendiri. Kebodohanku sendiri. Aku janji Liana, aku akan datang ke pernikahanmu. Aku akan datang, menemui Niko, darah dagingku. Aku berjanji Liana! Aku tak akan mengingkarinya lagi! Aku tak akan melarikan diri lagi! Aku tak akan mengecewakanmu lagi! Aku janji Liana! Aku janji Niko!


image was taken from here




Tyas
-Inspired from Piano Instrumental on Winamp playlist-

Friday, October 28, 2011

Cutest Males Ever :)

Wawawa... galau galau enaknya mandangin nih manusia manusia ganteng dan manis :))


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net