Showing posts with label Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fiction. Show all posts

Thursday, November 14, 2013

Book Review: Witch Song

Judul: Witch Song
Judul Bahasa Indonesia: Nyanyian Sang Penyihir Terakhir
Penulis: Amber Argyle
Penerbit: Atria
Cetakan: I/Juli 2012
Harga: Rp64.900 (disc 20% jadi Rp51.920)
Beli di: Togamas, Jogja
Cover:
source: website penerbit Atria

Brusenna adalah anak dari seorang penyihir wanita bernama Sacra. Mereka berdua tinggal terasing di tepi hutan di sebuah desa di wilayah Gonstower di negara Nefalie. Penduduk desa tidak menyukai mereka karena para penduduk tahu bahwa Brusenna dan ibunya adalah kaum penyihir. Pada suatu hari, ketika Brusenna tengah dianiaya oleh seorang pedagang di pasar, datang seorang wanita yang menyelamatkannya dan meminta Brusenna untuk membawanya pada Sacra, ibunya. Dengan was-was Brusenna akhirnya membawa wanita yang diketahui bernama Coyel itu pulang menemui ibunya. Coyel datang membawa kabar yang kurang mengenakkan tentang serangan Penyihir Kegelapan, Espen, kepada para Penjaga (Penyihir penjaga keseimbangan alam). Sejak kedatangan Coyel, sang ibu menjadi berbeda. Dia menjadi lebih waspada dan terkesan menutupi sesuatu. Akhirnya, pada suatu malam, Brusenna sengaja membuntuti ibunya yang tengah berdiri di dalam lingkaran penyihir di tengah ladang. Sacra sang ibu bernyanyi memanggil angin dan mengucapkan beberapa kalimat yang Brusenna sendiri kurang paham maksudnya. Di pagi harinya, sang ibu memanggil Brusenna. Sacra kemudian menunjukkan beberapa simpanan koin emas dan buku sihir kuno, serta memberikan Brusenna sepucuk surat. Hari berikutnya, Sacra pergi meninggalkan Brusenna seorang diri di rumah untuk ke Suaka menyusul Coyel yang terlebih dahulu pergi kesana.

Brusenna yang ditemani anjing setianya, Bruke, memulai petualangan baru tanpa ibunya lagi. Padahal, Brusenna yang kemudian mengganti namanya menjadi Senna terbilang sangat amatir dalam bidang sihir. Dia hanya hafal beberapa lantunan lagu penyihir saja karena Sacra memang jarang mengajarinya sihir untuk melindungi diri Senna sendiri. Sesuai surat dari ibunya, Senna kemudian menyusul sang ibu menuju Suaka, tempat yang sama sekali asing di benaknya. Selama berpetualang mencari Suaka, Senna terus-terusan mendapat masalah dari Wardof dan Garg yang terus mengejarnya. Ya, Wardof dan Garg adalah pelayan Espen yang ditugaskan untuk menangkap bahkan membunuh Senna. Dibantu oleh "Pengawal" amatiran, Joshen, Senna dan Bruke pun memulai perjalanan panjang mencari Suaka yang ternyata terletak di sebuah pulau di tengah samudera. Medan yang dilalui semakin sulit karena kekuatan sihir Espen yang telah merusak keseimbangan alam. Di sisi lain negara Nefalie terjadi kekeringan dahsyat, sedangkan di perairan kabut tebal serta hujan tak pernah sirna. 

Berbekal tekad dan kemampuannya, Senna, Bruke dan Joshen akhirnya sampai juga di Suaka, disambut oleh seekor makhuk setengah katak setengah manusia yang bernama Pogg. Dari Pogg, Senna mengetahui bahwa dialah sang Penyihir Terakhir, dimana semua Penjaga telah dikalahkan oleh Espen, bahkan Sacra ibunya. Konflik semakin banyak terjadi antara Senna dan Joshen yang membuat Senna mengirim Joshen keluar dari Suaka dengan nyanyiannya. Namun pada akhirnya, Senna kembali menemui Joshen yang datang menjemputnya bersama Kapten Parknel, kapten kapal Penyihir Laut. Bersama dengan Joshen dan menumpang kapal Penyihir Laut, Senna pergi menuju sarang Espen di negara Tarten. Ternyata, segalanya tak semudah yang dibayangkan oleh Senna. Hampir semua penduduk Tarten membenci penyihir. Bahkan, petinggi Tarten mengerahkan ribuan prajurit bermantel merah untuk selalu waspada akan keberadaan penyihir. Mengetahui hal itu Senna harus semakin waspada untuk mencari jalan menuju sarang Espen. Untungnya, ada beberapa penduduk Tarten yang merupakan kawan penyihir. Mereka dengan senang hati membantu Senna dan Joshen menuju sarang Espen.

Akhirnya, Senna benar-benar bertemu dengan Espen, sang Penyihir Kegelapan. Pertarungan sengit antara keduanya pun dimulai. Senna yang merupakan penyihir muda amatiran (yang bahkan belum dinobatkan sebagai penyihir) harus melawan penyihir tingkat tinggi yang memiliki kekuatan nyanyian ratusan penyihir yang semula telah dikalahkannya. Namun, tekad dan kemampuan Senna serta nyanyiannya ternyata lebih dari apa yang dia ketahui sebelumnya. Senna berhasil memanggil Sang Pencipta yang terdiri dari 4 Saudari, yakni Sinar Matahari, Tanah, Air, dan Tumbuhan. Dengan bantuan 4 Saudari, Senna akhirnya mengalahkan Espen (dengan mengubahnya menjadi pohon dan mengambil nyanyiannya) dan menyelamatkan ratusan penyihir yang telah diubah menjadi pohon kemudian mengembalikan nyanyian mereka masing-masing. Klimaks dari novel ini tidak berhenti sampai disini. Senna dan sekitar 250 penyihir lainnya, tua dan muda, harus menghadapi ancaman baru di Tarten. Para prajurit yang jumlahnya ribuan bahkan puluhan ribu siap membunuh mereka. Pada akhirnya, mereka harus menggunakan strategi lain. Dan tentu saja, mantra yang sangat mengerikan harus dirapalkan.

Witch Song adalah novel debut Amber Argyle. Ceritanya sangat unik, menyentuh, dan nyata. Isi cerita di dalam novel ini tak kalah dengan berbagai cerita mengenai penyihir dan kekuatan magis lainnya. Apalagi, ditunjang dengan konflik-konflik baik internal maupun eksternal dalam diri sang tokoh utama, Brusenna. Novel ini juga menyingkap berbagai romansa antara Brusenna dengan Joshen, yang merupakan satu-satunya harapan Senna untuk terus hidup dan berjuang mengalahkan sang Penyihir Kegelapan. Disini, Amber Argyle juga menggambarkan penyihir dalam rupa yang lain. Biasanya penyihir digambarkan sebagai wanita dengan tubuh bongkok, dagu panjang, dan hidung bengkok seperti paruh, dalam novel ini penyihir digambarkan layaknya manusia biasa. Bahkan, penyihir disini tidak menggunakan tongkat sihir atau sapu terbang. Kekuatan mereka ada pada nyanyian mereka dan beberapa biji tanaman yang merupakan senjata mereka. Novel Witch Song ini memiliki 2 sekuel. Buku pertamanya adalah Witch Song, kemudian disusul dengan Witch Born, dan diakhiri dengan Witch Fall. Tapi sayangnya di Indonesia, buku keduanya belum juga terbit. Padahal aku sudah nggak sabar pengen baca sekuelnya.

Sekuel Witch Song:



~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, November 9, 2013

Book Review: Warped

Judul: Warped
Judul Bahasa Indonesia: Sang Penenun Kehidupan
Penulis: Maurissa Guibord
Penerbit: Atria (Indonesia)
Cetakan: I/Agustus 2012
Harga: Rp 50.000 (disc 15% jadi Rp42.500)
Beli di: Togamas, Jogja
Cover:

Cover versi Bahasa Indonesia
source: website penerbit Atria

Warped adalah karya pertama dari Maurissa Guibord. Novel ini secara keseluruhan mengambil dua setting waktu yang berbeda; masa kini dan masa lalu. Cerita dalam novel ini dimulai ketika seorang gadis kota pinggiran, Tessa Brody, bersama ayahnya, Jackson Brody, mengikuti sebuah lelang barang-barang antik. Ayah Tessa begitu menginginkan sepaket buku kuno namun tidak menyangka jika mereka juga akan mendapat bonus sebuah buku bersampul kulit bertajuk "Texo Vita" (Menenun Kehidupan) dan sebuah permadani kuno dengan sulaman Unicorn di tengah-tengahnya. Setelah membawa pulang hasil lelang, yang mana Ayah Tessa sempat menggerutu karena harganya yang terlalu mahal, Tessa mendapat bagian untuk menyimpan permadani kuno bergambar Unicorn tersebut. Sejak dia menyimpan permadani itu di dalam kamarnya, dia sering dihantui mimpi aneh tentang penyihir dan pangeran dan juga Unicorn dimana dirinya sendiri berperan sebagai gadis (perawan) desa. Selain mimpi aneh, Tessa juga mendapat bermacam pesan aneh dimana dia harus mengembalikan "benang" yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa maksudnya.

Tanpa sengaja, suatu malam Tessa menarik salah satu benang berwarna putih keperakan yang terlihat mencuat dari permadani tersebut. Ajaibnya, gambar Unicorn di tengah permadani hilang dengan sendirinya. Sebagai gantinya muncul sesosok pemuda tampan dengan pakaian kumal, aneh, compang-camping dan seperti berasal dari jaman kerajaan. Benar saja, sosok William de Chaucy, atau Will yang tiba-tiba muncul di hadapan Tessa adalah si Unicorn. Dia adalah anak bungsu dari Earl Umbric yang berkuasa di Hartescross, Cornwall, Inggris. Uniknya, Will tersebut datang dari masa lalu, sekitar tahun 1500an. Di sela-sela kebingungannya, Tessa kembali mendapat berbagai masalah. Mulai dari munculnya Lila Gerome yang mengaku sebagai pemilik permadani kuno dan buku "Texo Vita" yang menginginkan dua benda itu kembali padanya. Kemudian disusul dengan munculnya Norn bersaudari; Spyn, Weavyr, dan Scytha yang mengaku kehilangan beberapa benang kehidupan dan menuduh Tessa telah mencurinya.

Dibantu oleh sahabatnya Opal, Tessa kemudian mencari tahu banyak hal tentang Will, buku Texo Vita, dan juga permadani tersebut. Menurut informasi yang diperoleh dari Will, diketahui Lila Gerome adalah perwujudan dari Gray Lily, seorang penyihir dan juga seorang pemintal benang yang berasal dari Hartescross, yang mana telah berhasil menarik benang kehidupan Will dengan cincin batu amber miliknya dan menyimpannya di dalam permadani dalam bentuk seekor Unicorn berbulu putih dan bermata cokelat demi memperoleh kecantikan dan kehidupan abadi. Sejak saat itulah, Tessa berjuang mati-matian untuk melindungi Will dan benang kehidupannya. Namun, sayangnya, dia diantara dua pilihan sulit, antara melindungi nyawa Will atau mengembalikan ketujuh benang kehidupan yang dicuri dari Norn bersaudari demi mengembalikan susunan takdir (dalam untaian benang yang disebut Wyrd) yang terkoyak.

Klimaks dari cerita dalam novel ini adalah ketika Tessa masuk ke dalam permadani menyusul Will. Di dalam permadani yang adalah Hartescross buatan Gray Lily, Tessa harus berjuang melawan segala makluk buatan Gray Lily. Terutama, dia juga harus melawan Gray Lily demi menepati janjinya mengembalikan ke tujuh benang kehidupan yang dicuri kepada Norn bersaudari. Tapi sebagai konsekuensinya, Tessa juga harus rela mengembalikan benang kehidupan Will, pemuda yang kini dicintainya setengah mati, kepada Norn bersaudari karena Will ditakdirkan hidup 500 tahun sebelum masa Tessa.

Dalam novel ini, Tessa digambarkan sebagai gadis remaja yang pendiam dan cukup lemah. Dia bukan tipe gadis yang mudah mengambil keputusan, bahkan di saat-saat yang genting. Namun, justru karakter inilah yang membuat novel ini mengalir dengan sangat menggemaskan. Karakter Tessa yang terkesan "clumsy" juga memicu banyaknya adegan klimaks dan anti klimaks kecil sebelum adegan klimaks yang terakhir. Ending dari novel ini sedikit bisa ditebak, hanya saja tidak terlalu gamblang tertebak di tengah cerita.

Aku begitu menyukai novel ini dan cerita di dalamnya dimana menitikberatkan antara kepercayaan seorang individu terhadap takdir dan bagaimana dia mencoba merubah nasibnya sendiri meskipun takdir sudah tergariskan. Selain itu, cara penggambaran tokoh dan latar belakang terutama kota Hartescross sungguh mendetail. Namun sayangnya, novel ini terlalu banyak adegan klimaks dan anti klimaks kecil-kecil yang agak kurang menarik di sepanjang cerita, lagi pula menjelang klimaks terakhir adegannya agak garing. Pada intinya, novel ini sangat pas buat kamu yang suka imajinasi dan fantasi. Terutama yang menyukai dongeng tentang penyihir dan legenda Unicorn.


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, October 26, 2013

Weekend's Favorite: The Night Circus

Hi Blogger.
How was your weekend? Hehehe
Weekendku kali ini sedikit berbeda dari weekend-weekend yang sebelumnya. Kenapa? Karena aku punya beberapa novel baru untuk dibaca selama weekend. Hmm, sebenarnya, weekend pun aku juga kerja sih, soalnya kerjaan jadi content writer itu 6 hari kerja, bahkan kalau pas beruntung bisa 7 hari kerja dalam seminggu. Hahaha. Well, oke, nggak usah bahas kerjaan ya. Nah, jadi ceritanya, kemarin hari Kamis (24 Oktober 2013), aku ikut beberapa temenku nengokin Job Fair di salah satu kampus swasta di Jogja. Berhubung tidak ada satupun posisi kerja yang dipengen (ceilleeeehhh gaya banget jadi orang :p) jadi kami para ladies memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sembari menunggui para gentlemen yang sedang sibuk di beberapa stand Job Fair. 

Tujuannya tentu saja Galeria Mall (yang paling deket dengan lokasi Job Fair). Awalnya sih nggak ada niatan buat beli apa-apa disana, cuma pengen ngadem sama cuci mata doang. Tapi, begitu lewat depan etalase "Togamas d Gale" rasanya jadi pengen masuk. Hmm, you know lah, toko buku selalu punya mantra ajaib yang bikin kita pengen masuk kesana lagi dan lagi. Apalagi toko buku diskon sepanjang waktu seperti Togamas. Setelah memilih-milih, akhirnya aku memutuskan untuk membeli 2 novel terjemahan. Aku adalah pecinta novel terjemahan, apalagi novel fantasi yang background ceritanya jaman-jaman kuno. Hihihi. Dari kedua novel yang aku beli (emang udah masuk wishlist sebelumnya sih) aku baca satu dan langsung jatuh cinta dengan isi ceritanya. 

Ini dia penampakan novelnya!!

Novel The Night Circus ini ditulis oleh Erin Morgenstern. Nama pengarangnya cukup asing buatku, tapi aku sangat suka dengan novel karyanya yang satu ini. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku baru baca sampai halaman 183 dari 605 halaman. Hehe. Sejauh yang aku sudah baca, menurutku isi ceritanya sangat imajinatif dan menarik juga penuh intrik. Aku suka settingnya, di Eropa dan Amerika sekitar tahun 1800an -1900an. Gaya berceritanya juga sangat unik, meskipun alurnya sedikit maju-mundur (tapi tenang saja, di setiap judul sudah dicantumkan tanggal atau bulan dan tahun. Jadi bisa dengan mudah mengenali bagaimana alurnya).

O ya, kalau yang mau beli atau tertarik untuk baca juga, ini aku kasih sinopsisnya yang diambil dari back covernya.

"Bersiaplah memasuki Le Cirque des Reves. Jangan terlalu terkejut karena sirkus ini bukanlah sirkus biasa. Di sini kau bisa menemukan Labirin Awan, khayalan-khayalan yang menjadi kenyataan, sari apel terlezat di dunia, Pohon Permohonan, dan wanita cantik dengan gaun penuh untaian surat cinta.

Dalam Le Cirque des Reves pula, Prospero sang Pesulap menjadikan Celia, putrinya sendiri, sebagai ajang taruhan. Prospero mengharuskan Celia untuk bertarung dengan Marco Alisdair, yang merupakan murid dari musuh bebuyutan sang Pesulap. Selama bertahun-tahun, Celia dan Marco berusaha saling menjatuhkan lewat berbagai wahana dan atraksi mendebarkan: panggung ilusi, raven, selubung sihir, api unggun seputih salju, dan binatang-binatang dari kertas.

Namun, kompetisi itu terhambat saat mereka perlahan-lahan saling jatuh cinta. Dan keduanya semakin kewalahan saat sesuatu yang jahat mulai mencelakai, bahkan membunuh orang-orang di sirkus, satu demi satu ..."

Wow! Menarik bukan isi ceritanya? Selain tokoh-tokoh yang disebutkan pada sinopsis, ada beberapa tokoh lain seperti, Isobel Martin, Chandresh, Mr. A.H., Bailey, Caroline, dan masih banyak lainnya. Di dalam novel ini kamu akan menemukan berbagai macam jenis sulap, trik-trik di wahana sirkus, dan masih banyak lagi. Intinya, semakin jauh kamu membaca, kamu akan menemukan sesuatu yang ajaib yang membuatmu akan terus membaca sampai akhir :)


"The Night Circus adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan akhir pekan. Ceritanya sangat ajaib dan mampu memantik imajinasi yang luar biasa." ~Tiyas Fransiska~


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, August 31, 2013

Book Store Haul

Setelah sekian lama nggak beli buku bacaan (baca: novel) baru, akhirnya kemarin malam kesampaian juga. Semalam aku dan mbak Indah jalan-jalan sebentar ke toko buku TogaMas Kotabaru. Awalnya sih tujuanku nggak jelas kesana, karena aku memang nggak ada planning sama sekali untuk mengunjungi toko buku di tanggal tua seperti semalam (baca: tanggal 30 Agustus 2013). Tapi, berhubung ajakannya ke toko buku TogaMas yang sering banget ngadain diskon, jadi aku mau-mau saja. 

Sesampainya disana, seperti biasanya acap kali aku ke toko buku, yang aku sasar pertama adalah rak novel-novel terjemahan. Aku memang cukup menggilai novel-novel terjemahan karena bahasanya unik menurutku. Selain itu, setting dan penokohannya juga lebih memancing imajinasi. Kali ini aku beli 3 novel terjemahan. Awalnya sih pengen beli 4 tapi berhubung cuma bawa uang Rp200ribuan jadi aku beli 3 dulu. Hahaha. Hemat ceritanya, kan tanggal tua.

Ini dia novel-novel yang aku beli:
Itu semuanya diskon 15% lho. Hehehe

Yang pertama ada novel "Confessions of an Ugly Stepsister". Menurut sinopsis di back cover-nya, novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang kakak tiri yang terasing dibalik ketenaran adik tirinya yang cantik dan menawan. Overall menurut sinopsinya, isi ceritanya hampir sama dengan cerita Cinderella, tapi tokohnya dibalik. Bukan Cinderella yang jadi tokoh utama tapi kakak tirinya. Setting tempatnya cukup menarik imajinasi yaitu Belanda pada abad ke-17. Novel ini belum aku buka sih, jadi belum tau isi cerita secara keseluruhan bagaimana. Tapi aku sempet search di Google dan nemu kalau novel ini dibuat sudah cukup lama bahkan sudah ada filmnya juga (bisa cek di Youtube). Tapi lebih penasaran baca bukunya sih, soalnya kadang kan cerita di novel dan di film dibuat sedikit beda.

Novel yang kedua adalah "Accidentally Fabulous". Ini novel bercerita tentang fashion designer gitu lah. Aku suka novel tentang fashion (seperti Confessions of a Shopaholic series, The Devil Wears Prada, dll). Settingnya dimana lagi kalau bukan di New York, pusat fashion dunia. Novel ini juga belum aku buka. Tunggu giliran deh ya.

Novel terakhir yang aku beli adalah "Chicken Soup for the Soul: Pelajaran dari Kucingku". Kalau kamu baca blogku dari awal pasti tau dan familiar sama kesukaanku sama binatang terutama anjing dan kucing. Saat ini aku punya 2 kucing, satu di rumah nenek, satu di rumahku. Yang dirumahku namanya Cheeten. Aku beli novel Chicken Soup ini selain karena aku suka dengan kisah-kisah inspiratif yang selalu disuguhkan oleh Chicken Soup, juga karena aku suka kucing. Aku mau belajar banyak dari kucing. Hahaha. Novel ini sudah aku buka dan aku baca beberapa cerita di dalamnya. Sangat asik dan inspiratif menurutku.


Weekend ini akan aku habiskan dengan membaca Chicken Soup for the Soul: Pelajaran dari Kucingku. Hmm, pasti akan jadi weekend yang menyenangkan sekaligus penuh semangat. Yeayyy!!


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Tuesday, May 28, 2013

Hujan di Tepi Sungai Code

'Tik tik tik tik' suara tetesan air hujan menggema diatas rumah beratapkan lembaran-lembaran seng tersebut. Sesosok wanita paruh baya, mungkin usianya sudah menginjak kepala enam, sedang sibuk memilah-milah jemuran yang baru saja ia angkat dari sebilah tali jemuran yang dipasang di samping rumahnya.
"Nduk, Simbok dibantuin dulu!" Mbok Yem, wanita paruh baya itu memanggil cucu kesayangannya.
"Sebentar Mbok! Nanti tempenya gosong!" Yeni, cucu kesayangan Mbok Yem menyaut dari dalam rumah.
Hari belum juga menginjak sore, tapi mendung gelap sudah menaungi sebuah kampung kecil di pinggir sungai Code. Tak lama, hujan rintik turun tanpa ampun membasahi rumah-rumah sederhana yang berderet rapi di sepanjang aliran sungai.

Setelah selesai menggoreng 4 buah tempe untuk lauk makan malam, Yeni segera mematikan kompor minyak yang sudah bertahun-tahun digunakan olehnya dan neneknya untuk memasak segala macam makanan. Dengan sigap Yeni segera membantu Mbok Yem melipat jemuran yang sudah kering dan menyingkirkan jemuran yang masih basah untuk digantung di tali kenur yang dipasang di teras rumah.
"Kok hujan lagi ya Mbok? Kemarin sepertinya sudah mulai musim kemarau." Yeni mencoba mengajak bicara neneknya yang sedari tadi terlihat diam dan sedikit murung.
"Lha iya Nduk, musim sekarang sudah ndak tentu lagi. Kadang panas, kadang hujan, wis pokoke ndak pasti."
"Jadinya kan jemurannya ndak kering Mbok."
Mbok Yem mengangguk sembari tersenyum masam.
"Ya mau gimana lagi Nduk, kita kan ndak kuasa mengatur alam. Apa yang alam mau, ya kita ikuti saja. Itu sudah kehendak Yang Kuasa Nduk. Kita cukup sabar dan narimo apa yang sudah diberi oleh Yang Kuasa." 
"Tapi Mbok, kalau basah gini nanti Simbok ndak dapat bayaran dari Bu Dirjo."
"Ya, nanti biar Simbok yang bilang sama Bu Dirjo sambil nganter jemuran yang sudah kering kesana. Kamu nanti bantuin nyetrika ya." Mbok Yem meyakinkan cucu kesayangannya itu sembari mengusap kepalanya dengan lembut. Yeni tersenyum simpul, di dalam hatinya ia begitu bangga kepada neneknya. Yeni sejak kecil memang sudah hidup yatim piatu. Ibunya meninggal sesaat setelah ia dilahirkan, sedangkan ayahnya meninggal karena kecelakaan saat Yeni berumur kira-kira 1,5 tahun. Sejak saat itu Yeni diasuh dan tinggal bersama neneknya di tepian sungai Code. Sebuah sungai yang membelah kota Yogyakarta yang berhulu di lereng gunung Merapi yang mana kala itu pernah mendapat kiriman banjir lahar dingin yang cukup dahsyat dan meninggalkan sejumput trauma di benak penduduk di sekitarnya.
***
"Nduk, sudah selesai nyetrikanya?" tanya Mbok Yem dari dapur.
"Sudah Mbok, sudah Yeni masukkan ke keranjang," jawab Yeni dari ruangan yang sama. Ruang dapur memang merangkap ruang untuk menyetrika pakaian karena rumah Mbok Yem hanyalah rumah petak berdinding batako berukuran 4x5 meter dengan atap lembaran seng yang sudah tidak layak lagi karena banyak yang bocor. Untuk mandi saja harus menumpang di rumah tetangga atau kamar mandi umum yang memang sengaja dibangun oleh warga di kampung tersebut.
"Sini Nduk, bawa kesini. Biar Simbok antar ke rumah Bu Dirjo."
Yeni membawa keranjang plastik berisi beberapa helai pakaian keluarga Bu Dirjo yang dititipkan pada Mbok Yem untuk dicuci dan disetrika. Mbok Yem memang buruh cuci, para tetangga yang bekerja di luar rumah dan jauh dari kampung terbiasa menitipkan pakaian-pakaian kotor mereka untuk dicuci dan disetrika oleh Mbok Yem. Ya, bisa dibilang Mbok Yem menawarkan jasa laundry tradisional dan kecil-kecilan. Tanpa mesin cuci atau alat untuk dry cleaning.
***
"Bu! Bu Dirjo!" Mbok Yem berseru memanggil si empunya rumah sambil mengetok pintu rumah dengan pelan. Di luar hujan belum berhenti turun. Meskipun hanya gerimis yang tersisa, namun tetap saja hal ini merepotkan Mbok Yem ketika mengantar pakaian bersih dan kering ke rumah Bu Dirjo.
"Nggih, bentar Yu!" Terdengar suara Bu Dirjo diiringi langkah kaki terburu-buru.
Tak seberapa lama pintu depan rumah Bu Dirjo terbuka. Sesosok wanita berusia sekitar 48 tahunan muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Sudah kering Mbakyu pakaiannya?" tanya Bu Dirjo sembari memperhatikan isi keranjang yang dibawa Mbok Yem. "Sini masuk dulu!"
"Ngapunten Bu, belum semuanya kering. Hujan turunnya kecepetan Bu. Belum juga jam 1 siang, eh kok udah hujan lagi." Mbok Yem menyerahkan keranjang berisi pakaian bersih yang sudah rapi disetrika oleh Yeni tadi.
Bu Dirjo terkekeh mendengar jawaban Mbok Yem. "Ya makhlum Yu, cuacanya lagi aneh. Aneh seperti para pejabat diatas itu. Sukanya mainin dan bikin bingung rakyat kecil."
"Mainin pripun Bu?" Mbok Yem tampak bingung.
"Lha iya, sukanya mainin rakyat. Katanya mau bangun fasilitas ini itu, mau ngasih sekolah gratis, mau ngasih jaminan kesehatan, tapi semuanya palsu Yu. Ya kayak cuaca sekarang ini, kelihatannya sudah musim kemarau, eh tapi hujan turun lagi. Palsu juga to?"
Mbok Yem mengangguk-angguk. Sekarang ia paham apa yang dimaksud oleh Bu Dirjo.
"Andai ya Bu, kita rakyat kecil ndak dimainin dengan janji-janji palsu begitu, pasti hidup kita jadi lebih baik."
"Iya Yu. Kalau ndak ada janji palsu para pejabat dan ndak ada pejabat yang korupsi, pasti hidup kita akan lebih sejahtera Yu. Daripada dikorupsi kan lebih baik uangnya diperbantukan ke rakyat kecil seperti kita ini. Paling tidak ya, ada sokongan untuk usaha kecil seperti yang Mbakyu lakukan sekarang."
"Inggih Bu, andai saja uangnya ndak habis dikorupsi, mungkin orang seperti saya bisa dibantu beli mesin cuci atau buka kios ya Bu. Biar kalau cuacanya sedang ndak tentu begini, saya tetep bisa kerja, jemuran saya juga bisa kering dengan cepat dan pelanggan saya bisa tambah banyak."
"Bener Yu. Semoga saja yang di atas sana segera sadar."
"Saestu Bu," Mbok Yem segera membereskan keranjang yang sudah kosong.
"Bu, saya pamit nggih. Kasian Yeni sudah menunggu di rumah."
"Monggo Yu, o ya, ini bayarannya sampai lupa saya." Bu Dirjo menyerahkan lembaran uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribuan kepada Mbok Yem.
"Matur nuwun Bu. Monggo"
Mbok Yem bergegas meninggalkan rumah Bu Dirjo. Rintik hujan masih turun membasahi tubuhnya yang sudah tua. Dalam hati Mbok Yem menyelipkan doa sederhana, jika memang para pejabat yang berkuasa belum bisa membuka mata untuk rakyat kecil, ia hanya berharap Tuhan Yang Maha Kuasa masih memberi kesehatan dan kekuatan agar tetap bisa bekerja mencari rupiah demi hidupnya dan masa depan Yeni, cucunya yang saat ini masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

***


~Tyas~
Terinspirasi dari cuaca tak menentu akhir-akhir ini.
Hujan hujan dan hujan lagi.


Thursday, May 23, 2013

Thursday, 12.15am

Malam ini aku sudah siap-siap akan tidur. Aku sudah mengenakan piyama berlengan panjang bergambar kelinci favoritku. Malam ini memang agak dingin. Mungkin karena sesorean hujan turun cukup deras. Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit. Sudah cukup larut memang. Mataku juga sudah mulai mengantuk. Aku ingin sesegera mungkin merebahkan badanku di kasur kamarku yang empuk. Apalagi sejak sore tadi sakit migrenku kumat lagi. Aku pasti kecapekan dan telat makan. Ya, seharian aku bekerja sampai malam sampai-sampai aku lupa untuk makan sore. Aku biasa menyebut makan sore bukan makan malam karena memang jadwalku makan tidak lebih dari jam 7 malam.

Baru sekitar 5 menit aku memejamkan mataku, mencoba untuk tidur di tengah udara yang begitu dingin, aku dikagetkan oleh suara air hujan yang tumpah dari langit. Entah hanya perasaanku saja atau memang hujan susulan malam ini luar biasa derasnya. Aku merapatkan selimut sampai ke dagu. Suasana kamarku yang gelap karena lampunya kumatikan menambah ngeri suasana malam ini. Hujan turun disertai dengan angin yang cukup kencang. Aku takut, takut sekali. Agak konyol memang, tapi pikiranku sungguh-sungguh melayang ke peristiwa badai Oklahoma yang terjadi beberapa hari yang lalu. Bayangan video klip Carrie Underwood "Blown Away" dan film lawas "Twister" beberapa kali melintas di pikiranku. Bodoh memang! Padahal di Indonesia sangat jarang bahkan tidak mungkin terjadi badai tornado dan semacamnya di daratan. Tapi aku tetap takut. Aku masih berdiam di kamarku. Rasanya ingin keluar kamar dan mencari anggota keluargaku yang lain yang mungkin sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Tapi niat itu aku urungkan. 

Kepalaku semakin berdenyut sakit. Migrenku semakin parah kurasakan. Rasa takut ini mungkin yang memicu kepalaku semakin sakit. Aku mencoba meraih handphoneku yang aku letakkan di meja di samping tempat tidur. Aku nyalakan lagi. Dengan bantuan cahaya dari layar handphone yang redup, aku beranjak dari tempat tidur. Tanganku meraih saklar lampu. Ctak! Bohlam lampu berwarna putih susu pun menyala. Kamarku mejadi terang tapi cahaya lampu itu sedikit menyilaukan mataku. Aku memutuskan untuk menghidupkan laptop. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan laptop ini. Jadi setelah kunyalakan hanya shortcut Winamp yang kemudian aku pilih. Beberapa lagu kesukaanku aku pasang di sana dengan harapan bisa membantuku meringankan migrenku yang semakin menjadi-jadi ini.

Ah, jaringan Wi-Fi di rumah masih hidup. Padahal biasanya kalau hujan turun dengan derasnya si Wi-Fi suka ngambek. Akupun melanjutkan membuka tab Mozilla Firefox. Rasa-rasanya aku ingin membuka laman Facebook dan Twitter. Siapa tahu disana aku menemukan teman yang bisa diajak ngobrol sembari menunggu mata ini mengantuk lagi. Di luar hujan masih turun dengan derasnya. Laman Facebook sudah terbuka. Jemari telunjukku mulai memainkan touchpad laptop. Scroll kebawah mencari-cari siapa tahu ada informasi yang penting atau sekedar melihat apa toko online favoritku sudah mengupload koleksi terbarunya. Dan! Foto itu! Aku sedikit tercegang mendapati sebuah foto terpampang lebar di timeline Facebook.

Bukan foto setan atau semacamnya, bukan. Itu foto dia. Ya, yang kusebut dia adalah mantan pacarku. Kami sudah lama tidak saling berhubungan baik via telepon, SMS, instant messaging, bahkan lewat jejaring sosial. Tapi status di jejaring sosial kami sih masih berteman masih saling follow malah. Tapi dingin, tidak pernah ada interaksi sama sekali. Terakhir kami berbalas SMS hanya saat hari besar keagamaan saja. Yang membuat aku tercengang adalah setelah sekian lama akun dia membisu tanpa ada pergerakan dia tiba-tiba mengupload sebuah foto. Aneh saja bagiku. Apalagi di suasana hujan begini, suasana yang sangat kami favoritkan dulu ketika masih bersama.

Ingin rasanya aku menyapa dia. Aku tahu dia masih online. Tapi apa pantas? Aku dulu yang meminta putus dari dia. Aku dulu yang menganggapnya pengatur, diktator, dan tukang ikut campur. Aku dulu yang hampir membencinya. Tapi sekarang, aku merindukannya? Aku kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada diriku sendiri. Apa aku merindukannya? Atau aku hanya terbawa suasana? Aku sedang takut, sakit, dan sendirian. Kemudian aku menemukan dia di jejaring sosial dan aku tiba-tiba ingin mengobrol dengannya. Ah! Sudahlah! Aku memencet tombol minimize pada laman Mozilla Firefoxku. Aku tidak ingin memandang fotonya lama-lama. Toh aku juga tidak tahu kabar terakhir tentang dia bagaimana. Aku takut kalau-kalau dia sudah punya pacar atau malah calon istri. Aku takut kalau nanti dia menyangka aku ingin kembali masuk dalam kehidupannya. Tidak!

Aku beranjak dari meja tempat laptopku berada. Meraih handphoneku dan membaringkan badanku di kasur yang sedikit terasa dingin. Hujan masih belum berhenti turun dari langit. Sepi sekali, hanya suara Rihanna dengan lagu Diamond-nya yang masih mengalun lirih dari speaker laptopku. Entah bagaimana ceritanya, tanganku otomatis membuka halaman pesan di handphone dan mulai mengetik.

Hai Mas Kendra. Apa kabar? Lama nggak ngobrol.

Hentikan! Hetikan! Hentikan! Otakku memberontak, menyuruh jari jemariku untuk berhenti mengetik. Hatiku terasa dingin dan gamang ketika kedua bola mataku menatap layar handphoneku. Aku ini kenapa??? Apa aku sudah tidak waras? Sudah sekian lama aku tidak merindukan dia tapi kenapa sekarang hatiku membabibuta untuk menghubungi dia? Gejolak dalam diriku semakin panas. Perasaan dan pikiranku, dua elemen yang tak berwujud itu, saling bergolak. Perasaanku ingin diriku menghubungi dia. Pikiranku yang penuh logika melarangku untuk melakukan hal bodoh itu. Tapi siapa yang menang? Perasaanku menang! Kembali ku tulis sebuah kalimat.

Malam Mas Kendra. Apa kabar?

Message has been sent. Message delivered. Aku menunggu balasan. Detak jam dinding berwarna ungu di kamarku semakin terdengar keras. Hujan diluar sudah mulai reda. 10 menit sudah, tidak ada balasan. 20 menit kemudian, layar handphoneku masih kosong. 30 menit berlalu, masih sama. Kulirik jam dinding berjarum hitam di dinding kamarku. Pukul 12.43. Akupun perlahan tertidur. Layar handphoneku masih kosong. Aku lupa mematikan laptop. Saat aku terbangun, aku membuka kembali laptopku yang otomatis terset "sleep mode" dan mendapati sebuah notifikasi pesan di laman Facebookku. Tanganku sedikit gemetar ketika aku membuka isi pesan itu.

------------------------------Thursday-----------------------------

Kendra Yudha Saputra                                                   12.15am

Malam Ayuk. 
Maaf pulsaku habis jadi SMSmu nggak aku balas.
Kabarku baik Yuk. Kamu gimana? 
Lama nggak ngobrol ya?
Kok belum tidur? Kenapa? :)

---------------------------------------------------------------------



Saturday, April 20, 2013

The Princess and A Greedy Kingdom


.Sang Putri dan Sebuah Negeri yang Tamak.



Alkisah di sebuah negeri antah berantah, sebut saja negeri itu Ginkanora. Negeri Ginkanora dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu. Selain dikuasai oleh raja dan ratu, adik dari sang raja dan beberapa kerabat kerajaan juga mendominasi kekuasaan di negeri itu. Selain itu, sebenarnya anggota kerajaan Ginkanora masih ada banyak. Ada seorang putri yang kini tinggal terpisah dari kerajaan karena sudah menikah dengan seorang pria dari daerah yang jauh. Ada pula seorang putri yang sedikit nyinyir tapi sebenarnya dia baik hati dan bijaksana. Ada juga seorang putri yang sangat giat bekerja. Yang terakhir diantara banyak putri kerabat kerajaan, ada seorang putri yang teraniaya. 

Kisah ini selebihnya akan mengisahkan kehidupan sang putri yang teraniaya. Sebut saja putri itu putri Theana. Putri Theana adalah putri yang baik hati dan pekerja keras. Dia juga seorang putri yang jarang mengeluh pada segala tugas yang dibebankan kepadanya. Bak kisah dongeng putri salju yang melegenda, kehidupan putri Theana tak jauh berbeda dengan nasib sang putri salju. Sang ratu begitu tidak menyukainya. Bukan karena dia anak raja yang cantik melainkan karena dia memiliki kehidupan yang lebih beruntung dibandingkan dengan kehidupan sang ratu sebelum dia resmi menjadi ratu di Ginkanora. Sebenarnya, ratu Ginkanora yaitu ratu Inora adalah kawan lama putri Theana. Namun mereka sempat berpisah beberapa waktu karena ratu Inora yang dulunya bernama putri Inora pergi ke negeri yang jauh untuk belajar menenun bulu domba. Sedangkan putri Theana tetap tinggal di kawasan negeri Ginkanora sambil berdagang bunga dan belajar memanah.

Di suatu masa, putri Inora kembali ke negeri Ginkanora setelah selesai belajar menenun bulu domba di negeri seberang. Akhirnya putri Theana dipertemukan kembali dengan putri Inora. Merekapun kembali menjalani kehidupan bersama-sama. Hingga pada suatu saat, ada laki-laki yang datang mendekati putri Theana dan juga putri Inora. Kedatangan lelaki itu memunculkan adanya perselisihan antara putri Inora dan putri Theana. Putri Inora menuduh putri Theana bermain curang dengan dirinya. Dia menuduh sang putri merebut lelaki itu dari tangan putri Inora. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah bahwa putri Theana dan lelaki itu hanya berteman karena mereka sama-sama suka berburu dan memanah. 

Sejak saat itu, putri Inora menjadi tidak suka dengan putri Theana. Putri Inora bahkan tidak menyukai apapun yang dilakukan dan dipakai oleh putri Theana. Pada saat itu, terjadi prahara di negeri Ginkanora yang dipimpin oleh raja Damaro. Hubungan raja Damaro dengan tunangannya saat itu sedang goyah. Pada saat itu pula putri Inora melihat kesempatan yang sangat bagus untuk menjatuhkan putri Theana dan mengusirnya dari kerajaan tersebut. Perlahan-lahan putri Inora mulai mendekati kerabat dekat raja. Pertama, putri Inora mendekati putri Lorensi yang juga merupakan adik kandung dari raja Damaro. Setiap saat mereka selalu terlihat bersama padahal sebelumnya putri Lorensi lebih sering pergi dan bermain bersama putri Theana. Bujuk rayu dan tipu muslihat putri Inora sepertinya mengenai sasaran. Putri Lorensi semakin hari semakin menjauh dari putri Theana, bahkan sekarang ia membencinya.

Pada suatu ketika, hubungan raja Damaro dengan tunangannya kandas. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh putri Inora untuk mengambil hati sang raja. Benar saja, dengan kecantikan dan tipu daya yang keluar dari bibir putri Inora, sang raja pun bertekuk lutut di hadapannya. Singkat cerita, merekapun menikah dengan pesta yang sangat besar dan mewah. Namun di dalam pesta itu ada tiga orang putri yang tidak turut diundang. Dia adalah putri Theana, putri Wincita, dan putri Nivdia. Memang ratu Inora tahu kalau ketiga putri tersebut bersahabat. Oleh karena itu mereka bertiga sengaja tidak diundang.

Putri Theana merasa sangat sedih karena tidak mendapat undangan pesta pernikahan raja. Padahal banyak orang-orang yang tidak dikenal raja namun diundangnya serta. Ketika putri hendak meminta kejelasan pada kerabat kerajaan terdekat raja, yang didapat olehnya adalah cibiran dan makian. Seorang panglima kerajaan bernama Porseo beserta istrinya memaki-maki putri Theana, padahal sebelumnya mereka tidak pernah begitu padanya. Ternyata bisa racun yang disebarkan oleh ratu Inora telah merasuki hampir semua kerabat dekat raja. Kerajaan dan istana Ginkanora menjadi sangat asing bagi putri Theana.

Setelah hari besar raja usai, putri Theana berniat untuk pergi dari istana. Dia mendatangi kedua sahabatnya, putri Wincita dan putri Nivdia untuk meminta pendapat. Putri Wincita dan putri Nivdia sangat setuju dengan ide putri Theana. Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan segera berkemas dan pergi meninggalkan istana dan kerajaan pada malam harinya. Dengan penuh keberanian dan juga harapan untuk terbebas dari racun yang disebarkan oleh ratu Inora pada seluruh kerabat kerajaan, putri Theana mengemasi barang-barangnya dan segera pergi berjingkat keluar dari kamarnya yang masih berada di kompleks istana. Tapi di perjalanan menuju rumah kedua sahabatnya, putri Theana dikejutkan oleh kemunculan seorang panglima. Sebut saja nama panglima itu panglima Barbeo.

Panglima tersebut sangat baik hati. Dia dengan sabar hati mendengarkan cerita dan alasan mengapa putri Theana ingin pergi meninggalkan istana dan negeri Ginkanora. Setelah mendengarkan sang putri bercerita, panglima tersebut menawarkan diri untuk mendampingi sang putri dan kedua sahabatnya untuk keluar dari negeri Ginkanora. Memang, jika ingin keluar dari negeri itu tanpa ketahuan, siapapun harus melewati hutan larangan yang konon kabarnya dihuni oleh beberapa makhluk mengerikan dan monster-monster rawa. Sang putri pun setuju. Kemudian mereka berdua bergegas menuju rumah putri Wincita dan putri Nivdia.

Singkat cerita, keempat orang tersebut dengan berbekal lentera dan obor berjalan cepat-cepat meninggalkan negeri Ginkanora. Mereka sengaja tidak melewati jalan utama keluar dari negeri tersebut, melainkan melewati jalan setapak yang berlumpur. Kemudian menyeberangi anak sungai yang airnya sedingin es. Lalu melewati jembatan gantung yang sudah sedikit reot. Dan sampailah mereka pada hutan larangan. Namun, kenyataannya, hutan tersebut tidak seperti apa yang diceritakan kebanyakan orang. Hutan tersebut hutan biasa yang dihuni oleh beberapa binatang hutan yang ramah seperti rusa, berang-berang, ayam hutan, bajing, dan tentu saja kunang-kunang. 

Ketika fajar menjelang dan matahari mulai memancarkan sinar emas kemerahannya yang hangat, sang putri, kedua sahabatnya, dan sang panglima telah sampai di ujung luar dari hutan larangan. Mereka terlihat kelelahan namun wajah mereka memancarkan gurat kebahagiaan. Ya, mereka patut berbahagia karena telah berhasil keluar dari negeri yang tamak dan penuh kesombongan itu. Sejenak mereka beristirahat di bawah naungan pohon cemara yang rindang. Putri Theana membuka bekalnya berupa roti gandum berlapis selai kacang buatannya. Dia membagi setengah dari bekalnya untuk sang panglima yang telah sangat berbaik hati menolongnya dan kedua sahabatnya.

Setelah dirasa sudah cukup untuk beristirahat, sang putri mengajak serta ketiga rekan seperjalanannya untuk melanjutkan perjalanan menuju negeri terdekat. Namun sayangnya sang panglima tidak bisa turut serta. Ia harus kembali ke kerajaan karena raja pasti akan mencarinya. Selain itu sang panglima memiliki anak dan istri yang tidak bisa ditinggalkan. Dengan berat hati namun penuh kebanggaan, sang putri melepas kepergian panglima Barbeo kembali ke kerajaan. Tak lupa putri Theana menitipkan salam hangat untuk istri dan anak sang panglima dan salam sejahtera untuk sang raja, sang ratu, dan seluruh kerabat dekat mereka yang tinggal di istana.

Putri Theana dan kedua sahabatnya, pada akhirnya, tinggal di negeri bernama negeri Caramora. Negeri Caramora adalah sebuah negeri yang cantik dan subur. Negeri itu memiliki raja dan ratu yang sangat baik hati dan bijaksana. Semua rakyat yang tinggal di negeri itu hidup dengan sangat rukun, damai, dan berkecukupan. Tidak pernah terlihat ada pengemis maupun gelandangan di sana. Seluruh rakyat hidup makmur dan sejahtera. Banyak dari rakyat Caramora yang bercocok tanam di ladang, ada pula yang memintal benang dari bulu domba dan buah kapas. Selain itu negeri ini juga memiliki danau yang sangat luas dan cantik. Di sana putri Theana dan kedua sahabatnya memelihara ladang dengan bercocok tanam buah stroberi dan bunga-bunga yang cantik. Mereka bertiga memiliki sebuah toko bunga dan buah yang sangat laris.

Lama tak terdengar kabarnya, suatu hari putri Theana mendapat kabar bahwa negeri Ginkanora berada di ambang kehancuran. Kabar tersebut ia dapatkan dari panglima Barbeo melalui sebuah surat. Panglima Barbeo mengatakan bahwa sang ratu sangat gila kekuasaan dan gila harta. Hampir setiap minggu beliau memungut pajak dari rakyat yang semestinya dipungut tiga bulan sekali. Saat ini rakyat Ginkanora begitu menderita. Banyak di antara rakyat yang mati kelaparan. Namun sayangnya, sang raja dan ratu sepertinya menutup mata pada keadaan rakyat Ginkanora.

Mengetahui kabar tersebut, putri Theana segera menghadap raja dan ratu Caramora. Ia meminta ijin pada raja dan ratu untuk memberikan tempat pengungsian sementara bagi rakyat Ginkanora yang menderita dan sengsara. Melihat kebaikan hati dan ketulusan putri Theana, raja dan ratu Caramora setuju untuk menampung rakyat Ginkanora yang hendak mengungsi dari negerinya. Singkat kata, atas bantuan panglima Barbeo, pada akhirnya sebagian besar rakyat Ginkanora yang sudah tidak lagi bersikap loyal pada raja Damaro dan ratu Inora berhasil mengungsi ke negeri Caramora. Di sana mereka mendapat perlakuan baik serta mendapat makanan yang sangat cukup. Mereka begitu berterimakasih pada putri Theana, putri Wincita, dan putri Nivdia serta panglima Barbeo dan anak istrinya.

Setelah beberapa tahun berlalu, kabar terakhir yang terdengar dari negeri Ginkanora adalah bahwa negeri itu telah musnah. Sebuah bencana besar melanda negeri yang penuh ketamakan dan kesombongan tersebut. Putri Theana, putri Wincita, putri Nivdia, panglima Barbeo beserta istri dan anaknya serta seluruh bekas rakyat Ginkanora yang tinggal di negeri Caramora kini hidup dengan damai dan penuh kasih sayang. Mereka begitu mencintai putri Theana serta raja dan ratu Caramora. Akhirnya, putri Theana menikah dengan pangeran Errico yang adalah putra mahkota kerajaan Caramora. Mereka pun hidup bahagia selamanya.

.The End.



PS: Cerita ini diambil dari sebuah kisah nyata, hanya saja nama tokoh, setting, dan endingnya diubah agar tidak menyinggung pihak-pihak tertentu.



~Hug & Kiss~
xoxoxo



Saturday, December 8, 2012

The Unspoken Rhyme of A Little Red Riding Hood

image was taken from here

I was a little red riding hood
When I was kid
I had ever seen an evil wolf with my own eyes
I never knew what he actually wanted from me
But he always went after me
One day my Mom asked me to go to the forest
I had to take some apples for lunch
I was not glad at all
I was afraid of the evil wolf
I thought that he always wanted to chase after me
I took my red riding hood as usual, then
I walked quickly to the forest
I did not want the evil wolf smelled my body scent
Suddenly I met a person in the middle of forest
She dressed like me
However, she had very pale hands
I did not speak to her at all
I only caught a weird glance she gave to me
I was afraid that she was the real evil wolf
But I was not sure
I kept walking
I walked faster since I heard someone stepped behind me
I did not want to look backward
I kept walking and even running
I heard the steps behind me was running also
I was afraid
But my throat was too sick to scream
I kept running but I was not aware of anything in front of me
Unfortunately I felt that my feet stepped on the air
I realized that I was falling down
I fell into a deep down ravine
I could not remember what happened
I just remember that a little red riding hood had gone dead
Not because being chased by the evil wolf
But because she fell down in a deep down ravine
Without being noticed by anybody

I Met a Fairy


image was taken from here

I met a baby fairy. She was so cute and kind. She wore little pink rose petals dress combined with green fresh leaves top. She had pairs of greenish translucent wings. She was handling a bouquet of pink flowers. When I asked her where she lived. She grabbed my hand and invited me to walk through a glittery pathway. Suddenly she stopped and then she held her finger pointing to a small tree in the middle of the forest. She asked me to get closer to the tree. I was really surprised. I saw a tiny door on that tree trunk. I asked her to ensure that inside the door was her house. She nodded her head and smiled. Afterward, she spread a little fairy dust to my body. Suddenly I became tinier and tinier. I got pairs of wings grew on my back. She held my hand and invited me to fly with her. Then, she opened the tiny door on the tree trunk. She asked me to come in. I agreed. I flew passing the door. Amazingly, I found my self in a fairy land. The land where various fairies lived. I was glad. I could not believe my eyes. After some couples of hour flying around that kind of magical place I felt tired. I decided to go to find the little fairy who brought me here. Fortunately, I easily found her. I asked her for foods and drinks since I was very hungry and thirsty. She gave me some cute and glittery candies and also a glass of red liquid. Before letting me to finish all the foods and beverage, she told me something. She told me to keep anything I saw in the fairy land behind a tiny door on a tree trunk as a secret. I were not allowed to tell anybody. I agreed. Then I started to eat the candies and to drink the red liquid. I had no reason why but I felt very sleepy afterwards. I told her that I need to rest. She welcomed me to visit her bed. After that, I laid my body down to the fluffy and pinkish bed. It was so smooth like a cotton candy. It smelled like a heaven I was sure. I felt a sleep in sudden. When I woke up, I realize that I was not in the place where I began to sleep. I opened my eyes wider then I saw that I has been sleeping on a meadow near my house. I did not believe it at all. But I just remembered what a cute little fairy with sweet little pink rose petals dress combined with fresh green leaves top who had pairs of greenish translucent wings told me before. I had to keep all I saw in the fairy land behind the tiny door on a tree trunk as a secret. Then, after the sun rose I walked home to have my breakfast. I saw my mother waiting for me in front of the door. She smiled at me and whispered, "Where did you go?" I said nothing. I just gave her a smile. She suddenly spoke, "Have you meet a little fairy wearing a little pink rose petals dress combined with fresh green leaves top? She has pairs of greenish translucent wings." I had a little shock. Then, I just smiled and asked her to have a breakfast with me. I reckoned that my mother had seen the cute little fairy herself.

image was taken from here

Monster-Monster Kantor

Sore itu aku berjalan agak terburu-buru. Aku berjalan melewati beberapa meja kerja di ruang staff bagian operasional. Aku memang sengaja berjalan terburu-buru. Demi Tuhan, kalau aku boleh memilih, aku pasti akan memilih untuk tidak melewati ruangan milik staff operasional ini. Aku sebenarnya tidak ada masalah yang berarti dengan mereka. Maksudku dengan staff di bagian operasional. Aku hanya sedikit punya masalah dengan beberapa orang disana. Awalnya mereka itu temanku. Aku sudah menganggap mereka teman yang bisa memberiku kenyamanan selama bekerja disini meski mereka berbeda bagian denganku. Aku bekerja di bagian administrasi. Tapi kini aku merasa mereka itu sedikit mengganggu kehidupanku di kantor dan kehidupanku sehari-hari.

Aku semakin mempercepat langkahku setelah aku melihat bahwa masih ada beberapa orang dari bagian operasional yang berada di ruangan itu. 'Ah, kenapa mereka masih disana sih. Bikin malas saja,' batinku. Sesaat sebelum aku mencapai pintu keluar yang tepat mengarah ke tangga, aku mendengar seseorang memanggilku. Sepertinya sih memang memanggilku.
"Eh!! Kok buru-buru amat?"
For sure, namaku bukan 'Eh'. Aku punya nama!
"Emm, iya. Takut keburu hujan." Aku berhenti sesaat dan mencoba menjawab pertanyaan orang itu. Dia adalah mas Doni dari bagian operasional. Dulu aku cukup dekat dengan mas Doni, dalam artian sebagai teman sekantor. Seperti yang aku bilang, aku berteman dengan beberapa orang di bagian operasional. Salah satunya adalah mas Doni. Selain mas Doni masih ada mbak Tata, mbak Tina dan mbak Vivi. Semua ada di bagian operasional.
"Bareng ajalah sama kita. Aku, Tata, Vivi, sama Tina mau naik mobil kantor buat pulang. Kebetulan boss nyuruh aku bawa pulang tuh mobil."
Aku diam sejenak. Sebenarnya aku mau sih ada yang ngasih tumpangan gratis gini. Apalagi dari jendela kaca di samping ruang operasional aku lihat kalau diluar sudah gerimis.
"Enggak usah lah Mas. Aku naik taksi saja. Soalnya nanti mau mampir-mampir juga." Akhirnya kalimat itulah yang kulontarkan sebagai jawabanku.
"Yakin nih? Nggak nyesel? Aku anterin sampai rumah deh. Daripada bayar ongkos taksi kan mahal."
Aku menggeleng. Kemudian aku lanjutkan langkahku menuju lift.
***
Kalau boleh jujur, tadi aku memang bohong sama mas Doni. Aku bilang kalau aku mau mampir-mampir, padahal aslinya aku juga langsung pulang ke rumah. Aku sebenarnya sedikit kawatir kalau-kalau mereka curiga bahwa aku sedang mencoba menghindar dari mereka. Aku menghindar karena aku sering diacuhkan, dijadikan bahan lelucon, dan sering menjadi tempat sampah buat gosip-gosip mereka. Awalnya aku tidak keberatan, tapi lama-lama aku bosan juga kalau hampir tiap jam makan siang mereka selalu cerita mengenai kejelekan karyawan lain di depanku. Tepatnya mereka mengungkapkan uneg-uneg kepadaku. Dulu aku sempat terpengaruh dengan cerita mereka. Aku sampai bermusuhan dengan beberapa orang di bagian administrasi. Untungnya semua masalah sudah beres. Kali ini aku tak mau lagi terjebak oleh cerita mereka yang belum tentu kebenarannya.

Drrrtttt...drrrtttt...drrrtttt...
Handphoneku bergetar-getar. Ada SMS masuk.

From Mbak Tina Operasional

Sis, knp td nggak pulang brg kita aja?
Td kita mampir Siomay mang Undi lho.
Dapet gratisan tumpangan plus dpt 
gratisn makan dri manajer. Rugi km Sis. :p
Tdi di tnyain manajer operasional lho. 
Tumben km gak ikt gabung sm kita.

Received: 
08: 10: 12pm
Today
From:
Mbak Tina Operasional
+628572******

Dengan malas aku balas SMS itu. 

To Mbak Tina Operasional

Maav mb, td aku buru2. Soalnya mau
mampir ke toko kosmetik. Beli bedak.
Hehehe.

Sent:
08: 12: 20pm
Today
Message delivered
Mbak Tina Operastional
+628572******

Aku muak sudah dengan gaya SMS yang dikirim oleh mbak Tina. Selalu saja isinya cuman pamer. Aku males dipamerin terus kayak begitu. Makan gratisan saja dibanggain. Aku nggak mau berlama-lama berada dalam perasaan yang menyesakkan seperti ini. Aku pun memutuskan untuk mematikan handphone dan tidur meskipun masih jam 8 malam.
***
Pagi itu aku sedang sibuk dengan layar komputer di depanku. Aku sedang merekap beberapa data yang masuk ke kantor. Tak lama aku mendengar ada langkah kaki yang datang mendekati meja kerjaku.
"Hai Sis. Lagi sibuk ya?"
Aku mendongak ke asal suara.
"Iya mbak. Banyak data yang harus diinput dan direkap."
"Oh gitu." Mbak Tina menggeser sebuah kursi kemudian duduk disampingku.
"Eh Sis, aku ada berita heboh lho."
Aku diam saja. Aku pura-pura sedang mengetik padahal sebenarnya aku konsentrasi dan moodku sudah hilang karena kemunculannya.
"Si Vivi sama si Tata rebutan Doni lho."
Mau tidak mau aku menghentikan pekerjaanku untuk sejenak.
"Kok bisa mbak?" tanyaku kemudian.
"Jadi ceritanya si Doni itu suka SMSan sama Vivi sama Tata. Nah, terus si Vivi sama Tata jadi suka. Mereka tapi saling tahu kalau mereka sama-sama suka dengan Doni. Kalau Doni sendiri dia pernah curhat kalau dia maunya sama Vivi. Hanya saja dia juga suka sama Tata."
"Rumit ya." Aku hanya berkomentar singkat. Ah, nggak penting banget.
"Doni bilang kalau sejak awal dia suka sama Vivi karena orangnya baik dan cantik. Tapi yah, kamu tahu kan, kalau cowok kadang suka nggak tahan kalau lihat cewek yang manja dan sedikit ganjen kayak si Tata."
Aku hanya mengangguk saja, mencoba mengamini apa yang diceritakan mbak Tina.
" Ya sudah ya Sis. Aku balik ke ruanganku dulu. Nanti pulang bareng ya. Aku pengen makan bakso di deket toko bangunan itu lho. Bakso pak Indro. Kayaknya enak kalau sore-sore habis kerja kesana."
"Emm, aku nanti pulangnya dijemput mbak. Jadi nggak bisa bareng." Aku bohong lagi.
"Oh, oke deh. Kapan-kapan aja lah."
Dia pun berlalu pergi. Lega rasanya si biang gosip sudah pergi dari hadapanku.
***
Malam harinya aku memutuskan untuk membuat surat pindah. Aku sudah tidak kuat lagi bekerja disana. Aku tak mau lagi mendengar gosip murahan dan berita tak benar yang hanya menjatuhkan orang lain. Aku ingin menjauh dari kawanan bermasalah seperti mas Doni, mbak Tata, mbak Vivi, dan mbak Tina. Terlebih mbak Tina, mbak Tata, dan mas Doni. Kalau mbak Vivi sih aku nggak pernah punya masalah berarti dengan dia karena dia cenderung pendiam dan baik hati. Aku bermaksud untuk pindah ke kantor cabang perusahaan di lain kota. Mungkin memang sedikit jauh dar rumah dan aku mungkin perlu menyewa sebuah kamar kos agar lebih dekat dengan kantor.

Aku menuliskan surat ijin pindah lengkap dengan materai senilai 6000 rupiah. Aku juga sudah membicarakan hal ini pada orang tuaku, terlebih ibukku dan beliau mengerti keadaanku. Aku pun sudah mencoba mencari informasi kos di kota dimana kantor cabang perusahaan berada. Besok pagi aku tinggal menghubungi manajerku saja. Aku harap semuanya lancar.
***
Siang itu, dua hari setelah aku mengajukan ijin pindah perusahaan, aku tersenyum bahagia. Aku merasa menang. Aku diijinkan untuk pindah ke kantor cabang perusahaan seperti yang kuinginkan. Aku merasa tidak ada lagi yang akan meracuni hidupku. Tidak ada yang akan mengganggu hari-hariku lagi.
 ***
Hari ini tepat 1 minggu aku bekerja di kantor baruku meski masih menjabat sebagai karyawan bagian administrasi. Aku merasa senang dan selalu memiliki mood yang baik untuk bekerja disini. Hampir semua karyawan disini ramah. Ya, meski aku belum tahu pasti kedepannya bagaimana. Yang penting aku sudah merasa nyaman disini. O ya, aku sengaja tidak memberitahu mbak Tina, mas Doni, mbak Tata, dan mbak Vivi soal kepindahanku. Aku pikir, ini keputusan yang tepat.

Drrrttt...ddrrrtt..drrtttt...
Ada sebuah SMS masuk dari sebuah nomor yang tak asing bagiku.

From Mbak Tina Operasional

Sis, kamu kok udah 1 minggu nggak
masuk kerja? Kmn? Aku dgr km pindah?
Bener gak Sis?

Received:
09: 23: 10am
Today
From:
Mbak Tina Operasional
+628572******

Aku membaca SMS tersebut dengan sebuah senyum di bibirku. Aku tutup laman SMS tersebut tanpa ada niatan untuk membalasnya. Tanganku segera meraih keyboard di depanku dan melanjutkan menginput data dengan perasaan bahagia.

image was taken from here

Tuesday, November 20, 2012

Ceritaku Tentang "Hello Stranger"


Hap hap!! Akhirnya aku kelar juga nonton Thai movie "Hello Stranger". Anyway, filmnya 2 jam boo!!
Well, as I promised before, I will tell you the story inside the movie in a brief (even though there are many reviews telling about it) and my comment -also feeling- about this movie. Let's start! (ganti bahasa dulu; Bahasa Indonesia MODE: ON)

Film komedi romantis ini diawali dengan adegan 2 orang (pemain laki-laki dan pemain perempuan) dalam 2 scene yang berbeda. Kemudian dilanjut dengan pertemuan mereka yang tak sengaja -ini scene yang lucu plus konyol- Lalu, mereka akhirnya menjadi partner in crime, LOL. Maksudnya traveling partner. Mereka menjelajahi setiap sudut Korea, mulai dari Nami Island -tempat syuting Winter Sonata- sampai tempat-tempat lainnya. Dalam setiap perjalanan mereka di Korea, selalu aja ada hal yang konyol dan lucu. Sampai suatu saat mereka saling sharing mengenai kehidupan pribadi mereka (they are two heartbroken persons). One day, mereka menang main judi Roulette dan menang taruhan. Karena uang yang didapat banyak, mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakannya untuk bersenang-senang. Scene paling sweet itu saat mereka menuju wilayah Korea yang bersalju (semacam wahana ski es).

Sunday, November 18, 2012

One Night Before The Christmas Eve

Desiran angin kencang ini terus menerpaku, memainkan ujung long coatku. Namun aku sengaja untuk tidak segera masuk ke dalam rumahku yang mungil. Aku sedang menunggu. Aku sedang menunggu seseorang yang sebenarnya tidak aku kenal. Ya, aku menunggu seseorang yang hampir setiap malam minggu mengirimiku sekotak hadiah. Ini sudah terjadi sekitar 2 bulan. Pertama kali aku mendapati ada sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado bergambar bunga dengan sematan pita yang cantik. Saat kubuka, aku menemukan sebuah gantungan kunci berbentuk rusa. Lalu pada malam minggu berikutnya, aku mendapatkan kado yang berisi sebuah bros berbentuk rusa. Begitu pula pada malam-malam minggu selanjutnya, hingga malam minggu kedelapan aku mendapatkan hadiah yang kurang lebih serupa. Meski bendanya berbeda namun selalu ada gambar atau bentuk rusa pada benda tersebut. 

Dan ini malam ke sembilan. Aku mencoba menunggui lagi. Semoga dia kembali ke rumahku dan meletakkan hadiah lagi di depan pintu rumahku. Konyol memang kedengarannya jika aku menunggu seseorang itu meletakkan lagi sebuah kado di depan pintu rumahku. Tapi aku jadi ketagihan, dan selalu tak sabar untuk menanti hari Sabtu. 'Jangan-jangan aku menakutinya ya?' gumamku. Udara di luar rumah semakin dingin. Salju memang belum turun hari ini, namun tetap saja dingin. Ku lirik arlojiku, sudah hampir pukul 11 malam. Aku sudah berdiri mematung di depan pintu rumah sekitar 2 jam. Tak ada tanda-tanda seseorang akan datang. Ku putuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dan tidur.

Pagi ini ketika aku sedang mengaduk kopi, seorang tetanggaku berseru di balik jendela.
"Hey Harold! Ada sebuah bungkusan hadiah di depan pintumu. Sepertinya sedikit membeku karena salju!!"
Aku bergegas keluar rumah dan 'bugg!!' aku tersungkur. Kakiku menendang bungkusan hadiah yang cukup besar di depan pintu. Aku bangkit kemudian membawa bungkusan tersebut masuk ke dalam rumah. Kali ini bungkusan ini agak besar, dibungkus dengan kertas emas berwarna hijau tua. Aku segera membukanya. Oh, sebuah sweater wool yang sangat halus dan hangat. Di depannya ada bergambar rusa. Tapi rusa ini berbeda dengan rusa-rusa yang pernah aku dapat. Ini rusa ke sembilan yang aku dapat, bentuknya sedikit lebih kecil dengan hidung berwarna merah seperti badut. Ketika asik membolak-balik sweater berwarna marun tersebut ada sebuah amplop terjatuh di pangkuanku.

Ada sebuah surat di dalam amplop tersebut. Tulisannya sangat rapi, dan aku menduga bahwa tulisan ini pasti milik seorang perempuan. Aku senyam-senyum sendiri. Hey world! I have a secret admirer!!

Hey,
Ini hadiah terakhirku ya, kamu tak perlu menungguku lagi di depan pintu.
Jika kamu ingin bertemu denganku,
Pecahkan teka-teki ini.
"Namaku juga dimiliki oleh rusa-rusa natal. Aku telah memberimu 9 gambar rusa natal. Namaku ada disana."
FYI: aku seorang perempuan, jika kamu ingin mengetahui siapa aku jumpai aku di taman De la Rose malam ini jam 8 paling lambat. Gunakan nama-nama rusa tersebut untuk menemukanku.
Aku ada kejutan untukmu. xoxo

Aku masih terbengong-bengong membaca secarik kertas tersebut. 'Nama rusa natal??' aku berpikir keras. 'Aku saja tak tahu satu nama pun.' Sejenak aku masih berpikir keras. 'Ah kenapa tidak aku cari lewat internet saja. Pasti lebih mudah dan menghemat waktu.'
Aku pun sibuk mencari nama-nama dari 9 rusa natal. Tapi yang kutemukan hanya 8. Oke mulai dari yang 8 saja dulu. Ada nama Dasher, Dancer, Prancer, Vixen, Comet, Cupid, Donder dan Blitzen. Mana yang nama perempuan ya? Namanya saja aneh-aneh begitu. Apa namanya Dancer? atau Cupid? Bagaimana dengan Dasher? Aku semakin bingung mencari. Akhirnya kuputuskan untuk mencatat semua nama aneh tersebut. Tinggal 1 rusa lagi. Oh aku ingat, itu pasti rusa terakhir yang berhidung merah seperti badut. Aku kembali mencari referensi nama rusa tersebut di internet. Gotcha!! Namanya Rudolph. Namanya seperti manusia, pasti ini adalah bagian dari nama perempuan itu.

Jam 6.30 malam aku bergegas menuju taman De la Rose. Aku sengaja berjalan kaki. Siapa tahu aku akan menemukan petunjuk lagi. Sebenarnya memang konyol. Konyol sekali malah. Kenapa aku mau mengikuti teka-teki konyol ini. Tapi aku sungguh tertarik dengan tantangan perempuan itu. Lagipula aku juga sedang tak ada kerjaan. Karena besok malam natal. Jadi aku masih punya banyak waktu untuk liburan.

Sesampainya di taman, mataku menyapu seluruh bagian taman. Barangkali aku akan menemukan seseorang yang mencurigakan. Tapi tidak, semua orang disana bertingkah wajar. Ku putuskan untuk duduk di sebuah bangku taman yang terlindung oleh sebuah pohon. Aku terus mengamati keadaan. Tak sengaja aku melihat seseorang yang aku kenal sedang duduk dan membaca sebuah buku di sebuah bangku taman tak jauh dari tempatku. Vix! Hey, aku memecahkan teka teki itu! Perempuan yang duduk disana adalah Laura Vixen. Ya, Laura Vixen Rudolph. Persis nama 2 rusa natal milik Santa Klaus itu.

Aku pun berlari menghampirinya.
"Hi Vix!"
Dia mendongakkan kepalanya yang sedari tadi sibuk menekuni sebuah buku. Sembari membenahi letak kacamatanya dia tersenyum. Tangannya kemudian terulur, "Hi Harold. Long time no see, ya!"
Aku mengangguk.
"Akhirnya kamu menemukanku, aku pikir kamu masih sama seperti dulu. Agak bodoh. Hahhaaha!" Dia tertawa terbahak-bahak.
Aku hanya tersenyum kemudian aku memeluknya. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Aku sangat rindu padanya. Kau tahu dia siapa? Dia adalah pacarku. Sekali lagi aku katakan, dia adalah pacarku. Aku sudah lama tak bertemu dengannya, karena dia sedang kuliah di Perancis. Dan kini, satu hari menjelang malam natal, aku mendapat kado yang sangat indah dan istimewa, Laura Vixen Rudolph.


image was taken from here

Terkadang, kita tidak cukup peka untuk menyadari
apa dan siapa yang berada dekat dengan kita
Seringkali kita melupakan, 
bahkan sesuatu yang sebenarnya ada bersama kita
Membuka mata akan sesuatu, sekecil apapun itu
akan membuat kita tahu, siapa diri kita
dan siapa mereka
serta untuk apa diri kita dan mereka menjadi saling dekat

A Cup of Hot Chocolate, Alone

Malam ini begitu dingin. Aku masih terduduk diam di sebuah kafe terbuka di pinggir jalan besar di kotaku. Seperti biasa, setiap aku mampir ke kafe itu aku selalu memesan coklat panas dan keripik tortilla. Aku memang pecinta coklat. Semua makanan yang berbahan coklat pasti aku doyan. Lain ceritanya dengan keripik tortilla ini. Aku tak begitu menyukainya, hanya saja rasanya memang enak dan pas jika dimakan untuk cemilan.

Malam semakin dingin saja. Aku mulai memencet-mencet keypad handphone ku. Aku bukan sedang mengirim SMS untuk seseorang, aku hanya membuka-buka Twitter dan Facebook. Aku berharap menemukan dia malam ini, maksudku menemukan dirinya mengupdate statusnya di Facebook atau berkicau sesuatu di twitter. Namun, kosong. Terakhir kali dia update status itu 1 minggu yang lalu. Begitu juga dengan kicauannya di Twitter, paling baru itu 10 hari yang lalu. Aku putuskan untuk blogwalking ke blognya. Hanya 1 blog yang dia punya. Aku pun membukanya. Postingan terakhirnya masih sama. Masih tentang sebuah kekecewaan yang dia tulis dengan huruf besar semua. Aku berharap itu mungkin karena caps lock di keyboardnya sedang error. Tapi bukan itu, aku tahu, dia sedang marah, dia sedang kecewa. Padaku.

Angin malam bercampur dengan udara yang berair membuatku semakin menggigil di bawah gazebo yang disediakan oleh kafe. Secangkir coklat panas yang tadi mengepul, kini hanya tinggal secangkir minuman berasa coklat yang tak lagi memberikan kehangatan dan ketenangan. Keripik tortilla rasa keju yang tersaji di sebuah piring kecil di hadapanku kini sudah tak lagi renyah. Rasanya melempem dan tak lagi menggugah nafsuku untuk memakannya.

Deo, maafkan aku....


Saturday, November 17, 2012

A Weird and Broken Dream Catcher

Aku akui aku bukanlah seorang gadis yang mudah percaya dengan takhayul. Aku bukan superstitious. Aku malah merasa orang-orang yang superstitious itu adalah orang yang aneh. Aku percaya takdir, aku percaya pada Tuhanku, dan aku percaya pada jalan hidupku. Tapi entahlah, aku masih saja meragukan diriku, mengapa aku yang mengagung-agungkan keadaan bahwa diriku bukan seseorang yang superstitious justru memilih untuk menyematkan tinta warna kedalam kulitku membentuk sebuah simbol keberuntungan bernama dream catcher. Jika kau tanya bagaimana mulanya aku memilih untuk mentato pergelangan tanganku dengan sebuah gambar dream catcher akupun tak tahu. Yang jelas awal mulanya karena dia. Ya, cowok itu.

Sudah lama sekali sejak aku berkenalan dengan cowok itu, begitu pula aku juga sudah lama tak bertemu dengannya. Mungkin tak akan pernah bertemu lagi. Aku tak yakin sih. O ya, aku kenal dia pertama kali saat di bus, saat aku dalam perjalanan pulang dari rumah pamanku di sebuah desa di dekat teluk. Dia tidak istimewa. Bahkan wajahnya terkesan biasa saja. Rambutnya yang gondrong sedikit kumal, berwarna cokelat kemerahan dan bau matahari. Pakaiannya saja ala kadarnya. Kaus oblong berwarna krem dengan motif tribal yang aneh. Celana kargonya yang seperti tidak pernah tersentuh air dan detergen membuatku mengira dia itu semacam gelandangan. Tapi tebakanku salah, dia seorang pengelana. Saat dalam perjalanan kembali ke kota, dia banyak bercerita padaku. Akupun tidak merasa canggung untuk mendengarkan ceritanya meski aku hanya tahu namanya itu Rory. 

Sepanjang perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 4 jam itu, Rory banyak bercerita. Dari ceritanya aku tahu bahwa dia adalah seorang backpacker yang memiliki hobi di bidang fotografi. Dia sudah memiliki tunangan, dan tentu saja, dia bukanlah tipeku. Aku sadar betul, meski banyak yang mengatakan bahwa aku ini gadis liar yang suka pulang pagi, suka merokok, dan suka menenggak alkohol. Aku memang tak menampik semua perkataan orang itu, karena aku memang seperti itu. Aku berjiwa liberal karena aku cinta kebebasan.

Saat dalam perjalanan, Rory menunjukkanku sebuah foto yang sudah dicetak. Dalam selembar foto tersebut ada terpampang seorang gadis berusia sekitar 17 tahun. Dia menghadap ke pantai dengan menggenggam sebuah benda yang asing bagiku. Saat aku melontarkan pertanyaan kepada Rory mengenai nama benda itu, dia hanya terbahak. Namun kemudian dia menjawab bahwa benda itu bernama dream catcher. Orang Indian kuno di Amerika menggunakannya untuk menangkal bad luck atau kesialan. Mendengar jawaban Rory, aku terkikik. Ada-ada saja. 

Perjalanan menuju rumahku sudah dekat. Aku lihat Rory sedang menulis sesuatu di sebuah buku kecil. Akupun berbisik kepadanya bahwa aku bus yang kami tumpangi sudah hampir sampai ke tujuanku. Dia mengangguk dan tersenyum. Dia kemudian merobek buku kecil yang sedari tadi dia tekuni dan menyodorkan kertas sobekannya padaku. Aku menerimanya. 

Bus pun berhenti tepat di halte tak jauh dari rumahku. Aku melambai pada Rory yang juga melambaikan tangannya melalui jendela bus. Bus pun melaju bersama Rory meninggalkanku. Aku teringat pada secarik kertas yang diberikan Rory padaku. Akupun membaca isi tulisannya.

Maafkan aku,
Tapi bolehkah aku minta tolong padamu, Seanna?
Jika boleh, datanglah ke rumah tattoo bernama "The Hallway"
Carilah seorang pria tattoo artist yang bernama Bernard
Katakan padanya, "buatkan aku sebuah tattoo dream catcher"
Jika dia bertanya alasannya kenapa,
jawablah demikian, "aku ingin mengenang Rory, dan aku ingin memberitahumu 
bahwa dia meninggal dunia 
karena bus yang membawanya pulang mengalami kecelakaan"

-Rory-

Aku bergidik ngeri membaca beberapa baris tulisan Rory. Tulisannya begitu rapi. Ahh, aku pikir, itu hanya sebuah candaan konyol saja. Toh, aku juga tidak begitu mengenal Rory.
***
Ternyata aku salah besar, salah besar. Bus yang aku tumpangi bersama Rory tadi malam benar-benar mengalami kecelakaan maut. Seluruh penumpang yang tersisa tewas ditempat. Siang ini seusai mandi, kuputuskan untuk mencari alamat rumah tattoo bernama "The Hallway" di internet. Setelah mendapatkan alamatnya yang ternyata tak jauh dari blok tempat tinggalku, aku segera bergegas kesana. Dan benar apa kata Rory dalam tulisannya, aku dengan mudah menemukan tattoo artist bernama Bernard. Akupun mengatakan apa yang disuruh Rory melalui secarik kertas itu. Saat mendengar alasanku, Bernard hanya tersenyum simpul. Masih jelas kuingat dia bergumam, "ahh Rory, kau melakukannya lagi". Sampai kini aku tak tahu, apa maksud dari perkataan Bernard. Namun yang jelas, kini di pergelangan tangan kiriku aku memiliki tattoo sebuah gambar dream catcher dengan tiga helai bulu yang terjuntai, seperti dream catcher yang dipegang oleh gadis dalam foto milik Rory itu.

image was taken from here

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net