Friday, March 1, 2013

Fake Identity

Kalau dilihat dari judul postingan ini pasti ada diantara temen-temen yang teringat sebuah film Hollywood dengan judul serupa. Hehehe, sayangnya kali ini aku cuman minjam istilahnya saja. Yang mau aku ceritain adalah tentang identitas palsu atau bahasa kerennya Fake Identity. Yap! Yang namanya identitas palsu itu banyak sekali dan bisa ada dimana-mana. Kalau menurut pengamatanku *ceileehh* fake identity itu banyak ditemukan di jejaring sosial. Mengapa bisa begitu? Ya, karena di jejaring sosial yang berlatar dunia maya tidak mengharuskan seseorang untuk registrasi dengan KTP, Akta lahir, dan identitas lain. Cukup tulis nama/username (nggak perlu nama asli lagi) sama masukin email dan isi password. Tadaaa!! Dunia baru dan identitas baru terciptalah sudah. Beda dong ya sama buat identitas asli, musti ke RT, RW, Lurah, Camat, dan masih banyak lagi (birokrasinya).

Oke, balik lagi ke poin utama. Seperti kata salah seorang teman di status FBnya (entah dia asli bikin sendiri atau mengutip akun populer aku tidak peduli), dia bilang "Jangan sepenuhnya percaya pada apa yang aku tulis atau aku katakan di sini. Ini dunia maya (palsu) jadi bisa saja yang aku tulis itu palsu juga." Ya, memang tidak 100% kalimatnya begitu, aku hanya memperhalus dan memperjelas saja. Sebenarnya sih, aku juga merasakan hal yang sama. Pada intinya, tidak semua yang aku tulis atau aku share di akun jejaring sosialku itu 100% apa yang aku rasakan dan aku alami. Kadang aku menulis "hahhaha" tapi dalam hati aku bilang "boring banget". Kalau hal-hal yang seperti ini masih mending banget ya. Tapi kalau sampai memalsukan identitas dan mengatakan informasi yang tidak benar, itu namanya kurang ajar sih.

Tentang kasus Fake Identity ini, aku sendiri pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan. Jadi waktu itu aku masih kuliah semester awal (kalau tidak salah sekitar semester 3 atau 4). Aku punya teman di salah satu jejaring sosial populer masa itu, sebut saja FC. Awalnya sih aku memang sama sekali tidak kenal sama dia. Kemudian dia semakin intens saja berinteraksi denganku di jejaring sosial itu. Tapi tidak semua yang dia lakukan aku tanggapi. Kemudian suatu hari ada sms yang datang ke handphoneku, dari sebuah nomor asing. Aku buka smsnya. Isinya cuma basa-basi ucapan selamat malam dan sebagainya. Awalnya aku acuhkan saja. Tapi dalam malam yang sama, nomor itu mengirimiku sms lagi. Akupun penasaran dan membalasnya. Ternyata sms itu dari FC. Well, aku masih bingung, kok dia bisa dapat nomor handphoneku. Setelah aku telusuri, ternyata kesalahanku sendiri. Aku menuliskan nomor handphone di email (yang aku gunakan untuk register jejaring sosial itu). Secara otomatis, nomor itu keluar dengan sendirinya di profil akunku.

Inti dari cerita identitas palsu dari FC adalah bahwa dia ngakunya macem-macem. Mulai dari umurnya baru 23tahun lah, mahasiswa di univ swasta bergengsi di Jogja lah, masih single lah, macem-macem deh. Aku sih santai aja, toh aku nggak kenal sama dia di dunia nyata. Apalagi di jejaring sosial itu profil dia tidak menggunakan foto asli dia. Sama sekali tidak ada foto asli dia disana. Nah, udah ketahuan banget kan kalau dia itu semacam sedang ber-alter ego di dunia maya. Usut punya usut, ternyata salah satu teman kuliahku ada yang kenal sama FC. Kata dia sih FC itu teman satu gerejanya. Akhirnya aku minta temenku untuk menjelaskan siapa FC itu. Dari mulut temenku aku temukan identitas asli si FC. Ternyata semua yang FC bilang ke aku adalah palsu. Dia tidak berumur 23 tahun karena umurnya saat itu mungkin sudah mendekati 30 tahun (atau malah lebih?), dia bukan mahasiswa di univ yang dia sebut (bahkan dia *maaf* tidak kuliah), dan yang lebih mengerikan temanku itu bilang kalau FC itu semacam orang yang *agak* aneh. Iya, kata temenku, dia itu cowok yang *semacam* maniak cewek. Bukannya aku mau menjelekkan dia, tapi kenyataannya, pada waktu itu dia tipe orang yang suka ngejar-ngejar cewek siapapun, dimanapun, dan kapanpun (tanpa alasan yang jelas). Karena aku udah takut banget, takut kalau dia nyamperin aku ke kampus maka aku langsung block dia tanpa basa-basi lagi. Aku juga udah ganti nomor handphone, takut dia menghubungi aku lagi.

Sebenarnya, fake identity itu bisa bermacam-macam. Selain itu, ada banyak juga alasan dibaliknya. Sebenarnya, nggak sepenuhnya fake identity itu salah. Kita bisa saja menggunakannya disaat-saat yang memang dibutuhkan. Misalnya begini, kamu (cewek) diajak kenalan sama orang yang *agak* tidak jelas di suatu jejaring sosial atau di dunia nyata. Karena takut orang itu tanya-tanya lebih jauh atau apalah yang mengancam kehidupan kamu *halahh*, kamu bisa pakai jurus fake identity seperti, "Maaf mas, tapi saya sudah punya pacar." Nah, dengan begitu pasti orang itu bakal tau diri *semoga sih*. Pada intinya, nggak semua "the real you" harus diumbar di publik, entah sebagai pencitraan atau apapun. Tapi sebenarnya itu pilihan pribadi sih mau bagaimana. Sebagai saran saja, agar tidak merugi nantinya (seperti kasus yang sudah-sudah yang berhubungan dengan dunia maya dan jejaring sosial), sebaiknya memang tidak perlu menjadi 100% "the real you" di dunia maya. Menjadi orang/pemilik akun yang sedikit misterius mungkin bisa jadi pilihan yang bijaksana untuk avoid hal-hal yang merugikan khususnya yang berhubungan dengan identitas pribadi kita. Kita tidak bisa 100% mengontrol siapa saja yang mengunjungi akun kita, siapa saja yang telah membaca profil di akun kita, siapa saja yang telah diam-diam mengunduh foto yang kita upload, dll. Nggak mau kan kalau suatu hari ada kasus penipuan/tindak kejahatan yang membawa-bawa identitas kita (nama lengkap, alamat, foto, dll yang terpampang di jejaring sosial). So, be wise!



~You should not fake anything, otherwise you should not trust everything!~
xoxoxo

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
PitaPata - Personal picturePitaPata Cat tickers
Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net