Showing posts with label Wishes. Show all posts
Showing posts with label Wishes. Show all posts

Monday, April 20, 2015

Antara Aku dan Kebiasaan Menabung

Menabung hampir selalu menjadi sebuah wacana bagiku. Terkadang aku sudah sangat excited-nya untuk menabung dan sudah mengumpulkan pundi-pundi yang lumayan, namun hal ini tidak bertahan lama. Pernah sudah sampai sekian juta, kemudian ada saja hal-hal yang kemudian membuatku menguras tabungan, seperti: laptop mendadak mati, tas mendadak rusak, ada buku-buku bagus yang terbit subsequently, dan lain sebagainya. Alhasil, menabung adalah hal yang cukup sulit untuk aku lakukan.

Saking susahnya menyisihkan uang tanpa mengutak-atiknya di kemudian hari membuatku memutuskan untuk menjadikan "MENABUNG" sebagai salah satu resolusi 2015 ini. Mulai dari "nol" kataku waktu memutuskan untuk memasukan kegiatan menabung dalam daftar resolusi 2015. Sejak Januari lalu, aku mulai menyisihkan sebagian gajiku untuk ditabung, yah meskipun masih bolong-bolong alias masih sering aku comot untuk kebutuhan tak terduga yang sangat urgent tapi setidaknya saldo tabungan di bank masih bisa dibanggakan :)

Selain menabung, perencanaan keuangan yang baik harus menjadi salah satu plot yang wajib aku jalani demi terciptanya status financial yang kuat *ahh, bahasanya vickynisasi sekali*. Maksudnya, biar pengeluaranku lebih terkontrol. Toh, aku juga termasuk pekerja kantoran yang punya gaji pokok, jadinya membuat perencanaan keuangan bulanan bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan karena selalu ada income yang stabil tiap bulannya.

Post ini aku buat untuk self-reminder agar aku nggak asal-asalan lagi menggunakan gajiku tiap bulannya. Syukur-syukur bisa menabung dan bisa digunakan untuk traveling, memenuhi kebutuhan mendadak, memulai suatu bisnis, atau hal-hal lain yang memuaskan batin.

MARI MENABUNG!!!


~xoxo~

Sunday, July 28, 2013

Blog Update and August Wishlist

Hi Hi Hi Blogger! Lama banget ya aku nggak ngepost sesuatu di blog ini. Hmm, kalau kemarin-kemarin sih karena sibuk ngurusin pendaftaran buat pendadaran. Birokrasinya cukup rumit dan ribet karena harus kesana-kemari. Tapi gapapa lah, yang penting sudah resmi daftar, walaupun nggak taulah isi skripsiku kira-kira bermutu atau enggak. Modal nekat aja, daripada nggak lulus-lulus. Hiks!

Well, pindah dari urusan skripsi (yang bikin nggak doyan makan), aku mau bahas sesuatu  nih. Yaitu wishlist. Ya, beberapa hari lagi udah bulan Agustus. So, this is the perfect time to share my wishlist.

1. Mint Jeans

Kemarin sih sempet nemu jeans warna mint di Matahari Dept.Store mana harganya cut off 50% dari harga reguler Rp368ribuan lagi. Sayangnya kemarin itu pas kesana aku agak keburu-buru, jadinya belum sempet milih and beli. Semoga bulan depan masih ada dan masih diskon, amien. Sukur-sukur diskonnya jadi 75%. Hahaha.

2. Formal Blazer

Bulan depan aku butuh blazer baru yang formal buat thesis defense. Udah punya beberapa sih, tapi udah agak nggak nyaman dipakai. Yang masih nyaman dipakai warnanya abu-abu, agak kurang sreg karena roknya yang mau aku pakai warna hitam. Lebih baik sih cari yang baru yang warnanya gelap. Kemarin ada sih blazer Cole, modelnya juga bagus. Harganya juga lumayan sih, nggak mahal-mahal banget. Cuman kemarin pas ke Matahari Dept.Store ukuran blazer Colenya nggak ada yang pas. Paling gede cuma L stocknya. Duh! Belum beruntung sepertinya.

3. Fringe Hobo Bag


Pengen banget dari dulu tas yang model begini. Ada serut-serut ala Indian Native gitu. Ahhh, tapi di Jogja nggak ngerti belinya dimana. Anyone knows?

4. Boots
Entahlah, mungkin aku lagi ngidam koboi-koboi-nan jadinya hampir semua barang yang aku pengen ada unsur koboi-Native Indian nya. LOL. Tapi, sejujurnya sih karena aku lagi bosen aja sama model-model sepatu sekarang. Pengennya pakai boots gitu. Sayangnya, agak weird memang kalau pakai boots di Indonesia di saat-saat biasa. Jadi pengennya bootsnya nggak terlalu koboi dan nggak terlalu tinggi leher sepatunya tapi boots yang cute kayak yang dipakai cewek-cewek Korea atau Jepang gitu. Hah!


~Hug & Kiss~
xoxoxo

 

Saturday, May 11, 2013

Boyce Avenue 2013 World Tour, Please Vote!

Sejak keluarnya pengumuman kalau Boyce Avenue bakal ngadain tour keliling dunia, aku udah keranjingan banget. Berdoa semoga Boyce Avenue tour ke Indonesia juga. Well, sebelumnya perkenalkan, aku adalah salah satu dari jutaan fans akutnya Boyce Avenue. Aku sangat suka lagu-lagu yang mereka bawakan, baik lagu cover maupun lagu ciptaan mereka sendiri. Mereka itu tiga bersaudara lho. Personilnya *buat yang belum tau* adalah Daniel Manzano, Fabian Manzano dan Alejandro Manzano. Yeah, mereka itu keturunan Puerto Rico yang tinggal di Florida. Yang bikin aku suka dari mereka adalah suara Alejandro Manzano sebagi vokalis yang serak-serak menggetarkan jiwa, ketrampilan mereka main gitar, piano, dan macem-macem alat musik lainnya *they are so talented*, dan kegokilan mereka (aku koleksi VLOG mereka lho). Selain itu yang aku suka dari mereka bertiga adalah karakter mereka. As far as I know, mereka itu sangat sopan, cinta keluarga, setia dengan keluarga, dan penyayang. Yang unik itu, beberapa lagu yang mereka cover sengaja mereka ganti beberapa liriknya yang agak "rude" menjadi lebih sopan. FYI, awal mula aku suka sama Boyce Avenue itu awal tahun 2010an kalau nggak salah. Waktu itu sih aku belum jadi fan mereka, cuma suka aja sama lagu-lagu mereka. Tahun 2011 mulai deh nyari-nyari album mereka dan mulai keranjingan sama segala sesuatu yang berbau Boyce Avenue. Semua album udah aku punya lho. Mulai dari yang cover sampai yang original music mereka. I am a true fan of them :) *proud*

Tahun ini sih Boyce Avenue udah resmi membuka label recording mereka sendiri yang bernama Three Peace. Jadinya mereka lebih fokus ke bisnis recording dan nyanyi. Penyanyi pertama yang signing ke Three Peace adalah Hannah Trigwell. Doi penyanyi dari Inggris dan doi seumuran deh sama aku. Hohoho. Tapi sampai pertengahan tahun ini Hannah Trigwell masih dalam tahap recording gitu lah *katanya*. Pas akhir tahun 2012 kemarin Boyce Avenue sempet ngasih announcement kalau mereka akan mengadakan suatu project besar di tahun 2013. Secara resmi belum dibongkar apa itu project besar mereka. Aku tebak-tebak buah manggis aja. Option pertama adalah peluncuran album baru Hannah Trigwell, option kedua Boyce Avenue bakal ngeluarin album original mereka untuk yang kedua kalinya, option ketiga adalah world tour. Ternyata, setelah 5 bulan menunggu *elap keringat* Boyce avenue meluncurkan sebuah video di Youtube. Isinya sih rencana world tour mereka. 


Di video mereka ini mereka meminta para fans dan para manusia di seluruh dunia untuk vote negara mana yang akan didatangi oleh mereka. Votenya harus sign up dulu di official website mereka di Boyceavenue.com. Aku sama beberapa temenku sih udah vote dan berharap Indonesia menjadi salah satu negara yang mereka kunjungi. Kalau kalian mau vote, boleh banget kok, cuma tinggal masukin alamat email sama pilih negara kalian Indonesia kemudian enter. Udah selesai, cuman gitu aja kok. Please, bantuin vote yaaaaa *sungkem*.

Pengumuman nama negara dan tanggal tour akan dilakukan secara live di website mereka pada tanggal 14 Mei 2013. Aku jadi deg-deg an banget nih, LOL. Deg-deg an karena takut Indonesia nggak masuk ke jajaran negara yang bakal dikunjungi oleh Boyce Avenue *doa Novena 3x Salam Maria*. Anyway, selain karena takut kuantitas votenya tidak memenuhi kriteria, aku juga takut kalau mereka nggak mau tour ke Indonesia karena alasan keamanan. Masih inget kan batalnya konser Aerosmith di Jakarta yang harusnya dilakukan hari ini, Sabtu 11 Mei 2013 gegara alasan keamanan. Huff! Susah deh ya kalau negara kita semakin hari semakin nggak aman gini. Teroris dimana-mana, kejahatan dimana-mana, ya Tuhan, ada apa dengan negaraku ini??? So, mungkin batalnya konser Aerosmith kemarin bisa menjadi cermin untuk peningkatan keamanan di Indonesia. Salam!


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Saturday, May 4, 2013

Keinginan Punya Mini Studio dan Jadi Konsultan Fashion Mendadak

Sudah lama aku memiliki keinginan buat punya ruang kerja sekaligus ruang kreasi atau nama kerennya studio. Aku memang bukan 100% pekerja seni maksudnya seni yang berbau kerajinan tangan. Menjahit saja aku tidak mahir apalagi merajut, LOL. Tapi, aku cukup kreatif kok. Aku suka menghias benda-benda. Aku juga suka membuat aksesoris handmade. Dan aku suka DIY!! Ya meskipun dengan alat dan bahan yang terbatas sih. Well, dulu jaman-jaman SMP-SMA aku suka bikin bros-bros kecil dan juga kalung. You know what? Aku selalu pakai peralatan kerja punya bapak. Aku suka diam-diam meminjam tang pemotong kawat dan pembengkok kawat. Kadang juga mainan solder buat nyambung rantai dan kawat. LOL. Pernah punya keinginan untuk membeli peralatan khusus untuk membuat handicraft tapi duitnya belum ada. Sekarang pas udah kerja (udah punya gaji sendiri) malah keranjingan shopping *duh! tepok jidat*.

Kecintaanku pada handicraft, handmade accessories, dll udah lama banget. Sejak masih kecil malah. Kalau dulu aku suka bikin gelang atau kalung dengan bahan manik-manik dan senar elastis untuk bonekaku *bonekanya kayak boneka Susan, yang matanya bisa merem melek*. Pernah juga aku coba jual ke teman-temanku SD. Tapi aku bikinnya dengan sistem PO alias pre-order *ceilah*. Jadi mereka pesen bentuknya sesuai dengan contoh yang aku bawa terus aku buatin. Tapi justru kegiatan membuat aksesoris handmade tersebut bikin ibuk marah. Kenapa? Karena aku jadi lupa belajar dan uang sakuku habis untuk beli manik-manik dan senar. Alhasil kegiatan itu cuma berlangsung beberapa bulan saja dan tanpa menghasilkan untung yang signifikan

Pada intinya, aku pengen aja punya ruang khusus untuk bereksperimen dengan bahan-bahan untuk membuat handicraft dan aksesoris handmade. Kalau bisa sih ruangannya ada karpet woolnya jadi empuk, hangat, dan tentunya enak buat gegoleran. FYI, aku lebih kreatif kalau gegoleran kesana-kemari saat mencari ide. Beneran deh! LOL.


O ya, aku juga mau cerita soal menjadi konsultan fashion mendadak. Entahlah, tapi memang sudah beberapa kali teman-temanku menanyakan bab fashion padaku. Padahal aku sendiri tidak ahli dan bahkan tidak begitu fasih dengan istilah-istilah dalam fashion, tapi aku mau belajar dan terus mengupdate informasi sih. Aku sempat tanya sih pada beberapa temanku itu, apa alasan mereka mengkonsultasikan fashion padaku. Alasan mereka sebagian besar sih karena aku unik. Yes, I am unique but kinda weird, LOL. Unik kenapa? Karena baju-baju atau sepatu yang aku pakai unik, beda, dan impressive tapi nggak nyolok mata dan tentunya MURAH MERIAH tapi BERKUALITAS. Mereka juga bingung padahal kalau dilihat dari segi badan aku ini semokhhh *pake H* banget, LOL, tapi kalau pakai baju selalu pas dan nggak aneh. Mereka nggak tau aja kalau aku sering salah beli baju dan ukuran, hehehe.

Jadilah aku sebagai teman yang merangkap sebagai konsultan fashion mendadak dan gratisan. So, temen-temenku suka ngajak aku kalau mereka mau beli baju. Atau minimal mereka tanya dimana beli baju ini, baju itu, dimana ada diskon, dimana ada cowok ganteng, dll. LOL. Bagaikan aku ini adalah papan informasi dengan database setara Terabyte. LOL. Tapi aku seneng sih, bisa membantu mereka at least buat tampil gaya dan percaya diri dengan apa yang mereka pakai. Beneran lho, yang namanya PD itu susah buat dibangun apalagi yang berhubungan dengan pakaian. Takut saltum itu alasan utama orang nggak PD dengan apa yang mereka pakai. Padahal aku udah sering banget saltum lho dan aku juga nggak pede-pede amat. LOL.

Seperti kejadian beberapa waktu lalu, ada temen yang lihat aku pakai baju A. Dia tanya, baju ini beli dimana dan harga berapa. Dia kira aku beli di olshop import dengan harga ratusan ribu. Aku jawab aja kalau beli di toko A dengan harga sekitar 45ribu. Dia nggak percaya pake banget-banget. Dan akhirnya dia minta dianterin ke toko tersebut. LOL. Tapi sayangnya baju yang modelnya sama nggak ada. *puk puk temenku*



P.S: You are welcomed to visit my blog about fashion style here. But so sorry if I have not updated it for a while (for a long time I mean, it's kinda difficult and wasting time to compile some pictures into one page). Enjoy!


~Hug & Kiss~
xoxoxo


Sunday, April 14, 2013

My Dream: Indoor Urban Garden


Ceritanya abis blogwalking terus lihat beberapa blogger di luar negeri pada punya peliharaan berupa tanaman di dalem rumah, terus aku jadi pengen!! Huhuhu. Karena penasaran dengan peliharaan berupa tanaman itu akupun googling dan menemukan istilah "Indoor Urban Garden". Indoor urban garden adalah istilah yang diberikan untuk kebun kontemporer yang dibuat di dalam rumah. Maksudnya bukan kebun beneran kayak di halaman rumah itu, tapi kebun disini berarti kumpulan tanaman. Jadi urban garden menggunakan media tanah atau bebatuan yang ditaruh di dalam pot-pot berukuran kecil sampai sedang. Kalau di Indonesia bisa disebut juga dengan hidroponik *itu lho yang nanem pake batu/pecahan batu bata*.

Saturday, December 8, 2012

I Met a Fairy


image was taken from here

I met a baby fairy. She was so cute and kind. She wore little pink rose petals dress combined with green fresh leaves top. She had pairs of greenish translucent wings. She was handling a bouquet of pink flowers. When I asked her where she lived. She grabbed my hand and invited me to walk through a glittery pathway. Suddenly she stopped and then she held her finger pointing to a small tree in the middle of the forest. She asked me to get closer to the tree. I was really surprised. I saw a tiny door on that tree trunk. I asked her to ensure that inside the door was her house. She nodded her head and smiled. Afterward, she spread a little fairy dust to my body. Suddenly I became tinier and tinier. I got pairs of wings grew on my back. She held my hand and invited me to fly with her. Then, she opened the tiny door on the tree trunk. She asked me to come in. I agreed. I flew passing the door. Amazingly, I found my self in a fairy land. The land where various fairies lived. I was glad. I could not believe my eyes. After some couples of hour flying around that kind of magical place I felt tired. I decided to go to find the little fairy who brought me here. Fortunately, I easily found her. I asked her for foods and drinks since I was very hungry and thirsty. She gave me some cute and glittery candies and also a glass of red liquid. Before letting me to finish all the foods and beverage, she told me something. She told me to keep anything I saw in the fairy land behind a tiny door on a tree trunk as a secret. I were not allowed to tell anybody. I agreed. Then I started to eat the candies and to drink the red liquid. I had no reason why but I felt very sleepy afterwards. I told her that I need to rest. She welcomed me to visit her bed. After that, I laid my body down to the fluffy and pinkish bed. It was so smooth like a cotton candy. It smelled like a heaven I was sure. I felt a sleep in sudden. When I woke up, I realize that I was not in the place where I began to sleep. I opened my eyes wider then I saw that I has been sleeping on a meadow near my house. I did not believe it at all. But I just remembered what a cute little fairy with sweet little pink rose petals dress combined with fresh green leaves top who had pairs of greenish translucent wings told me before. I had to keep all I saw in the fairy land behind the tiny door on a tree trunk as a secret. Then, after the sun rose I walked home to have my breakfast. I saw my mother waiting for me in front of the door. She smiled at me and whispered, "Where did you go?" I said nothing. I just gave her a smile. She suddenly spoke, "Have you meet a little fairy wearing a little pink rose petals dress combined with fresh green leaves top? She has pairs of greenish translucent wings." I had a little shock. Then, I just smiled and asked her to have a breakfast with me. I reckoned that my mother had seen the cute little fairy herself.

image was taken from here

Friday, December 7, 2012

My Oriflame Wishlist for January 2013

I wish on January 2013 I can buy these things from Oriflame:

1. Pure Colour Eye Shadow Palette (Nude & Grey)


2. Oriflame Hyper Stretch Mascara (Black)


Wednesday, November 28, 2012

Pengennya sih Jadi Wirausahawati

Eh, setelah bikin post tentang cara mendekorasi sandal flip flop tadi, aku jadi berpikir (baca: memikirkan ulang) tentang keinginanku untuk menjadi pengusaha. Bukan pengusaha sandal sih, tapi wirausahawati (istilahnya aneh -___-). Aku sudah lama bermimpi untuk membuka toko online. Karena aku suka dengan produk-produk fashion mulai dari baju, tas, sepatu, sampai aksesoris, aku pengennya menjadi wirausahawati di bidang itu. Pengeeeeeeeeeennnnn bangetttttt!!! Tapi sampai sekarang belum kesampaian sih. Pengennya habis selesai skripsi besok, mau mulai usaha itu. Entah jadi dropshipper, reseller, atau pembuat produk sendiri, yang penting pengen punya usaha gitu :)

Semoga saja semua dilancarkan. Semoga kreatifitasku semakin berkembang, biar bisa membuat produk sendiri :)

Amieeeennnn.

*minta amien nya ya blogger dan pembaca sekalian*

Friday, November 23, 2012

I am the Birthday Girl

23 November 1990-23 November 2012,, nggak terasa sudah 22 tahun. Umurku sudah 22 tahun. Sudah tua (baca: dewasa) ternyata. Tapi kok masih ngerasa kayak remaja ya. Hahahaha.

 image was taken from here

Well, actually today is my birthday, the same day as the day when I was born. Friday, 23 November 1990 and today is Friday, 23 November 2012.
Honestly, there is nothing special in my life since I celebrate my birthday. My life just goes like it has. The special is only the greeting and also prayer from my family and my friends. Oh ya, I also got a gift from my Mom. Perfume!!! Yeayyy!! I like it very much.

Wednesday, November 21, 2012

Hello My Silent Readers



Hey  readers!! 
Through this post I really want to say THANK YOU VERY MUCH to all of you, my dearest SILENT READERS, from wherever you are.
Even though you are silent guys, but I do hope that you enjoy my posts :)

If you don't mind, I really wish to have your comments :)
Don't be afraid, I don't bite, LOL.
I will appreciate anything you wrote on the comment box or on the chat box.
So, please leave any comments if you think you need to give it to me :)

Definitely, I will always improve my writing and develop the topics to discuss. All of my writings (except the writings which are over excessive -I'm really sorry for that-) are presented for you because you deserve it guys!

Keep reading my posts, okay!
Enjoy :)


Regards,
Tiyas Fransiska


Bokek!! Bokek!!

Aku lagi bokek akut. Lalalallalala!!!
Uang di dompet cuman tinggal 40 ribuan.
Ini baru tanggal 21 :( ,, gajian di SMP tempat ngajar ekskul masih besok Senin (26 Nov 2012)

#Berharap dapet SMS yang isinya kira-kira begini: "Yas, gaji kamu ngajar English Course bulan ini udah turun" :)

#Berdoa :)

Monday, November 19, 2012

Buruan Hari Rabu dong!

Aduhhh, nafsu belanja lagi menggebu-gebu (meski dompet lagi tipis) ehh malah besok Sakola tutup. Ya, as I said before, Sakola will be closed every Tuesday in the third week. Disappointed? Well, of course I am. Takut kalau udah kehabisan baju motif tribal (menurut update di akun FBnya Sakola sih disana sudah dijual baju motif tribal). Arrggghhh!! Buruan Rabu dong!!

Sunday, November 18, 2012

A Cup of Hot Chocolate, Alone

Malam ini begitu dingin. Aku masih terduduk diam di sebuah kafe terbuka di pinggir jalan besar di kotaku. Seperti biasa, setiap aku mampir ke kafe itu aku selalu memesan coklat panas dan keripik tortilla. Aku memang pecinta coklat. Semua makanan yang berbahan coklat pasti aku doyan. Lain ceritanya dengan keripik tortilla ini. Aku tak begitu menyukainya, hanya saja rasanya memang enak dan pas jika dimakan untuk cemilan.

Malam semakin dingin saja. Aku mulai memencet-mencet keypad handphone ku. Aku bukan sedang mengirim SMS untuk seseorang, aku hanya membuka-buka Twitter dan Facebook. Aku berharap menemukan dia malam ini, maksudku menemukan dirinya mengupdate statusnya di Facebook atau berkicau sesuatu di twitter. Namun, kosong. Terakhir kali dia update status itu 1 minggu yang lalu. Begitu juga dengan kicauannya di Twitter, paling baru itu 10 hari yang lalu. Aku putuskan untuk blogwalking ke blognya. Hanya 1 blog yang dia punya. Aku pun membukanya. Postingan terakhirnya masih sama. Masih tentang sebuah kekecewaan yang dia tulis dengan huruf besar semua. Aku berharap itu mungkin karena caps lock di keyboardnya sedang error. Tapi bukan itu, aku tahu, dia sedang marah, dia sedang kecewa. Padaku.

Angin malam bercampur dengan udara yang berair membuatku semakin menggigil di bawah gazebo yang disediakan oleh kafe. Secangkir coklat panas yang tadi mengepul, kini hanya tinggal secangkir minuman berasa coklat yang tak lagi memberikan kehangatan dan ketenangan. Keripik tortilla rasa keju yang tersaji di sebuah piring kecil di hadapanku kini sudah tak lagi renyah. Rasanya melempem dan tak lagi menggugah nafsuku untuk memakannya.

Deo, maafkan aku....


Saturday, November 17, 2012

Mengejar Pelangi

Pagi ini hujan semalam masih menyisakan gerimis disertai bau tanah basah. Sebenarnya bukan lagi bau tanah basah seperti biasa melainkan ditambah dengan bau sedikit anyir khas tanah berpasir di sekitar pantai. Aku sengaja meninggalkan penginapan, hanya untuk mencari sedikit udara segar diluar. Aku merasa bosan untuk tetap berada di sebuah cottage yang terletak di sebuah bongkahan karang raksasa di ujung utara sebuah pantai berpasir putih yang aku samasekali tak tahu namanya. Aku meninggalkan penginapan tanpa alas kaki, hanya mengenakan jaket rajut yang sama sekali tidak mampu melindungiku dari udara dingin yang sangat menusuk. 

Aku meneruskan langkah kecilku menyusuri bibir pantai. Tak ada matahari yang menyapaku, hanya ada suara burung laut yang beterbangan dan deburan ombak yang terdengar sangat keras. Gerimis perlahan membasahi rambutku dan juga badanku. Tapi aku tak peduli. Sesampainya di dekat sebuah laguna aku menghempaskan badanku ke pasir yang basah. Mataku nanar menatap kedepan, mencari kalau-kalau ada pelangi yang aku lihat. Kosong. Aku tak menemukan guratan warna merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Ya, sinar matahari saja tak tampak, pelangi pun juga tak mungkin bisa tampak.

Angin dingin menerpaku, menggoyangkan rambutku yang sengaja kuurai. Aku merapatkan jaket rajutku. Mendekapkan tanganku ke badanku sendiri. Aku rindu kebebasan. Aku rindu tempat dimana aku berada dulu. Aku rindu kehidupanku. Disini, aku sekarat. Aku sekarat menunggu kematianku. Oke, aku akui, disini aku tidak menderita suatu penyakit yang mematikan, tidak juga sedang ingin bunuh diri. Aku disini juga tidak sedang disekap, diculik, atau apapun itu. Aku disini, hanya diasingkan. Aku tegaskan sekali lagi, aku sedang diasingkan.
***
"La, kamu harus mau ikut denganku!" Dia menggenggam tanganku dan aku melihat matanya yang terlihat semakin sayu.
"Aku tak tau harus bagaimana Greg. Aku takut kau akan..." Tenggorokanku tercekat, aku tak mampu melanjutkan ucapanku.
"La, apakah kamu mencintaiku?" Lelaki bernama Greg itu terus bertanya kepadaku.
Aku mengangguk, "Aku sangat mencintaimu Greg."
"Lalu, apalagi yang membuatmu tak ingin pergi denganku?" Dia terus menggenggam tanganku, "Aku akan menikahimu La."
Jantungku bergemuruh, seolah aku bisa mendengarkan seluruh desiran aliran darahku tepat ditelingaku.
"Aku tahu Greg. Tapi, ayahku..."
Greg menyeka airmataku, tangannya yang lembut mendekapku.
"Greg, aku harus pergi. Aku tak mau kalau ayahku sampai tahu aku menemuimu lagi."
"Tapi La..." Aku menepis tangannya. Mataku memandang kearah jendela dari kafe tempat kami bertemu. Diluar hujan gerimis masih saja turun.
"Greg, aku tak mau kamu berurusan lagi dengan ayahku. Dia bisa saja membunuhmu Greg!"
"Aku tak peduli La! Yang aku pedulikan hanya kamu!"
"Maaf..." Aku berlari keluar kafe. Meninggalkan sepasang mata sayu yang hanya bisa menatapku lewat jendela kaca.
***
"Viola!!"
Suara parau khas ayahku membangunkanku pagi ini. Dingin, dan semakin dingin rasanya disini.
"Ada apa ayah?" aku menjawab sembari mengucek mataku. Memfokuskan pandanganku yang masih sedikit kabur.
"Apa kau bertemu dengannya lagi?"
"Siapa?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
"Lelaki itu. Lelaki gila penulis cerita konyol itu. Lelaki pendongeng yang tak punya masa depan itu."
Aku terdiam. Aku merasakan jantungku berdegup semakin kencang, tenggorokanku serasa menebal, dan mataku panas. Aku tak terima ayahku mendeskripsikan pria yang paling kucintai dengan kata-kata seperti itu. Greg tidak seperti itu. Greg punya masa depan.
"Tidak," aku berucap lirih. Aku berbohong, untuk keseribu kalinya, mungkin.
"Bagus. Jauhi saja dia. Dia tak pantas untukmu. Kamu patut mendapatkan yang terbaik. Yang terbaik dari generasi yang terbaik."
***
Aku membayangkan mata itu lagi. Bukan mata sayu yang dulu selalu aku lihat semasa aku masih kuliah. Mata ini mata yang bengis, mata yang selalu memandangku bagaikan aku adalah seekor itik liar yang siap menjadi mangsanya. 
"Viola, cepatlah. Temui segera calon suamimu itu!" Suara parau ayahku terdengar dari balik pintu kamar. Tapi bukan kamarku, kamar yang biasa menjadi tempat tidurku yang paling nyaman. Aku bahkan membenci kamar ini. Kamar yang terletak diujung, dengan jendela yang menghadap langsung ke samudera. Sering aku berpikir untuk bunuh diri saja dengan melompat dari ujung jendela di cottage ini. Tapi selalu kuurungkan. Aku tahu, bunuh diri adalah hal yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Dan aku, manusia beriman. Cukup beriman.

Aku beranjak dari meja rias. Dan malam ini, adalah malam pertunanganku dengan lelaki bermata bengis itu. Lelaki yang memiliki senyum yang menyakitkan. Lelaki yang kata ayahku adalah keturunan terbaik dari generasi terbaik. Ya, perlu diketahui, ayahku adalah ketua sebuah organisasi mafia. Ayah dari lelaki itupun sama. Jadi kesimpulannya, jika aku mau menikah dengan Lee maka organisasi ayahku dan ayahnya akan bergabung. Mereka akan menjadi penguasa daerah ini. Membayangkannya membuatku merasa seperti barang dagangan. Ayahku melakukan barter dengan ayah Lee. Lee mendapatkan aku, dan ayahku mendapatkan kekuasaan. Cihh!

Ahh, andai ibu masih ada, pasti ayah tak akan berbuat seperti ini. Yang aku ketahui ayahku sangat mencintai mediang ibukku. Apapun yang ibukku katakan, ayahku selalu mengikutinya. Namun, sejak ibukku tak ada. Ayahku berubah. Dulu aku tak pernah dikawal oleh anak buah ayah. Tapi sekarang, kemanapun aku pergi, mereka selalu ada. Sekarangpun, aku harus tinggal disini. Ditempat yang sangat asing bagiku. Tak ada orang lain disini kecuali keluargaku dan orang-orang yang bekerja untuk ayahku. Akupun tak tahu bagaimana aku bisa menemukan jalan keluar. Yang aku tahu, tidak ada kendaraan yang bisa digunakan untuk keluar pulau kecuali kapal atau helikopter.
***
"Nona Viola. Nona. Nona!!" Kudengar seseorang memanggilku. Aku merasa ada sebuah tangan hangat yang menggoyang-goyangkan bahuku. 
"Uhukkk! Uhukk!" Aku tersedak. Perlahan aku membuka mataku. Kulihat seorang pelayan di rumahku memandangku dengan tatapan cemas.
"Nona tidak apa-apa? Nona kenapa tidur di pantai?"
Aku tidak menjawab. Akupun tak sadar kalau aku malah tertidur di pantai. Yang kuingat hanyalah, tadi pagi buta aku berjalan-jalan di sepanjang pantai.
"Nona, Tuan Besar mencari Nona. Untung Nona segera saya temukan." Wanita separuh baya itu memandangku dengan sedikit gelisah.
"Apakah Nona tidak ingat?"
"Ingat apa?" Aku menegakkan badanku. Beberapa butiran pasir masih menempel di pipi kiri ku.
"Hari ini adalah hari pernikahan Nona dengan tuan Lee. Nona harus segera mempersiapkan diri."
Aku ingat, sangat ingat malah, aku hanya berpura-pura saja. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Tinggal 3 jam lagi aku akan menikah dengan Lee. Lelaki yang tak pernah kucintai.

Akupun beranjak dari sisi pantai. Wanita separuh baya itu mengikuti langkahku.
"Ahh Greg, lelaki bermata sayu, penulis gila, pendongeng yang tak punya masa depan, aku merindukanmu!" Aku bergumam sembari melangkahkan kakiku menuju cottage di atas karang. Jauh di ujung cakrawala aku melihat semburat warna merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Aku berhenti sejenak untuk memandangnya, membayangkan diujung sana Greg sedang menulis sebuah cerita dimana aku yang selalu menjadi tokoh utamanya. Selalu.


image was taken from here



Tyas
-Sebuah inspirasi yang muncul sehabis hujan-

Saturday, November 10, 2012

Cinta Sejati yang Tak Pernah Lelah

image was taken from here

Blogger, pernah nonton filmnya Adam Sandler sama Drew Barrymore yang berjudul 50 First Dates?? Emm, emang cukup lama sih filmnya, release di tahun 2004. Tapi aku baru sempet nonton sekarang lho. Hahhaa. Anyway, menurutku ceritanya bagus banget ya. Kisah cintanya itu lho,, bener-bener bikin nyesek. Ibarat sebuah cinta sejati yang tak pernah lelah dan tak kenal menyerah. Ya, menurutku sih inti dari film itu adalah cinta sejati yang tak pernah lelah tadi. Tokoh utama pria yang diperankan Adam Sandler (Henry Roth) mencintai Lucy yang memiliki kekurangan yang mungkin orang lain tidak bisa mentoleransi dengan sepenuh hati. Cerita dalam film ini diawali dengan Henry Roth yang seorang solitaire sailor mengalami kerusakan kapal sehingga dia harus menetap di sebuah pulau di Hawaii. Dia membantu sebuah taman wisata bahari disana. Suatu hari di sebuah kafe lokal dia bertemu dengan Lucy. (Awalnya aku merasa aneh karena hampir setiap hari Lucy memakai setelan baju yang sama). Henry berhasil bergabung dengan Lucy untuk sarapan bersama. Mereka berjanji akan bertemu keesokan harinya. Namun, dihari yang dijanjikan, Lucy justru tidak mengenali Henry. Ternyata Lucy menderita gangguan pada otaknya yang menyebabkan dia kehilangan memori jangka pendek (setelah bangun tidur dia akan lupa segala yang baru dialaminya). Ini disebabkan karena sebuah kecelakaan tunggal. Setiap harinya Lucy selalu bangun dan berpikir bahwa hari itu adalah hari dimana ayahnya berulang tahun. Jadi setiap hari Lucy selalu melakukan hal yang sama dan monoton.

Monday, November 5, 2012

Apakah Alur Hidupku Cuma Datar?

Aku beberapa kali membaca blog dari beberapa orang. Ada yang isinya cerita-cerita fiksi, ada yang isinya pengetahuan, dan ada juga yang isinya semacan diary. Saat membaca blog yang isinya menyerupai diary, aku sering berpikir dan membandingkan isinya dengan pengalaman hidupku. Kok sepertinya si penulis itu selalu punya sesuatu dan pengalaman yang dapat dituangkan menjadi sebuah tulisan yang apik dan nggak bikin bosen untuk dibaca. Tapi kok aku semacam nggak punya pengalaman yang pantas untuk ditulis tiap harinya. Akupun mulai menggali dan menggali memori di otakku. Dangkal! Tak ada memori yang sekiranya bisa dituliskan dan menjadi sebuah cerita yang mengalir manis dan menggugah orang untuk membacanya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan hidupku ya yang datar-datar saja. Sehingga tak ada pengalaman baru yang selalu bisa aku tulis bak buku diary. Aku juga tiap harinya jarang bertemu dengan orang-orang baru dan berinteraksi dengan orang-orang di luar sana. Bukannya anti sosial sih, cuman aku emang agak introvert dan pilih-pilih kalau mau ngobrol sama orang. Aku lebih sering berinteraksi lewat jejaring sosial.

Oke, back to the topic!
Intinya, aku merasa bahwa apa yang aku alami dalam hidup sehari-hari tidak ada akur klimaks, anti klimaks, maupun jenis alur yang lain. Rasanya cuman datar kayak penggaris aja. Aku juga bukan tipe orang yang melowdrama, bukan pula orang yang kemana-mana selalu ceria. Aku orang yang biasa saja. Jarang menangis, jarang patah hati, jarang jatuh cinta (hahaha, aku orang atau batu ya??). Jadi emang nggak bisa kalau mau nulis pengalaman soal cinta dan airmata. Aku seringnya menangis karena melihat binatang yang disakiti, menonton film, membaca buku atau merasa kecewa dengan suatu hal. Bukan karena cowok atau lelaki!! (Jangan-jangan aku tergolong feminist ya??? TAPI SUMPAH AKU MASIH DOYAN LELAKI kok!!)

Setiap pulang atau berangkat kerja juga sepertinya nggak ada hal-hal yang penting untuk diceritakan. Semuanya berjalan biasa saja, tanpa ada hal-hal yang menarik hati. Ahh, sudahlah! Nggak perlu naif begini, suatu saat pasti akan ada pengalaman luar biasa yang selalu bisa di share.

Ciao blogger!!

Sunday, November 4, 2012

I Wanna be Everything at Once!

As sly as a fox, as strong as an ox
As fast as a hare, as brave as a bear
As free as a bird, as neat as a word
As quiet as a mouse, as big as a house

All I wanna be, all I wanna be, oh

All I wanna be is everything

As mean as a wolf, as sharp as a tooth

As deep as a bite, as dark as the night
As sweet as a song, as right as a wrong
As long as a road, as ugly as a toad

As pretty as a picture hanging from a fixture

Strong like a family, strong as I wanna be
Bright as day, as light as play
As hard as nails, as grand as a whale

All I wanna be oh, all I wanna be, oh

All I wanna be is everything
Everything at once
Everything at once, oh
Everything at once

As warm as the sun, as silly as fun

As cool as a tree, as scary as the sea
As hot as fire, cold as ice
Sweet as sugar and everything nice

As old as time, as straight as a line

As royal as a queen, as buzzed as a bee
Stealth as a tiger, smooth as a glider
Pure as a melody, pure as I wanna be

All I wanna be oh, all I wanna be, oh

All I wanna be is everything
Everything at once 


Paragraf-paragraf diatas adalah lirik lagu Everything at Once dari Lenka. 
Lirik lagu diatas menggambarkan jiwa seseorang yang menginginkan kebebasan untuk menjadi sesuatu yang dia inginkan. Sama seperti jiwaku, aku juga menginginkan diriku menjadi ini itu at once. Aku pengen jadi penulis, aku pengen jadi traveler, aku pengen jadi pemusik, aku pengen jadi penyanyi, aku pengen pergi ke Maldives, aku pengen tinggal sementara di Inggris atau Spanyol, aku pengen mengunjungi Nami Island di Korea, aku pengen .... ahh sudahlah!

Apapun itu, sekarang aku sedang mengusahakan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku itu satu persatu, karena semuanya nggak bisa jadi dalam sekali tepuk. All I wanna be is everything at once (but through a long long process)! LOL :D


Mom, I Wanna be a Ballerina
 image was taken from here

Saturday, November 3, 2012

Aku, Piano, dan Secarik Kertas Merah Jambu

Aku meremas-remas secarik kertas berwarna pink itu. Ya, kertas itu memang bukan kertas sembarangan. Aku menerimanya beberapa jam yang lalu. Awal mulanya, kertas itu terlipat rapi dan terbungkus sebuah amplop berwarna marun. Aku bukannya tak sengaja ingin menghancurkan lembaran kertas itu. Aku sengaja, memang sengaja!! Asal kau tahu, hatiku hancur! Benar-benar hancur!
***
"Lopas!!" Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Sialan!
"Apa sih?? Ganggu orang aja!" Aku membentaknya. Dia, namanya Dena, cewekku. 
"Lopas, temenin gue makan yuk, laper nih." Dia menarik-narik tanganku. 
"Sorry Na, gue lagi kerja, lo nggak liat apa?" aku membentaknya lagi, kali ini aku memang sedikit kesal.
"Gue liat lo cuman bengong, mana ada lagi kerja!" Dena menatapku sewot. Akhirnya aku mengalah. Aku menggeser kursi dimana aku duduk tadi, di depan sebuah piano tua milik ayahku.
"Mau makan dimana Na? Nggak usah jauh-jauh ya, gue masih harus nyelesein garapan lagu baru gue."
Dena mengangguk. "Di rumah makan Padang aja ya Pas, gue lagi pengen makan nasi sama terong balado."
Aku mengiyakan sembari menarik ritsleting jaketku. 

Aku dan Dena menyantap makanan di piring kami masing-masing. Dena sedari tadi tidak bisa diam. Dia mengoceh kesana kemari. Sejak pertama kenal dia memang hobi ngoceh. Jauh berbeda denganku, aku lebih pendiam dan jarang bicara. Aku merasa kalau banyak bicara itu nggak penting. Tapi beda dengan Dena, dia memang tidak bisa berhenti bicara. Aku juga nggak tahu kenapa dulu aku memilih untuk jatuh cinta dengannya. Yang aku tahu hanya karena Dena itu mirip dengan mantan pacarku sewaktu kuliah dulu. Ya, aku dulu pacaran dengan seorang cewek yang punya kemiripan dengan Dena, pacarku sekarang. Cewekku dulu bernama Liana. Liana memang mirip dengan Dena. Ukuran tubuhnya yang tinggi dan berperawakan ramping, rambutnya yang dipotong bob dengan poni. Liana banyak berbicara, sama seperti Dena. Hanya saja, aku pikir, Liana lebih cerdas dibanding dengan Dena. Tapi dia hanya masa lalu. Masa dimana aku melakukan kesalahan yang amat bodoh. Ahh Liana!

"Lopas, lo napa sih? Bengong mulu? Kayak gue disini nggak dianggep aja." Dena mulai sewot lagi.
"Sorry Na, gue kepikiran kerjaan nih. Musti cepet kelar soalnya. Lo tau kan, instrumen itu harus jadi dua minggu lagi." Aku sedikit berkilah. Dan Dena percaya.
"Oke deh, kalau soal kerjaan, gue ngalah Pas." Dena beranjak, dia sudah selesai makan, sedangkan nasi Padangku baru aku makan dua sendok. Ah, aku tak lagi bernafsu untuk makan.
***
Akhirnya aku menyelesaikan instrumen lagu ini. Lagu ini adalah lagu buatanku sendiri. Hanya saja, pihak penyelenggara hanya membutuhkan instrumennya saja. Aku memang punya pekerjaan sebagai pembuat instrumen dan penulis lagu. Aku bekerja lepas dan kadang bekerja sama dengan beberapa panitia pertunjukan. Kali ini, aku membuat instrumen untuk soundtrack dari sebuah pertunjukan drama musikal. Drama musikal kali ini memang tidak sembarangan, drama musikal ini dibuat oleh mahasiwa-mahasiswa di almamaterku. Dan saat hari H nanti, akulah yang bertugas untuk memainkan instrumen yang aku buat. Aku membayangkan hal ini akan jadi momen yang luar biasa, karena beberapa alumnus akan datang. Termasuk Liana, aku harap begitu.
***
Besok adalah gladi resik pentas drama musikal di universitasku. Tinggal dua hari lagi, pentas besar menyambut Dies Natalis Universitas akan diadakan. Aku jadi tak sabar. Aku bukannya tak sabar untuk memainkan piano di hadapan semua penonton, bukannya tak sabar untuk mendengar gemuruh applause yang bergema sesaat setelah penampilanku. Bukan! Aku tak sabar untuk melihat Liana. Melihat seperti apa dirinya, setelah hampir dua tahun tak lagi bertemu denganku. Ah Liana!
***
Hari yang aku tunggu pun tiba. Aku berdandan seperti layaknya pianis profesional, meski bermain piano dan membuat lagu hanyalah hobiku saja. Dulu mediang ayahku yang mengajarkannya padaku. Ayahku adalah seorang pianis dan pencipta lagu. Bahkan beliau  memberikan nama Lopas pada anak satu-satunya karena nama ini sama dengan nama guru musiknya dulu waktu bersekolah di Jerman. 
"Pas, main yang bagus ya! Gue bakal dokumentasiin." Dena menemuiku di belakang panggung. Wajahnya terlihat sangat antusias. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dalam hati aku terus mengucapkan kata maaf pada Dena, karena aku kali ini ingin bermain piano untuk Liana. Bukan untuk Dena seperti biasanya.
***
"Plokk plokk plokk plokk!!" Gemuruh tepuk tangan dari penonton menggema di auditorium kampus. Pertunjukkan sudah selesai dengan sangat sempurna. Aku pun sukses menutup pentas malam itu dengan permainan pianoku yang apik. Aku berdiri berjajar bersama dengan seluruh aktris, aktor, dan kru pertunjukan malam itu. Mataku sibuk mengamati bangku penonton satu persatu. 'Mana Liana?' batinku. Yang kulihat hanya Dena yang melambai-lambai ke arahku. Aku tak peduli. Pandangan mataku kembali menyusuri tiap baris di bangku penonton, tapi nihil. Liana tak ada. Padahal jelas-jelas aku lihat namanya tertulis dalam buku tamu.

Seusai acara, aku lalu menuju belakang gedung auditorium. Aku memantik korek api ke arah batang rokok yang aku jepit diantara kedua bibirku. Aku duduk sejenak di dekat auditorium, merokok. Angin malam berhembus, memainkan rambutku yang sudah agak panjang. Dinginnya malam membuatku ingin segera beranjak dari lokasi itu. Aku berdiri sejenak, memperhatikan seseorang yang berjalan ke arahku. Dena? Oh bukan, itu bukan Dena, rambut Dena tak sepanjang itu. Itu...
"Liana!" Aku berseru ke arah wanita yang sedang berjalan ke arahku. Wajahku berseri-seri melihat bahwa Liana menghampiriku.
"Hai Pas." Dia tampak tak begitu antusias menyambutku. Garing rasanya.
"Apa kabar Na?" Aku memperhatikan Liana dengan seksama. Dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Baik Pas," dia masih menunduk, "Penampilan kamu bagus."
"Ahh, makasih Na." 

Kami akhirnya memilih untuk duduk di bangku taman yang agak jauh dari auditorium. Aku sengaja memilih tempat yang sepi, agar Dena tidak mudah menemukanku. Aku berharap Dena masih sibuk dengan apapun itu. Handphone pun aku matikan, aku tak mau Dena mengganggu momenku bersama Liana.
"Pas, emmm ..." Liana tampak gelisah. Dia meremas-remas tangannya sendiri. 
"Kenapa Na? Kok kayaknya gelisah gitu?"
"Pas, aku pikir, kita benar-benar sudah berakhir. Kamu juga mikir begitu kan?"
Aku terdiam. Aku tak bisa menjawab. Pada dasarnya aku masih mencintai Liana. Demi apa aku masih sangat mencintainya.
"Aku pikir nggak gitu Na. Aku ... aku ... aku masih ..."
"Nggak Pas, kita emang udah selesai!" Suara Liana bergetar, aku tahu dia sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Na." Aku mengulurkan tanganku, tapi ditampiknya.
"Pas, aku akan segera menikah!" Liana menatapku penuh airmata. "Aku akan menikah minggu depan Pas!"
Deg!!! Jantungku serasa berhenti, nafasku tercekat. Aku tak bisa berkata-kata.
"Pas, sebulan lalu aku tahu kalau kamu sudah punya kekasih lagi, makanya aku pikir waktu itu saat yang tepat untuk menerima lamaran Jody. Aku nggak bisa Pas kalau harus menunggumu yang tak punya kepastian! Menunggumu yang lari dari tanggung jawab!"
Aku masih terdiam, aku tidak tahu harus berkata apalagi di hadapan Liana. Aku memang salah dan aku memang pria terbodoh yang pernah ada.
"Pas, aku harus pulang sekarang, Jody sudah menungguku di parkiran. Aku harap kamu bisa datang ya, aku harap kamu bisa datang dan bertemu dengan Niko." Liana berjalan meninggalkanku bersama sebuah amplop berwarna marun.
***
Dua tahun yang lalu...
"Liana, aku mau menikahi kamu. Tapi tidak sekarang Na! Aku belum siap apa-apa!" Aku menggenggam tangan Liana yang terasa dingin dan pucat.
"Pas, lalu aku harus bagaimana? Perutku akan bertambah besar dan semua orang akan tahu kalau aku hamil!!" Liana menangis dihadapanku. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Aku tak bisa melihat kenyataan bahwa pacarku sedang mengandung anakku.
"Na, kalau kamu gugurkan saja bagaimana? Kandungan kamu masih muda, masih dua bulan. Pasti masih bisa digugurkan."
"Enggak Pas! Enggak akan! Aku nggak akan membunuh anakku sendiri!" Liana menangis semakin keras. Aku sudah gelap mata. Aku pun berlari meninggalkannya. Meninggalkannya sendiri menangis di ujung taman tempat paling favorit kami berdua.
***
Selama satu setengah tahun aku menetap di Jerman. Aku tinggal di rumah warisan ayahku disana yang ditempati oleh adik ayahku semenjak ayahku meninggal. Di Jerman juga aku bertemu dengan Dena, yang aku anggap sangat mirip dengan Liana. Aku mencoba menebus rasa bersalahku pada Liana melalui Dena. Aku pun memacarinya, dan selalu memainkan lagu-lagu buatanku dengan piano usang milik ayahku ini. Aku melakukan apa yang dulu disukai oleh Liana. Ketika pulang ke Indonesia bersama Dena, aku mencoba mencari Liana, tapi tak ketemu karena dia sudah pindah rumah bersama keluarganya entah kemana. Aku jadi semakin merasa berdosa padanya. Jangan-jangan dia pindah karena aku, karena perbuatanku. Liana pasti sangat malu dan tertekan menjadi ibu dari anak yang ayahnya tidak mau bertanggung jawab.
***
Beberapa bulan aku berada di Indonesia, aku mendapati Liana mengirimkan beberapa foto seorang anak laki-laki berambut ikal. Aku melihat matanya, mirip dengan mataku. Di balik salah satu foto itu, aku menemukan tulisan, Nikolas Armando Lopas -7 Juli 2011-. Aku menangis tanpa suara. Aku mendekap foto-foto Niko, anakku. Aku ingin menemuinya tapi aku tak tahu dimana aku bisa menemuinya. Aku membolak-balik amplop itu. Tak ada alamat, sialnya amplop itu dikirimkan melalui jasa kurir tembak atau kurir tidak resmi. Hanya ada sebaris tulisan di balik amplop itu. 'Kita harus bertemu setelah acara Dies Natalis Universitas, Liana'.

Malam ini aku benar-benar bertemu dengan Liana. Wanita yang paling aku cintai seumur hidupku. Harusnya aku bahagia karena dia masih sudi menemuiku, melihat wajahku, dan mendengar suaraku. Tapi kenyataanya, hatiku hancur oleh sebuah amplop berwarna marun yang dia berikan padaku. Dia akan menikah dengan Jody. Jody yang juga teman sekampusku dulu, Jody yang juga adalah temanku sejak kecil, yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Keparat!! Tapi apa boleh buat, ini salahku sendiri. Kebodohanku sendiri. Aku janji Liana, aku akan datang ke pernikahanmu. Aku akan datang, menemui Niko, darah dagingku. Aku berjanji Liana! Aku tak akan mengingkarinya lagi! Aku tak akan melarikan diri lagi! Aku tak akan mengecewakanmu lagi! Aku janji Liana! Aku janji Niko!


image was taken from here




Tyas
-Inspired from Piano Instrumental on Winamp playlist-

Mencium Hujan

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karna aku dapat mengenangmu
untukku sendiri

Mulutku terus menggumamkan reffren dari lagu Hujan milik Utopia. Sebenarnya aku nggak begitu mengidolakan Utopia, cuma lagunya yang satu ini sangat menyentuhku. Lagu ini sudah lama ada di playlist handphone ku. Setiap aku sedang sendiri, pasti aku sempatin buat memutar lagu ini. Tiap mendengar lagu ini, aku jadi teringat dengan cowok itu. Namanya Dimas, entah nama panjangnya siapa, aku tidak begitu mengingatnya. Aku memang tak pandai untuk mengingat bahkan nama panjang orang yang sangat dekat denganku sekalipun. Aku pertama kali bertemu dengan Dimas satu setengah tahun yang lalu. Aku bertemu pertama kali saat ospek. Dia teman satu kelompok denganku.

"Dimas," cowok berkacamata itu mengulurkan tangannya didepanku.
"Winda," aku membalas dengan jabatan tangan dan senyum manis. Dia lalu duduk di sebelahku. Saat ini adalah saat istirahat sebelum menuju acara ospek selanjutnya.
"Anak apa?" aku membuka pembicaraan lagi.
"Teknik informatika, kamu?" dia memandangku antusias.
"Aku anak psikologi."
Dimas mengangguk pelan sambil terus memandangku, aku agak risih sebenarnya dengan cara dia memandangku.
***
Tiga bulan berlalu setelah masa ospek. Entah mengapa aku semakin dekat saja dengan Dimas. Kalau dilihat-lihat, Dimas itu kayak Surya Saputra, hahahaha. Ah aku mulai mengacau saja. Dimas dan aku memang berada di satu area kampus, jadi intensitas kami bertemu semakin sering. Beberapa temanku bahkan menganggap kalau aku dan Dimas itu pacaran. Kadang saat temanku menanyakan statusku dengan Dimas, rasanya ingin menjawabnya dengan 'Ya, aku pacaran sama Dimas'. Tapi, hubunganku dengan Dimas itu tidak jelas. Hubungan kami memang masih tanpa status. Dimas tidak pernah tegas dengan perasaannya, meski aku sudah bisa menebak kalau dia ada rasa denganku. Bagaimana tidak, kadang dia mau menemani aku lembur tugas di perpustakaan kampus sampai jam 9 malam. Sampai suatu kali kami hampir terkunci di dalam perpustakaan karena jam kunjung sudah habis. Dia sering menungguiku sampai aku selesai kuliah meskipun dia sebenarnya sudah selesai kuliah sejak berjam-jam sebelumnya. Dia mau menjemputku dan mengantarku. Dia satu-satunya orang yang tidak pernah absen menemaniku ke toko buku atau ke mall.

Sekarang sudah hampir satu setengah semester aku dan Dimas berhubungan akrab. Meski kami tetap tidak memiliki status yang jelas. Tapi aku cukup bahagia dengan keadaan ini. Aku dan dia saling setia, meski kami tidak tahu hubungan ini seperti apa. Aku juga nggak pernah membuka hati untuk jatuh cinta dengan orang lain. Dimas juga begitu. Bahkan orangtuaku sudah sangat setuju jika aku berpacaran dengan Dimas. Ibukku bahkan pernah mengatakan, entah serius atau tidak, bahwa beliau sangat setuju bila setelah lulus kuliah aku dan Dimas menikah. Aku cuma bisa senyam-senyum, aku sih mau-mau saja. Tapi Dimas??
***
"Dim, kamu nanti sore ada acara nggak?"
Dimas yang sedang menyantap bakso kuah kesukaannya menoleh ke arahku. Matanya berbinar menatapku tanpa lensa kacamata yang selalu menghalanginya. Aku sebenarnya suka melihatnya kalau tidak pakai kacamata. Aku pernah mendesaknya untuk melepas kacamatanya barang sehari saja. Tapi kata dia, minusnya banyak jadi kalau nggak pakai kacamata nggak bisa lihat.
"Emangnya mau kemana Wind?"
"Emm, mau minta temenin ke toko buku."
"Boleh, jam berapa? Aku jemput deh ya, kayak biasanya."
"Jam 7 ya, makasih Dim!" Aku memeluk lengannya manja.

Malam ini aku jadi pergi dengan Dimas ke toko buku kesukaanku. Sengaja aku memilih cabang toko buku itu yang ada di mall. Biar sekalian bisa main dan nongkrong lebih lama. Setelah selesai membeli beberapa buku, lebih tepatnya novel fiksi, aku dan Dimas melanjutkan berkeliling mall. Memasuki toko satu ke toko yang lain. Setelah lelah berkeliling, kami putuskan untuk makan malam di mall. Setengah jam kemudian kami putuskan untuk pulang karena sudah beberapa kali kami mendengar suara petir tanda akan hujan. Malam ini Dimas menjemputku memakai motor prianya, padahal biasanya dia memakai mobil. 

Baru beberapa ratus meter meninggalkan mall, hujan turun dengan derasnya. Sialnya, Dimas nggak membawa mantel. 
"Dim, menepi dulu gih. Nanti novelku basah semua."
Dimas segera menepikan motornya di depan sebuah halte yang sudah kosong. Angin bertiup kencang dan hujan semakin deras. Dalam keadaan basah, aku dan Dimas duduk di kursi halte. Jam sudah menunjukkan pukul 10.53. 'Sudah malam rupanya, ahh Ibu pasti nyariin aku. Terlebih karena hujan deras banget malam ini,' pikirku.
"Kamu kedinginan Wind?" Dimas menatapku dengan matanya yang tajam.
"Enggak kok, santai aja." Aku merapatkan jaketku yang sudah basah. Dia membuka jaket parasutnya yang anti air dan mengenakannya ke punggungku. Dia mendekapku, hangat.
"Wind," Dimas mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku menatapnya gugup. Dimas mau apa?
------ Dimas mencium bibirku, lama. Awalnya aku memang tak menyangka, tapi sekarang aku menikmatinya, menikmati setiap hangat desah nafasnya, menikmati hangat bibirnya yang menyentuh bibirku dengan lembut.
"Wind," Dimas berbisik pelan, kemudian mengusap lembut pipiku. "Maaf ya, aku udah kurang ajar sama kamu."
Aku menggeleng pelan. Ku tatap sekali lagi raut wajahnya dan rambutnya yang basah karena air hujan. Aku memandang matanya yang tajam, kali ini tanpa ada sepasang lensa kacamata yang menghalanginya.
'Aku sayang kamu Dim,' ucapku dalam hati. Aku mendekapnya lagi, sampai hujan benar-benar reda, dan hanya menyisakan rintik samar dan bau tanah basah.
***
Malam ini, hujan turun lagi dengan derasnya. Sudah setahun lamanya sejak peristiwa itu. Peristiwa dimana aku dan Dimas menikmati hujan yang turun. Menikmatinya berdua bersama kenangan yang manis. Kenangan yang tak pernah akan kulupakan, meski aku dan dia tak pernah ada kata jadian. TAK AKAN PERNAH!!!
"Dim, kamu apa kabar?" Aku berbisik sembari mengusap foto Dimas di layar handphoneku. "Aku kangen kamu Dim." Mataku mulai berkaca-kaca. Aku benar-benar kangen dengan Dimas, segala tentang dia.

"Yak, kali ini Lisa Theodora akan membacakan request via SMS dari Winda. Emm, SMS ini buat Dimas, Winda kangen nih, kamu apa kabar? Besok pagi, Winda mau ke tempat kamu, mau dibawain bunga apa? O ya Dim, lewat siaran radio ini, aku berharap kamu bisa mendengar isi hatiku. Dan aku selalu berdoa semoga kamu bahagia di sana ya Dim." Suara penyiar wanita dari sebuah radio streaming bergema di kamarku. Aku terdiam sejenak. Itu pesan singkat yang aku kirim beberapa menit yang lalu.
"Emm, agak merinding ya bacanya, hahaha." Si penyiar mulai bercuap-cuap lagi setelah sekian detik terdiam. "Oke listener, kita bantu Winda ya, berdoa semoga Dimas bahagia disana ya, and buat Winda, yang tabah ya. Emm, oke deh listener semua, kali ini aku bakal puterin lagu spesial buat Winda dan Dimas di luar sana, ini dia Hujan dari Utopia!!"

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah


Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri


Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air


Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku 




image was taken from here




Tyas
-Inspirasi dari hujan malam ini-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net