Showing posts with label Miss. Show all posts
Showing posts with label Miss. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Aku Rindu Cahaya Keemasan Mentari di Sore Hari

Entahlah, Jogja selama berbulan-bulan terakhir ini, bahkan sejak Agustus atau September tahun lalu berada di kurun musim hujan. Padahal semestinya sejak bulan April sudah memasuki kurun musim kemarau. Memang, ada kalanya hari-hari dihiasi panas terik matahari, namun ketika sore menjelang, gerombolan mendung selalu hadir menyapu langit biru dan membawa hujan. Bahkan sampai hari ini juga masih begitu. Aku rindu cahaya keemasan mentari di sore hari yang mengintip lembut dibalik dedaunan, begitu kataku dalam hati tadi sore setelah hujan deras berakhir. Kapan aku bisa mengabadikan semburat warna jingga dan emas yang menyorot dari arah barat yang kemudian tenggelam di balik pegunungan Menoreh di ufuk barat kota Jogja?

Ahh, aku jadi teringat, ketika dulu, sewaktu aku belum dewasa, aku sangat suka mandi cahaya matahari sore. Sinarnya yang berkilau anggun namun tidak membawa panas membuat aku sangat menikmatinya. Ditambah lagi dengan semilir lembut angin sore yang membawa bisikan-bisikan dari dedaunan. Aku rindu saat-saat menerbangkan layang-layang di sore hari sembari menikmati tarian indah capung-capung dan kupu-kupu. Kalau begini terus cuacanya, kapan aku bisa bermain dengan tanah, pasir, dan rerumputan kering yang hangat?


~Catatan kerinduan akan sebuah senja bermatahari



Saturday, November 24, 2012

I (Really) Miss These Candies

The word 'miss' doesn't always refer to somebody or people, even we can miss a thing we no longer have. Yay, I feel the same. I miss my old favorite. Actually, I don't have them anymore, but I wish I could get them all again.
Well, these are my old favorite that I miss right now (but they are no longer available in store).

image was taken from here
This is nut-milk candy. The taste was really great :) When I was kid, my mom always gave me those candies after she back home from work. I didn't know the brand of that candy, but the taste was really great. If you want to know the taste, you can try to consume Nano Nano Nougat (but these candies are more solid).

Saturday, November 17, 2012

Mengejar Pelangi

Pagi ini hujan semalam masih menyisakan gerimis disertai bau tanah basah. Sebenarnya bukan lagi bau tanah basah seperti biasa melainkan ditambah dengan bau sedikit anyir khas tanah berpasir di sekitar pantai. Aku sengaja meninggalkan penginapan, hanya untuk mencari sedikit udara segar diluar. Aku merasa bosan untuk tetap berada di sebuah cottage yang terletak di sebuah bongkahan karang raksasa di ujung utara sebuah pantai berpasir putih yang aku samasekali tak tahu namanya. Aku meninggalkan penginapan tanpa alas kaki, hanya mengenakan jaket rajut yang sama sekali tidak mampu melindungiku dari udara dingin yang sangat menusuk. 

Aku meneruskan langkah kecilku menyusuri bibir pantai. Tak ada matahari yang menyapaku, hanya ada suara burung laut yang beterbangan dan deburan ombak yang terdengar sangat keras. Gerimis perlahan membasahi rambutku dan juga badanku. Tapi aku tak peduli. Sesampainya di dekat sebuah laguna aku menghempaskan badanku ke pasir yang basah. Mataku nanar menatap kedepan, mencari kalau-kalau ada pelangi yang aku lihat. Kosong. Aku tak menemukan guratan warna merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Ya, sinar matahari saja tak tampak, pelangi pun juga tak mungkin bisa tampak.

Angin dingin menerpaku, menggoyangkan rambutku yang sengaja kuurai. Aku merapatkan jaket rajutku. Mendekapkan tanganku ke badanku sendiri. Aku rindu kebebasan. Aku rindu tempat dimana aku berada dulu. Aku rindu kehidupanku. Disini, aku sekarat. Aku sekarat menunggu kematianku. Oke, aku akui, disini aku tidak menderita suatu penyakit yang mematikan, tidak juga sedang ingin bunuh diri. Aku disini juga tidak sedang disekap, diculik, atau apapun itu. Aku disini, hanya diasingkan. Aku tegaskan sekali lagi, aku sedang diasingkan.
***
"La, kamu harus mau ikut denganku!" Dia menggenggam tanganku dan aku melihat matanya yang terlihat semakin sayu.
"Aku tak tau harus bagaimana Greg. Aku takut kau akan..." Tenggorokanku tercekat, aku tak mampu melanjutkan ucapanku.
"La, apakah kamu mencintaiku?" Lelaki bernama Greg itu terus bertanya kepadaku.
Aku mengangguk, "Aku sangat mencintaimu Greg."
"Lalu, apalagi yang membuatmu tak ingin pergi denganku?" Dia terus menggenggam tanganku, "Aku akan menikahimu La."
Jantungku bergemuruh, seolah aku bisa mendengarkan seluruh desiran aliran darahku tepat ditelingaku.
"Aku tahu Greg. Tapi, ayahku..."
Greg menyeka airmataku, tangannya yang lembut mendekapku.
"Greg, aku harus pergi. Aku tak mau kalau ayahku sampai tahu aku menemuimu lagi."
"Tapi La..." Aku menepis tangannya. Mataku memandang kearah jendela dari kafe tempat kami bertemu. Diluar hujan gerimis masih saja turun.
"Greg, aku tak mau kamu berurusan lagi dengan ayahku. Dia bisa saja membunuhmu Greg!"
"Aku tak peduli La! Yang aku pedulikan hanya kamu!"
"Maaf..." Aku berlari keluar kafe. Meninggalkan sepasang mata sayu yang hanya bisa menatapku lewat jendela kaca.
***
"Viola!!"
Suara parau khas ayahku membangunkanku pagi ini. Dingin, dan semakin dingin rasanya disini.
"Ada apa ayah?" aku menjawab sembari mengucek mataku. Memfokuskan pandanganku yang masih sedikit kabur.
"Apa kau bertemu dengannya lagi?"
"Siapa?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
"Lelaki itu. Lelaki gila penulis cerita konyol itu. Lelaki pendongeng yang tak punya masa depan itu."
Aku terdiam. Aku merasakan jantungku berdegup semakin kencang, tenggorokanku serasa menebal, dan mataku panas. Aku tak terima ayahku mendeskripsikan pria yang paling kucintai dengan kata-kata seperti itu. Greg tidak seperti itu. Greg punya masa depan.
"Tidak," aku berucap lirih. Aku berbohong, untuk keseribu kalinya, mungkin.
"Bagus. Jauhi saja dia. Dia tak pantas untukmu. Kamu patut mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik dari generasi yang terbaik."
***
Aku membayangkan mata itu lagi. Bukan mata sayu yang dulu selalu aku lihat semasa aku masih kuliah. Mata ini mata yang bengis, mata yang selalu memandangku bagaikan aku adalah seekor itik liar yang siap menjadi mangsanya. 
"Viola, cepatlah. Temui segera calon suamimu itu!" Suara parau ayahku terdengar dari balik pintu kamar. Tapi bukan kamarku, kamar yang biasa menjadi tempat tidurku yang paling nyaman. Aku bahkan membenci kamar ini. Kamar yang terletak diujung, dengan jendela yang menghadap langsung ke samudera. Sering aku berpikir untuk bunuh diri saja dengan melompat dari ujung jendela di cottage ini. Tapi selalu kuurungkan. Aku tahu, bunuh diri adalah hal yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Dan aku, manusia beriman. Cukup beriman.

Aku beranjak dari meja rias. Dan malam ini, adalah malam pertunanganku dengan lelaki bermata bengis itu. Lelaki yang memiliki senyum yang menyakitkan. Lelaki yang kata ayahku adalah keturunan terbaik dari generasi terbaik. Ya, perlu diketahui, ayahku adalah ketua sebuah organisasi mafia. Ayah dari lelaki itupun sama. Jadi kesimpulannya, jika aku mau menikah dengan Lee maka organisasi ayahku dan ayahnya akan bergabung. Mereka akan menjadi penguasa daerah ini. Membayangkannya membuatku merasa seperti barang dagangan. Ayahku melakukan barter dengan ayah Lee. Lee mendapatkan aku, dan ayahku mendapatkan kekuasaan. Cihh!

Ahh, andai ibu masih ada, pasti ayah tak akan berbuat seperti ini. Yang aku ketahui ayahku sangat mencintai mediang ibukku. Apapun yang ibukku katakan, ayahku selalu mengikutinya. Namun, sejak ibukku tak ada. Ayahku berubah. Dulu aku tak pernah dikawal oleh anak buah ayah. Tapi sekarang, kemanapun aku pergi, mereka selalu ada. Sekarangpun, aku harus tinggal disini. Ditempat yang sangat asing bagiku. Tak ada orang lain disini kecuali keluargaku dan orang-orang yang bekerja untuk ayahku. Akupun tak tahu bagaimana aku bisa menemukan jalan keluar. Yang aku tahu, tidak ada kendaraan yang bisa digunakan untuk keluar pulau kecuali kapal atau helikopter.
***
"Nona Viola. Nona. Nona!!" Kudengar seseorang memanggilku. Aku merasa ada sebuah tangan hangat yang menggoyang-goyangkan bahuku. 
"Uhukkk! Uhukk!" Aku tersedak. Perlahan aku membuka mataku. Kulihat seorang pelayan di rumahku memandangku dengan tatapan cemas.
"Nona tidak apa-apa? Nona kenapa tidur di pantai?"
Aku tidak menjawab. Akupun tak sadar kalau aku malah tertidur di pantai. Yang kuingat hanyalah, tadi pagi buta aku berjalan-jalan di sepanjang pantai.
"Nona, Tuan Besar mencari Nona. Untung Nona segera saya temukan." Wanita separuh baya itu memandangku dengan sedikit gelisah.
"Apakah Nona tidak ingat?"
"Ingat apa?" Aku menegakkan badanku. Beberapa butiran pasir masih menempel di pipi kiri ku.
"Hari ini adalah hari pernikahan Nona dengan tuan Lee. Nona harus segera mempersiapkan diri."
Aku ingat, sangat ingat malah, aku hanya berpura-pura saja. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Tinggal 3 jam lagi aku akan menikah dengan Lee. Lelaki yang tak pernah kucintai.

Akupun beranjak dari sisi pantai. Wanita separuh baya itu mengikuti langkahku.
"Ahh Greg, lelaki bermata sayu, penulis gila, pendongeng yang tak punya masa depan, aku merindukanmu!" Aku bergumam sembari melangkahkan kakiku menuju cottage di atas karang. Jauh di ujung cakrawala aku melihat semburat warna merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Aku berhenti sejenak untuk memandangnya, membayangkan diujung sana Greg sedang menulis sebuah cerita dimana aku yang selalu menjadi tokoh utamanya. Selalu.


image was taken from here



Tyas
-Sebuah inspirasi yang muncul sehabis hujan-

Saturday, November 3, 2012

Aku, Piano, dan Secarik Kertas Merah Jambu

Aku meremas-remas secarik kertas berwarna pink itu. Ya, kertas itu memang bukan kertas sembarangan. Aku menerimanya beberapa jam yang lalu. Awal mulanya, kertas itu terlipat rapi dan terbungkus sebuah amplop berwarna marun. Aku bukannya tak sengaja ingin menghancurkan lembaran kertas itu. Aku sengaja, memang sengaja!! Asal kau tahu, hatiku hancur! Benar-benar hancur!
***
"Lopas!!" Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Sialan!
"Apa sih?? Ganggu orang aja!" Aku membentaknya. Dia, namanya Dena, cewekku. 
"Lopas, temenin gue makan yuk, laper nih." Dia menarik-narik tanganku. 
"Sorry Na, gue lagi kerja, lo nggak liat apa?" aku membentaknya lagi, kali ini aku memang sedikit kesal.
"Gue liat lo cuman bengong, mana ada lagi kerja!" Dena menatapku sewot. Akhirnya aku mengalah. Aku menggeser kursi dimana aku duduk tadi, di depan sebuah piano tua milik ayahku.
"Mau makan dimana Na? Nggak usah jauh-jauh ya, gue masih harus nyelesein garapan lagu baru gue."
Dena mengangguk. "Di rumah makan Padang aja ya Pas, gue lagi pengen makan nasi sama terong balado."
Aku mengiyakan sembari menarik ritsleting jaketku. 

Aku dan Dena menyantap makanan di piring kami masing-masing. Dena sedari tadi tidak bisa diam. Dia mengoceh kesana kemari. Sejak pertama kenal dia memang hobi ngoceh. Jauh berbeda denganku, aku lebih pendiam dan jarang bicara. Aku merasa kalau banyak bicara itu nggak penting. Tapi beda dengan Dena, dia memang tidak bisa berhenti bicara. Aku juga nggak tahu kenapa dulu aku memilih untuk jatuh cinta dengannya. Yang aku tahu hanya karena Dena itu mirip dengan mantan pacarku sewaktu kuliah dulu. Ya, aku dulu pacaran dengan seorang cewek yang punya kemiripan dengan Dena, pacarku sekarang. Cewekku dulu bernama Liana. Liana memang mirip dengan Dena. Ukuran tubuhnya yang tinggi dan berperawakan ramping, rambutnya yang dipotong bob dengan poni. Liana banyak berbicara, sama seperti Dena. Hanya saja, aku pikir, Liana lebih cerdas dibanding dengan Dena. Tapi dia hanya masa lalu. Masa dimana aku melakukan kesalahan yang amat bodoh. Ahh Liana!

"Lopas, lo napa sih? Bengong mulu? Kayak gue disini nggak dianggep aja." Dena mulai sewot lagi.
"Sorry Na, gue kepikiran kerjaan nih. Musti cepet kelar soalnya. Lo tau kan, instrumen itu harus jadi dua minggu lagi." Aku sedikit berkilah. Dan Dena percaya.
"Oke deh, kalau soal kerjaan, gue ngalah Pas." Dena beranjak, dia sudah selesai makan, sedangkan nasi Padangku baru aku makan dua sendok. Ah, aku tak lagi bernafsu untuk makan.
***
Akhirnya aku menyelesaikan instrumen lagu ini. Lagu ini adalah lagu buatanku sendiri. Hanya saja, pihak penyelenggara hanya membutuhkan instrumennya saja. Aku memang punya pekerjaan sebagai pembuat instrumen dan penulis lagu. Aku bekerja lepas dan kadang bekerja sama dengan beberapa panitia pertunjukan. Kali ini, aku membuat instrumen untuk soundtrack dari sebuah pertunjukan drama musikal. Drama musikal kali ini memang tidak sembarangan, drama musikal ini dibuat oleh mahasiwa-mahasiswa di almamaterku. Dan saat hari H nanti, akulah yang bertugas untuk memainkan instrumen yang aku buat. Aku membayangkan hal ini akan jadi momen yang luar biasa, karena beberapa alumnus akan datang. Termasuk Liana, aku harap begitu.
***
Besok adalah gladi resik pentas drama musikal di universitasku. Tinggal dua hari lagi, pentas besar menyambut Dies Natalis Universitas akan diadakan. Aku jadi tak sabar. Aku bukannya tak sabar untuk memainkan piano di hadapan semua penonton, bukannya tak sabar untuk mendengar gemuruh applause yang bergema sesaat setelah penampilanku. Bukan! Aku tak sabar untuk melihat Liana. Melihat seperti apa dirinya, setelah hampir dua tahun tak lagi bertemu denganku. Ah Liana!
***
Hari yang aku tunggu pun tiba. Aku berdandan seperti layaknya pianis profesional, meski bermain piano dan membuat lagu hanyalah hobiku saja. Dulu mediang ayahku yang mengajarkannya padaku. Ayahku adalah seorang pianis dan pencipta lagu. Bahkan beliau  memberikan nama Lopas pada anak satu-satunya karena nama ini sama dengan nama guru musiknya dulu waktu bersekolah di Jerman. 
"Pas, main yang bagus ya! Gue bakal dokumentasiin." Dena menemuiku di belakang panggung. Wajahnya terlihat sangat antusias. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dalam hati aku terus mengucapkan kata maaf pada Dena, karena aku kali ini ingin bermain piano untuk Liana. Bukan untuk Dena seperti biasanya.
***
"Plokk plokk plokk plokk!!" Gemuruh tepuk tangan dari penonton menggema di auditorium kampus. Pertunjukkan sudah selesai dengan sangat sempurna. Aku pun sukses menutup pentas malam itu dengan permainan pianoku yang apik. Aku berdiri berjajar bersama dengan seluruh aktris, aktor, dan kru pertunjukan malam itu. Mataku sibuk mengamati bangku penonton satu persatu. 'Mana Liana?' batinku. Yang kulihat hanya Dena yang melambai-lambai ke arahku. Aku tak peduli. Pandangan mataku kembali menyusuri tiap baris di bangku penonton, tapi nihil. Liana tak ada. Padahal jelas-jelas aku lihat namanya tertulis dalam buku tamu.

Seusai acara, aku lalu menuju belakang gedung auditorium. Aku memantik korek api ke arah batang rokok yang aku jepit diantara kedua bibirku. Aku duduk sejenak di dekat auditorium, merokok. Angin malam berhembus, memainkan rambutku yang sudah agak panjang. Dinginnya malam membuatku ingin segera beranjak dari lokasi itu. Aku berdiri sejenak, memperhatikan seseorang yang berjalan ke arahku. Dena? Oh bukan, itu bukan Dena, rambut Dena tak sepanjang itu. Itu...
"Liana!" Aku berseru ke arah wanita yang sedang berjalan ke arahku. Wajahku berseri-seri melihat bahwa Liana menghampiriku.
"Hai Pas." Dia tampak tak begitu antusias menyambutku. Garing rasanya.
"Apa kabar Na?" Aku memperhatikan Liana dengan seksama. Dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Baik Pas," dia masih menunduk, "Penampilan kamu bagus."
"Ahh, makasih Na." 

Kami akhirnya memilih untuk duduk di bangku taman yang agak jauh dari auditorium. Aku sengaja memilih tempat yang sepi, agar Dena tidak mudah menemukanku. Aku berharap Dena masih sibuk dengan apapun itu. Handphone pun aku matikan, aku tak mau Dena mengganggu momenku bersama Liana.
"Pas, emmm ..." Liana tampak gelisah. Dia meremas-remas tangannya sendiri. 
"Kenapa Na? Kok kayaknya gelisah gitu?"
"Pas, aku pikir, kita benar-benar sudah berakhir. Kamu juga mikir begitu kan?"
Aku terdiam. Aku tak bisa menjawab. Pada dasarnya aku masih mencintai Liana. Demi apa aku masih sangat mencintainya.
"Aku pikir nggak gitu Na. Aku ... aku ... aku masih ..."
"Nggak Pas, kita emang udah selesai!" Suara Liana bergetar, aku tahu dia sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Na." Aku mengulurkan tanganku, tapi ditampiknya.
"Pas, aku akan segera menikah!" Liana menatapku penuh airmata. "Aku akan menikah minggu depan Pas!"
Deg!!! Jantungku serasa berhenti, nafasku tercekat. Aku tak bisa berkata-kata.
"Pas, sebulan lalu aku tahu kalau kamu sudah punya kekasih lagi, makanya aku pikir waktu itu saat yang tepat untuk menerima lamaran Jody. Aku nggak bisa Pas kalau harus menunggumu yang tak punya kepastian! Menunggumu yang lari dari tanggung jawab!"
Aku masih terdiam, aku tidak tahu harus berkata apalagi di hadapan Liana. Aku memang salah dan aku memang pria terbodoh yang pernah ada.
"Pas, aku harus pulang sekarang, Jody sudah menungguku di parkiran. Aku harap kamu bisa datang ya, aku harap kamu bisa datang dan bertemu dengan Niko." Liana berjalan meninggalkanku bersama sebuah amplop berwarna marun.
***
Dua tahun yang lalu...
"Liana, aku mau menikahi kamu. Tapi tidak sekarang Na! Aku belum siap apa-apa!" Aku menggenggam tangan Liana yang terasa dingin dan pucat.
"Pas, lalu aku harus bagaimana? Perutku akan bertambah besar dan semua orang akan tahu kalau aku hamil!!" Liana menangis dihadapanku. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Aku tak bisa melihat kenyataan bahwa pacarku sedang mengandung anakku.
"Na, kalau kamu gugurkan saja bagaimana? Kandungan kamu masih muda, masih dua bulan. Pasti masih bisa digugurkan."
"Enggak Pas! Enggak akan! Aku nggak akan membunuh anakku sendiri!" Liana menangis semakin keras. Aku sudah gelap mata. Aku pun berlari meninggalkannya. Meninggalkannya sendiri menangis di ujung taman tempat paling favorit kami berdua.
***
Selama satu setengah tahun aku menetap di Jerman. Aku tinggal di rumah warisan ayahku disana yang ditempati oleh adik ayahku semenjak ayahku meninggal. Di Jerman juga aku bertemu dengan Dena, yang aku anggap sangat mirip dengan Liana. Aku mencoba menebus rasa bersalahku pada Liana melalui Dena. Aku pun memacarinya, dan selalu memainkan lagu-lagu buatanku dengan piano usang milik ayahku ini. Aku melakukan apa yang dulu disukai oleh Liana. Ketika pulang ke Indonesia bersama Dena, aku mencoba mencari Liana, tapi tak ketemu karena dia sudah pindah rumah bersama keluarganya entah kemana. Aku jadi semakin merasa berdosa padanya. Jangan-jangan dia pindah karena aku, karena perbuatanku. Liana pasti sangat malu dan tertekan menjadi ibu dari anak yang ayahnya tidak mau bertanggung jawab.
***
Beberapa bulan aku berada di Indonesia, aku mendapati Liana mengirimkan beberapa foto seorang anak laki-laki berambut ikal. Aku melihat matanya, mirip dengan mataku. Di balik salah satu foto itu, aku menemukan tulisan, Nikolas Armando Lopas -7 Juli 2011-. Aku menangis tanpa suara. Aku mendekap foto-foto Niko, anakku. Aku ingin menemuinya tapi aku tak tahu dimana aku bisa menemuinya. Aku membolak-balik amplop itu. Tak ada alamat, sialnya amplop itu dikirimkan melalui jasa kurir tembak atau kurir tidak resmi. Hanya ada sebaris tulisan di balik amplop itu. 'Kita harus bertemu setelah acara Dies Natalis Universitas, Liana'.

Malam ini aku benar-benar bertemu dengan Liana. Wanita yang paling aku cintai seumur hidupku. Harusnya aku bahagia karena dia masih sudi menemuiku, melihat wajahku, dan mendengar suaraku. Tapi kenyataanya, hatiku hancur oleh sebuah amplop berwarna marun yang dia berikan padaku. Dia akan menikah dengan Jody. Jody yang juga teman sekampusku dulu, Jody yang juga adalah temanku sejak kecil, yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Keparat!! Tapi apa boleh buat, ini salahku sendiri. Kebodohanku sendiri. Aku janji Liana, aku akan datang ke pernikahanmu. Aku akan datang, menemui Niko, darah dagingku. Aku berjanji Liana! Aku tak akan mengingkarinya lagi! Aku tak akan melarikan diri lagi! Aku tak akan mengecewakanmu lagi! Aku janji Liana! Aku janji Niko!


image was taken from here




Tyas
-Inspired from Piano Instrumental on Winamp playlist-

Sunday, August 28, 2011

Miss You

Aku masih mengingatmu,
Aku merindukanmu,
Aku menginginkanmu lebih dari siapapun,



 image was taken from here


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net